GOODBYE MY L♥VE

yeonmin

Annyeong readers semua… ^^ Seneng bisa comeback lg. heheheh… Sekarang,  admin mau ngpost 1 FF baru. NIATNYA siiiiiii, mau buat FF yg SAD ENDING. Tapiiiiiii…entahlah, ini bisa di bilang sad ending ato ending yg biasa-biasa aja.. Coz I’M NOT AN EXPERT IN SAD ENDING STORY T_T

Mianhe kl ceritanya bikin kalian ga puas.  Trus mianhe kl ini LOG SHOOT. Hehehehhe🙂

Seperti biasa, kl baca FF agak kurang seru kl bacanya gak sambil dengerin lagu. Untuk sountrack di FF ini, admin buatnya sambil dengerin lagu SUPER JUNIOR M – GOODBYE MY LOVE sama SM THE BALLAD – MISS U.. di jamin!!!😀

Kl gtu, HAPPY READING… di tunggu comment nya yaaaa… Menurut kalian, sukses ga admin buat SAD ENDING?? >.<

Gomawo….

**************************************************

LEE YEON HEE POV

Rumah sakit. Tidak terasa sudah hampir satu tahun aku berada di tempat ini. Sudah hampir satu tahun pula aku tidak bisa melihat dunia luar yang selama ini menjadi tempat aku bernaung, tempatku tinggal bersama dengan keluargaku, dan tempatku melihat hal-hal terindah yang mungkin bisa terjadi di luar sana. Penyakit inilah yang memaksaku untuk tinggal di tempat ini. penyakit yang selalu membuat tubuhku berjibaku mencoba melawan dan menyingkirkan semua rasa sakit yang sewaktu-waktu menyerangku. Aku sudah biasa merasakan ini semua. Bau rumah sakit yang dulu begitu memuakkan untukku kini menjadi suatu candu yang setiap hari aku rasakan, bahkan obat-obat yang selama ini menjadi hal yang paling kubenci pun berubah menjadi makananku sehari-hari.

Leukemia. Penyakit menakutkan yang awalnya kupikir tidak akan pernah ku derita ternyata tinggal dengan tenang di dalam tubuhku sejak aku menginjak usia 20 tahun. Berbagai macam obat ku minum serta kemoterapi yang ku jalankan tidak membuat tubuhku mampu membuang penyakit sialan itu dari dalam tubuhku.

Sudah hampir setahun ini kondisi kesehatanku semakin memburuk. Tubuhku semakin kurus, wajahku semakin pucat mengalahkan mayat-mayat yang tertidur di kamar jenazah rumah sakit ini, rambut cokelat indahku perlahan-lahan semakin terkikis habis akibat kerasnya kemoterapi yang aku jalani, dan bahkan lingkaran hitam di bawah mataku juga turut menyiratkan bagaimana dashyatnya penyakit ini merenggut fisik dan jiwaku. Hampir setiap hari aku selalu takut untuk tertidur. Tidur kini menjadi suatu kegiatan menakutkan untukku. aku cemas. Aku benar-benar ketakutan luar biasa jika aku tidak akan pernah bangun kembali keesokan harinya.

Semangat hidup yang awalnya tidak pernah ada dalam pikiranku kini perlahan-lahan semakin menguat seiring pertemuanku dengannya. Dialah alasanku untuk selalu membuka mata di pagi hari, dialah alasanku untuk selalu meminum obatku setiap hari, dia lah alasan terkuatku untuk mengikuti setiap kemoterapi, dan dia lah alasanku untuk menjadi sembuh dan segera keluar dari rumah sakit ini.

TOK..TOK..TOK…

Aku menoleh mendapati dirinya masuk sambil memperlihatkan senyum manisnya yang selama setahun ini menyapaku setiap hari. Ia terlihat masuk bersama dengan seorang suster muda yang memegang tempat diletakannya berbagai macam suntikan serta vitamin yang aku tahu pasti akan ia suntikkan ke tubuhku.

“Yeonhee-ya, Annyeonghi Jumusyeotseumnikka (apakah tidurmu nyenyak)?? ” Tanyanya sambil memeriksa infus yang tertancap di nadi tanganku.

Aku tersenyum lemah.

“Yah, seperti biasa uisa nim. Aku bahkan tidak tahu lagi bagaimana rasanya tidur nyenyak itu”.

Ia kembali tersenyum. tidak ada sepatah katapun ia keluarkan untuk membalas ucapanku. Dengan cekatan, ia mengambil vitamin serta alat suntik yang masih berada di tangan suster sebelahnya, memasukkan vitamin tersebut ke tabung suntikan dan ia arahkan ke lubang infus yang berada di tanganku.

“Ini akan sedikit sakit, jadi tahan sebentar.” Ucapnya sambil mengarahkan suntikan tersebut dan menyuntikkannya persis di lubang infus  tanganku.

“Eerrgghhh..”

Aku merintih menahan sakit yang menjalar di tangan dan tubuhku. Vitamin ini dengan santainya masuk ke dalam tubuhku, menjalar melalui irat nadiku. Aku bahkan harus mencengkram sprei ranjang rumah sakit ini dengan keras karena rasa sakit yang teramat sangat. Vitamin ini benar-benar sudah menyiksa tubuhku. Saking tidak kuat menahan rasa sakit ini, aku bahkan hanya mampu menangis perih mencoba mengeluarkan semua kesakitan yang aku rasakan.

“Sshhh…gwaenchana Yeon.. sakitnya tidak akan lama.”

Aku bisa merasakan tangan dokter itu menyentuh pundakku, mengelusnya beberapa kali dan juga mengelus rambutku mencoba menghiburku dari rasa sakit yang sedang kurasakan. Ia bahkan tidak meninggalkanku sedetikpun sampai aku tidak lagi merasa kesakitan. Ia tetap berada disampingku. Melakukan apapun untuk sedikit meringankan bebanku dan tetap memastikan bahwa aku tidak sendirian saat melawan rasa sakit ini.

“Sudah lebih baik??” Tanya nya ketika aku sudah mulai tenang dan tidak lagi menangis.

Aku mengangguk lemah. Ia kemudian mengangkat sebuah nampan berisi makanan di meja samping ranjangku yang harus aku makan pagi ini.

“Kalau begitu, sudah waktunya kau makan. Cha! Makanlah.. setelah itu jangan lupa meminum obatmu! Arrayo?!” Paksanya.

“Shireoh.. aku tidak  lapar” Jawabku pelan.

Dokter itu menoleh. Ia sedikit menaikkan alisnya menatapku heran.

“Kau tidak punya pilihan Yeon! Kau mau makan sendiri atau aku yang suapi??”

Ia mengangkat piring makanan tersebut persis kehadapanku sehingga mau tidak mau aku harus menatap wajah manisnya yang tampan. Aku tidak bisa bergeming. Aku mengutuk diriku yang tidak pernah puas membalas tatapannya padaku. Wajah itu… bahkan wajah itu selalu bisa membuatku kembali bersemangat dan mau melakukan apapun permintaannya.

“Jika aku tidak mau dua-duanya??” Tawarku

Aku bisa mendengar ia sedikit menghela nafas. Setiap pagi kami selalu seperti ini. sedikit perdebatan di pagi hari hingga akhirnya aku tidak bisa menolak permintaannya setiap kali ia menunjukkan senjatanya, yaitu wajah aegyonya!!! Entahlah, mungkin bukan maksudnya ia bersikap seperti itu. mungkin juga bukan kemauannya wajahnya yang manis itu selalu mampu membuat ku gemas dan begitu mengaguminya. Tapi sungguh, wajah serta kepribadiannya benar-benar sudah menjadi obat terbaik yang bisa membuatku bertahan hingga detik ini.

“Jebal Yeonhee-ya… makanlah!” Pinta nya lagi.

Tidak tahan dengan bujukkannya, aku luluh. Kubalas permintaannya itu dengan anggukkan. Dan bisa kulihat, senyum indahnya kembali mengembang. Membuat hatiku semakin berdesir dan menginginkan senyum itu.

“Jadi, kau mau aku suapi atau kau makan sendiri?? Keduanya sama-sama mempunyai tawaran serta resiko yang menarik. karena  apapun pilihanmu, aku akan tetap berada disini. Mengawasimu dan memastikan bahwa kau menghabiskan makanan itu.” Jelasnya.

“Mwo? Kenapa begitu??”

“Yah, kalau tidak begitu kau pasti hanya akan memakan makanan itu dua atau tiga suap. Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Kau paham?!”

“Tapi Uisa Nim…”

“Ya!! Sudah berapa kali kukatakan padamu? Jangan panggil aku seperti itu!! panggil aku Sungmin Oppa!”

Aku cukup terkejut saat Sungmin memotong ucapanku dengan suaranya yang agak ketus. Begitulah ia. Semenjak aku berada di rumah sakit ini, Sungmin tidak memperbolehkanku untuk memanggilnya dengan panggilan ‘Uisa Nim’. Ia mengatakan bahwa hal itu terlalu formal mengingat hubungan ku dengannya yang bukan seperti dokter dan pasien, melainkan seperti seorang sahabat atau bahkan seorang kakak dan adik. Sungmin sendiri pernah mengatakann bahwa ia tidak ingin hubungan kami kaku. Bagi Sungmin, kesehatan dan kesembuhan ku adalah yang terpenting untuknya. Oleh karena itu, sebisa mungkin ia terus berusaha membutku nyaman berada di tempat ini dan juga nyaman berinteraksi dengannya juga dengan suster-suster lain yang juga ikut merawatku.

Tapi sayangnya semua perhatian serta kepeduliannya telah berhasil menyentuh hatiku. Berawal dari kekagumanku terhadap semua kepribadiannya, Sungmin berhasil membuat hatiku berbalik menjadi menyayanginya. Sejujurnya aku menaruh perasaanku padanya. Nama serta wajahnya sudah terlukis indah di dalam hati serta pikiranku. Walaupun aku tahu, ia tidak mungkin memiliki perasaan yang sama pada gadis yang penyakitan sepertiku.

“Yeonhee… Yeonhee-ya.. gwaenchana??”

Aku tersadar dari lamunanku saat melihat tangan Sungmin bergerak-gerak di depan wajahku.

“Ah, Ne.. Oppa.” Ucapku kikuk.

“Kau kenapa, eoh?? Cha!! Makanlah.. aku akan menunggu disini!” Ucapnya sambil menyerahkan makanan ke tanganku.

YEONHEE POV END

******

SUNGMIN POV

Aku terus mengawasinya. Memperhatikan caranya makan. Terlihat sekali bahwa ia begitu tersiksa mengunyah dan menelan makanan yang kuberikan padanya tadi. Mianhe Yeon.. kalau tidak seperti itu, kau pasti tidak akan memakan makananmu. Obatmu juga pasti tidak akan diminum. Dan itu artinya kau bisa semakin sakit. Sejujurnya aku tidak menginginkanmu terus menerus tersiksa dengan penyakit ini.

Leukemia.. yah, itulah yang dialami Yeonhee saat ini. aku bertemu dengan gadis itu sudah lama. Ia sudah beberapa kali datang berobat denganku saat awal-awal ia mengeluh sering sakit kepala dan sering mimisan. Namun, penyakitnya yang sudah mencapai stadium empat membuatnya mau tidak mau harus tetap tinggal di rumah sakit ini.

Awalnya, aku bisa melihat bagaimana depresinya gadis itu saat mengetahui bagaimana parahnya penyakitnya. Hampir selama dua minggu aku mendapatinya selalu menangis, melamun, dan bahkan ia hampir tidak pernah tidur selama dua malam karena ketakutannya pada kematian. Akibatnya, tubuhnya drop. Aku menemukannya pingsan di ranjang rumah sakit dengan darah mengalir cukup banyak dari hidungnya. Saat itu aku benar-benar panik luar biasa. aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Setelah kejadian itu, aku akhirnya meminta pada dokter kepala di rumah sakit ini agar aku ditugaskan untuk merawat dan menjadikan Yeonhee satu-satunya pasien yang aku tangani. Dan untungnya dokter kepala begitu mengerti keinginan dan penjelasanku, hingga akhirnya aku bisa benar-benar focus untuk merawat gadis itu.

Semenjak saat itu, hatiku tersentuh. Secara tiba-tiba hatiku memaksaku untuk terus berada disampingnya, terus menjaganya dan melindunginya. Aku tidak ingin kesempatan hidupnya semakin berkurang karena kesedihan yang melandanya. Sebisa mungkin, aku berusaha untuk membuat Yeonhee tersenyum dan merasa nyaman berada ditempat ini. apapun akan aku lakukan agar Yeonhee bisa melupakan rasa sakitnya.

Hingga  akhirnya  Yeonhee mulai tersenyum seperti sekarang. semangat hidupnya sudah mulai terlihat, dan aku bisa merasakan itu. tidak ada lagi Yeonhee yang murung, sedih dan terus menangis seperti beberapa bulan lalu. Aku cukup bersyukur akan hal itu. bahkan, aku bisa mengetahui bahwa kesehatan gadis itu semakin membaik, walaupun penyakit ditubuhnya tidak akan pernah hilang.

Dan yang semakin membuatku bertambah senang, ketika aku mengetahui bahwa Yeonhee sudah mulai mempercayaiku sebagai sahabatnya. Tak jarang ketika aku sedang mengunjungi kamar dan menemaninya beraktifitas, Yeonhee selalu bercerita mengenai banyak hal. Mengenai cita-citanya yang belum sempat ia capai, hingga semua harapan-harapan terakhirnya sebelum ia pergi dari dunia ini.

Yah, aku memang tidak bisa menyalahkan Yeonhee jika ia menjadi pasrah mengenai hidupnya. tidak dapat kupungkiri bahwa penyakit Yeonhee sudah sangat parah. Kemungkinan hidupnya pun mungkin bisa di hitung. Tapi aku tidak akan mengatakan itu! Melihat senyum Yeonhee yang ceria, serta impian-impiannya membuatku tidak mampu untuk menghancurkan itu semua dengan vonis ku sendiri. Biarlah  Yeonhee sendiri yang menentukan kapan ia harus menyerah atau apakah ia harus tetap bertahan. Yang kuinginkan sekarang hanyalah membuatnya bahagia, membuatnya nyaman berada disampingku, dan membuatnya sadar betapa aku mulai menyayanginya dan membutuhkannya untuk tetap hidup untukku.

“Hueeekkkk…”

Aku langsung menghampiri Yeonhee ketika mengetahui ia ingin muntah. Sepertinya ia  sudah tidak sanggup lagi memasukkan makanannya itu kedalam mulutnya.

“Kau baik-baik saja Yeon??” aku mengambil piring ditangannya dan meletakannya di meja. Ku usap punggungnya perlahan supaya tubuhnya kembali normal.

“Aku mual Oppa. Makanan itu membuatku ingin muntah” Ucapnya yang lemas.

“Ne.. Gwaenchana. Ya sudah, kalau begitu tidak usah di makan lagi. Sekarang kau minum obatnya ne!?” Pintaku sambil mengambil obat yang berada di meja samping ranjang.

Aku membantu Yeonhee meminum obatnya. Lagi-lagi, kulihat ia begitu kesulitan berusaha untuk menelan beberap butir obat yang setiap hari menjadi menu rutinnya. Hanya obat-obat inilah yang mungkin bisa sedikit memperpanjang umurnya.

“Kau tidak perlu buru-buru meminumnya, Yeon! Pelan-pelan saja. Aku tidak ingin kau sampai memuntahkan obat-obat itu.”

Sungguh aku begitu cemas setiap kali melihatnya berjuang menelan pil-pil keras yang kuberikan padanya. Aku benar-benar tidak tega melihat wajahnya yang pucat begitu tersiksa.

“Oppa, aku sudah tidak kuat! Aku lelah dengan penyakit ini!!” Ucap Yeonhee setelah ia berhasil memasukkan obat-obat itu kedalam mulutnya.

Aku hanya mampu menatap wajah sendunya. Di mata cokelatnya yang jernih, aku bahkan bisa melihat sebuah keputus asaan. Entahlah, aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang harus aku perbuat kali ini. Air matanya kembali menetes untuk kesekian kalinya. Sepertinya ia benar-benar lelah dengan penderitaannya selama ini.

Ku peluk tubuh lemah Yeonhee. Ku benamkan tubuhnya ke tubuhku, mencoba membagi kesedihan Yeonhee padaku.

“Sssshhh.. Ulljimayo. Aku tahu Yeonnie. Aku tahu.. Jebal, bertahanlah! Aku mohon.. Bertahanlah sedikit lagi!” Pintaku.

“Sampai kapan, Oppa?? Sampai kapan aku harus bertahan??” ucapnya lirih masih di pelukanku.

“Bertahanlah untukku! Bertahanlah sampai kau merasa ini semua sudah cukup.” Ucapku perlahan persis di telinganya.

“Kenapa aku, Oppa?? Kenapa harus aku yang didatangi penyakit ini?? Wae??!!”

Yeonhee semakin tidak karuan. Hatiku sakit mendengar tangisannya yang begitu lirih. Ia bahkan memukul-mukul tubuhku seiring tangisannya yang semakin keras di pelukanku. Tuhan, tidak bisakah kau pindahkan penyakitnya kedalam tubuhku?? Sungguh, aku tidak tega melihatnya terus tersiksa seperti ini. Jika pesulap itu bukan pembohong, ingin sekali aku membawanya kehadapan Yeonhee dan menyuruhnya menghilangkan penyakit Yeonhee dari tubuhnya.

“Aku menyerah Oppa.. Sungguh, aku tidak sanggup menanggungnya lagi.”

“Ssshhh!!! Andwae Yeon!! Kau tidak boleh berkata seperti itu! kau pasti sembuh.. percayalah padaku.”

Yeonhee melepaskan tubuhnya dari pelukanku. Ia menatapku begitu lirih. Membuatku yang melihatnya semakin ingin merengkuhnya.

“Aniya! Aku tidak mungkin sembuh. Kau jangan membohongiku , Oppa!”

Aku terdiam. Entahlah, semua pikiran dan hatiku begitu berkecamuk. Aku tidak mungkin membohongi diriku sendiri mengenai keadaan Yeonhee saat ini. tapi aku juga tidak ingin gadis di hadapanku ini menyerah! Sungguh, aku belum siap jika aku harus kehilangannya.

“Apa kau tahu? Di saat semua gadis berlomba-lomba berjuang untuk mencapai cita-citanya, aku hanya berjuang melawan penyakit  yang terus menggerogoti tubuhku! Bahkan di saat gadis-gadis disana memikirkan pernikahan, memiliki kekasih, dan membangun keluarga dengan pria yang mereka cintai, aku justru harus tersiksa memikirkan penyakit sialan ini!!! aku tidak mungkin bisa seperti mereka!! Tidak ada satu pria pun yang mau dengan gadis penyakitan sepertiku!!”

Sial!! Omongan Yeonhee sudah mulai ngelantur. Aniya, Yeon!! Kau masih memiliki aku. Masih ada seseorang yang menyayangimu disini. Aku mohon, jangan menyerah..

“Yeonnie, jebal.. jangan bicara seperti itu. Kau bisa seperti mereka. Kau…”

“Aku mohon jangan bicara seperti itu lagi, Oppa! Jangan bicara seolah-olah aku ini bisa sembuh!! Aku tahu kau hanya ingin menghiburku. AKU PASTI MATI!!! Cepat atau lambat penyakit ini pasti akan MEMBUNUHKU!!!” Ucap Yeonhee marah padaku  ert

Tangis Yeonhee kembali pecah. Ia sampai harus menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku benar-benar bingung melihat gadis di depanku sekarang ini. Dia benar.. aku tidak boleh menutup diri dari kenyataan. Yeonhee memang tidak akan sembuh, dan aku harus berusaha sekuat tenaga untuk membantunya bertahan lebih lama disini.

****

TAP…TAP…TAP

Aku berlari kencang ke arah kamar Yeonhee. Keadaan menjadi begitu darurat setelah aku mendapat kabar dari suster jaga bahwa Yeonhee ditemukan pingsan di kamarnya dengan darah mengalir cukup banyak dari hidungnya.

Begitu tiba di kamarnya, aku segera mengambil tindakan cepat. Ku periksa denyut nadi Yeonhee, infus yang menancap di tangannya, hingga kedua mata Yeonhee.

“Suster, cepat berikan antibiotik!!”

“Suster ambilkan semua peralatanku!”

“Suster bantu aku memasang oksigen!!! Palli!!!”

Begitulah aku yang saat ini sedang berjuang mati-matian menyelamatkan Yeonhee. Tubuh lemah gadis itu terlihat tidak berdaya dan tidak sadarkan diri. Nafas dan denyut nadi Yeonhee melemah. Sungguh, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada gadis ini.

“Suster, bawa pasien ke ICU sekarang juga. Kita tidak bisa merawatnya diruangan ini!” Pintaku pada suster yang datang bersamaku.

Ternyata tubuh Yeonhee sudah semakin parah. Leukemia stadium empat nya semakin lama mengikis daya tahan gadis itu. aku tidak ingin mengambil resiko jika merawat Yeonhee di kamarnya. Aku tidak ingin ia mengalami infeksi akibat udara atau virus yang berasal dari luar. Oleh karena itu, kuputuskan untuk segera membawanya ke ruang ICU agar ia lebih steril.

“Sungmin ssi, eotte?? Bagaimana keadaan Yeonhee??? Dia baik-baik saja kan??” Cecar seorang pria yang sangat cemas ketika aku baru saja keluar dari kamar Yeonhee.

“Ah, Hyukjae ssi.. mianhe, aku harus membawa Yeonhee ke ICU.” Ucapku pelan.

“Mwo?! Wae?? Ada apa dengan dongsaengku?? Dia baik-baik saja kan??”

“Yeonhee baik-baik saja. Hanya…”

Aku menghembuskan nafas sejenak. Entah kenapa hatiku sedikit sesak jika harus mengatakan ini di depan Lee Hyukjae, kakak Yeonhee.

“Hanya apa???” Tanya Hyukjae tidak sabaran

“Tubuh Yeonhee semakin melemah. Dia sudah tidak bisa lagi di rawat di kamar inap seperti biasanya. Aku takut, jika ia tetap dibiarkan disini, tubuhnya akan mudah terserang infeksi dan penyakit. Dan kurasa itu jauh lebih berbahaya untuk kesehatan serta…. Nyawanya.”

Hyukjae terdiam. tidak bisa kupungkiri pria dihadapanku ini begitu mencemaskan keadaan yeodongsaengnya.

“Apakah tidak ada hal yang bisa dilakukan agar Yeonhee sembuh??”

Aku terdiam,

“Mianhe, Hyukjae ssi.. penyakit Yeonhee sejujurnya sudah sangat sulit untuk di sembuhkan.”

“Tap..Tapi.. bukankah leukemia itu bisa disembuhkan dengan donor sumsum tulang belakang??   Jebal Sungmin ssi.. aku mohon, lakukan apapun supaya adikku sembuh!! Jebal….”

Aku hanya mampu terdiam melihat wajah Hyukjae yang begitu kalut dan cemas.

“Mianhe.. tapi ini sudah terlambat. Mencari donor dan melakukan operasi di saat kanker sudah memasuki stadium empat hal yang sangat sulit. Kemungkinan sembuh pun hanya sepuluh persen. Mianhe…jeongmal mianhe…” ucapku langsung berjalan pergi meninggalkan Hyukjae di tempatnya.

****

Aku membuka pintu ruang ICU secara perlahan. Disana, dapat kulihat tubuh Yeonhee tergeletak tidak sadarkan diri, penuh dengan selang serta infus yang menancap ditubuhnya. Secara perlahan, kudekati tubuh lemah itu. kutatap wajah pucat Yeonhee, terlihat sekali bahwa ia begitu kesakitan dengan penyakit yang dideritanya.

Kusentuh perlahan pergelangan tangan Yeonhee. Kugenggam tangan pasien yang sudah menyita seluruh perhatian ku selama hampir setahun ini. Entahlah, secara tiba-tiba hatiku mendadak sesak tidak karuan. Sekelebat ketakutanku akan kehilangan Yeonhee begitu merasuk kedalam pikiranku. Ingin sekali rasanya aku berjuang mencari cara supaya aku bisa menyembuhkan Yeonhee.

“Kau tahu Yeon? Tidak pernah aku merasakan sebuah perasaan yang kuat seperti ini sebelumnya pada pasien-pasienku. Kau adalah alasanku untuk selalu berusaha menjadi seorang dokter yang hebat. Kaulah alasanku untuk tetap bertahan. Walaupun kau tidak mempercayainya, tapi kaulah alasanku untuk tetap berada disini, membantumu melawan semua rasa sakitmu..”

Tidak ada jawaban dari Yeonhee. Kedua mata indah itu masih tetap terpejam. Bahkan walaupun kedua tanganku terus menggenggam tangannya yang lemah. Yeonhee sepertinya tidak bisa menyadari itu semua.

“Ireona, Yeon.. Jebal.. Bertahanlah sebentar lagi. Setidaknya, biarkan aku melakukan sesuatu untuk memberikan semua yang terbaik untukmu. Jebal.. Berikan aku kesempatan untuk meninggalkan kesan yang indah di hidupmu..”

Hatiku perih. Sungguh, ingin sekali rasanya aku menangis. Tuhan, bisakah aku meminta padamu untuk menahannya sebentar lagi disini?? Sejujurnya, aku masih ingin bersamanya. Aku masih ingin menemani hari-harinya, walaupun aku tahu bahwa waktunya sudah tidak lama lagi. aku begitu ingin Yeonhee tahu bagaimana perasaanku padanya. Aku ingin ia mengetahui semua yang aku rasakan sebelum ia benar-benar pergi.

…………………………………………

Aku merasakan usapan lembut di rambutku. Rasanya begitu nyaman. Apakah aku bermimpi? Entahlah.. sepertinya aku tertidur di kamar ICU ini. perlahan-lahan, ku buka kedua mataku. Dan kudapati Yeonhee lah yang melakukan itu semua padaku.

“Yeonnie, kau sudah sadar??” Ucapku begitu senang ketika melihatnya tersenyum padaku. Bahkan dengan selang oksigen yang berada diwajahnya tetap tidak bisa menutupi kecantikan wajahnya.

Kulihat ia hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan.

“Apa kau merasa sakit?? Katakanlah..” ucapku sambil memeriksakan keadaannya, mulai dari infusnya, oksigennya, bahkan hingga denyut nadinya.

“An..ni Oppa..” Ia terlihat berusaha untuk berbicara. Padahal, aku tahu bahwa tubuhnya masih begitu lemah.

Baru saja aku hendak beranjak dari tempat, tiba-tiba tangan Yeonhee menahan tanganku untuk pergi. Segera saja aku menoleh ke arahnya.

“Wae kudae, Yeon?? Kau butuh sesuatu??” tanyaku.

“Apakah.. Natal sudah lewat??”

Pertanyaan Yeonhee membuatku sedikit terdiam. segera ku arahkan kedua mataku ke jam tangan di tangan kiriku untuk melihat tanggal yang tertera disana.

“Aku rasa.. masih ada tiga minggu lagi sebelum natal tiba. Wae Yeon?? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”

Yeonhee tersenyum kecil.

“Apa aku masih bisa merayakannya, Oppa??”

Pertanyaan Yeonhee barusan seperti sebuah hantaman keras untukku. Bagaimana bisa ia berpikiran seperti itu? sungguh, ini merupakan pertanyaan sulit yang bahkan aku sendiri tidak bisa menjawabnya.

“Oppa…”

Suara lemah Yeonhee menyadarkanku dari lamunan.

“Oh, Yeon.. kau.. apa yang kau bicarakan eoh?” aku berusaha berkelit.

“Jawab Oppa.. apakah aku masih bisa merayakan natal tahun ini??”

Jebal Yeon! Aku mohon jangan paksa aku untuk menjawabnya. Semua kata-kata gadis itu seperti sebuah tanda untukku. Aku tidak ingin ia mengatakan itu.

“Te..tentu saja! Kau bahkan bisa merasakan natal di tahun-tahun berikutnya” ucapku sedikit.. tidak yakin, mungkin?!

“Syukurlah…”

Senyum Yeonhee mengembang. Sesenang itukah ia? Sebesar itukah harapan gadis di depanku ini untuk bisa merayakan natal?

Menyadari harapan serta keinginan Yeonhee barusan, aku seperti mendapat ide cemerlang. Mungkin, ini adalah salah satu cara agar aku bisa membuat Yeonhee bahagia. setidaknya, aku bisa membuat natalnya menjadi suatu kenangan yang tidak akan pernah dilupakannya.

****

Aku berjalan dengan cepat menuju kamar tempat Yeonhee masih berbaring. Aku sedikit tersenyum membayangkan reaksi Yeonhee saat aku memberi hadiah yang saat ini berada di tanganku. Sejak semalam, aku begitu menyiapkan semua hadiah ini dengan teliti. Walaupun hadiah ini sederhana, tapi aku yakin ini akan memberi sedikit efek kesembuhan bagi Yeonhee. Setidaknya, ia bisa melupakan sejenak semua rasa sakitnya.

Kubuka perlahan pintu ruang ICU tempat Yeonhee berada. Disana, kulihat Hyukjae, kakak Yeonhee sedang berkunjung. Mereka terlihat seperti berbincang sejenak.

“Mianhe aku menganggu waktu kalian berdua”. Ucapku sambil tersenyum.

Yeonhee dan Hyukjae sepertinya tertegun dan heran dengan barang yang ada ditanganku.

“Ige mwoya, Sungmin ssi??” Tanya Hyukjae lebih dulu

“Ah..ige? yang jelas ini bukan untukmu, Hyukjae ssi” jawabku tersenyum usil yang berhasil membuat Yeonhee juga ikut tersenyum

Kualihkan pandanganku ke arah Yeonhee yang masih terbaring. Kondisi tubuhnya saat ini sudah lebih baik dari kemarin. Aku bersyukur mengetahui itu.

Begitu tiba di depannya, aku segera menunjukkan hadiah-hadiah yang ku bawa kehadapannya. Free-Shipping-20-pcs-lot-Wholesale-Christmas-Santa-Claus-big-socks-The-Best-font-b-Gift peace and love letterpress stationery

“Ini untukmu. Kau suka??” Tanyaku

Ia tersenyum kecil. Namun, terlihat jelas sekali ia kebingungan dengan hadiah-hadiah yang kuberikan untuknya.

“Untuk apa, oppa?”

“kau lihat beberapa kertas kecil ini?? mulai hari ini sampai malam natal nanti, kau tulislah semua permohoan dan keinginanmu di kertas ini. setiap hari… dan setelah itu, masukkan semua permohonanmu ke dalam kaus kaki santa ini. Permohonanmu pasti akan terkabul”. Jelasku panjang lebar.

Yeonhee terlihat mulai tertarik. Ia mengambil hadiah-hadiah tersebut dari tanganku dan hanya menatap hadiah tersebut baru kembali menatapku.

“Apa ini benar-benar akan berhasil??” Tanyanya ragu

“Jika kau menulisnya dengan sepenuh hati, oppa yakin itu akan berhasil yeonnie..” Hyukjae terlihat membantuku untuk meyakinkan adiknya itu.

Dan begitulah setelahnya. Yeonhe benar-benar melaksanakan semua yang kusuruh. Setiap hari, tidak pernah lupa ia selalu menulis semua permohonan serta keinginannya di hari natal nanti. Ia bahkan terlihat jauh bersemangat, berbeda sekali dengan hari-hari sebelumnya. Setiap pagi sebelum sarapan atau sebelum melakukan kemoterapi, Yeonhee akan selalu menyempatkan diri untuk menulis semuanya itu dan memasukkan kertas permohonan yang sudah ia tulis ke kaus kaki santa. Dan saat malam hari, kaus kaki santa itu menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum ia tertidur lelap.

Aku tersenyum senang melihat kemajuan Yeonhee. Tidak ada yang lebih melegakan untukku ketika aku berhasil membuat Yeonhee kembali tersenyum. Karena kemajuan pesatnya itu, Yeonhee bahkan sudah kembali di pindahkan di ruangan khusus yang steril, walaupun bukan di kamar inap biasanya. Namun hal itu tidak membuat Yeonhee putus asa. Hadiah yang kuberikan kepadanya ternyata membuat senyumnya kembali. Setidaknya, ia bisa melupakan sejenak penyakit yang terus memakan sel darah nya.

“Ehemm… rasanya, aku seperti diduakan oleh kaus kaki itu.” ucapku sedikit mengagetkannya saat melihatnya begitu serius memandangi kaus kaki santa pemberianku.

Yeonhee menoleh dan tersenyum

“Aigoo.. ternyata seorang dokter bisa cemburu juga eoh?” Sindir Yeonhee.

Aku tersenyum dan menghampirinya, ikut melihat kaus kaki yang menjadi pusat perhatiannya hampir dua minggu ini. 0319snowdrop18

“Sepertinya kau benar-benar melaksanakan apa yang ku pinta, Yeon.” Ucapku saat melihat kaus kaki santa itu sudah hampir penuh oleh kertas-kertas permohonan yang Yeonhee tulis.

Yeonhee tersenyum padaku.  pandangan mata gadis itu tidak henti-hentinya ia arahkan ke tempat permohonannya berada.

“Walaupun aku sudah tidak bisa sembuh, walaupun hidupku sudah tidak lama lagi.. setidaknya, aku masih memiliki satu keinginan sebelum aku benar-benar pergi. Bahkan jika keinginan itu hanya satu detik, aku akan tetap bahagia jika itu bisa terjadi.”

“Yeon..”

Yeonhee menoleh. Aku melihat sebuah tekad kuat dalam pancaran matanya . 5TR

“Boleh aku tahu, apa permintaanmu??”

Yeonhee membuang wajahnya. Ia tersenyum sambil menatap langit-langit kamar rumah sakit.

“Hanya sebuah permintaan sederhana yang kuminta. Entahlah, apa aku bisa mendapatkannya atau tidak.” Jelasnya.

“Jika kau berhasil mendapatkannya, apa yang akan kau lakukan?? Apa kau merasa bahagia??”

“ Ne.. jika aku berhasil mendapatkannya, aku rasa aku bisa pergi dengan tenang. Setidaknya, aku sudah bisa mengukir sebuah kenangan terakhir yang indah di akhir hidupku.”

Aku hanya mampu menatap  Yeonhee begitu dalam. Rasa penasaranku akan permintaan Yeonhee sukses membuat pikiranku terbagi dua. Bisakah aku mengabulkan semua permintaan Yeonhee? Rasanya, aku ingin melakukan banyak hal dengan gadis itu. Aku ingin menciptakan banyak memori indah untuknya jika ternyata semua permintaannya tidak bisa terkabulkan.

“Yeon, kau mau jalan-jalan??”

****

24 DECEMBER

Aku sudah bersiap-siap. Hari ini, aku memutuskan untuk membawa Yeonhee jalan-jalan. Sebagai dokter, aku juga tidak tega jika melihat pasienku terus terkurung di kamar rumah sakit. Aku ingin Yeonhee merasakan udara luar yang sudah lama sekali tidak ia rasakan lagi. aku ingin membawanya ke Lotte world. Aku bahkan sudah memesan dan membooking tempat itu khusus hanya untuk aku dan Yeonhee.

Di malam natal ini, aku ingin Yeonhee juga ikut merasakan kebahagiaan natal seperti yang orang lain rasakan.

TOK…TOK…TOK

“Sudah siap Yeon??” tanyaku saat masuk kedalam kamarnya.

Aku cukup tertegun saat ia menoleh. Dengan dress putih cantik, jaket biru tebal serta syal abu-abu senada dengan jaketnya yang melingkar di lehernya membuat Yeonhee terlihat seperti bukan seorang pasien yang sakit parah. Topi rajut berwana putih terlihat manis tersemat di kepalanya, menutupi rambutnya yang sudah semakin tipis.

“Apa aku terlalu berlebihan??” Tanya Yeonhee memintaku memperhatikan penampilannya. Dan itu sukses menyadarkanku dari lamunanku.

“Eh.. Hmmm.. aku rasa itu cukup, Yeon. Aku membawa jaket di mobilku jika kau masih kedinginan nanti.” Ucapku.

Aku begitu mempersiapkan semuanya dengan matang dan begitu detail. Mengingat desember adalah musim dingin, aku harus memastikan kesehatan serta keselamatan Yeonhee menjadi yang utama sebelum aku mengajaknya keluar.

“Kita pergi sekarang??” ajakku.

Yeonhee mengangguk. Aku segera menarik kursi roda yang berada samping ranjang dan menyuruhnya untuk segera duduk disana.

“Chankaman Sungmin ssi. Kau tidak ingin memberiku kesempatan untuk berpamitan dengan adikku eoh??”

Aku menoleh mendapati Hyukjae yang berada disana. Saking fokusnya aku menatap Yeonhee, aku sampai tidak menyadari bahwa Hyukjae juga berada disana.

“Ah..ne..ne.. Mianhe, aku lupa.” Ucapku sambil sedikit tertawa.

Hyukjae segera berjalan ke arah Yeonhee. Ia berlutut untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan tubuh Yeonhee yang duduk di kursi roda.

“Bersenang-senanglah.. Oppa tahu kau pasti rindu suasana diluar sana.” Ucap Hyukjae tersenyum sambil mengelus kepala Yeonhee.

“Ne Oppa.. Gomawo sudah memperbolehkan aku pergi”

“Jika dengan Sungmin, aku memperbolehkanmu pergi kemanapun. Aku percaya ia bisa menjagamu dengan baik.”

Hyukjae melepaskan sarung tangan yang di pakainya. Lantas mengambil tangan Yeonhee dan memakaikan sarung tangan yang tadi dipakainya ke tangan Yeonhee. Tidak lupa, Hyukjae juga memakaikan penutup telinga menjaga supaya adiknya tetap merasa hangat.

“Cha.. pergilah. Jaga dirimu baik-baik. Jika kau sudah lelah, mintalah pada Sungmin untuk mengantarmu pulang. Arrachi?!” Pesan Hyukjae.

Yeonhee tersenyum. Ia mengusap tangannya ke pipi Hyukjae.  rgfhy

“Ne Oppa… Oppa tidak perlu cemas.”

Sebelum pergi, Yeonhee menyempatkan diri memeluk tubuh Kakak laki-lakinya itu cukup lama. Ia bahkan terlihat membenamkan wajahnya ke pundak Hyukjae seakan-akan ia akan pergi untuk waktu yang lama.

“Jaga diri oppa baik-baik, ne.. Aku pasti akan merindukan Oppa..”

“YA!! Kau ini.. kalian hanya pergi selama beberapa jam saja. Kenapa ucapanmu seperti itu?!” Omel Hyukjae masih mendekap Yeonhee.

Suasana hening tercipta selama beberapa detik sebelum akhirnya Yeonhee kembali berkata

“Aku sayang Oppa.. Nan jeongmal saranghae.”

Hyukjae melepas pelukannya. Ia menatap wajah adiknya itu sendu.  101022-eunhyuk01 Aku bahkan bisa melihat air mata mulai menggenang di kedua mata pria itu. entahlah, aku merasa ini bukan seperti adegan untuk berpamitan pergi, melainkan adegan perpisahan.

“Nado.. Oppa juga sayang padamu! I love u, Yeonnie…” Ucap Hyukjae yang langsung mengecup kening Yeonhee. Ia kemudian berdiri dan memberi jalan pada kami.

“Cha!! Pergilah.. selamat bersenang-senang.”  Ucapnya mencoba tersenyum.

Aku mulai mendorong kursi roda Yeonhee perlahan-lahan keluar dari kamar. Namun, saat kami berada di pintu, suara Hyukjae kembali menghentikan langkahku.

“Sungmin ssi.. aku percayakan adikku padamu! Tolong jaga dia baik-baik” pesannya.

Aku menganggukkan kepala.  956333

“Arraseo. Kau bisa mempercayaiku”

****

LOTTE WORLD

Aku mendorong perlahan kursi roda Yeonhee, membiarkannya menatap pemandangan indah di wahana permainan ini. aku bisa melihat senyumnya terus mengembang. Ia juga bahkan beberapa kali terlihat mengabadikan beberapa pemandangan yang menurutnya indah di ponsel miliknya. Yeonhee bahkan juga beberapa kali memintaku untuk membelikannya jajanan yang dijual disana, walaupun sudah ku larang berkali-kali.

“Sekali saja oppa. Jebaall… aku sudah lama sekali tidak makan kembang gula.” Pinta nya dengan puppy eyes.

Aku hanya mampu menghela nafas lelah. Gadis ini benar-benar susah untuk dinasehati.

“Arra!! Tapi hanya kali ini saja!!”

Yeonhee mengangguk senang. Mau tidak mau, kuturuti permintaannya. Kubelikan kembang gula yang dinginkannya. Dan apa yang kulihat?? Ia tersenyum senang. Omoo..sepertinya aku sedang membawa anak sekolah dasar ketempat ini.

“Oke, setelah ini, kau mau kemana Yeon??” tanyaku sambil terus melanjutkan jalan kami.

“Hmmm…aku ingin ke Magic Island. Apa kau keberatan, Oppa??” tanyanya pelan. Sepertinya Yeonhee merasa tidak enak karena sedari tadi aku terus mendorong kursi rodanya dan melarangnya untuk berjalan kaki walaupun ia sangat menginginkannya.

“Aniya Tuan putri. Kalau kau ingin kesana, kajja…” Ucapku sedikit berteriak girang.

Kubawa Yeonhee kesana, dan kubiarkan gadis itu kembali mengenang masa-masa kecilnya di tempat ini. Aku bahkan hanya mampu tersenyum saat melihatnya begitu antusias dan tak henti-hentinya tersenyum saat masuk kedalam istana di Lotte World tersebut.

Puas membawanya kesana, aku segera mendorong kursi roda Yeonhee dan membawanya menaiki wahana yang tidak berbahaya.

Cukup lama aku dan Yeonhee menghabiskan waktu bersama. Malam yang semakin larut pun semakin membuat senyuman Yeonhee mengembang sempurna. Jujur, inilah senyum termanis yang pernah aku lihat dari wajahnya selama setahun aku mengenalnya. Senyuman di wajahnya benar-benar menggambarkan kebahagiaan yang dirasakannya saat ini. aku bersyukur bisa membuat senyumnya kembali.

“Oppa..” Yeonhee menoleh dan mencoba menatapku yang masih berdiri di belakang kursi rodanya

“Ne, Yeon.. ada apa?? kau lelah??” Tanyaku sedikit cemas. Wajah Yeonhee sudah mulai pucat karena udara malam yang semakin dingin.

Yeonhee menggeleng.

“Aku mau coba naik itu. Apa aku boleh??”

Aku langsung mengarahkan pandanganku ke arah wahana yang di tunjuk Yeonhee. Bianglala.. aku tersenyum ke arahnya.

“Kau mau naik itu??”

“Hmmm” Yeonhee mengangguk.

“Arraseo.. kita kesana sekarang.” Ucapku langsung mendorong kursi roda Yeonhee dan mengarahkannya ke bianglala yang berada beberapa meter di depan kami.

Sesudah berada di dalam bianglala tersebut, aku segera mendekatkan tubuhku ke arah Yeonhee. Aku harus memastikan bahwa ia nyaman dan tidak merasa kedinginan.

Selama beberapa menit, aku dan Yeonhee hanya terdiam menikmati putaran bianglala ini. saat kami berada di atas, aku bisa melihat Yeonhee dengan antusias memotret pemandangan indah di bawahnya. Jika aku bisa, ingin sekali aku menghentikan waktu. Membuat waktu memihak padaku supaya aku bisa terus bersama dengannya.

“Oppa, cha kita foto bersama..” Ajak Yeonhee yang langsung menarik  tanganku untuk semakin mendekat ke arahnya. Yeonhee segera merangkul tanganku, mendekatkan kepalanya ke kepalaku sambil mengarahkan kamera yang di pegangnya ke depan.

“Say kimchiiii…” Ucapnya yang langsung ku ikuti.

Blitz kamera menyala sebanyak dua kali. Dan begitu hasil foto tersebut keluar, aku dan Yeonhee sama-sama tertawa melihat tingkah lucu  kami saat berpose tadi. Yeonhee bahkan terlihat tidak mengalihkan pandangannya dari foto yang berada di tangannya.

“Uhuukkk…uhukkkk….”

Aku segera menoleh cepat ketika mendengar Yeonhee terbatuk saat sedang asik melihat foto kami.

“Gwaenchana Yeonnie?? Omoo… hidungmu!!” Ucapku panic ketika melihat darah segar keluar dari hidungnya. Segera saja aku mengambil tissue yang kubawa dan kuusap darah itu dari wajahnya.

“Gwaenchana Oppa..” Ucapnya mencoba menenangkanku.

“Kita pulang saja, ne?!! Kau pasti lelah.”

“Aniya. Aku masih ingin disini.” Tolak Yeonhee

“Tapi Yeon….”

“Jebal Oppa… “ mohonnya sambil mengeluarkan puppy eyesnya.

Aku hanya bisa menghela nafas pasrah. Yeonhee memang selalu begitu. Ia akan sukses membuatku tidak berkutik dengan wajah cantiknya yang membuatku gemas.

“Arraseo!! Sepuluh menit lagi kita pulang! Aku tidak ingin kau menolak lagi atau mencoba merayuku untuk tetap disini! Arrayo??”

Yeonhee tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju. et

Selama beberapa menit, kami hanya mampu terdiam sambil tetap menikmati putaran bianglala yang masih senantiasa membawaku dan Yeonhee naik turun. Hingga, aku merasakan kepala Yeonhee disandarkan di bahuku. Membuatku menoleh ke arah gadis itu.

“Wae gurae Yeon??” Tanyaku yang kemudian  reflex merangkulkan tanganku ke pinggangnya, meminta supaya gadis itu semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Aku yakin ia pasti merasa kedinginan.

“Dingin, Oppa..”

Benar dugaanku. Dengan cekatan, aku menjauhkan sejenak tubuh Yeonhee yang masih bersandar di pundakku dan membuka jaket tebal yang ku pakai. Ku sampirkan dengan segera ke tubuh Yeonhee yang menggigil kedinginan dan segera ku peluk lagi tubuh lemah Yeonhee  dan menyandarkan tubuhnya ke pundakku. Tanganku pun mencoba mengambil kedua tangannya dan menggenggamnya supaya ia merasa hangat.

“Sekarang sudah lebih baik??” tanyaku menoleh ke arahnya.

“Ne, Oppa.. rasanya nyaman.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Syukurlah ia masih baik-baik saja. Aku bahkan bisa merasakan nafasnya yang teratur di tubuhku.

“Oppa…”

Aku menoleh ke arah Yeonhee di sampingku.

“Beberapa menit lagi, natal akan tiba. Rasanya aku tidak sabar..” Ucapnya gamang.

“Kau senang, Yeon??” Balasku

“Ne Oppa.. aku senang akhirnya aku bisa merayakan natal lagi tahun ini.”

“Jeongmal??” Tanyaku antusias.

“Lantas, apa yang membuatmu senang merayakan natal tahun ini??” Lanjutku.

Kurasakan tubuh Yeonhee semakin merapat ke tubuhku. Entah kenapa, aku merasakan tubuhnya sedikit bergetar. Apakah dia menangis??

“Aku senang karena Tuhan masih mengijinkan aku untuk hidup sampai detik ini. Dan aku juga senang karena aku bisa merayakan natal bersama dengan orang-orang yang aku cintai.”

Aku bisa mendengar suaranya yang sedikit sengau akibat tangisannya. Tapi, ada sebuah keraguan dalam hatiku mendengar ucapan Yeonhee barusan.

“Yeon.. apakah aku termasuk dalam daftar orang yang kau cintai??” entah mendapat keberanian darimana, aku mengucapkan kalimat tersebut.

Yeonhee bangkit dari dekapanku. Ia menatap wajahku begitu lembut.

“Jika Oppa berpikiran seperti itu, aku senang mendengarnya.”

Yeonhee tidak menjawab pertanyaanku. Apakah itu berarti aku bukan seseorang yang dicintainya?? Apakah hanya Lee Hyukjae, kakak satu-satunya yang ia cintai saat ini?? entahlah.. mendengar ucapan Yeonhee barusan, aku seperti terhempas jatuh kedalam kenyataan. Bagaimana mungkin aku bisa berkata seperti itu padanya?? Aku merasa seperti tidak memiliki harga diri karena sudah menanyakan hal tersebut.

TENG…TENG…TENG…

Aku mendengar lonceng gereja menggema di telingaku. Hari natal sudah tiba. Dan dapat kulihat, Yeonhee menunduk, memejamkan matanya dan berdoa. Disaat seperti ini, aku hanya mampu memandang wajahnya yang terlihat lembut dan begitu anggun. Aku tidak tahu apa saja yang ia ucapkan dan ia panjatkan didalam doanya. Tapi yang jelas, aku bisa merasakan kesungguhan hatinya yang ia tampilkan di hadapanku.

“Sungmin Oppa….”

Aku tersadar dari lamunanku saat suara Yeonhee memanggilku. Ternyata gadis itu sudah selesai dan kembali menoleh ke arahku.

“Merry Christmas…” ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya ke arahku.

“Ah… Ne.. Merry Christmas Yeon…” balasku menerima jabat tangannya.

“Oppa tidak mengucapkan permohonan??” Tanyanya

Aku tersenyum sebentar ke arahnya.  ???????????????????????????????

“Aku tidak perlu menunggu hari natal untuk mengucapkan permohonanku. Setiap hari, setiap jam, setiap menit dan bahkan setiap detik, aku selalu mengucapkan permohonanku berkali-kali pada Tuhan.”

“Memang, apa permohonanmu Oppa??” Yeonhee terlihat penasaran.

Aku menghadapkan tubuhku ke arahnya. Ku tatap Yeonhee begitu dalam dan kugenggam kedua tangan gadis itu.

“Kesembuhanmu.. hanya itu Yeon. Hanya itu satu-satunya permohonanku saat ini.”

Yeonhee terdiam. ia mencoba mengalihkan tatapannya dariku. Ia tersenyum getir. Bahkan, gadis itu tidak menyadari jika setetes air matanya jatuh ke pipinya.

“Apa aku salah Yeon?? Apa aku salah jika aku mengharapkan mukjizat itu terjadi??”

Tidak ada jawaban dari Yeonhee.

“Walaupun aku seorang dokter, tapi aku juga manusia biasa. Aku juga bisa gagal menyembuhkanmu. Dan aku juga membutuhkan mukjizat itu sama seperti manusia lainnya Yeon.. Apa aku tidak boleh memin…”

“Sssshhhh…” Yeonhee langsung meletakkan jari telunjuknya di bibirku, memotong semua ucapanku padanya barusan.

“Gomawo, Oppa… Jeongmal gomawoyo..” Ucap Yeonhee begitu pelan.

Tidak tahan, segera ku peluk tubuh mungil Yeonhee dengan erat. Kubenamkan wajahku kepundak gadis itu, merasakan kehangatan tubuh lemahnya yang sedikit menggigil kedinginan. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku saat ini. Aku tidak tahu kenapa kini diriku yang menjadi lemah dan putus asa dengan semua keadaan ini. aku merasa gagal. Aku merasa semua yang terjadi padaku dan Yeonhee adalah ketidakadilan. Sebuah ketakutan hebat mendera hatiku saat ini. Aku takut.. sungguh, aku begitu takut kehilangan Yeonhee. Aku tidak ingin gadis itu pergi meninggalkanku sendirian.

“Bolehkah aku sedikit egois, Yeon?? Bolehkah kalau aku memintamu untuk tetap disini?? Salahkah semua yang aku lakukan ini??”

“Jebal Yeon.. Tetaplah disini!! Tetaplah bertahan untukku..” Ucapku sedikit lirih. Ingin sekali rasanya aku menangis, tapi air mata ini terlampau sulit untuk keluar.

Aku merasakan tangan Yeonhee mengusap punggungku.

“Jebal Oppa.. aku mohon jangan menahanku seperti ini. aku tahu kau adalah pria yang kuat.”

“Andwe Yeon.. Jebal andwae..”

“Ssshhh… Aku lelah Oppa. Sungguh, tubuhku benar-benar lelah. Aku butuh istirahat. Apa kau tega terus membiarkanku tersiksa seperti ini?”

Aku melepaskan pelukan kami. Ku genggam wajah Yeonhee dengan kedua tanganku. Ku pandangi wajahnya sepuasku. Ku telusuri kedua matanya, hidungnya, bahkan hingga bibirnya. Hingga sebuah keberanian menyerang diriku. Dengan perlahan-lahan, kudekatkan wajahku ke wajahnya. Hingga akhirnya kedua bibir kami bertemu. Ku kecup bibir mungilnya yang putih pucat selama beberapa saat. Biarlah waktu ini menjadi milik kami. Biarlah detik-detik yang berdetak ini menjadi sebuah kenangan terindah yang akan aku simpan dalam kenanganku dan Yeonhee.

“Oppa… Kepalaku pusing. Bolehkah kupinjam bahumu lagi??” Ucap Yeonhee pelan setelah kami melepaskan ciuman kami.

Aku segera mendekap tubuh Yeonhee yang semakin menggigil dan membiarkan kepalanya bersandar dibahuku. Kami terdiam sesaat. Ketakutan serta kecemasanku semakin bertambah ketika Yeonhee menggenggam tanganku. Aku mohon Tuhan, jangan sekarang…

“Oppa, Gomawo.. jeongmal gomawo untuk semuanya. Terima kasih kau sudah mau bersabar merawatku. Terima kasih kau sudah memperhatikan aku. Dan terima kasih untuk semua perhatian yang sudah kau berikan untukku..”

Aku terdiam. sejujurnya aku sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Tuhan, tidak bisakah Kau menahannya sejenak? Ingin sekali rasanya aku berteriak padaNya.

“Oppa, maukah kau berjanji padaku??” Tanya Yeonhee lagi.

“Ne Yeon…”

“Berjanjilah untuk terus menjadi seorang dokter yang hebat. Jangan putus asa hanya karena kau merasa gagal menyembuhkanku, lantas kau mengabaikan orang lain yang juga membutuhkanmu. Berjanjilah kau akan selalu tersenyum bahagia seperti biasanya. Dan berjanjilah untuk tidak menangisi kepergianku.”

Tidak Yeon!! Sungguh aku mohon jangan mengucapkan kalimat itu. Hatiku sesak. Semua ucapan Yeonhee membuat tubuhku tidak mampu menopang beban kesedihan yang sedang aku rasakan.

“Kajima Yeon.. Jebal kajima…” Pintaku pelan sambil terus memeluknya dan menggenggam tangannya yang semakin melemah.

“Oppa, aku tidak pergi kemana-mana. Aku masih tetap di sini. Aku… Aku hanya lelah.” Ucapnya semakin lemah.

Nafas Yeonhee semakin melemah. Aku tidak tega lagi melihat gadis dalam dekapanku begitu kesakitan. Ku peluk dirinya semakin erat. Ku kecup lembut kepalanya. Aku menghela nafas begitu keras dan mencoba menguatkan diri dan hatiku. Mungkin memang sudah saatnya aku membiarkannya pergi.

“Jika kau memang lelah, tidurlah.. Tidurlah Yeon.. Aku akan menjagamu.”

SUNGMIN POV END

*****

AUTHOR POV

Sungmin terus mendekap Yeonhee dalam pelukannya. Ia mulai merasakan tubuh Yeonhee mulai mendingin. Sungmin merasakan tidak ada lagi hembusan nafas dari tubuh gadis itu. Tangan Yeonhee yang berada dalam genggamannya pun jatuh terkulai.

“Yeon…” Panggilnya pada Yeonhee begitu pelan. Tidak ada jawaban dari gadis itu.

“Yeonhee-ya…” Panggil Sungmin lagi seperti ingin memastikan firasatnya. Ia bahkan tidak melepaskan tatapan kosongnya dari pemandangan didepannya.

“Yeonhee-ya..” Panggilnya yang ketiga kali. Semuanya tidak berhasil.

Menyadari hal tersebut, hati Sungmin terasa begitu perih. Hatinya begitu sakit merasakan kehilangan yang teramat besar dalam hidupnya. Air mata Sungmin menetes begitu saja di kedua pipinya namun dengan raut wajah yang tetap datar. Gejolak emosi yang Sungmin rasakan bukanlah terjadi di fisiknya, melainkan didalam hatinya. Semua kesedihan, kemarahan, serta kesakitan begitu menusuk tepat di hati pria tampan itu saat harus mengetahui kenyataan bahwa Yeonhee telah pergi selama-lamanya. Tidak ada lagi suara lembut gadis itu yang senantiasa memanggil namanya. Tidak ada lagi rengekan gadis itu yang selalu memohon padanya. Tidak ada lagi senyuman gadis itu yang selalu membuat dirinya merasa rindu untuk bertemu dengannya. Dan tidak ada lagi tangisan gadis itu yang selalu mampu membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya.

Air mata Sungmin masih menetes. Ia hanya mampu terdiam sambil merasakan tubuh kaku Yeonhee yang masih setia dalam pelukannya.

BRUK…

Sungmin menoleh ke bawah saat melihat tas Yeonhee terjatuh dari pangkuan gadis itu. mata Sungmin tertuju pada sebuah benda yang begitu ia kenal. Benda yang pernah ia berikan untuk Yeonhee sebagai hadiahnya. Sungmin mengambil kaos kaki santa yang sudah tampak penuh dengan kertas-kertas permohonan yang Yeonhee buat. Dengan satu tangannya, Sungmin mencoba mengambil kertas-kertas tersebut. Diletakkannya lembaran-lembaran kertas tersebut dipangkuannya dan mulai di bukanya satu persatu kertas permohonan tersebut.

Seketika, hati Sungmin seperti ditusuk dengan amat sangat keras begitu ia membaca permohonan Yeonhee di kertas tersebut. kesedihan dan kesesakan begitu menggelayut di hatinya saat mengetahui permohonan gadis itu. Sebuah tulisan yang sama yang ia baca di kertas-kertas lainnya. hgv

‘Tuhan, Ijinkan aku untuk bisa merayakan natal bersama dengan pria yang kucintai walau hanya satu detik.’

Sungmin akhirnya menyadari hal bodoh yang terlambat ia sadari. Ia merasa marah pada dirinya sendiri, kenapa ia tidak menyadari perasaan Yeonhee padanya. Kenapa ia begitu bodoh sudah meragukan perasaan gadis itu dengan mengatakan bahwa Yeonhee tidak mungkin mencintainya.

Hati  Sungmin semakin hancur. Kesedihan hatinya benar-benar sudah berhasil membuat hatinya remuk redam akibat kehilangan Yeonhee. Ditambah lagi, ia terlambat menyatakan perasaannya pada gadis itu. Sungmin ingin sekali berteriak. Ia ingin dunia tahu bahwa ia begitu marah, bahwa ia begitu tersiksa dengan kepergian wanita yang dicintainya.

Sungmin mencoba melihat jam di tangannya. Pukul dua belas lewat tiga puluh dini hari.

Ia kemudian segera menoleh ke arah Yeonhee yang sudah terbujur kaku. Dieratkannya tubuh Yeonhee kedalam tubuh Sungmin. Dikecupnya berulang-ulang kepala gadis itu.

“Permohonanmu telah terkabul Yeon.. Kau sudah merayakan natal bersama denganku. Sekarang, tidurlah dengan tenang. Selamat jalan, Yeon.. Pergilah.. Aku merelakanmu..”  p1000324

-THE END-

10 thoughts on “GOODBYE MY L♥VE

  1. ha! bisa kan? pke nb dulu nih eonni. sepertinya hpnya error kkk~
    yg jelas ff mu daebak!
    menunggu ff selanjutnya yg bakal dirilis dan lebih WOW
    FIGHTING!!! ^^
    \(^o^)d

  2. huaaaa eon tanggung jawab #TodongTissue hoaaaa daebak eon aq paling suka sma ff yg genre’a kya gini semua emosi keluar n dalem bgd kkkk~ daebak 1000 jempol buat eonni

  3. Huwaaaaaa knapa nyesek begini……
    Alur ceritanya pas dan bener-bener mampu mengaduk-ngaduk emosi…. kenapa nggak dibikin jadi series aja?? pasti lebih gereget lagi🙂
    Bagus,,,,keep writing thor ^^

  4. wahhh…..daebakkkk thorrr..ceritanya fellnya dapat sediihhh bangettt,,huuhuuhu :’)

  5. q merinding bacanya, ff sungmin oppa yg kedua yg berhasil buat q merinding seketika.

    tdinya q pikir sungmin oppa yg sakit eh ternayta bukan. klo mingppa yg sakit kan tambah keren tuh

    #digamparELF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s