THE WINTER LOVE

cats

Annyeong readers2 semua..🙂 sudah pada kangen kah sm FF buatan admin?? Heheheh…

Kali ini, admin sengaja mau hiatus dulu buat ngelanjutin FF yang ada. Kali ini admin mau buat satu FF oneshoot yang sengaja admin DEDIKASIKAN untuk URI LEADER, URI OPPA, URI EOMMA di SUPER JUNIOR.. Yup, siapa lagi kl bukan “PARK JUNG SOO” a.k.a LEETEUK a.k.a ANGEL WITHOUT WINGS..

Admin dedikasikan FF ini untuk semua readers yang kangen sama Leeteuk. Dan karena sekarang masih dalam suasana NATAL, jadi admin sengaja mau masukin unsur Natal didalamnya biar lebih romantis, menyentuh, dan terharu.. dan supaya dapet suasana itu, sambil baca, sambil dengerin lagu BOA-Distance, SUPER JUNIOR-Memories  sama Jessica feat Onew-One Year later yaaa…

Kl gtu, untuk readers2 semua, HAPPY READING… admin tunggu Commentnya yaaaa.. ^^

Gomawoo..

*******************************

“When it’s snow outside on this winter night, i’m looking for a trace of you.. i’ll never forget the time that we met, the winter when we fell in love…”

BOA – Distance

…………………………………………….

Musim salju..

Melihat salju pertama yang jatuh ditahun ini, hati ku kembali teriris. Entah apa yang terjadi, sepertinya hatiku mendadak sesak. Begitu sulitnya udara ini masuk kedalam tubuhku sampai-sampai aku terpaksa harus menghirup dan menghela nafas dengan amat keras dan perlahan. Hatiku tiba-tiba perih. Ada sebuah beban yang begitu menghimpit hatiku hingga rasanya mati adalah pilihan yang tepat jika saja aku bisa memilihnya.

Tuhan, bisakah aku meminta padamu agar tidak ada lagi musim salju? Sungguh, aku tidak ingin musim ini datang. Aku begitu menginginkan musim ini berakhir dengan sangat cepat. Apa kau tahu, Tuhan? Aku bahkan begitu tersiksa jika melihat orang-orang diluar sana tersenyum bahagia menyambut datangnya musim dingin. Aku begitu ingin menangis jika melihat mereka begitu menikmati waktu-waktu berharga mereka bermain dengan butiran-butiran salju putih yang begitu cantik diluar sana. mungkin bagi mereka musim dingin dan salju adalah hal yang begitu indah dan membahagiakan. Tapi kenapa? kenapa hal itu tidak berlaku untukku??

Aku mengingatnya… aku bahkan terus-menerus mengingat dan mengenangnya didalam hatiku. Aku bahkan tidak memiliki niat sedikit pun untuk melupakannya. Aku takut.. aku bahkan terlalu takut jika sedetik saja aku melupakannya, aku tidak bisa lagi melihat rupanya, melihat senyumnya yang begitu menghangatkan diriku dan mencairkan semua kebekuan hatiku, bahkan walau hanya dalam angan-anganku saja. entah kemana perginya, aku tidak pernah tahu.. Jika saja aku bisa mengatakannya, aku pasti akan menyebutnya sebagai pria terjahat di dunia. Dengan lancangnya ia berani masuk kedalam kehidupanku, dengan seenaknya ia bahkan sudah mencuri seluruh hati dan pikiranku. Hingga disaat aku sudah bisa merasakan kehadirannya dihidupku, ia dengan seenaknya pergi meninggalkan aku dengan cintanya yang sudah tertanam begitu dalam dilubuk hatiku.

Selama hampir satu tahun aku terus berjuang hidup tanpa dirinya, mencoba membangun hari-hariku yang kosong tanpa kehadirannya lagi. Hampir satu tahun pula ia pergi, tepat di saat salju pertama turun di dunia ini. hanya air mata kesedihan serta kerinduan yang mampu aku keluarkan setiap kali aku mengingatnya. Dibawah butiran salju itulah, cintaku bersemi. Dan di bawah butiran salju itu pula cintaku pergi meninggalkan aku tanpa pernah aku tahu kemana dirinya pergi. Hanya jejak-jejak kecil dirinya lah yang akan terus aku cari selama musim dingin ini berlangsung. Tidak peduli hati dan tubuhku terluka. Yang kuinginkan hanyalah dirinya kembali untuk diriku.

“Sungchan…”

Aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Kulihat, seorang pria sudah berdiri dihadapanku, melihat semua air mata kesedihan yang sedang turun dikedua pipiku.

“Wae gurae?? Kau mengingatnya lagi??” tanya pria dihadapanku.

“Aku.. Aku begitu merindukannya, Oppa..”

Air mataku semakin tidak terbendung. Semua kesesakan dan kesakitan dihatiku tumpah ruah. Hanya dihadapannya lah aku mampu mengeluarkan semua curahan perasaanku.

“Ssshh.. Ulljima, Saeng.”

Yah, hanya itulah yang mampu diucapkan oleh Oppaku, Kibum, kakak satu-satunya yang kumiliki. Ia selalu memelukku ketika aku terjatuh dan terluka. Ia selalu bisa menarikku dari jurang kesedihan yang begitu dalam. Dan terlebih lagi, ia bisa melakukan semua yang biasa pria itu lakukan untuk menghibur kesedihanku.

“Ini bahkan sudah hampir setahun sejak kepergiannya. Tapi kenapa aku belum bisa melupakan Pria itu, oppa??” Tanyaku yang justru membuat hatiku semakin tertusuk perih.

Aku tidak sanggup mengingatnya. Terlebih lagi aku bahkan tidak sanggup mengucapkan namanya dengan mulutku. Seluruh lidahku begitu kelu ketika nama itu terlintas. Aku takut air mataku semakin deras jika aku menyebutkan namanya dengan sangat jelas.

“Sshhh… Oppa mengerti dengan semua yang kau rasakan. Tapi.. kau harus bangkit. Kau tidak boleh terpuruk seperti ini lagi! kau harus percaya pada janjinya.. kalau ia berjanji akan kembali, maka pegang lah janji itu dan yakini didalam hatimu bahwa ia benar-benar akan kembali untuk menemuimu. Arrayo??”

Kibum Oppa melepaskan pelukannya. Ditatapnya kedua mataku yang sudah cukup sembab akibat tangisanku yang entah sudah keberapa kalinya keluar. diyakinkan nya hatiku agar mempercayai semua ucapannya barusan.

Aku percaya.. tentu saja aku begitu mempercayai semua janji pria yang sudah membuat setengah jiwaku mati semenjak kepergiannya. Aku bahkan terlalu mempercayai semua ucapannya saat itu, yang mengatakan bahwa ia tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi. tapi… semua kenyataan ini membuat tubuhku terjatuh dan begitu terantuk dengan sangat keras. Disaat aku sudah mempercayai hatiku untuk berada di hatinya, hanya dengan sebuah surat yang ia tinggalkan didepan rumahku, ia menghempaskan aku ke jurang yang teramat dalam. Ia melemparkan aku kedasar dunia yang begitu menyakitkan.

Aku harus pergi..

Aku akan kembali secepatnya.. Disaat itu terjadi, kau lah orang pertama yang akan ku temui.

Jangan tangisi kepergianku. Aku berjanji.. aku berjanji akan kembali membawa cinta kita dan membuatnya kembali bersemi seperti saat janji yang kita ucapkan setahun lalu saat kepingan salju musim dingin pertama turun ke bumi.

Kau harus percaya padaku.. aku tidak akan meninggalkanmu dan membiarkan mu hidup sendiri..

Aku mencintaimu..

 

-Park Jungsoo

Aku kembali menangis. membuat kakak laki-laki ku semakin cemas dan begitu kebingungan mencari cara untuk menenangkanku. Dipeluknya kembali tubuhku yang semakin rapuh selama hampir setahun kepergian Jungsoo, Pria yang begitu aku cintai itu, Pria yang sudah berjanji padaku bahwa ia akan kembali membawa cinta kami serta janji yang sudah kami ucapkan bersama setahun lalu.

Lantas, mana? Kemana janji pria tampan yang selalu membuatku gila itu?? bahkan sudah hampir setahun ini ia pergi meninggalkan aku sendiri, membuatku semakin terpuruk dan nyaris gila karena begitu merindukannya.

“Channie, Jebal ulljima.. jebal, jangan seperti ini lagi..” Pinta Oppaku lirih. Dapat kurasakan bahwa ia juga ikut bersedih karena keterpurukanku. Aku bisa merasakannya dari suaranya yang sedikit tercekat dan tubuhnya yang sedikit bergetar saat memelukku.

“Kibum Oppa, sakit… hatiku perih.. aku ingin sekali bertemu dengannya!!” Ucapku yang semakin histeris.

Hampir selama sejam aku dan Kibum, Oppaku menghabiskan waktu untuk menangis bersama. Sepanjang waktu kuhabiskan hanya untuk mencurahkan segala kesesakan hatiku padanya. Dia mengerti. Dia begitu mengerti apa yang aku rasakan. Berkali-kali ia menyuruhku untuk bangkit, berkali-kali pula ia menyuruhku untuk kembali tersenyum, dan berkali-kali pula ia menyuruhku untuk tidak menangis lagi. Tapi sayang, semua itu tidak bisa kulakukan. Semakin keras aku berusaha untuk tersenyum, semakin terluka dan semakin aku ingin menangis memanggil namanya agar kembali padaku.

****

FLASHBACK MUSIM DINGIN 2 TAHUN LALU

“Saranghaeyo…”

Aku benar-benar tertegun dengan ucapannya barusan. Pria ini.. bagaimana ia bisa menyatakan cinta padaku padahal kami bertemu saja baru sebulan yang lalu. Ia bahkan tidak menggubris semua raut wajah penasaranku dan rasa curiga yang kulayangkan padanya. Ia justru dengan wajah polosnya hanya tersenyum hingga dengkik di pipinya membuatnya semakin menawan dimataku.

“Ka..Kau serius, oppa??” Tanya ku berusaha meyakinkan.

Tidak ada suara jawaban apapun dari mulut mungilnya. Yang ada hanyalah anggukan kepala yang begitu mantap yang dapat kulihat darinya.

“bagaimana bisa?? Aku bahkan belum mengenal mu dengan baik. bagaimana bisa kau tiba-tiba mengucapkan cinta padaku?”

Kembali kutatap mata indahnya, mencoba mencari semua kebohongan disana. Aku juga tidak lupa terus meyakinkan diriku bahwa ia hanya bercanda atau hanya ingin bermain-main dengan perasaanku. Namun, sialnya aku tidak melihat itu semua. Yang kulihat justru sebuah keseriusan yang terpancar di wajahnya yang tampan bak seorang malaikat itu.

Ia meraih kedua tanganku. Menggenggamnya erat, mencoba memastikan bahwa aku menatap wajahnya.

“Sungchan-ah, apa kau tidak bisa merasakannya?? Apa kau tidak bisa melihatnya?? Keseriusanku.. semua yang kuucapkan barusan bukanlah sebuah lelucon yang aku buat untuk mengerjaimu. Aku benar-benar mencintaimu..” Yakinnya padaku.

Yah, kuakui sebenarnya aku pun juga memiliki rasa yang sama terhadapnya. Hanya saja, semua yang diucapkannya barusan cukup membuatku terkejut. Bagaimana tidak? kami baru saja bertemu di tempat ini, di taman Seoyundo tepat saat musim dingin tiba. Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas bagaimana saat itu, ia, Jungsoo oppa yang saat itu baru saja kembali dari luar negri sedang kebingungan dan panik setengah mati mondar mandir ditaman ini karena kehilangan tasnya yang berisi kamera miliknya. Tentu saja aku yang saat itu sedang bermain sepeda disana menghampirinya dan menawarkan bantuan untuk mencarinya bersama hingga tas tersebut ketemu. Sejak saat itu lah aku dan Jungsoo Oppa kenal satu sama lain.

Selama hampir sebulan itu, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Aku lebih sering menjadi tour guide nya selama berada di seoul. Wajar saja, Jungsoo lahir dan besar di Amerika. Kedatangannya ke korea saat itu karena ia ingin berlibur dan mengunjungi nenek kakeknya yang sedang sakit yang berada di seoul. Jadilah aku selama hampir sebulan penuh menjadi teman perjalanannya kemana pun yang ia inginkan. aku juga baru tahu bahwa Jungsoo begitu menyukai fotografi. Aku bahkan sudah beberapa kali menjadi ‘target’ sasarannya sebagai objek pengambilan gambarnya.

“Sungchan….” Suaranya membuat kesadaranku kembali.

Tubuhku begitu kaku saat kedua mata cokelatnya menembus langsung ke tepat manik mataku. Hatiku berdetak beribu-ribu kali lebih cepat. Tatapannya yang tajam namun begitu lembut itu mampu menusuk relung hatiku.

“Aku tahu ini  mungkin terlalu cepat untukmu. Tapi… aku tidak ingin membuang-buang waktu. Aku tidak ingin kau jauh dariku. Aku ingin kau segera menjadi milikku. Aku tidak ingin melepaskan mu..”

Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa saat itu. seluruh tubuhku beku. Bukan hanya beku karena udara dingin yang mulai menusuk kulit, melainkan seluruh tubuhku beku akibat perbuatannya yang begitu manis padaku. Dengan perlahan, ia mengangkat tangan kananku yang masih digenggamnya. Dikecupnya punggung tanganku dengan amat sangat lembut. Aku bersumpah, aku merasakan bibirnya yang lembut menyapu tanganku. Ada ribuan kembang api yang meledak-ledak dihatiku saat merasakan hal itu.

Dan tepat disaat aku menerima pernyataannya, salju pertama ditahun itu pun turun..

FLASHBACK END

******

SEOYUNDO PARK

Aku berjalan lunglai menyusuri semua jalan yang berada ditaman ini. Aku tidak peduli lagi rasa dingin ini menusuk kulitku walaupun aku sudah memakai pakaian hangat sekalipun. Aku lebih memilih mati kedinginan, daripada aku terus menerus merasakan sakit akibat ruang hampa di hatiku yang semakin lama semakin menggerogoti kebahagianku. Semua kenangan yang sudah pernah aku dan Jungsoo lalui kembali melayang-layang dipikiranku.

Di tempat ini.. disinilah kami bertemu, disinilah kami menghadirkan perasaan cinta untuk satu sama lain, disinilah ia menyatakan perasaannya padaku saat salju pertama turun, dan disini juga lah ia meninggalkan sebuah kenangan terakhir untukku sebelum pergi meninggalkan ku seorang diri bersama dengan cintanya yang terus ku pegang sampai saat ini.

TES…

Sebuah salju putih nan cantik turun, bersamaan dengan setitik air mataku yang juga kembali mengalir akibat kerinduan ku pada namja tampan itu.

“Oppa, Nan Jeongmal bogoshipeo…” Ucapku lirih sambil memegangi dadaku yang begitu sesak.

Salju yang turun semakin lama semakin banyak dan deras. Hal itu juga ternyata dibarengi dengan derasnya air mataku yang mengalir ke kedua pipiku. Aku hanya mampu menengadahkan kepalaku keatas. Berharap bawah salju-salju indah ini bisa mendengarkan semua permintaanku dan membuatnya kembali padaku

Where are you right now??

Can You hear my voice??

My aching heart is looking for you… it’s calling out for you crazily… (SUPER JUNIOR – Memories)

Neo Eodineungeoni?? Apa kau dengar , Oppa?? apa kau dengar suara hati ku yang terus berteriak-teriak memanggil namamu?? Sungguh, aku ingin kau kembali. Aku ingin kau ada didekatku. Aku ingin kau datang dan mengobati semua kerinduanku. Seberapa keras aku mencoba untuk melupakanmu, aku tidak pernah bisa dan tidak akan pernah mampu.

Your name frozen on my lips.. icesicles pierce in my heart.

Now i wait and send out my wish to find out wherever you are..

The years come and go, but i’m still alone.. my tears like snowflakes falling without a sound.

I wish i was with you now.. (BOA – Distance)

“Apa kau akan kembali padaku, Oppa?? apa kau tahu bagaimana usaha ku yang terus menerus memanggil namamu setiap hari?? Sampai kapan kau mau menyembunyikan diri dariku?? Walaupun aku lelah, aku ingin terus menunggu mu…” Ucapku berbicara pada salju putih yang saat ini terus menemani kesendirianku di taman ini.

*****

FLASHBACK WINTER SETAHUN YANG LALU

Aku dan Jungsoo Oppa sedang duduk di tempat favorit kami. Hari ini adalah Christmas eve. Tahun ini adalah tahun pertama aku merayakan natal dengan pria yang sudah resmi menjadi kekasihku, pria yang sudah berhasil mencuri dan  memiliki hatiku sepenuhnya. Kau tahu dengan pasti bukan bagaimana rasanya ketika kau bisa menghabiskan waktu merayakan hari raya bersama dengan orang yang kau kasihi? Benar-benar menyenangkan dan seakan hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagimu.

Begitu juga dengan yang aku alami dengan Jungsoo Oppa. Di sini, di tempat ini aku menghabiskan malam natal ku hanya berdua dengannya. Walaupun tidak  hanya kami yang berada ditempat ini, namun aku selalu merasa bahwa tempat ini adalah milik kami, semua kenangan kami..

Aku dan Jungsoo menghabiskan banyak sekali waktu di tempat ini. berbincang satu sama lain, berbagi cerita, bernyanyi, bahkan hingga bermain lempar salju yang begitu banyak ditempat ini. Hatiku benar-benar begitu senang saat ini. tidak dapat kupungkiri, Jungsoo lah yang menjadi sumber kebahagiaanku di hari-hari ku sekarang. Aku tidak peduli bagaimana pendapat  orang mengenai hubungan ku dengannya atau bagaimana ucapan orang-orang yang selalu mengatakan bahwa Jungsoo hanya memanfaatkan kebaikanku dan hanya merasa kasihan padaku.

“Jagiya…” Aku menoleh padanya.

Wajahnya.. entah apa yang terjadi, mendadak wajahnya begitu berbeda dihadapanku saat ini. ia memang tersenyum. Tapi, aku merasakan senyum yang ia berikan saat ini berbeda dengan senyumnya seperti biasa.

Jungsoo mendekat kearahku. Diambilnya kedua tanganku dan digenggamnya dengan erat keduanya, seperti kebiasaannya. Aku merasakan hawa dingin menyeruak kedalam tubuhku. Entah apa yang akan terjadi, tapi aku merasa cemas secara tiba-tiba. Raut wajah Jungsoo membuatku bertanya-tanya apa yang akan pria itu bicarakan saat ini.

“Apa kau mencintaiku??” Tanyanya dengan suara yang amat perlahan.

“Ne.. tentu saja. Wae gurae, oppa?? kenapa kau menanyakan hal ini??” aku mencoba mencari jawaban di manik mata cokelatnya. Sebuah kesedihan yang terpancar dari wajahnya dapat terbaca jelas oleh mataku.

“Kau mau berjanji padaku??” Tanya nya lagi.

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Semua ucapannya, semua permintaannya.. entah kenapa aku merasa seperti akan ditinggalkan olehnya.

“Berjanjilah untuk tetap mencintaiku. Berjanjilah untuk tidak melupakan aku apapun yang terjadi..”

Aku tertegun mendengar ucapannya. Ada apa ini?? kenapa pria ini berkata seperti itu?? aku bisa merasakan genggaman tangannya semakin mengerat di tanganku. Ia juga tidak lupa mengangkat wajahku agar menatap wajahnya.

“Jebal.. berjanjilah…berjanjilah bahwa kau akan tetap mencintaiku. Berjanjilah untuk selalu menyimpan hatiku baik-baik di dalam hatimu.. kau juga akan selalu mengingatku kan??”

“Oppa, kenapa kau berbicara seperti itu?? apa yang sedang kau risaukan, eoh??”

Hatiku semakin tidak karuan. Berbagai macam pertanyaan begitu berkecamuk didalam hatiku. Aku tidak tahu ada apa dengannya. tapi, dari semua ucapannya barusan, aku curiga.. aku takut jika ia akan pergi meninggalkan aku.

“Oppa, kau berkata seperti itu.. kau.. kau tidak akan pergi kan?? Kau tidak akan meninggalkan aku kan??” Tanyaku yang entah sejak kapan sudah bercampur dengan isakan, walaupun air mata belum sepenuhnya keluar.

Menyadari kecemasanku, Jungsoo memeluk tubuhku erat. Sangat erat hingga aku tidak lagi merasakan kedinginan dan begitu nyaman bersandar didada bidangnya.

“I won’t.. I won’t.. It never happen, Honey! Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika itu terjadi, maka aku adalah pria terbodoh sedunia, karena aku sudah melepaskan seseorang yang begitu baik untukku..” Jelasnya yang langsung membuat tenang hatiku seketika.

Jungsoo melepaskan pelukannya. Ditangkupkannya kedua tangan pria tampan itu di kedua pipiku. Ditatapnya kembali kedua mataku. Walaupun ia mencoba untuk tersenyum tegar, tapi entah kenapa aku masih bisa melihat kesedihan serta kecemasan terpancar dari wajahnya.

“Dengar, Chagiya.. di tempat ini dan di hari ini, aku berjanji padamu.. aku berjanji tidak akan meninggalkan mu atau pun melepaskanmu. Tidak akan pernah! Kalaupun aku harus pergi jauh dari mu, kau harus percaya padaku.. aku, akan kembali padamu! kau mau pegang janjiku kan??”

Sungguh, mata indah itu benar-benar sukses menghipnotisku hingga rasanya apapun yang ia katakan akan selalu aku percayai. Bahkan anggukan kepalaku saat ini mungkin saja aku lakukan secara tidak sadar.

Jungsoo tersenyum. Dengkik manis itu membuat hatiku kembali tenang. Wajah rupawannya mampu menghancurkan semua kegelisahan hatiku saat ini. dengan perlahan, kulihat Jungsoo mendekatkan wajahnya kearahku. Aku yang menyadari hal tersebut, refleks langsung menutup kedua mataku. Hingga akhirnya…. bibir lembut pria itu berhasil menyentuh dengan lembut bibirku. Begitu dingin, dan basah.. itu lah yang aku rasakan saat bibirnya mengecup bibirku. Di tengah rintik-rintik salju yang turun, aku menerima ciumannya. Dan di tengah rintik-rintik salju itu pula lah, cintaku padanya semakin bersemi.

FLASHBACK END

******

Natal hampir tiba. Tapi, sampai saat ini aku masih tidak melihat ada tanda-tanda bahwa Jungsoo akan kembali. entah sampai kapan aku harus menunggu, entah sampai kapan aku harus bersabar, dan entah sampai kapan aku harus memegang janjinya yang katanya akan kembali untuk diriku. Hatiku sudah terlalu lelah menunggu. Sampai detik ini, ia sama sekali tidak bisa dihubungi. Aku tidak pernah tahu bagaimana keadaannya saat ini, apakah ia mampu menjaga kesehatannya atau tidak.

Tubuhku begitu lelah. Seluruh beban yang aku terima hampir selama setahun ini sudah membuat diriku lemah tidak berdaya. Aku merasa begitu bodoh, Kenapa aku bisa mencintai pria itu. kenapa aku masih terus menunggunya? Dan kenapa hatiku selalu memaksaku untuk tetap menunggunya sampai ia benar-benar kembali.

Kupandangi wajahnya di foto yang terpajang di meja kamarku. Ku tatap wajah tersenyum itu. matanya, bibirnya, dengkiknya, bahkan hingga senyumnya benar-benar mampu meracuni tubuhku. Semua yang ada didalam dirinya sudah benar-benar membuatku sedikit terhibur walaupun aku tidak pernah lagi bertemu dengannya.

“Oppa, kau tahu apa yang membuatku bisa bertahan untuk terus menunggu mu walaupun tubuh dan hatiku lelah sekalipun?? Aku percaya pada takdir.. aku percaya bahwa takdir akan membawamu kembali kepadaku. Aku memiliki takdir dari semua janji yang sudah kau ucapkan padaku waktu itu..” Ucapku lirih pada foto dirinya.

Setetes air mata kembali terjatuh, sambil hatiku tetap terus berdoa agar Tuhan mau membawanya kembali padaku. Di sela air mataku, aku selalu berdoa, bahwa takdir akan menjawab semua kesesakan yang aku rasakan selama setahun ini.

KRING…KRING…

Bunyi handphone membuyarkan kegiatan menangisku. Ku tatap nomor yang tertera di ponsel ku baru kemudian kutekan tombol hijau yang ada disana.

“Yeoboseyo…” sapaku.

“Sunghcan-ah..”

Tubuhku mendadak terdiam. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Suara itu… suara yang begitu ingin aku dengar, suara yang sudah membuat aku nyaris bunuh diri karena begitu merindukannya, suara yang hanya hanya dimiliki oleh pria yang sudah membuat hari-hariku kelam tanpa kehadirannya selama ini. Tubuhku merinding tidak karuan. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ini hanya lah mimpi. Itu tidak mungkin dia. Dia sedang berada disuatu tempat yang tidak pernah ku ketahui.

“Sungchan.. Chagiya.. gwaenchana??”

Suara itu kembali terdengar dari seberang telepon, membuat kesadaranku pulih. Ponsel yang sempat ku jauhkan dari telingaku kembali ku tempelkan lagi, berharap bahwa jika aku menjawab nanti, aku masih bisa mendengar suaranya.

“Ju.. Jungsoo Oppa…?” Tanyaku berusaha memastikan.

“Ne chagi.. ini aku. Bisa kau lihat keluar kamarmu??”

Mendengar hal itu, aku seperti orang gila. Hanya dalam waktu beberapa detik, aku langsung bergegas turun dari tempat tidur dan berlari kearah jendela kamarku dan langsung membukanya.

Ia disana!! Ternyata pria yang saat ini sedang kurindukan dan begitu kunantikan sudah berdiri didepan rumahku. tersenyum sambil melambaikan tangannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Apakah ini artinya doaku sudah terkabulkan? Atau.. mungkinkah saat ini takdir sudah menunjukkan jawabannya padaku?

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan takut bahwa khayalan ini hanya sementara, aku langsung bergegas keluar dari kamarku. Aku bahkan tidak peduli udara diluar yang begitu dingin menusuk dan membunuhku karena saat ini aku hanya mengenakan kaos serta celana tiga perempat saja. Yang terpenting untukku hanyalah berlari kearahnya, memeluknya, dan tidak membiarkannya pergi dari hidupku lagi.

Begitu tiba didepan pintu rumahku yang terbuka, aku semakin jelas bisa melihat wajahnya, serta tubuhnya. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari sekencang mungkin ke arahnya. Aku berlari dan langsung memeluk tubuhnya. begitu juga dengannya yang ternyata membalas pelukanku tidak kalah erat.

Aku menangis. Entah perasaan apa yang ada didalam hatiku saat ini. entah air mata apa yang keluar dari mataku saat aku berhasil bertemu kembali dengannya dan memeluknya.

“Mianhe.. Jeongmal Mianhe karena aku tidak menepati janjiku.” Ucapnya serak.

Dia menangis?? segera saja ku lepaskan pelukanku dari tubuhnya dan menatap wajah tampannya yang memang ternyata sedang menangis itu. Kuusap air mata yang turun dikedua pipinya. Biar bagaimanapun, aku tidak ingin melihatnya menangis.

“Mianhe aku sudah meninggalkanmu.. aku.. aku…”

Sungguh, aku tidak tega mendengar isakannya. Aku tahu hatiku kecewa karena sikapnya yang sudah meninggalkanku sendiri. Tapi, melihatnya menangis seperti sekarang, aku juga ikut bersedih. Aku yakin ia pasti mempunyai alasan kenapa ia pergi meninggalkan aku beberapa waktu yang lalu.

“Ssshh.. Ulljima, Oppa. kau tidak perlu meminta maaf padaku.” Ucapku sambil meletakkan jari telunjukku di bibirnya.

Untuk beberapa detik kami saling terdiam dan menatap satu sama lain. Sampai entah siapa yang memulai terlebih dahulu, kami sudah menyatukan kembali bibir kami dalam sebuah kecupan hangat. Kecupan penuh kerinduan yang selama ini sudah tersimpan didalam hati masing-masing.

…………………………………….

Are your feelings the same as me?

Can you give me one more chance?

I now Know that we can never part.. you’re the one person I loved and still Love..

(JESSICA feat ONEW – One Year Later)

SEOYUNDO PARK

Disinilah kami berdua saat ini. Terdiam untuk sementara waktu. Sibuk dengan pikiran masing-masing. entah kenapa, tidak ada satu pun dari kami yang berani mencurahkan semua perasaan kami masing-masing. hingga akhirnya kuberanikan diri, untuk berbicara.

“Rasanya, aku seperti sedang bermimpi, Oppa.. aku seperti sedang berjalan, dan terus berjalan hingga akhirnya aku bertemu denganmu lagi seperti saat itu. apa kau tahu?? aku pikir Oppa adalah  pria brengsek yang tidak bisa menepati janjinya sendiri. Mungkin kau tidak pernah tahu bagaimana tersiksanya aku saat kau pergi menghilang begitu saja dan hanya meninggalkan surat tanpa ada ucapan perpisahan sedikitpun.” Ucapku sedikit tercekat.

Jungsoo terdiam. walaupun aku tidak menoleh kearahnya, tapi aku bisa merasakan bahwa ia sedang menatap ke arahku saat ini.

“Mianhe.. Mianhe kalau aku sudah membuatmu terluka dan menderita…” hanya itu yang mampu ia ucapkan.

“Tapi aku senang.. aku senang Oppa baik-baik saja. Aku senang Oppa masih mengingat janji mu saat itu. Gomawo, sudah menemuiku kembali..”

Jungsoo berdiri dari duduknya. Ia terlihat berjalan pelan membelakangiku sambil kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celanannya.

“Kau tahu, Channie? Saat itu, tepatnya setahun yang lalu, aku dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Disaat aku sudah bahagia bersamamu, orang tuaku menghubungiku dan menyuruhku untuk kembali ke Amerika untuk bertunangan..”

Sungguh, penjelasaannya barusan membuat tubuhku beku. Bertunangan?? Yah, aku bisa mendengar itu dengan sangat  jelasnya.

“Aku jelas saja menolak keras permintaan orang tuaku. Aku bahkan mengatakan pada mereka bahwa aku sudah memiliki mu sebagai wanita yang kucintai. Tapi.. mereka tetap bersikeras memintaku untuk pulang. Jujur saja, aku begitu tersiksa.. disatu sisi, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak ingin pergi jauh darimu. Tapi di sisi lain, kedua orang tuaku mengancamku akan memisahkanku denganmu dengan cara kekerasan.”

“Lantas.. Oppa…”

“Ne.. aku lebih memilih untuk pulang kembali ke Amerika daripada aku harus membiarkan mereka menyakitimu. Mianhe aku tidak bisa melindungimu..”

Aku terdiam. tidak mampu berkata apa-apa. hatiku kembali terasa sakit. Namun kali ini, sakit itu menyerang berkali-kali lipat. Bagaimana tidak?? ternyata pria yang sudah sengaja ku tunggu ini sudah menjadi milik wanita lain. Ia bukan lagi kekasihku yang setahun lalu mengucapkan cinta padaku.

“Lantas.. untuk apa Oppa kesini, menemuiku?? Bukankah Oppa sudah mempunyai tunangan??” Suara ku kembali tercekat karena menahan tangis.

Jungsoo yang sadar akan perubahan itu pun berbalik. Ia tersenyum padaku dan berjalan mendekat ke arahku. Di ambilnya tanganku dan diajaknya aku berdiri dan menghadap ke arahnya.

“Aku sama sekali tidak bertunangan dengan siapapun.. hati dan hidupku masih tetap menjadi milikmu. Arrachi!?”

“Mworago??” tanyaku tidak percaya. Bagaimana bisa??

“Kau mau tahu?? sebenarnya, saat aku sudah kembali ke Amerika, aku mengajukan tawaran pada Appaku. Aku membuat perjanjian dan kesepakatan.. jika aku berhasil membangun bisnis Appa dalam waktu satu tahun dan membuat perusahaan mengalami profy sebanyak 100%, aku berhak untuk menolak pertunangan itu. namun jika aku tidak berhasil, maka dengan berat hati aku harus melepaskanmu walaupun aku tidak menginginkannya sedikitpun.” Jelasnya lagi.

“Dan kau, berhasil membangun bisnis Appamu hingga sukses seperti sekarang.. benar kan??” Tebakku yang langsung dijawab anggukan oleh Jungsoo.

“Ne.. kau benar. Saat itu Aku mencoba untuk berkonsentrasi pada pekerjaanku dan mencoba untuk melupakanmu sejenak. Awalnya, semua terlihat baik-baik saja. namun, seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa tanpamu aku tidak bisa hidup. Hal itu akhirnya membuatku terus menerus bekerja keras untuk menyelesaikan semuanya dan segera bertemu denganmu..”

Sungguh, aku begitu malu saat mendengar penjelasannya barusan. kupikir ia benar-benar sudah meninggalkanku dan lebih memilih wanita lain dibandingkan aku. Tapi nyatanya, aku masih bisa merasakan kasih sayangnya. Aku masih bisa merasakan cintanya yang telah ia bawa kembali untuk diriku.

Menyadari sikapku yang sedang mengutuk diri sendiri, Jungsoo mengangkat wajahku. Untuk sementara kami berdua saling menatap satu sama lain, mencoba menyampaikan perasaan rindu yang sudah kami kubur setahun ini.

“Nan Jeongmal Bogoshipoyeo.. Apa kau bisa merasakan apa yang aku rasakan, Oppa??” tanya ku berusaha memastikan.

Jungsoo mengangguk. Matanya yang tajam tidak ia lepaskan sedetik pun dari kedua mataku.

“Chagi, maukah kau memberiku kesempatan sekali lagi?? I’m still love you now… will u?? Kita rayakan natal tahun ini bersama lagi.“

Aku mengangguk mantap. sebuah senyum kebahagiaan langsung terpancar di wajah kami berdua. Sungguh, memilikinya dan mencintainya adalah hal yang begitu berharga dalam hidupku. Semua kejadian yang sudah terjadi selama beberapa tahun ini benar-benar membuat perasaanku padanya semakin menguat. Takdir ku benar-benar menjawab semua doaku. Janji yang pernah ia ucapkan dulu sudah ia buktikan padaku. Sungguh, moment berharga yang kulalui bersamanya sama seperti salju di musim dingin yang turun. Begitu cantik, indah, namun juga penuh dengan rintangan dan tantangan. Di musim dingin lah kami bertemu, di musim dingin cintaku bersemi dengan disaksikan butiran salju cantik sebagai saksinya saat itu, di musim dingin pula cintaku harus pergi meninggalkan aku hingga membuat ku begitu terluka, dan di musim dingin inilah cintaku kembali padaku dan memberikan sebuah keceriaan yang sudah lama kurindukan darinya..

-THE END-

10 thoughts on “THE WINTER LOVE

  1. Hoooo….. Romantis
    kukira sungchan ditinggal wamil sm leeteuk keke
    untunglah happy ending…
    Eonni.. FF nya bagus
    hanya aku ngerasa di awal2 nih bacanya tuh rada2 bosen mungkin krn percakapan antar cast nya cm dikit dan kebanyakan itu adalah Sungchan pov. Tapi setelah leeteuk nya dateng jd seruuuu… Cm itu kok kritik aku
    P.S: hp aku dah aku servis eonni.. Tp yah bgnilah… Emang dah lanjut usia kali yah keke…
    Gumawo eonni
    ff mu tetep seruuuuu

  2. ceritanya romantis min…*****
    &menurit aku sih kurang ada konflik gitu.
    bener kata readers yang comen sembelunya
    agak bosen baca awal awalnya karna dialog sungchan ma leeteuk cm dikit.dll.dah daebak
    minta sequel ya min+tambah konflik gitu biar seru ,

  3. awal2 kirain tentang wamil eh ternyata bukan
    *sotoy

    sebenernya sih ok2 aja cerita tantang ditinggal kekasih tanpa kabar tapi kok konfliknya kurang greget,coba dibikin ada orng ketiga,,second man gitu,hehehe
    ya udahlah,,berhubung sbagai reader yang baik yang nggak bisa bikin ff sendiri,ff ini cukup ok.
    huah bikin kangen ma ajjhusi itu
    >_<
    *btw2 emang Leeteuk oppa bisa bhasa Inggris? sok2 dateng dari amrik
    (OOT dah :-p)

  4. huaa so sweet,T-T
    Jdi tambh kangen sma eeteuk,, aq nyesek baca awalN’a, bikin galau, untung’a HapEnd,
    overall keren eon,

  5. Huwaaaaaa ff nya so sweet… jadi kangen bgt ama Teuk oppa (T____T)
    Scene-scene awal memang sedikit bosan karena dialog antar cast cmn sedikit,,dan lebih banyak Sungchan pov… tapi gpp kok feelnya ttep dapet….
    Jujur ceritanya kurang greget dan tdk ada konflik,,, padahal inti ceritanya jika ditambah konflik pasti lebih menguras emosi nantinya dan sgt nyesek…
    Akhirnya happy ending juga,,,ikutan seneng… Hualaaah Teuk oppa bisa bahasa inggris toh?? kekekekeke😀 *hello new yoooooorrrrrkkk*
    Overall keren kok,,, keep writing ne thor dan kalo boleh dibikinin sequelnya donk thor,,,😀

  6. winter……… so sweet dbagian prjuangan jungso oppa……..
    awl critax sad bgt ky lgux (distace) tp endingx bgus bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s