LOVE BIRTH (Part 4 – END)

Tangisku semakin pecah saat aku melihat Donghae pergi dari atap gedung sambil marah-marah dan menendang semua barang yang berada didekatnya. Hatiku begitu sakit takkala aku melihat pria yang begitu aku cintai terluka karena ulahku.

Aku merasa bahwa aku lah manusia paling jahat di muka bumi ini. Aku menyesali semua yang sudah kulakukan waktu itu. Kalau saja aku tahu akan terjadi seperti ini, harusnya aku tidak menolong Hyukjae yang saat itu sedang mabuk berat.

“Ini semua gara-gara kamu, Hyuk!!!! PUAS KAMU?!?!! PUAS KAU SUDAH MERUSAK HUBUNGANKU DENGAN DONGHAE???!!! Aku benci sama kamu!!!! Aku benci sama Bayi ini!!! AKU BENCI KALIAN BERDUA!!!!!!” aku berteriak persis di depan wajah Hyukjae. Air mata tidak henti-hentinya mengalir dikedua pipiku.

“Kyuri, stop!! Kyuri aku mohon.. aku mohon berhenti!!” Hyukjae masih berusaha memegang kedua tanganku yang masih membabi buta memukul tubuhnya.  Ia mencoba untuk menghentikan seluruh emosiku.

“KYURI, CUKUP!!!!”

Hyukjae menggenggam kedua lenganku keras dengan sekali hentakan. Ia berhasil menghentikan tingkah brutalku. Tidak ada rasa marah sedikitpun dalam raut wajahnya, berbeda dengan raut wajahku yang terus menerus menampakkan rasa kebencian dan amarah yang sangat dalam padanya.

“Mianhe.. jeongmal mianhe. kamu boleh marah dan benci padaku. Tapi aku mohon, aku mohon tolong jangan benci anak yang ada didalam kandunganmu. Aku mohon, jangan benci anakku. Biar bagaimanapun, kau adalah ibunya.” Hyukjae menatap kedua mataku dalam. Semua ucapannya terdengar lirih.

“Mwo?!! Ibu?? ANIYO!! Aku sama sekali tidak menginginkan anak ini!! Anak ini ada bukan karena keinginanku, Hyuk!!!! Ini semua karena KAMU!!! Dengar, aku.. aku akan menggugurkan bayi ini!!” aku menghentakkan tangan Hyukjae dan melepaskannya dari tubuhku. Mendengar ucapanku tadi, Hyukjae terkejut. Baru saja aku membalikkan badan dan ingin pergi, Hyukae kembali menahan tanganku dan membalikkan tubuhku kearahnya.

“Mwo?!? Digugurkan?? ANDWAE, Kyuri.. Jebal, jangan lakukan itu!! Jangan lakukan itu terhadap anakku. Kalau kau mau, kau boleh menampar aku. Kau juga bisa memukulku, atau bahkan kalau kau mau, kau bisa membunuhku! Tapi aku mohon, aku mohon jangan sakiti anakku. Biar bagaimanapun, dia itu anak kita. Tolong Kyuri.. aku mohon..”

Aku sama sekali tidak bergeming dengan ucapan Hyukjae. Aku sengaja membuang wajahku kesamping, tidak ingin melihat dan menatap wajahnya. Hatiku terlalu sakit. Aku sangat marah dengan semuanya.

Merasa tidak mendapatkan jawaban dariku, Hyukjae kemudian melakukan sesuatu yang  membuatku sedikit tertegun dengan tingkah lakunya. Hyukjae berlutut. Ia berlutut dihadapanku dengan wajah yang ia tundukkan kebawah. Tubuhnya sedikit bergetar tanda bahwa ia juga sedang menangis sama sepertiku. Aku menatap tubuhnya  yang berada dibawahku.

“Jebal Kyuri.. aku, aku menyayangi anakku. Kau tahu kan kalau aku sangat menyukai anak-anak?? Aku mohon, aku mohon jangan pisahkan aku dengannya. Biarkan dia lahir ke dunia ini. Aku berjanji.. aku Janji akan melakukan apapun yang kau mau asalkan kau tidak menggugurkan anakku.”

Aku tertegun dengan ucapan Hyukjae barusan. Sebegitu sayangnya kah ia dengan janin yang ada  di perutku ini?? Sebegitu berharganya kah bayi ini sampai ia rela menurunkan harga dirinya seperti ini dihadapanku?? Padahal, aku masih sangat ingat bagaimana reaksinya tadi saat aku membawa berita untuknya bahwa aku tengah mengandung anaknnya. Ia bahkan masih sempat-sempatnya menuduhku bercanda disaat aku benar-benar sedang serius seperti tadi. Dan sekarang?? Apa yang kulihat?? Hyukjae tiba-tiba berubah menjadi seperti ini. Ia bahkan rela berlutut didepanku hanya untuk memohon agar aku mempertahankan bayi ini!! Jujur, wanita  mana yang tidak tersentuh dengan sikapnya barusan. Aku memang membencinya. Tapi entah kenapa aku justru tidak bisa membenci janin yang sedang tumbuh dalam tubuhku ini. Melihat sikapnya barusan, mau tidak mau membuat hatiku sedikit luluh.

“Hhh.. baiklah! Aku tidak akan menggugurkan bayi ini. Aku akan merawatnya sampai dia lahir. Tapi, aku minta jangan pernah menyebut anak ini sebagai ‘Anak KITA’. Dia itu anakmu, bukan anakku. Kau yang menghadirkannya didunia ini.”

“Mwo?! Jeongmal?? Ne.. baiklah. Gwaenchana.” tanyanya penuh harap. Aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.

“Kyuri, menikahlah denganku.. biarkan aku bertanggung jawab atas semua yang sudah kulakukan terhadapmu. Aku mohon biarkan aku memberikan semua yang terbaik untukmu dan anakku. Dan ijinkan aku menebus semua kesalahan yang sudah kulakukan terhadapmu selama ini..” Ucap Hyukjae.

***

2 BULAN KEMUDIAN

Besok adalah hari pernikahanku dengan Hyukjae. Walaupun bukan ini yang kuharapkan, tapi aku harus melakukan pernikahan tersebut dengan Hyukjae. Biar bagaimana pun, Hyukjae memang harus bertanggung jawab dengan semua yang sudah dilakukannya. Biar bagaimanapun, anak yang berada di dalam kandunganku ini adalah anaknya, darah dagingnya. Usia kandunganku pun sudah memasuki 4 bulan. Perutk ku kurasakan sudah mulai membesar.

Kalau saja aku bisa memutar kembali waktu, aku ingin sekali memutar ke masa saat aku bertemu dengan Hyukjae yang sedang mabuk. Kalau saja aku tidak menolong dia, dapat kupastikan pria yang akan menjadi pendamping hidupku adalah Donghae Oppa. bukan Hyukjae!

Setelah kejadian waktu itu, aku sudah sangat jarang bertemu dengan Donghae Oppa. kudengar dari Shindong Oppa, Donghae sudah memutuskan untuk pindah ke Canada dan bekerja di cabang perusahaan yang berada disana akhir bulan ini. Terang saja, berita tersebut membuat hatiku semakin sedih dan terluka. Aku takut jika Donghae benar-benar pergi dari kehidupanku. Jujur, aku sama sekali masih belum siap untuk kehilangan dia. Awalnya, kupikir setelah kejadian waktu itu, Donghae akan menjauhiku dan memandang rendah aku. Tapi ternyata tidak. Donghae bahkan menjadi pria yang semakin dewasa dan tetap perhatian terhadap kesehatanku dan kesehatan janinku. Yah, walaupun aku tahu di dalam hatinya pasti masih tersimpan luka yang teramat dalam atas semua kejadian ini. Tapi Donghae sama sekali tidak menunjukannya sedikitpun didepanku.

Hari ini, aku sengaja ingin keluar rumah sebentar untuk membeli es krim. Entah kenapa, aku mendadak menjadi penggila es krim selama mengandung. Hampir setiap hari, aku selalu bisa menghabiskan 3 sampai 4 es krim dalam sehari. Padahal usia kandunganku sudah menginjak 4 bulan. Sungmin dan Shindong Oppa hanya berkata bahwa gejala seperti itu sudah biasa terjadi pada wanita hamil. Mereka memberitahuku bahwa itu namanya Ngidam.

Selesai aku membeli es krim, aku kembali ke rumah. Namun, langkah ku terhenti sejenak saat aku lihat seseorang baru saja turun dari mobilnya bersama dengan Shindong Oppa. Dari luar pagar, aku bahkan masih bisa merasakan senyum manisnya yang ia sunggingkan saat berbicara  dengan Shindong Oppa. Senyum itu, senyum yang selama ini begitu aku rindukan. Senyum yang selama ini menjadi penyemangatku. Tanpa terasa, air mata kembali menggenang di pelupuk mataku. Aku begitu rindu dengan pria itu. Sampai aku tersadar, bahwa seseorang sedang menepuk pundakku pelan.

“Sungmin Oppa..” ucapku berbalik menghadapnya. Ia tersenyum manis. Ternyata ia juga datang ke rumahku dan memakirkan mobilnya tidak didalam halaman rumahku. Haish..ia pasti melihat air mataku.  Ucapku dalam hati sambil buru-buru mengusapnya.

“Gwaenchana.. kau tidak perlu malu. Aku sudah memperhatikanmu sedari tadi. aku bisa maklum kalau kau menangis seperti tadi saat melihat Donghae. Aku yakin kau pasti kuat, Kyuri.” Ucap Sungmin menghiburku dan langsung mengajakku masuk ke dalam rumah.

Suasana sempat kaku saat aku masuk ke dalam rumah dan secara tidak sengaja berpapasan dengan Donghae. Kami sempat saling menatap satu sama lain selama beberapa saat. Sebelum akhirnya ia tersenyum dan menyapaku.

“Annyeong Kyuri.. Neo Odiseowanni??”

“An.. Anyeong Oppa.. aku, aku habis beli es krim” jawabku berusaha tersenyum.

Merasa suasana di ruuang tamu tidak kondusif dengan kehadiran Shindong dan Sungmin Oppa, aku memutuskan untuk segera pergi kekamarku. Namun, baru saja aku hendak melangkah ke kamar, kudengar Donghae Oppa memanggilku.

“Hmm.. bisakah kita bicara sebentar??” aku mengangguk dan menyanggupi ucapannya. Kuajak ia keluar dan duduk di kursi taman tak jauh dari pintu masuk rumahku.

Di kursi taman itu, kami kembali terdiam. Aku bahkan tidak tahu apa yang menyebabkan kecanggungan di antara kami.

“Chukkae..” ucapnya memecah keheningan di antara kami. Aku menoleh tidak mengerti apa yang dimaksudnya.

“Chukkae untuk pernikahanmu besok. Aku.. aku turut bahagia. Yah.. semoga kau bahagia bersama Eunhyuk” ucapnya sambil tersenyum lemah. Aku berusaha untuk berbicara. Ada sebuah rasa dihatiku yang ingin sekali aku keluarkan.

“Apa… Apa jika aku tidak mengandung anak ini, Oppa tetap mencintaiku walaupun Oppa tahu kalau.. kalau…” aku tidak sanggup meneruskan kata-kataku

“Ne..” aku menoleh kembali kearahnya. Donghae tidak bergeming sedikitpun. Tatapannya masih tertuju kedepan.

“Aku akan tetap mencintaimu walaupun Eunhyuk sudah melakukan semuanya terhadapmu. Aku akan tetap menerima mu walaupun kau sudah tidak perawan lagi. Aku bahkan akan tetap menikahimu apapun yang terjadi. Jujur, sampai detik ini aku masih belum bisa menghapus perasaanku untukmu, Kyuri. Itu terlalu sulit untukku. Mianhe.. Mianhe aku lancang seperti ini”

“Ani… Ani Oppa. Aku justru berharap supaya Oppa terus mencintaiku. Aku.. aku juga masih mencintaimu sampai sekarang.  Walaupun nantinya aku menikah dan hidup bersama Hyukjae, aku akan tetap mencintai Oppa. Mianhe Oppa.. Mianhe, aku sudah melukai perasaanmu.” Aku menunduk sedih. Kembali kurasakan air mataku turun tanpa aku beri aba-aba. Donghae mengubah posisi duduknya menghadap ke arahku. Direngkuhnya kedua pipiku dan diusapnya air mataku yang menetes.

“Ulljima Kyuri..  aku tahu ini memang bukan keinginanmu atau keinginanku. Anggap ini adalah takdir yang memang harus kau dan aku lewati. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Aku mohon, jangan terus bersedih seperti ini. Cobalah belajar mencintai Eunhyuk. Aku berani berjanji padamu, bahwa Eunhyuk adalah pria yang bertanggung jawab. Ia juga pria yang baik dan sangat tulus. Aku yakin, aku yakin kau dan anak kalian nanti pasti akan bahagia bersamanya.”

Aku tidak  terima kata-kata Donghae. Aku merasa bahwa Donghae sedang berusaha melepaskan aku. Aku melepaskan diri dari dekapan tangan Donghae dan kembali menangis sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku marah.. aku benar-benar tidak terima dengan ucapan Donghae barusan.

Tak selang berapa lama, aku merasakan dekapan hangat yang sudah tidak pernah aku rasakan lagi. Donghae memelukku dan mengusap punggung dan kepalaku lembut. Aku begitu rindu dengan pelukannya ini.

“Hushh… Ulljima Kyuri.”

Dekapan Donghae kurasakan semakin kencang. Dan itu tentu saja membuat tangisanku semakin kencang. Aku semakin tidak rela kehilangan dirinya.

“Kyuri, sudah.. jangan menangis lagi. Kasian bayimu kalau kau terus seperti ini. Dia bisa stress nanti.” Donghae mengecup keningku. Sesudahnya ia kembali memeluk diriku erat dan cukup lama. Disaat yang bersamaan, ekor mataku seperti menangkap satu bayangan manusia yang sedang berdiri menatap semua yang aku dan Donghae lakukan. Aku tahu dia Hyukjae. Namun aku tidak peduli. Aku semakin mengeratkan pelukanku dan membenamkan wajahku di pundak Donghae.

……..

EUNHYUK POV

Aku baru saja tiba di rumah Kyuri untuk mengadakan sedikit pesta kecil-kecilan sebelum akhirnya aku melepas lajangku besok bersama Kyuri yang kini sedang mengandung buah hatiku. Baru saja aku berjalan menuju pintu masuk, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan seorang wanita dan suara seorang pria di halaman rumah Kyuri. Rasa penasaranku pun muncul. Kuikuti sejenak suara tersebut sambil mengambil tempat sedikit tersembunyi agar tidak terlihat jelas oleh mereka. Dan betapa terkejutnya aku saat aku melihat pemandangan yang membuat hatiku kembali teriris perih. Kulihat Kyuri dan donghae sedang berpelukan dengan Kyuri yang terus menangis dalam dekapan Donghae.

““Kyuri, sudah.. jangan menangis lagi. Kasian bayimu kalau kau terus seperti ini. Dia bisa stress nanti.” Kudengar Donghae berbicara pada gadisku.

Dan apa yang selanjutnya mereka lakukan tentu saja semakin membuat hatiku sakit. Aku melihat Donghae mengecup Kening Kyuri lalu memeluk Kyuri begitu dalam. Aku bahkan dapat melihat bagaimana nyamannya Kyuri berada dalam dekapan Donghae. Kepalanya terus ia sandarkan di pundak Donghae.

Melihat kejadian itu tentu saja membuat seluruh emosiku naik. Aku marah melihat kedekatan mereka. Tapi aku bisa apa?? Aku tahu, akulah yang menjadi penyebab hancurnya hubungan antara sahabatku dan mantan kekasihku. Bukan salah mereka kalau mereka masih memiliki perasaan cinta di hati masing-masing.

Sambil terus menahan emosiku, aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan menemui Shindong Hyung dan Sungmin Hyung yang sudah berada di dalam.

EUNHYUK POV END

……..

Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Hyukjae. Aku memandang diriku yang masih berdiri didepan cermin. Cantik memang.. Dengan gaun warna putih bertali spagheti yang bagian pinggang kebawah menyesuaikan bentuk tubuhku, juga pita besar yang menemperl dibelakangnya, membuat diriku benar-benar anggun dan cantik. Tapi aku lebih berharap bahwa aku memakai semua ini bukan untuk Hyukjae, melainkan untuk Donghae.

Aku masih terus terdiam didepan cermin. Entah secara sadar atau tidak, aku menangis. Walaupun hanya setetes air mata yang keluar, tapi itu cukup membuat seluruh kesedihan dan keperihan di dalam hatiku keluar. Secara perlahan, aku mulai menuntun tanganku ke perut,  mencoba untuk merasakan kehidupan yang sedang tumbuh di dalam sana.

“Andai kamu tidak hadir, Nak.” Ucapku lirih yang kutujukan untuk sosok mungil yang masih sangat lemah di dalam perutku.

TOK..TOK…TOK..

Aku menoleh kebelakang dan tepat saat pintu terbuka, Shindong Oppa masuk kedalam dan diikuti dengan Donghae di belakangnya. Aku cepat-cepat menghapus air mataku dan segera tersenyum menyambut kehadiran mereka berdua.

“Huaaahhh… Neomu Yeppo!!!!” ucap Shindong Oppa sambil memperhatikan ku dari atas hingga bawah. Aku tersenyum dan menucapkan salam pada mereka berdua.

“Gomawo Oppa. Kau juga,  cepatlah menyusulku dan ajak Nari Eonni untuk segera menikah.” Aku mencoba untuk mencairkan suasana.

“Ya! Kau tunggu saja. Aku juga sedang merencanakannya tau… ya sudah, sebentar lagi waktunya kau untuk keluar. Bersiap-siap lah.. oia, Donghae ingin bicara denganmu. Kalian berdua bicaralah sebentar. Aku akan menunggu diluar.” Ucap Shindong Oppa memelukku sejenak sebelum akhirnya pergi keluar meninggalkan aku dan Donghae.

Setelah Shindong Oppa benar-benar pergi, aku menatap Donghae yang juga tengah menatapku. Untuk sesaat, kecanggungan terjadi diantara kami.

“Chukkae, Kyuri-ah.. akhirnya kau menikah juga. Aku turut berbahagia untukmu” Ucap Donghae berusaha tersenyum. Tapi aku tahu bahwa senyum itu bukanlah senyum bahagia yang ia tunjukkan padaku.

“Apa arti semuanya Oppa kalau aku tidak menikah dengan orang yang aku cintai?! Menikah hanya karena aku sudah hamil di luar nikah terlebih dahulu sama saja percuma. Aku bahkan tidak tahu apakah aku harus bahagia, sedih, atau marah?? Aku benci, Oppa.. Aku benci Hyukjae!! Aku juga benci anak ini!! gara-gara mereka aku harus kehilangan Oppa. Gara-gara mereka aku harus hidup dengan semua sandiwara ini!!” Donghae menghampiriku dan menggenggam tanganku.

“Uushhh, Kyuri.. jebal jangan berkata seperti itu. Jangan kamu sesali apa yang sudah terjadi. Percaya padaku, Eunhyuk adalah pria yang baik. Aku percaya dia mampu membahagiakanmu. Jangan pernah menyalahkan bayi ada di kandunganmu. Dia sama sekali tidak bersalah. Mungkin memang kita masih belum berjodoh saat ini. Tapi percayalah, aku masih menyayangimu. Aku akan bahagia jika kamu juga bahagia, Kyuri. Aku merelakanmu dengan Eunhyuk karena dia sahabatku. Aku tahu siapa dan bagaimana Eunhyuk. Tapi lain ceritanya jika pria itu orang lain. Aku tidak akan sedikitpun membiarkannya mengambilmu dari hadapanku.”  Kata Donghae sambil mengusap air mata di kedua pipiku. Aku tidak peduli jika  dandanan ku hancur berantakan. Aku tidak peduli jika eyeliner dan maskaraku luntur.

Aku masih terus menggelengkan kepalaku, menolak semua ucapan-ucapan Donghae. Tuhan, bagaimana bisa disaat seperti ini dia terlihat begitu menawan? Bagaimana bisa disaat seperti ini ia terus mencoba meyakinkan aku untuk melaju ke altar pernikahan bersama dengan Eunhyuk, padahal aku tahu bahwa di dalam tubuhnya terdapat luka yang terus menerus mengiris hatinya?

“Kyuri, aku percaya kau bisa melewati semua ini. Aku rasa, tidak akan sulit jika kau harus memupuk lagi cinta yang sempat hilang dulu. Iya kan??” Donghae tersenyum. Aku mengerutkan kening bingung dengan pernyataannya barusan.

“Mak..maksud Oppa??”

“Kyuri, aku sudah tahu kalau dulu sebelum kau jatuh ke pelukanku, kau adalah milik Eunhyuk. Aku tahu kalian sempat berpacaran selama 3 tahun sebelum akhirnya Eunhyuk pergi melanjutkan S2 nya.” Jelas Donghae yang kontan saja membuatku terkejut. Aku bahkan sama sekali tidak memberitahunya, dan cenderung menutupinya.

“Mwo?! Darimana Oppa tahu?? Aku kan…” belum sempat aku menyelesaikan  ucapanku, Donghae sudah memotongnya

“Hahaha.. jelas saja aku tahu. Eunhyuk itu sahabatku dari kecil Kyuri. Dia selalu cerita apapun padaku. Termasuk… kamu. Kau ingat saat eunhyuk mengajakmu makan siang waktu itu?? Jujur, saat itu aku sedikit curiga dengannya. Saat aku tanya untuk apa dia meminta ijinku mengajakmu makan siang, dia tidak mau mengaku. Sampai akhirnya ia berhasil kudesak dan ia menceritakan semuanya, Tentang hubungan kalian dulu. Kalau mendengar ceritanya, justru aku yang merasa bersalah pada kalian berdua, karena aku telah merebutmu dari sahabatku sendiri. Jadi, jangan pernah sesali apapun lagi ya?? Jaga dirimu dan bayimu baik-baik. Aku akan selalu mendoakan kalian berdua”

Setelah semua pembicaraan kami berdua, Shindong Oppa kembali memanggilku dan menyuruhku untuk  segera bergegas keluar menuju gereja. Sebelum keluar, untuk terakhir kalinya Donghae mengecup dan memelukku untuk yang terakhir kalinya. Disanalah perpisahan kami benar-benar terjadi.

Begitu aku tiba Gereja, Shindong Oppa yang bertugas sebagai pengganti ayahku yang sudah meninggal menggandeng tanganku dan berjalan masuk menuju ke altar gereja. Disanalah kulihat pria yang nantinya akan menghabiskan seluruh hidupnya bersama denganku berdiri tegap dengan tuxedo putih dan dasi kupu-kupu melingkar di lehernya. Kuakui ia memang terlihat tampan dengan pakaian seperti itu.

Sambil terus berjalan, aku mencoba membuang pandanganku ke arah para tamu undangan yang datang. Aku ingin mencari dia. Dan benar saja, kulihat Donghae duduk di samping Sungmin Oppa. Mereka berada di barisan kedua dari depan. Aku benar-benar tidak sanggup menatap wajah donghae. Setiap kali aku melihatnya, hanya rasa sakit dan penyesalan yang aku rasakan. Tapi tidak dengan Donghae. Disaat aku terus menatapnya, ia justru tersenyum sambil menganggukkan kepala seolah memberiku kekuatan dan keyakinan untuk terus melangkah. Tuhan, kuatkanlah hambamu ini… aku terus berdoa dalam hati.

Dan begitu tiba di depan altar, Shindong Oppa langsung melepaskan genggamannya di tanganku dan menyerahkannya kepada Hyukjae.

***

EUNHYUK POV

Ya Tuhan, benarkah itu dia?? Benarkah itu Kyuri, gadis yang akan menghabiskan waktunya bersamaku?? Benarkah gadis yang sedang mengandung anakku itu dia?? Omooo.. dia bahkan terlalu sempurna untukku. Dia benar-benar cantik dengan balutan Gaun pengantin yang dipakainya. Dia..dia.. Haishh, aku bahkan sampai tidak bisa berpikir apapun! Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan bagaimana cantiknya Kyuri saat berjalan menuju altar bersama Shindong Hyung.

Tapi, kenapa disaat seperti ini justru tidak kulihat senyum bahagia mengembang diwajahnya?? Dia memang tersenyum. Tapi aku tahu, aku  sangat tahu bahwa senyum itu adalah senyum yang ia paksakan. Senyum yang hanya ia berikan sebagai bentuk formalitas saja. Aku dapat melihat bagaimana wajah cantiknya mengisyaratkan bahwa ia begitu tersiksa menjalani pernikahan ini. Aku sedih.. aku benar-sedih melihatnya seperti itu. Aku jadi pesimis apakah aku bisa menjadi seorang suami yang baik untuknya? apakah aku mampu membahagiakannya dan membuatnya melupakan Donghae?

Ah.. lagi-lagi pemandangan menyakitkan terjadi didepan mataku. Kyuri terus berjalan menuju kearahku. Disaat pengantin wanita terus menatap si pengantin pria, namun tidak halnya dengan Kyuri. Ia malah membuang pandangannya keseluruh ruangan seperti mencari seseorang. Ya, aku tahu siapa yang dicarinya. Dan benar saja, ia sudah menemukan Donghae. Mata mereka tertuju satu sama lain. Kyuri bahkan tidak melepaskan pandangannya dari Donghae sedikitpun. Sedangkan Donghae, ku lihat ia justru tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ya Tuhan, apakah aku sejahat itu sampai ia begitu terluka dan membuat mereka berpisah?? Mianhe, Hae… Mianhe, Kyuri…

EUNHYUK POV END

***

Upacara pemberkatan pernikahan telah selesai. Kini aku dan Hyukjae bersiap untuk melasanakan resepsi pernikahan kami.

Hampir 3 jam kami melayani seluruh tamu undangan yang datang. Jujur, tubuhku sangat lelah. Ditambah lagi, aku sedang mengandung membuat seluruh tubuhku lemas dan tak bertenaga sama sekali. Saat kami hendak kembali ke apartemen Hyukjae, aku tidak melihat Donghae sama sekali. Hanya Shindong Oppa, Nari eonnie, dan Sungmin Oppa yang masih stay disana.

“Jagiya, kau mencari siapa??” Suara Hyukjae mengagetkanku. Aku hanya menggeleng untuk menjawabnya.

“kalau kau mencari Donghae, dia sudah pergi. Dia tadi pamit padaku bahwa dia akan segera berangkat ke canada lusa. Dia.. dia sengaja tidak menemuimu karena tidak ingin membuatmu sedih. Dia menitipkan pesan agar kau selalu menjaga kesehatanmu.” Aku tertegun dengan ucapan Hyukjae. Pergi?? Secepat ini??

Aku terdiam untuk beberapa saat. Kembali, air mata ku sudah berancang-ancang untuk keluar. Namun, segera kutahan emosiku. Aku tidak ingin siapapun melihat bahwa aku menangis di hari yang seharusnya menjadi hari bahagiaku. Aku menoleh ke arah Hyukjae. Kami saling menatap satu sama lain cukup lama. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari hadapannya terlebih dahulu tanpa memperdulikan panggilannya.

Sesampainya di apartemen Hyukjae, Hyukjae segera menuntunku untuk segera beristirahat. Namun, baru saja aku tiba didepan pintu kamar, aku tidak berani melangkahkan kakiku menuju kamarnya. Ani… maksudku, kamar kami.  Aku tidak ingin melihat kamar tersebut. Kamar tempat dimana musibah itu bermula. Aku tidak ingin kembali teringat dengan kejadian naas saat Hyukjae melakukan semuanya padaku dulu.

“Kyuri, wae kudae??” tanya Hyukjae heran saat aku berhenti dan tidak mengikutinya masuk ke kamar.

“Aku ingin tidur di kamar tamu saja. Kalau kau mau tidur didalam sana, silakan.” Jawabku dingin dan langsung berbalik meninggalkannya. Hyukjae yang sadar akan perubahanku sepertinya sudah bisa membaca apa yang terjadi padaku. Ia pun langsung mengejarku dan berdiri dihadapnku membuat langkahku terhenti.

“Oke.. aku tahu. Aku mengerti kalau kau memang tak ingin tidur disana. Kalau begitu, kita pakai kamar tamu untuk kamar kita saja yaa.. Dan kamar ku biar untuk kamar tamu. Ottokhae??” aku pikir Hyukjae marah dengan sikapku. Tapi ternyata tidak. Ia justru mengalah hanya demi aku. Melihat sikapnya barusan, aku hanya menganggukkan kepalaku.

***

Sudah hampir 5 bulan aku mengarungi bahtera rumah tanggaku dengan Hyukjae. Kandunganku pun juga sudah semakin membesar dan tak terasa sudah berumur 9 bulan. Hyukjae selalu berusaha menjadi Appa dan Suami yang baik bagiku. Yah, walaupun sampai detik ini aku masih sering bersikap cuek dan dingin terhadapnya. Namun itu tidak mengurangi sedikitpun perhatian dan kasih sayang Hyukjae terhadapku dan anaknya yang berada didalam perutku. Tapi, secuek-cueknya aku, aku masih terus berlaku sebagaimana layaknya seorang istri. Aku selalu mengurusnya. Membangunkannya setiap pagi, membuatkannya sarapan dan makan malam, bahkan hingga menyiapkan keperluannya. Tapi untukku itu hanya sebuah formalitas saja. Aku melakukan itu semua karena aku merasa ini adalah kewajibanku, bukan karena aku menyayanginya atau mencintainya. Harus kuakui, bahwa sampai saat ini aku masih tidak bisa melupakan Donghae. Walaupun ia sudah berada jauh dariku, itu sama sekali tidak bisa membuat perasaanku padanya memudar. Jahat memang.. tapi ini lah yang kurasakan.

Aku sedang bersiap-siap untuk tidur. Aku sengaja memiringkan posisi tidurku karena aku merasa begitu kesulitan dan tidak bebas bergerak semenjak kehamilanku semakin membesar. Baru saja aku memejamkan mata, kurasakan tubuhku dipeluk dari belakang. Tangan itu terus memelukku sambil mengelus-ngelus lembut perutku yang membuncit.

Aku tahu siapa dia. Dengan sedikit gerakan, aku mencoba memberontak, melepaskan tangannya dari tubuhku.

“Jebal Kyuri.. tolong biarkan aku seperti ini. Biarkan aku merasakan gerakannya.” Hyukjae kemudian membalikkan tubuhku perlahan. Ia benar-benar suami yang baik. ia begitu menjaga dan memperlakukan aku dengan sangat hati-hati. Setelah aku berbaring terlentang, Hyukjae pun bangun dari tidurnya dan memposisikan dirinya dekat dengan perutku. Ia mengelus perutku. Ia bahkan mencoba menempelkann telinganya di atas perutku, mencoba untuk mendengar bayi mungil yang sebentar lagi akan lahir kedunia itu.

“Annyeong.. Appata, ottokhae Jinesoyo?? (hai.. anak ayah, apa kabar??) kamu sehat kan didalam sana?? Pasti Eomma menjagamu dengan baik ya.. kau tahu?? Eomma benar-benar menyayangimu. Eomma makan semua makanan bergizi dan selalu minum susu untuk membuatmu sehat didalam sana. Kau lihat, Eomma mu sampai rela menjadi gendut sekarang. Tapi kau tahu, Nak?? Walaupun Eomma seperti ini, Eomma terlihat semakin sexy. Appa jadi tambah menyukainya.hehehe.. Nak, sebentar lagi kamu lahir kedunia. Kamu masih sabar menunggu kan? Saat kamu menunggu, Ingat, kau harus menjaga Eomma! Jangan buat Eomma sedih atau kesal. Kalau Appa tidak ada, kau juga tidak boleh rewel! Arraseo?! Appa sayang sama kamu dan  Eomma. Kamu baik-baik dan tidur nyenyak ya disana. Annyeong, Appata..” Hyukjae mencium perutku cukup lama. Ternyata, anak ini mendengar semua ucapan Hyukjae. Ia merespon ucapan Hyukjae melalui tendangannya di perutku. Kurasakan rasa sakit menyerang perutku.

“Gwaenchana, Kyuri??” ucap Hyukjae panik saat melihat wajahku yang meringis menahan sakit.

“Ne.. Gwaenchana, Hyuk. Dia menendang perutku. Dia merespon ucapanmu barusan.” senyum Hyukjae mengembang mengetahui aku baik-baik saja. Mendengar penjelasanku barusan, ia kembali menciumi perutkku berulang-ulang. Wajahnya begitu polos saat aku melihatnya tersenyum bahagia. Aku bahkan dapat merasakan bagaimana bahagia dan antusiasnya Hyukjae saat berbicara dengan bayinya tadi. Aku benar-benar tersentuh dengan apa yang dilakukan Hyukjae. Tuhan, betapa jahatnya aku saat itu sempat berpikir untuk mengugurkannya. Hyukjae benar-benar menyayangi dan mencintai anak ini. Ia bahkan selalu memberikan yang terbaik untuk kami. Melihat sikap Hyukjae barusan, tiba-tiba senyumku mengembang. Aku ikut meletakkan tanganku diatas perutku. Sama seperti yang Hyukjae lakukan, aku pun ikut mengelus perutku. Hyukjae tertegun dengan sikapku barusan. Ia menatapku tidak percaya. Inilah senyum tulus pertama yang kuberikan pada Hyukjae semenjak kami menikah.

“Dia akan mendengarkan perkataan Appanya. Kau tidak perlu khawatir. Dia anak yang hebat.” Ucapku padanya tanpa menghentikan kegiatan kami. Hyukjae hanya menatapku, dan sesaat kemudian ia menyunggingkan gummy smile andalannya padaku.

Aku tidak tega terus-terusan bersikap seperti ini pada Hyukjae. Walaupun perasaan ini belum tumbuh, tapi sejujurnya aku merasa tersentuh dengan semua sikap dan tingkah lakunya padaku. Jika dulu aku tidak pernah menyayangi dan mencintai anak ini, tapi tidak untuk saat ini. Saat ini, aku bahkan terlalu menyayangi dan mencintai anak ini. Demi Hyukjae, aku akan mencoba untuk kembali membangun cinta yang sempat hilang dulu. Jika aku bisa mencintai dan menayayangi anak ini, aku rasa aku pun bisa kembali mencintai Appa nya seperti dulu. Walaupun aku tahu itu butuh proses dan waktu yang panjang menurutku.

***

Saat ini, aku sedang menyiapkan makan malam untuk Hyukjae. Sedangkan ia masih terus berkutat dengan laptop yang berada di depannya. Aku mulai menuangkan sayur kedalam mangkuk. Dan saat baru meletakkannya di atas meja, aku merasakan sakit yang amat sangat di perutku. Aku merintih, mencoba menahan sakit tersebut namun tidak bisa.

Sambil terus memegangi perutku, aku mencoba untuk menggapai meja atau kursi makan yang berada didekatku. Rasa sakitnya luar biasa, aku benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit yang semakin lama semakin menguat.

“HYUUUUKKKK!!! Arrrghhh…” aku mencoba berteriak memanggil Hyukjae. Mungkin karena suaraku yang tidak kuat berteriak, Hyukjae tidak mendengarnya sama  sekali.

“HYUUUUUUUKKKK… TOLONG!!!!” aku kembali menjerit sekuat tenaga. Dan barulah saat itu, Hyukjae datang. Melihat keadaanku yang duduk di  kursi tempat makan sambil terus memegangi perutku dan menjerit menahan sakit, Hyukjae tercengang. Ia langsung berlari menghampiriku.

“Kyuri…Kyuri, Neo waeyo?? Gwaenchana?? Apa ini sudah waktunya??” Hyukjae terlihat panik. Ia mencoba untuk melakukan sesuatu.

“Hyuk, jebal… Ini sakit!!!” aku menarik-narik tangannya dan terus meronta-ronta kesakitan. Hyukjae terlihat sedang menghubungi seseorang. Sepertinya ia menghubungi Shindong Oppa dan mengatakan bahwa aku akan melahirkan.

“Hyuukk… PALLIWA!!! Aku tidak tahan!! Ini sakit sekali!!” aku melihat darah yang sudah mengalir ke kakiku.

Dengan cepat, Hyukjae segera membawaku ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya meronta dan berteriak di dalam mobil. Hyukjae yang menyetirpun ikut cemas dan panik melihat keadaanku yang sudah mulai melemas.

Begitu tiba di rumah sakit, dokter dan suster pun bergegas membawaku ke ruang bersalin. Disana, aku sama sekali tidak mau melepaskan sedetik pun tangan Hyukjae dari tanganku. Aku tidak ingin Hyukjae meninggalkan aku. Aku ingin ia menemaniku melewati semua proses bersejarah dalam hidupku. Seberapa keras usaha mereka untuk memisahkan tanganku dan Hyukjae, semakin erat pula genggaman tangan kami. Sampai akhirnya, Dokter terpaksa mengijinkan Hyukjae untuk masuk kedalam menemaniku.

Di dalam ruang persalinan semuanya begitu mencekam. Aku terus berteriak dan memanggil nama Hyukjae yang terus menggenggam tanganku disampingku. Ia terus memberikan support dan semangat untukku agar aku mampu mendorong kuat bayi tersebut keluar dari rahimku.  Hyukjae begitu sabar. Ia rela menjadi pelampiasan rasa  sakitku. Tidak sengaja, aku melihat kearahnya. Ia menangis!! Aku tidak tahu apa yang membuatnya menangis. Sampai pada akhirnya, dengan sekali dorongan kuat terakhir, aku berhasil mengeluarkannya ke dunia ini dan mendengar suara tangisannya untuk pertama kali.

Aku menangis terharu saat melihat Dokter mengangkat anakku dan membawanya kehadapanku. Seorang anak laki-laki yang tampan, begitu mirip dengan Eunhyuk. Aku ingin sekali menyentuhnya dan menggendongnya. Namun, karena terlalu lelah, aku hanya mampu menutup mata dan mulai tertidur.

***

Aku mulai membuka mataku. Cahaya yang masuk begitu menyilaukan sehingga membuatku sedikit mengerjap-ngerjapkan mata. Saat sudah sadar sepenuhnya, aku mencoba menyadari dimana aku berada dan apa yang sudah terjadi. Menyadari bahwa perutku tidak lagi membesar, aku mencoba membuang pandangan ke sekeliling ruangan mencari dimana anakku berada.  Aku menemukannya berada disebelah kananku. Ia tertidur dengan tenang di dalam sebuah box bayi. Tak hanya anakku saja, tapi kulihat juga seorang pria yang ternyata Hyukjae sedang berdiri disana dan terus menerus memandangi malaikat kecil itu tanpa membuang senyum manisnya dari wajahnya. Aku sempat tertegun dengan pemandangan barusan.

“Mata dan hidungnya mirip sekali dengan mu.” Ucapku pelan namun masih tetap terdengar. Tubuhku masih terlalu lelah untuk terbangun. Hyukjae, menoleh saat mendengar suaraku. Tahu bahwa aku sudah bangun, Hyukjae segera menghampiriku.

“Kyuri, kau sudah bangun.. gwaencahana??” tanyanya sambil mengelus puncak kepalaku. Aku hanya mengangguk. Hyukjae kemudian menggenggam tanganku.

“Gomawo.. Gomawo kau sudah mau berjuang melahirkannya untukku. Gomawo kau sudah mau mengorbankan keselamatanmu untuknya. Gomawo, sudah merawatnya hingga ia lahir kedunia. Jeongmal gomawo untuk semua pengorbananmu untuk anakku… kau tahu?? Saat melihatmu berteriak kesakitan seperti tadi, hatiku sakit. Aku benar-benar tidak tega melihatmu yang terus berjuang, menangis memohon agar bayiku cepat keluar. Kalau saja aku bisa, aku ingin sekali menggantikan posisimu tadi agar aku tidak perlu melihat penderitaannmu. Kau hebat, Kyuri-ah.. Gomawo.”

Hyukjae mengecup keningku lembut. Aku hanya mampu tersenyum sambil membalas genggaman tangan Hyukjae tanda bahwa aku menerima ucapannya.

“Gwaenchana Hyuk.. gomawo sudah mendampingiku. Setidaknya, kecemasanku tadi sedikit berkurang saat kau ada didekatku. Jeongmal Gomawo.. dan Mianhe, kalau aku tadi sudah menjambak rambutmu dan mencakar seluruh pergelangan tanganmu.

“Gwaenchana Jagi.. buatku, rasa sakit yang kualami itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau alami. Jeongmal gomawo.. kau lihat?? Anak nakal yang sudah membuatmu menangis dan menjerit kesakitan tadi itu Sekarang sedang tertidur lelap. Lucu sekali bukan?? Bibir mungil dan kulit putihnya benar-benar mirip dirimu.”

Aku dan Hyukjae sama-sama memandang ke arah malaikat mungil itu. Seluruh perasaan senang, dan terharu tercampur menjadi satu. Melihatnya yang sama sekali tanpa dosa, membuatku gemas dan ingin sekali menggendongnya dan mendekapnya begitu erat di pelukanku. Tapi, ternyata Hyukjae jauh lebih cepat. Ia sudah terlebih dahulu mengangkat bayi itu dalam gendongannya.

Aku menatap mereka berdua. Entah mengapa, ada perasaan bahagia yang aku rasakan saat melihat Hyukjae begitu sibuk dengan mainan barunya itu. Dengan telaten dan hati-hati, Hyukjae menimang-nimang buah hatinya sambil tak henti-hentinya mengecup pipi chubby bayi itu.

“Siapa namanya??” aku mencoba mengganggu konsentrasinya. Hyukjae menoleh.

“Lee Dong Ri.. ku beri nama ia Lee Dongri. Apa kau keberatan??”  ucapnya sambil menghampiriku bersama dengan bayi mungil itu.

Aku sedikit terkejut dengan ucapan Hyukjae. Lee  Dongri?? Entah kenapa hatiku kembali berkecamuk  saat mendengar nama ‘Dong’ dalam nama anakku.

“An.. Aniya.. hanya saja, kenapa harus nama seperti itu??”

“Kau heran kenapa aku memberi nama anak ini Dongri??” Hyukjae pun kemudian meletakkan bayi itu kembali ditempatnya dan kembali menghampiri diriku. Ia mencoba membantuku yang sedang berusaha untuk duduk. Setelah berhasil, Hyukjae  duduk dihadapanku dan mencoba menatap tajam kedua mataku.

“Kyuri… aku tahu, selama ini kau masih belum bisa melupakan Donghae. Bahkan sampai detik ini. Donghae itu sahabatku. Ia bahkan sudah kuanggap sebagai saudara kandungku sendiri. Aku juga tahu, aku penyebab yang membuat kalian berpisah. Aku sadar aku sudah menyakiti dan menghancurkan perasaannya. Oleh karena itu, aku ingin menebus semua kesalahanku. Aku sudah bertekad akan menyelipkan namanya untuk anakku kelak. Aku tahu, mungkin itu terdengar aneh. Tapi, inilah satu-satu nya cara yang dapat kulakukan untuk meminta maaf padanya dan menebus  semua kesalahanku terhadapnya.”

Aku terdiam mendengar penjelasan dari Hyukjae. Aku mencoba untuk mengerti dan mencerna semua ucapannya barusan.

“Lalu.. Lalu bagaimana dengan namamu Hyuk?? Bukankah di dalam nama itu tidak ada namamu?? Hyuk atau Jae atau Eun??” aku kemballi bertanya padanya.

“Kata Siapa tidak ada namaku?? Lee.. walaupun itu hanya marga, tapi bukankah itu juga termasuk namaku?? Lee dari aku, Dong dari Donghae, dan Ri dari namamu. Iya kan??” ucap Hyukjae sambil tersenyum usil. Aku benar-benar tidak menyangka dengan semua perkataan Hyukjae. Ia bahkan sama sekali tidak marah atau kecewa saat tahu bahwa aku masih belum bisa mencintainya. Hyukjae kembali menggenggam tanganku. Ia lebih mendekatkan jarak tubuhnya ke tubuhku. Dapat kurasakan matanya menatap mataku tajam tapi tetap lembut.

“Kyuri, bisakah kau menerimaku?? Bisakah kau menerimaku sebagaimana kau menerima anakku?? Bolehkah aku memohon padamu untuk mencoba belajar mencintaiku lagi?? Aku benar-benar berharap dengan kelahiran Dongri, hal itu bisa membuka sedikit hatimu untukku. Aku mencintaimu, Jagi.. aku mencintai dan menyayangimu sama seperti aku menyayangi Dongri.”

Hyukjae benar. Aku harus berusaha untuk melupakan masa lalu ku dengan Donghae. Kini aku sudah memiliki Dongri dan dirinya. Apa pun yang terjadi, aku harus mulai mencoba membuka hatiku untuk Hyukjae. Hyukjae pria yang sangat baik, sama seperti Donghae. Dengan segala keyakinan, aku akan berusaha untuk kembali mencintainya sebagai Suamiku, kekasihku, sahabatku, juga ayah bagi anak-anakku.

Hyukjae mendekatkan wajahnya ke arahku. Ia menggapai kepalaku dengan lembut, mencoba meraih bibir tipisku. Dengan satu keyakinan penuh, aku pun memejamkan mata. Aku bersiap untuk menyerahkan seluruh hidup dan hatiku pada Hyukjae. Bibir Hyukjae dan Bibirku hampir saja menyatu saat…

OOEEEEKKKK…. OOEEEEKKK…

Suara tangisan yang cempreng itu membuyarkan kegiatan kami. Hyukjae mendengus kesal. sedangkan aku hanya mampu tertawa dan segera beranjak dari tempat tidurku untuk menghampirinya.

“Dongri, kenapa si kau menganggu Eomma dan Appa??” Hyukjae memanyunkan bibirnya.

“Hahaha… Dongri tidak senang kalau ibunya diambil orang lain.” Ucapku sambil menggendongnya untuk menenangkannya. Hyukjae menghampiriku.

“YA!! Siapa yang orang lain?? Aku ini Appa nya. Harusnya dia tidak boleh cemburu seperti itu!” ucap Hyukjae. Aku hanya tertawa kecil mendengar pengakuannya. Disaat yang bersamaan, saat menggendong Dongri kurasakan tangan Hyukjae memeluk tubuhku dan Dongri, yang berada dalam genggaman tanganku, dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya pada pundak kananku.

“Saranghaeyo, Kyuri.. kalau boleh, bisakah mulai sekarang kita menyebut Dongri sebagai  ‘Anak Kita’?? aku berharap kehadirannya membawa cinta didalam hatimu.” Ucap Hyukjae yang langsung kujawab ‘ya’.

Aku berjanji, Hyuk. Aku berjanji mulai detik ini aku akan membuka hatiku untukmu. Demi Dongri, aku berjanji akan menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi kalian. Aku tidak akan lagi menyia-nyiakan semua kesempatan yang sudah Tuhan berikan untukku. Terima kasih Hyuk, kau sudah mau bersabar untuk menungguku dan memperhatikanku. Terima kasih untuk selalu menyayangi dan mencintaiku. Terima kasih juga kau sudah  memberikan semua yang terbaik untukku dan Anak kita. Dan, Terima Kasih Dongri.. Terima kasih Nak, karena kehadiranmu di dunia ini bisa membawa banyak perubahan dalam diri Eomma. Terima kasih karena kehadiranmu mampu membuat Eomma kembali belajar mencintai dan menyayangi Appa seperti eomma menyayangimu. Eomma janji, Eomma akan mencintai Appa seperti Appa mencintai Eomma. Hanya Kalian berdualah hartaku yang paling berharga di dunia ini.

-THE  END-

9 thoughts on “LOVE BIRTH (Part 4 – END)

  1. Kya…
    FFnya bagus bgt eonni…
    Emang sih sebenernya tuh eunhyuk oppa tuh baik orangnya
    *plak,,kayak kenal aja lu..
    Hehe
    happy ending
    FF nya daebak bgt deh
    suka suka suka
    ending yg bagus bgt
    bgtu mengharukan dan membahagiakan
    ^o^

  2. Terharu , akhirnya si Kyuri ama eunhyuk . Baru baca yg part ini aja, jadi masih belum connect ama cerita sebelumnya :p . Si donghae kasian , sama aku aja ya *dibunuhelfish . Oh iya , mau kasih saran nih . Klo bisa postingannya di ringkas kayak -continue reading- dsb gitu biar gampang liat per post nya . Nice FF , ditunggu karya selanjutnya ^^

  3. gomawo udah baca….
    iya nih, padahal dulu typ post itu sll urut koq ssuai sm judul n tgl nya.
    cm aq ga tau knp tiba2 bisa berantakan ga beraturan ky gtu :((

    padahal udh aq cb edit2 n d atur sgala macemnya, ttp aja ga bisa…

  4. aku, mau nangis, pas baca perjuangan eunhyuk bwt kyuri,
    konfliknya itu ga ngebosenin dan susah bwt ditebak,
    good ff lah pokoknya

  5. Sebenarnya ada apa denganku?? aku merasa gak rela Hyuk ma Kyuri.
    *PadahalBiasku*
    *Abaikan*

    Trus gimana nasib DongHae di Canada sana? apakah dia bertemu Park HyeMin? kkkkkk

  6. kyuri x ma hyuk y……..
    kiraen ma donghae gtow…..
    tp g pa” lh yg pntng g da ge yg bnci”an

  7. FFnya bagus thor, gue suka part eunhyuk disiksa sama kyuri, jambak aja terus, :3
    #plak!
    tapi thor, alurnya terlalu cepet, pas moment EunRinya kurang,
    sequel eoh😀
    keep writing :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s