THE SWEET NEW YEAR EVE

Dicerita ini, tokoh “AKU” itu READER sendiri. Dan untuk tokoh “DIA” pikirin bias di SUJU masing-masing yaaa…

Don’t be silent reader…🙂 Gomawo…

****************************


Aku sedang memilih berbagai macam keperluan dapur saat tiba-tiba ponsel ku bergetar dan melantunkan lagu No Other favoritku. Kubaca nama yang tertera dilayar hitam tersebut.

“Yeoboseyo..”

“Jagiya, Neo Oddiseo??” kudengar suara lembutnya menyapaku diseberang sana. Aku tersenyum senang saat mendengar suara manisnya.

“Aku lagi di swalayan Oppa. Ada apa??”

“Aniyo.. aku hanya ingin bilang, malam tahun beru besok kau jangan kemana-mana ya! Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu. Arrachi?!”

Aku tertawa kecil mendengar permintaannya. Jelas saja aku mau. Wanita mana yang tidak ingin menghabiskan waktu dan merayakan tahun baru dengan kekasihnya sendiri?

“Ne.. Arraseo Oppa. Besok aku akan memasak dan membuat kue untuk untukmu.”

“Baiklah.. Gomapta Jagi. Annyeong” katanya sambil menutup telepon.

Sepanjang kegiatan ku di swalayan, aku hanya senyum-senyum sendiri setelahnya. Aku memikirkan apa saja yang kira-kira akan aku siapkan untuk besok, dan apa saja yang akan kami lakukan bersama sepanjang malam, dan lain-lain.

Aku terdiam sebentar dan merenung, ternyata waktu memang berjalan dengan sangat cepat. Tak terasa hampir 3 tahun sudah aku merayakan malam pergantian tahun bersama dengannya, kekasihku, namjachinguku. Terlalu banyak moment-moment indah , lucu, senang, sedih, dan penuh emosi telah kami lewatkan bersama. Semakin hari, justru membuatku semakin mencintainya.

Setelah selesai berbelanja, aku segera bergegas menuju rumah. Kusiapkan segala sesuatu yang ingin aku buat sebagai pemanis hari special besok.

***

Esoknya, aku langsung bangun saat alarm yang kusetel pada pukul 7 pagi itu berbunyi. Aku sangat antusias sekali pagi ini. Selain karena ini adalah hari terakhir di tahun ini, aku juga sangat gembira karena aku akan menghabiskan seluruh waktu dihari ini bersama dengan dia.

Selesai mandi, aku langsung menuju dapurku dan meracik seluruh bahan yang aku beli diswalayan kemarin. Kuputuskan, hari ini aku akan membuat Mocca Choco cake serta sup krim dan daging pedas merah kesukaannya. Hampir 5 jam aku berkutat didapur, sampai tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul setengah 2 siang.

TING..TONG

Suara bel pintu rumahku pun berbunyi. Dan begitu kubuka pintu, ternyata dia, kekasih yang sudah hampir 2 minggu lamanya tidak kutemui. Dia begitu tampan dengan jeans hitam yang pas di kakinya serta dalaman berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja kotak berwarna hitam merah yang lengannya dilipat hingga sebatas siku. Tak lupa, rambutnya yang sedikit ditata acak serta parfum yang wanginya selalu kusuka, membuat penampilannya begitu sempurna.

“Jagiya, Bogoshipoooo..!!!” ucapnya seraya memeluk tubuhku erat dan mencium keningku.

“Nado Bogoshipo Oppa..” balasku memeluknya tak kalah erat. Aku dan dia sama-sama melepaskan semua rindu yang sudah lama kami tahan selama ini. Tak ingin rasanya aku melepaskan pelukannya.

“YA!! Jagi, mau sampai kapan kau memelukku seperti ini?? Apa kau tidak mau menyuruhku masuk?” aku tersadar dengan kata-katanya. Aku baru sadar bahwa kami berdua masih berdiri didepan pintu rumahku dengan posisi yang masih berpelukan.

Kulepaskan pelukannya dan tertunduk tersenyum malu. Segera saja ku bawa ia masuk kerumahku.

“Wah… kau masak apa?? Wangi sekali..” katanya sambil mengendus-ngendus wangi kue dan masakan yang sudah aku buat.

“Banyak sekali! Pokoknya aku sudah membuatkan banyak makanan special untuk Oppa. Sambil kita menghabiskan waktu sampai besok.” Kataku sambil pergi kedapur membuatkan secangkir vanilla latte untuknya. Tak lupa juga, aku membawakan cake yang sudah aku buat tadi kehadapannya.

Ia mulai menyesap sedikit minuman yang sudah kuhidangkan didepannya dan tak lama ia juga mencicipi cake yang sudah aku potong dan aku letakkan untuknya dipiring kecil.

“Ottokhae, Oppa?? enak??” aku menatapnya hati-hati. Takut kalau ternyata aku malah meracuninya karena rasanya yang tidak enak.

“Ne… Mashitaaaa!! Kau memang pintar. Kalau kau jadi istriku, pasti aku nanti tidak akan pernah kelaparan.” Aku tersenyum malu mendengar ucapannya. Wajar saja, dia memang pria yang pintar merayu. Karena itulah yang membuatku bisa menyukainya.

Selama beberapa jam, kami berdua terus berbicara dan bercanda satu sama lain. Aku dan dia sama-sama melepaskan rindu yang sudah kami pendam selama dua minggu ini. Bukan hanya aku saja yang sibuk dengan semua tugas-tugas kuliahku, tapi juga dia. Sebagai seorang pemilik EO, jam kerjanya sangatlah padat. Bahkan hari liburpun selalu ia gunakan untuk bekerja. Hal itulah yang membuat kami jadi jarang bertemu.

“Yap, sepertinya ini sudah waktunya. Jagi, cepatlah kau bersiap-siap. Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat.” Suaranya mengagetkan aku yang sedang berada dikamar. Aku baru saja selesai mandi dan hendak mengambil pakaian dilemari.

“Mwo?! Eoddiga Oppa??” teriakku dari dalam kamar.

“Sudah, nanti kau juga akan tahu. Cepat lah ganti baju. Aku tunggu diluar ya”

Mau tidak mau, aku menuruti semua permintaanya. Secepat kilat, kusambar gaun hangatku yang berwarna baby blue, dan tak lupa kulilitkan syal tebal berwarna putih dileherku mengingat saat ini masih winter. Kupoleskan sedikit make up tipis diwajahku dan membiarkan rambutku tergerai indah dan menyisipkan bando sebagai hiasannya.

Setelah siap, aku segera keluar kamar dan menemui dia yang sedang asik bermain game di ponselnya.

“Oppa, aku sudah siap. Kita mau kemana??” dia berdiri dan menatap ku cukup lama sebelum akhirnya tersadar dari lamunannya dan segera menggandeng tanganku keluar.

“Kajja.. aku punya surprise untukmu.”

Aku diam dan pasrah kemanapun dia mau membawaku pergi. Begitu sampai dimobil, dengan sikap jantannya dia membukan pintu untukku dan mempersilakan aku masuk. Tak lama, mobilnya pun langsung meluncur menembus pekatnya malam.

….

Setibanya di Seoul Park, tempat yang ditujunya, dia tidak langsung turun dari mobilnya. Ia bahkan juga tidak memperbolehkanku untuk turun ataupun beranjak dari tempat dudukku.

“Sebelum kita turun, aku harus melakukan sesuatu terlebih dahulu agar kau tidak melihat kejutanku.”

“Mwo?! YA!! Apa yang Oppa lakukan?!?!” aku terkejut dan mencoba protes saat dia mulai menutup kedua mataku dengan sapu tangan miliknya.

“Hushh.. sudah, kau tenang saja. Aku tidak akan mencelakakanmu, Jagi.” ucapnya mencoba menenangkan diriku.

Setelah mataku selesai ditutup, kudengar suara pintu kemudi disebelahku dibuka dan ditutup. Dia sudah beranjak turun dari mobil dan sedang menghampiriku yang masih duduk di bangku penumpang. Saat ia membuka pintu disebelahku, dengan perlahan-lahan, ia menuntun dan membantuku untuk turun dari mobil. Sesudah itu, dengan penuh cekatan, ia langsung menuntunku untuk berjalan mengikuti arahannya.

Dia benar-benar menjagaku. Tidak sedikitpun aku dibiarkannya terantuk di jalanan yang sama sekali tidak bisa aku lihat. Tangan kanannya masih setia merangkul tubuhku dengan tangan kirinya memegangi tangan kiriku agar aku mudah berjalan.

“Oppa, sebenarnya aku mau dibawa kemana sih?? kita kan sudah sering kemari, tapi kenapa mataku harus ditutup seperti ini?” aku mencoba kembali protes padanya.

“sudah kubilang ini kejutan, Jagi. Bersabarlah! Sebentar lagi kita sampai.”

Cukup lama kami berjalan. Aku sudah mulai merasakan dingin dikakiku, terlebih lagi aku dapat merasakan bahwa aku menginjak salju yang baru saja turun. Tidak lama kemudian, kami berhenti. Aku tidak tahu kemana dia membawaku pergi, yang jelas, aku seperti dapat merasakan hawa yang berbeda di  sekitarku.

“Kau siap??” tanya Dia persis dibelakangku. Kedua tangannya masih memegangi kedua lenganku dari belakang. Aku mengangguk. Lalu sejurus kemudian, dengan perlahan-lahan ia membuka tutup mataku. Namun, baru saja aku ingin membuka mataku, suaranya kembali terdengar menyuruhku untuk tidak membuka mata sebelum ada aba-aba darinya.

“baiklah.. hana, tul, set.. buka matamu pelan-pelan, Jagi.” ucapnya dengan lembut.

Kuikuti aba-abanya dan dengan perlahan kubuka mataku. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat semua pemandangan indah yang sudah tersaji didepan mataku ini. Sebuah gapura kecil yang berhiaskan puluhan bunga yang menjadi pintu masuk taman bunga didepanku terlihat cantik dengan kelap-kelip lampu yang menghiasinya. Belum lagi keterkejutanku selesai, mataku sudah kembali dikejutkan dengan lilin kecil yang berada di kiri dan kananku menambah indah semua yang berada ditaman ini.

“Omooo… Oppa, ini semua kau yang merancangnya??” tanya ku masih tak percaya.

Dia hanya mampu menganggukkan kepala sambil memperlihatkan senyum termanisnya padaku. Belum habis aku mengagumi semua pekerjaannya, dia langsung menggandeng tanganku dan membawaku masuk kedalam taman tersebut. Disana, kulihat sebuah Gazebo putih sudah dihias cantik dengan kembang api yang menyala disekelilingnya. Sedangkan didalam Gazebo tersebut, kulihat sudah ada meja yang diatasnya sudah dihias oleh bunga favoritku dan dua lilin berbentuk hati yang berada didalam sebuah gelas mungil yang cantik.

“Kau suka??” tanyanya menatapku yang masih tidak berhenti berkedip. Aku membalas ucapannya dengan anggukan.

“Tapi untuk apa kau menyiapkan semua ini Oppa??” aku menatapnya tak percaya. Aku benar-benar terharu dengan semua yang dilakukannya malam ini untukku. Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah berjalan kearah taman bunga yang berada disekitar gazebo tempatku berdiri dan memetik beberapa bunga yang ada disana.

“Untukmu, mon Amour ‘’ ucapnya sambil berlutut memberikan bunga itu untukku. Melihat perlakuannya sukses membuatku tertawa. Tidak biasanya dia bersikap semanis ini denganku. Menurutku, ini bahkan terlalu romantis.

Dia kemudian berdiri dihadapanku dan menatap dalam kedalam mata cokelatku.

‘’Kau mau tahu kenapa aku membawamu kesini ??’’ tanyanya. Aku mengangguk. Ia pun menyuruhku untuk duduk dikursi yang ada didepan meja tersebut. Ia kemudian berlutut didepanku dan menggengam kedua tanganku dan meletakannya di pangkuanku. Sebelum berbicara, kudengar ia beberapa kali menghembuskan nafas keras. Tangannya mendadak berubah jadi dingin. Aku bahkan tidak tahu apa yang menyebabkannya jadi gugup seperti ini.

‘’Baiklah.. tolong dengarkan semua ucapanku. Aku mohon, biarkan aku menyelesaikan semuanya dan jangan kau potong semua ucapanku! Arraseo’’ aku menganggukan kepala menyanggupinya.

‘’Aku.. Hmm.. Aku mencintaimu. Jujur, hidupku sudah merasa ketergantungan denganmu. Hmm.. jadi aku ingin, kau menjadi seseorang yang aku lihat setiap kali aku membuka mata di pagi hari. Aku ingin kau menjadi seseorang yang selalu menemaniku setiap kali aku memiliki masalah ataupun saat aku sedang merasa bahagia. Aku ingin, kau menjadi orang yang mau menemaniku menghabiskan sisa hidupku, aku ingin kau menjadi orang terakhir yang aku lihat nantinya, dan aku…. Aku ingin kau menjadi ibu dari semua anak-anak yang nantinya Tuhan percayakan padaku. ‘’ ucapnya mengakhiri kata-katanya. Aku masih terdiam ditempat dudukku. Aku menunduk dan tidak mampu menatap matanya saat ini.

Ada satu rasa yang sepertinya ingin meledak dihatiku. Antara percaya dan tidak, aku sudah mengetahui dengan pasti apa maksudnya saat dia mengucapkan semua perkataannya tadi. Rasa senang, terharu rasanya sudah mulai mencampur didalam hatiku. Dia merogoh sesuatu dikantong celananya. Dan sejurus kemudian, ia membuka sebuah kotak berwarna merah darah itu dan menunjukkannya padaku.

‘’Jagi, Veux-tu m’épouser??’’ (Jagi, maukah kau menikah denganmu?) sebuah cincin cantik bermatakan batu safir dengan kombinasi nama kami sebagai ukirannya sudah berada didepan ku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saking terharunya, bahkan air mata sudah mulai turun dikedua pipiku. Suaraku sangat sulit untuk dikeluarkan saking gugupnya.

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangguk menerima pinangannya. Kami sama-sama tersenyum. Dengan penuh perasaan, ia menyematkan cincin cantik itu di jari manisku dan langsung mengecup bibirku dengan lembut. Kami kemudian berpelukan untuk beberapa saat.

‘’Gomawo Jagi..’’ ucapnya.

TENG…TENG…TENG…

Suara lonceng yang berada ditaman itu berbunyi, membuyarkan kegiatan kami yang masih berpelukan. Dia melihat jam ditangannya dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, yang artinya sudah masuk tahun baru.

‘’Happy new year Oppa.’’ Ucapku yang kemudian dibalas olehnya.

Sesudahnya, kami berdua menghabiskan waktu dengan melihat pertunjukan kembang api yang dipasang di Seoul Park tersebut. Kami pun juga ikut bermain kembang api yang dibawanya dan membuat sepanjang malam itu benar benar menjadi salah satu moment indah dalam hidupku.

Ini lah hari yang begitu berkesan dan membahagiakan dalam hidupku. Di hari terakhir tahun 2011, aku sudah menanggalkan status hubungan ku dengannya dan tidak lagi berstatus pacaran. Tapi, di awal tahun 2012 ini, aku juga kembali memulai suatu hubungan baru dengannya namun dengan status yang juga berbeda, yaitu sebagai calon suami istri.

Aku benar-benar bahagia mendapatkan hadiah tahun baru yang luar biasa darinya. Tidak akan pernah aku melupakan semua kejadian hari ini seumur hidupku. Akhir yang begitu manis dalam hidupku baru saja terjadi di New Year eve tahun ini.

-THE END-

14 thoughts on “THE SWEET NEW YEAR EVE

  1. Kya…
    Ngebayangin klo itu Kyu…
    Hah…ampe mimisan idung aku admin
    haha….
    Romantis skali…
    Envy deh jdnya
    krn sadar smuanya bukanlah kenyataan… just dream.
    But it’s okey
    yg penting happy haha…
    Gumawo…

  2. Salam kenal juga… ^^
    makasih udh berkunjung, baca n komen…hehehhe
    jgn lupa komen semuanya lho yaaa… ^^

    Jeongmal Gomawo…🙂

  3. romantis bgt.. dilamar di malam natal… so sweet dh

    jd bayangin dia ny tuh ryeowook.. wah q pst udh klemer2… :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s