BATTLEFIELD

Sebelumnya maaafffff bgt2 buat Oppa ku, Kakakku tersayang, Heechul.. ^^ Mianhe Oppa udah bikin karakter yang jahat buat Oppa.. ^^v

Buat readers, sangat disarankan saat baca FF ini, sambil dengerin lagu “JORDIN SPARKS – BATTLEFIELD” yaaaa… soalnya terinspirasi dr situ.🙂

pliiiissss.. dikomenin yaaaa.. don’t be silent reader.. Gomawo.. ^^

******************************************************


BRAAAKKKK!!

Aku menolehkan kepalaku kearah pintu masuk apartemen. Kulihat seorang pria baru saja masuk dan tengah berjalan cepat menuju ke salah satu kamar yang berada disana. Dan kembali, aku mendengarnya membanting pintu kamar tersebut dengan keras. Aku hanya bisa menghela nafas menyaksikan kelakuannya yang penuh dengan tempramen itu. Baru saja aku hendak melanjutkan memasakku, kudengar suara gaduh terdengar dari kamarnya.

Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang diperbuatnya. Yang jelas, ada sedikit rasa khawatir dalam diriku saat mengetahui bahwa sepertinya ia sedang dalam bad mood yang parah. Sejenak kuhentikan kegiatanku yang sedang memotong sayuran untuk menghampiri kamarnya.

“Oppa, apa yang kau lakukan?? Ada yang bisa kubantu??” aku membuka pintu kamarnya perlahan dan melihatnya sedang mondar mandir mengacak-ngacak seluruh ruangannya seperti sedang mencari sesuatu. Pria itu tetap terdiam dan tidak menggubris semua omonganku. Ia malah menengok kearah ku sebentar dan kembali melanjutkan kegiatannya mengobrak-abrik kamarnya lagi.

Aku kembali menghela nafas. Percuma saja aku mengajaknya berbicara dan menawarkan bantuan untuknya. Kalau tahu aku akan diacuhkan seperti ini, lebih baik tadi aku tidak usah menghampirinya dan berpura-pura tidak memperdulikannya.

“Ah, Han Taera Chankaman!” panggil nya saat aku baru saja hendak kembali kedapur. Mau tidak mau, aku pun kembali berbalik dan masuk kembali kedalam kamarnya.

“Hmm.. itu, apa kau melihat kotak kacamata ku yang berwarna putih itu?? Yang ada stiker huruf H itu..” tanyanya sembari mejelaskan ciri-cirinya.

“Mwo? Tempat kaca mata itu?? Hmm.. saat aku membereskan kamar mu kemarin, aku liat tempat itu sudah rusak. Kaitan untuk penutupnya sudah lepas. Jadi aku buang saja. Memangnya kenapa?”

“MWO?! KAU BUANG???” sahutnya keras. Aku jelas saja kaget dengan reaksinya. Ia tiba-tiba berubah menjadi galak saat mendengar penjelasanku tadi. Memangnya apa salahku?? Kulihat ia kini sudah berjalan menghampiriku dan berdiri dihadapanku.

“YA!! KENAPA KAU BUANG KOTAK ITU?? PUNYA HAK APA KAU MENYENTUH SEMUA BARANG-BARANGKU HAH??!!! DASAR IDIOT!!!” pria itu berteriak keras sekali didepan wajahku sampai aku harus sedikit membuang wajah agar suaranya tidak masuk kedalam telingaku. Sepertinya pertengkaran hebat dengannya akan terjadi lagi sebentar lagi.

“Mianhe Oppa.. aku tidak tahu. Aku pikir karena itu rusak, kau tidak mungkin memakainya lagi. makanya aku membuangnya. Memangnya ada apa sih?? Kenapa kau sampai sebegitu marahnya padaku?” Aku mencoba untuk bersabar dengannya. Membalas semua omongan kerasnya sama saja dengan aku mencampurkan minyak kedalam bara api.

“Kau bilang KENAPA??? YA!! Bodoh, apa kau tahu didalam kotak kaca mata itu terdapat kertas kecil yang berisi nomor telepon penting rekan bisnis ku!!! Dan sekarang kau MENGHILANGKANNYA?? Dimana OTAKMU HAH?!?!?”

“Mwo!? Aku kan tidak tahu apa-apa Oppa!! Kenapa kau menyalahkanku?? Salahmu sendiri, kenapa nomor telepon itu tidak kau simpan didalam dompet mu atau langsung kau save di handphone mu saja?” Kesabaranku sudah mulai habis. Kebiasannya untuk mengeluarkan kata-kata kasar dan makian kambuh lagi jika kami bertengkar seperti sekarang.

“DIAM KAU!! Aku tidak mau tahu, cari sampai dapat!! Kalau kau sampai tidak mendapatkan nomor itu lagi, habis kau!!” sahutnya sambil mencengkram rahang pipiku dengan kencang dan melepaskannya dengan keras. Aku hanya mampu meringis kesakitan dengan semua perlakuannya.

Setelah selesai dengan semua perlakuan kasarnya itu, ia mendorong sedikit tubuhku yang menurutnya, menghalangi jalannya. ia pergi meninggalkan aku yang masih berdiri terdiam diambang pintu kamarnya. Aku begitu kaget saat ia menutup pintu dengan sekali hentakan keras dan dan begitu kencang.

Setelah kepergiannya, aku hanya mampu menahan air mata yang sudah berancang-ancang keluar dari pelupuk mataku. Ini sudah kesekian kalinya ia melakukan kekerasan pada diriku. Tidak hanya kekerasan fisik yang sering aku terima darinya, namun juga kekerasan batin yang sering ia lakukan jika ia sedang marah dan kesal padaku. Sudah banyak sekali ia menghinaku, mengataiku jika aku bertindak salah menurut pemikirannya.

***

Aku Han Taera. Aku berumur 22 tahun dan sedang bekerja sebagai seorang editor disebuah perusahaan majalah fashion ternama di Seoul. Status ku saat ini sudah bertunangan. Yah, pria yang tadi berbicara kasar kepadaku tadi itulah Tunanganku. Namanya Kim Heechul. Ia seorang Manager di sebuah perusahaan otomotif terkenal di Seoul. Aku sudah menjalin hubungan dengannya selama hampir 4 tahun. Awal perkenalan kami hingga kami resmi bertunangan sangat manis menurutku. Heechul selalu mampu membuatku senang, selalu membuatku bahagia dan mampu memperlakukan aku dengan baik layaknya seorang pria memperlakukan kekasihnya. Namun semuanya berubah semenjak kami memutuskan untuk bertunangan. Semenjak bertungan, kami memutuskan untuk tinggal bersama disebuah apartemen yang dibeli oleh Heechul untuk kami. Di dalam sini lah semua kekerasan itu terjadi. Semenjak kami bertunangan, Heechul mulai menunjukkan sifat aslinya. Ia jadi sangat meledak-ledak, emosi nya mudah sekali tersulut hanya karena sebuah masalah kecil, dan ia menjadi pria yang kasar. Sebuah kemesraan yang kami alami bisa saja mendadak berubah menjadi sebuah arena pertarungan antara aku dan dirinya hanya dalam beberapa menit.

Sudah beberapa kali Heechul bersikap kasar terhadapku. Namun, entah mengapa aku masih saja bisa tahan terus bersamanya. Kuakui, aku terlalu mencintai dan menyayangi Heechul. Kuakui mata hatiku sudah benar-benar buta dibuatnya. Aku tidak pernah mampu untuk tidak memaafkannya jika ia sudah bersikap kasar terhadapku, karena jika ia sudah selesai memarahiku atau mengasariku, ia akan langsung meluluhkan hatiku dengan pelukannya yang begitu erat dan kecupannya di bibirku. Itulah satu-satunya yang menjadi kelemahanku saat ini.

***

Hari sudah semakin larut. Heechul belum juga kembali ketempat ini. Berulang kali kuhubungi ponselnya tidak pernah diangkat, sms ku juga tidak sekalipun dibalasnya. Aku sangat mencemaskannya. Makan malam yang tadi sempat tertunda pun sudah kuselesaikan dan berharap Heechul cepat pulang dan mau makan bersamaku.

CEKLEK.. BRAAAKKKK!!!

Ku tengadahkan kepalaku yang baru saja ketiduran saat mendengar suara keras pintu apartemen terbuka. Dan benar saja, Heechul masuk kedalam sambil berjalan agak sempoyongan.

“Taera-ya!!! YA!!! TAERA, NOE ODISSEO???” kudengar teriakannya memanggil namaku. Segera aku berlari menghampiri dirinya dan memapahnya ke dalam kamarnya.

Walaupun kami sudah bertunangan, kami sama sekali tidak tidur bersama dalam satu kamar. Kami tidur dikamar yang sudah tersedia bagi kami masing-masing. Tapi jika seseorang bertanya, apakah kami sudah pernah melakukannya, aku akan menjawab Ya, kami sudah pernah melakukannya beberapa kali.

Setelah merebahkan tubuh Heechul dikasur kamarnya, aku langsung membuka jaket dan sepatu yang dia pakai. Suara nafasnya yang menderu tidak bisa menyembunyikan bau alkohol yang sangat menyengat dari dalam mulutnya. Baru saja aku hendak beranjak mengambil air dan handuk untuk membasuh wajahnya, ia bangun dan langsung menggengam tanganku, membuatku berdiri terdiam.

“Mana nomor telepon yang kusuruh kau mencarinya tadi??” tanyanya dingin. Aku hanya terdiam.

“Oppa, Mianhe.. aku tidak…”

“YA!!! AKU KAN TADI MENYURUHMU UNTUK MENCARINYA!! MENGAPA TIDAK KAU LAKUKAN HAH???” Heechul sudah berdiri dan kini ia mencengkram kedua lenganku sangat keras sambil mengguncang-guncangkan tubuhku. Rasa sakit kini mulai menjalar disekitar lenganku.

“Oppa, kotak itu sudah pasti tidak ada! Bahkan ditempat sampah pun juga sudah tidak ada. Mianhe.. sakit Oppa, tolong lepaskan..” aku merintih kesakitan. Aku memohon padanya agar mau melepaskan cengkramannya ditanganku. Namun apa yang aku dapat? Bukannya ia merasa kasihan denganku, ia malah melotot tajam dan langsung menjatuhkan tubuhku dikasur miliknya. Dengan kasar ia menduduki bagian bawah tubuhku dan kembali mencengkram kedua lenganku kasar.

“Dasar wanita Bodoh!! Kau tahu, itu nomor telepon penting!!! Dia itu salah satu orang yang akan membuat perusahaanku maju. MENGERTI TIDAK?!?!?! Dan hanya karena sikap kurang ajar mu itu, aku bisa saja kehilangan tender ini!!!” Heechul menamparku. Hal itu membuatku tidak bisa mencegah air mataku untuk turun. Aku benar-benar tidak bisa menahan semua perlakuan Heechul terhadapku.

“Oppa.. Jebal, sakit. Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu kalau disana ada kertas penting yang kau simpan. Mianhe Oppa.. tolong lepaskan aku.”

“Heuh.. kau pikir aku akan memaafkanmu begitu mudah?? Tidak!! Kau harus terima pembalasan dariku!!!” Heechul sama sekali tidak mendengarkan semua kata-kataku. Kemarahannya serta pikirannya yang kacau akibat mabuk sudah menyatu didalam dirinya. Dengan cepat, Heechul langsung mengecup bibirku kasar. Ia menggigit bibir bawahku hingga aku berteriak kesakitan. Namun, ia sama sekali tidak menggubris permohonanku. Bahkan suara tangisanku pun tidak mampu membuatnya menghentikan aksinya. Aku mulai merasakan darah keluar dari bibir sampingku. Sesudahnya, hanya dengan sekali hentakan kasar, Heechul langsung merobek paksa seluruh pakaianku dengan keras dan melakukan semuanya padaku.

***

Paginya aku hanya mampu menangis dikamarku. Setelah tadi malam Heechul melakukannya padaku, aku langsung meninggalkannya dan pindah kekamarku. Aku merasa seluruh tubuhku sakit. lengan tanganku membiru, leherku penuh dengan cap yang berwarna merah yang dibuat bibirnya, pipiku pun juga masih terasa sedikit nyeri akibat tamparannya tadi malam. Walaupun kami sudah pernah melakukannya beberapa kali, tapi tidak pernah sekalipun Heechul melakukannya dengan sangat kasar seperti tadi malam.

Aku masih menangis di kamarku, saat ku dengar pintu kamarku terbuka dan Heechul masuk kedalamnya dengan wajah yang masih berantakan. Karena masih kesal dengan sikapnya semalam, aku segera menghapus air mataku dan beranjak turun menuju ke dapur.

Kami sempat berpandangan satu sama lain, sebelum akhirnya kuputuskan untuk meninggalkannya dan keluar dari kamarku. Namun, baru saja aku berjalan beberapa langkah, Heechul sudah menggegam tanganku erat. Genggaman tangan yang hangat yang sudah lama sekali tidak aku rasakan.

“Taera-ya..” panggilnya lembut sambil membalik tubuhku menghadapnya. Aku tidak berani menatapnya. Sampai akhirnya Heechul mengangkat dagu ku hingga mau tidak mau aku membalas tatapannya.

“Mianhe.. Maafkan Oppa ya, tadi malam Oppa terlalu kasar padamu. Mianhe kalau kemarin aku marah-marah padamu dan membuat mu seperti ini.” sahut Heechul yang Kali ini tanpa amarah sama sekali. Aku masih tidak terima dengan perlakuannya kemarin, oleh karena itu aku tidak memperdulikan semua omongannya dan langsung melanjutkan langkahku menuju dapur. Tapi lagi-lagi aku harus menyerah dengan perlakuan lembut Heechul padaku. Dengan gesit, ia langsung menghentikan langkahku dan memeluk tubuhku dari belakang.

“Mianhe Taera.. Mianhe. Aku janji aku tidak akan mengulanginya.” Aku masih terdiam dan tidak ingin menjawabnya. Sampai suara lembut Heechul kembali memohon untuk aku maafkan. Inilah kelemahanku. Heechul mampu menyentuh kelemahanku hingga akhirnya aku menganggukan kepala untuk memaafkannya.

***

Selama dikantor, aku tidak bisa bekerja dengan baik. Rasa sakit di tubuhku masih dapat kurasakan. Rasanya ingin sekali aku izin untuk pulang cepat dan segera merebahkan diriku ditempat tidur. Namun, pekerjaan yang ada didepanku mau tidak mau membuatku mengurungkan niatku untuk pulang.

“Taera, Neo Gwaenchana??” sapa seorang rekanku yang sudah memberikan sebuah minuman hangat untukku.

“Oh, Kibummie.. Ne, gwaenchana. Aku hanya lelah.” Sahutku seadanya.

“Minumlah teh itu. Siapa tahu bisa meringankan sedikit otot-otot mu yang kaku.” jawabnya lagi sambil membantu memijat bagian tengkuk dan pundakku. Nyaman sekali rasanya seluruh otot tubuhku saat Kibum memijatnya.

Dia adalah Kibum, teman satu kantorku yang bisa dikatakan cukup dekat denganku. Kami sudah berteman dekat selama hampir 2 tahun ini. Dia sudah seperti seorang kakak untukku. Perhatiannya, kepeduliannya benar-benar membuatku nyaman jika harus berada di kantor. Setiap masalahku pun sudah kupercayakan padanya. Aku tidak pernah ragu sedikitpun untuk bercerita kepadanya.

“Habis bertengkar lagi dengan Heechul??” tanya nya sambil menunjuk lengan, leher dan pinggir bibirku yang terluka. Aku hanya menghela nafas dan mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Sial, Tadinya aku pikir dengan usaha ku menutupi semua luka ditubuhku dengan blazer lengan panjang dan syal, semua luka-luka ini tidak mungkin terlihat. Namun ternyata mata Kibum jauh lebih tajam dari yang ku kira.

“Kenapa sih kau tidak pernah mau melawan?? Apa kau tidak bisa memberontak sama sekali?? Aku benar-benar kasihan padamu.” Sahutnya lirih.

“Haaahhh… mau bagaimana lagi. Kau tau sendiri bagaimana tempramen Heechul. Mungkin saja dia sedang ada masalah, makanya dia bersikap seperti itu padaku.”

“YA!! Kau itu sebenarnya manusia atau malaikat sih? Heran aku denganmu. Sudah disakiti berkali-kali, masih saja sanggup bertahan dengannya.”

“Hahahaha.. kenapa kau jadi sewot begitu?? Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi. Aku percaya Heechul akan berubah satu saat nanti.” Jawabku mengakhiri pembicaraan kami.

***

Aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah begitu jam bekerja ku selesai. Aku ingin sekali langsung beristirahat dan mengobati semua luka yang masih ada di tubuhku.

Setelah ku buka pintu apartemenku dan Heechul, aku langsung segera masuk dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Barulah setelah itu aku membereskan seluruh ruangan yang ada di apartemen ini dan langsung menyiapkan makan malam untuk kami berdua.

Baru saja selesai aku menyiapkan semua, kudengar pintu apartemen terbuka dan kulihat Heechul masuk dengan membawa tas kerja serta jas kerja miliknya. Kuhampiri dirinya dan membantunya membawakan tas dan jas tersebut.

“Gomawo..” ia tersenyum. Senyum yang sudah jarang sekali ia perlihatkan padaku semenjak kami bertunangan.

Tanpa mandi terlebih dahulu, Heechul langsung menyerbu meja makan bersama denganku menikmati makan malam kami berdua dalam diam. Suasana seperti ini hampir aku temui setiap hari. Berbeda saat dulu aku dan dia masih dalam status berpacaran. Waktu makan malam adalah hal yang kami tunggu-tunggu. Saat itu kami bisa saling berbagi cerita, bercanda, dan berbicara panjang lebar mengenai apapun. Tidak seperti saat ini yang hanya ditemani oleh sumpit juga sendok yang beradu dengan mangkuk kami.

Selesai makan, seperti biasa aku selalu membersihkan semuanya terlebih dahulu baru setelah itu masuk kamar dan melanjutkan pekerjaan ku yang sempat tertunda dikantor tadi. Saat sedang asik-asiknya mencuci piring, kurasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku. Aku yang terkejut kontan menoleh kebelakang, dan kulihat Heechul sudah tersenyum dan meletakkan dagunya dipundak kananku.

“Op..Oppa.. ada apa??” Heechul menggeleng. Ia membiarkan aku kembali melanjutkan kegiatanku mencuci piring sambil tetap dengan posisinya yang terus memelukku. Sesekali, kurasakan deru nafasnya mengenai tengkukku dan ciumannya di tengkukku yang dia berikan berulang kali.

“Apa masih sakit??” tanya nya kemudian saat aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Ia membalikkan tubuhku menghadapnya. Ia mencoba menelusuri seluruh luka yang dibuatnya ditubuhku dengan matanya yang tajam.

“Sedikit… gwaenchana Oppa, tidak usah dipikirkan lagi.”

“Ikut aku!! Aku akan mengobati luka mu.” Heechul menggandeng tanganku dan membawaku ke ruang tamu. Setelah mengambil kotak P3K, ia langsung menghampiriku yang masih duduk diam di sofa dan duduk disebelahku. Ia mengambil tangan kananku, memperhatikan luka membiru yang sedikit nyeri itu dan kemudian mengecupnya.

“Oppa.. apa yang kau lakukan?? Sudah tidak usah. Aku baik…” belum selesai aku berbicara, Heechul mencengkram sedikit keras tanganku dan melemparkan pandangan tajamnya padaku yang sontak membuatku mau tidak mau terdiam dan menerima semua pengobatan darinya.

Hampir 10 menit Heechul mengobati seluruh luka di tubuhku. Dengan penuh cekatan, ia mengolesi salep penghilang memar ke tanganku. Setelah selesai melakukan pekerjaannya, kami masih duduk berdua di sofa. Tidak ada pembicaraan atau sepatah katapun keluar dari mulut kami.

“Jagiya, Mianhe..” ucapnya tanpa menoleh kearahku.

“Gwaenchana Oppa.. harusnya aku yang minta maaf padamu.”

“Aniyo.. lupakanlah. Aku aku bisa mencarinya lagi dari temanku yang lain.” Balas Heechul yang hanya kubalas dengan sekali anggukan.

“Hmmm.. semalam, aku baru saja berpikir. Dan aku memutuskan, Bagaimana kalau pernikahan kita dilangsungkan secepatnya?? Aku rasa kita sudah cukup dewasa dan sudah waktunya kita untuk membangun rumah tangga bersama-sama. Ottokhae??” mendengar ucapan Heechul barusan sukses membuat  aku tertegun.

Aku sama sekali tidak menyangka dengan semua ucapannya. Baru saja kemarin kami bertengkar hebat, dan kini dengan santainya ia memintaku untuk segera melasungkan pernikahan kami?? Omoo, aku tidak tahu harus menjawab apa. Setelah perlakuan Heechul kemarin, hampir semalaman aku merenung di dalam kamarku. Aku mencoba berpikir lebih jauh lagi jika kami memang sampai ke arah pernikahan. Apakah aku akan bahagia seperti saat aku masih berpacaran dengannya? Apakah Heechul akan memperlakukan aku dengan baik seperti saat kami berpacaran? Apakah Heechul tidak akan melakukan kekerasan lagi padaku?? Semua pemikiran-pemikiran itu terus merasuk didalam hati dan pikiranku. Sampai satu keputusan penting aku ambil demi kebaikan kami masing-masing nantinya.

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami hingga ke jenjang pernikahan. Aku takut, bahkan terlalu takut memikirkan nasib ku saat aku sudah menjadi istrinya nanti. Jika saat aku baru menjadi tunangannya saja dia sering berbuat kasar seperti itu, apalagi saat kami mengarungi rumah tangga kami. Aku tidak ingin mengambil resiko apapun. Mungkin aku memang egois, tapi menurutku inilah jalan yang terbaik untuk kami. Namun satu masalah terbesarku saat ini, aku bahkan tidak berani untuk melepaskan diri dari Heechul. Aku takut jika aku sampai memutuskan hubungan kami, Heechul akan kembali mengajak perang dan melakukan sesuatu yang lebih kejam dari biasanya.

“YA!! Kenapa kau malah diam?!” sahut Heechul yang membuyarkan lamunanku.

“Oh.. Eh, Mian Oppa. Hmmm.. aku rasa, kita jangan membicarakan hal itu yaa.. jujur, aku bahkan tidak ingin memikirkan hal tersebut. Kau berkonsentrasi lah dulu dengan pekerjaanmu.” Aku mencoba tersenyum menjawab ucapan Heechul. Jujur, aku sangat takut jika aku mengucapkan kata-kata yang salah. Aku lebih baik menunggu supaya dia yang terlebih dahulu memulainya.

“Mwo?! Kenapa begitu?? Kau tidak ingin menikah denganku??” Ia menatapku tajam.

“An..Aniyo Oppa. Aku hanya.. hanya belum siap saja.”aku tergagap menjawab pertanyaannya. Namun sejurus kemudian aku beranikan diri untuk melanjutkan kata-kataku

“ Kau tahu Oppa, semenjak kita bertunangan, kau berubah drastis. Kau jadi mudah marah, emosi mu mudah tersulut hanya karena hal-hal kecil yang menurutku tidak perlu untuk diributkan, dan parahnya kau bahkan sudah mulai berani melakukan kekerasan padaku. Jujur, awalnya aku masih bisa menerimanya. Aku berharap kau mau berubah. Tapi nyatanya, semakin kesini, semua yang kau lakukan padaku malah semakin parah. Aku jadi takut.. aku takut kalau harus berkomitmen denganmu.” Aku hanya mampu menunduk setelah menyelesaikan semua ucapanku. Heechul langsung berdiri. Ia melemparkan kotak P3K yang masih ditangannya secara kasar kearah meja didepan kami.

“Oohh.. jadi menurutmu aku berubah?? Menurutmu aku kasar?? Menurutmu aku ini tidak baik, iya?? Baiklah, sekarang apa maumu??” tanyanya sambil berkacak pinggang dihadapanku.

“Oppa.. apa tidak lebih baik kita break terlebih dahulu?? Aku rasa, kita sama-sama butuh waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan hubungan kita sekarang. Sepertinya kita butuh waktu untuk sendiri-sendiri dulu saat ini.”

“YA!! Bodoh, apa maksudmu berkata seperti itu hah?? Kau mau putus dariku?? Dasar kau..” Heechul sudah mengangkat tangannya dan bersiap untuk menamparku. Namun, dengan gesit aku mencoba untuk memiringkan sedikit wajahku sambil menutup kedua mataku karena takut. Tapi ternyata, aku sama sekali tidak merasakan apapun. Selama beberapa detik aku tidak merasakan sentuhan kasar tangan Heechul diwajahku. Sampai aku beranikan diri mengintip dan melihat Heechul masih mengangkat tangannya dan tidak jadi menamparku. Emosi ku pun bangkit. Rasa kesalku pun sudah memuncak.

“Kenapa?? Kenapa Kau tidak menamparku??” kami saling menatap tajam satu sama lain sebelum akhirnya aku berkata lagi

“Dengar ya Oppa, selama ini aku sudah mencoba bersabar menghadapi kelakuan kasar mu seperti ini!! Awalnya aku berpikir kau pasti bisa berubah. Tapi ternyata aku salah!! Perbuatan mu semakin lama semakin menjadi!! Apa kau bisa berpikir bagaimana perasaanku?? Apa kau pernah berpikir bagaimana sakitnya semua luka yang kau buat ditubuhku ini?? Apa salahku Oppa?? Selama ini aku selalu berusaha untuk membuatmu senang, aku selalu berusaha untuk mengurusi mu, menjadi kekasih yang baik untukmu! Bahkan selama ini aku tidak pernah protes ataupun marah dengan semua yang kau lakukan!! Tapi Kenapa…”

“Taera, Cukup!!” Heechul mencoba menghentikan ucapanku.

“kenapa Oppa selalu menganggap salah semua yang kulakukan untuk mu?? Selama ini, kita selalu bertengkar!! Hal kecil apapun yang aku lakukan dan yang tidak kau senangi selalu saja membuat mu naik pitam dan kembali menyalahkan aku!! Apa kau sadar Oppa..”

“Taera, cukup!!” Heechul mulai mencoba kembali menghentikan ucapanku.

“ Apa kau sadar, Selama ini bahkan tidak sedikitpun aku mengharapkan kita bertengkar. Aku tidak pernah bermaksud apalagi sampai mengajak kita berperang seperti ini!!! Tidak pernah terlintas sedikitpun dibenakku untuk menyakiti hatimu apalagi sampai membuatmu kesal!! Aku bahkan sering berpikir kenapa kita harus bertengkar untuk hal-hal yang tidak penting seperti itu Oppa!?! Kalau Oppa memang sudah tidak mencintaiku lagi, UNTUK APA OPPA BERTAHAN?? LEBIH BAIK OPPA PUTUSKAN SAJA AK…”

“KUBILANG CUKUP, TAERA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Heechul persis didepan wajahku dan sukses membuat semua ucapanku terhenti. Matanya yang besar masih menatap tepat langsung di manik mataku. Tangannya pun masih mencengkram kedua lenganku, walaupun tidak sekeras kemarin.

“Berani kau menyebut kata ‘PUTUS’ lagi, awas kau!!!” katanya pelan namun begitu tegas.

Heechul langsung melepaskan tubuhku. Ia langsung berlalu pergi kekamarnya meninggalkan aku yang masih menangis di ruang tamu. Tangisku semakin menjadi taktala mendengarnya berteriak keras didalam kamar dan suara hantaman di tembok berkali-kali.

Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi. Baru kali ini aku merasa sangat takut dengan Heechul. Padahal baru saja aku merasakan kembali pelukan hangatnya yang sudah lama tidak kurasakan, namun hanya dalam beberapa menit saja semua kemesraan yang aku rasakan darinya hancur berantakan. Kami kembali bertengkar untuk yang kesekian kalinya. Aku lelah.. benar-benar lelah menghadapi semua yang terjadi dalam hubungan tidak sehat kami.

***

                “Jebal Taera-ya.. apa kau mau terus-terusan bertahan dengan pria yang kasar seperti dia?? Come on, Open your eyes, Tae.. cinta tidak kasar seperti itu!!” sahut Kibum saat kami makan siang di satu restoran dimsum dekat kantor kami. Aku baru saja kembali menceritakan semua yang terjadi tadi malam antara aku dan Kibum.

“Aku bingung, Kibummie.. Aku takut, aku takut kalau aku yang mengucapkan kata-kata itu terlebih dahulu, Heechul akan semakin marah dan memukulku lagi. Lagi pula.. aku, masih mencintainya.” Aku tertunduk.

“Kau harus tegas Tae!! Kalau Heechul sampai menyakitimu, kau harus bisa melawannya!! Kau tahu?? Ia sering menyakitimu karena menurutnya kau itu lemah. Kau menerima apapun semua yang dilakukannya tanpa pernah berani melawannya. Oleh karena itu, bersikaplah tegas! Jangan biarkan ia menyakitimu lagi. Arraseo?!” aku hanya menjawab ucapan Kibum dengan anggukan. Aku bahkan tidak tahu apakah aku mampu bersikap tegas seperti yang ia suruh.

***

Hari ini, aku terpaksa harus pulang lembur karena beberapa tugas yang mau tidak mau harus aku selesaikan saat itu juga dikantor. Tak lupa juga aku memberitahu Heechul terlebih dahulu bahwa aku akan pulang telat, agar ia tidak mencariku.

Jam menunjukkan pukul 9 malam saat aku sampai ke apartemenku. Lampu masih gelap menandakan bahwa Heechul belum pulang. Tidak biasanya ia belum pulang sampai jam segini. Setelah aku menyalakan seluruh lampu ruangan ini, aku bergegas menuju dapur untuk memasak, berjaga-jaga kalau Heechul pulang nanti dan ternyata belum makan malam.

Namun, saat menuju dapur, langkahku terhenti karena mataku secara tidak sengaja menangkap sebuah amplop kecil yang diletakkan diatas meja makan. Karena penasaran, segera kuambil surat tersebut dan melihat nama ku tertera diatasnya. Dengan cepat, segera kubuka surat tersebut dan membacanya dengan seksama.

Taera-ya, Annyeong..

Sebelumnya maaf kalau aku terpaksa harus menggunakan surat ini untuk berbicara padamu. Mianhe, Jagi..

Mianhe, kalau selama ini aku selalu menyakitimu..

Mianhe, aku tidak pernah bisa menjadi kekasih bahkan tunangan yang baik untukmu..

Mianhe, selama ini aku tidak pernah bisa melindungimu, menjagamu, bahkan membuatmu nyaman berada didekatku..

Mianhe, karena selama ini aku tidak pernah peka dengan semua perasaan dan rasa sakitmu..

Jeongmal mianhe untuk semua kebodohanku. Aku tahu, mungkin aku terlambat untuk mengatakan ini semua. Aku memang Pabo karena tidak pernah menyayangi dan mencintaimu dengan sungguh-sungguh.

Pertengkaran kemarin malam adalah pertengkaran yang begitu menakutkan untukku. Aku begitu panik dan takut saat kau menyebutkan kata-kata ‘putus’. Aku benar-benar takut kehilanganmu. Semua kata-kata kemarahan mu kemarin malam benar-benar seperti tamparan untukku. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau sebegitu tersiksanya dengan kelakuanku selama ini. I really stupid always made my girl suffer because of my behavior!!

Jagi, aku sudah memikirkan semuanya tadi malam. Saat kau tertidur, aku terus menangis disampingmu karena mau tidak mau, demi kebahagiaan mu, aku harus melakukan hal ini. Aku akan melepaskanmu jika memang perpisahan itu yang kau inginkan. Aku akan melepaskanmu jika memang hal itu bisa membuat penderitaanmu berkurang. Aku akan melepaskanmu jika hanya dengan ini dapat membuatmu bahagia. Sekarang, kau tidak perlu lagi menangis karena ku. Kau tidak perlu lagi merasakan sakit di hati dan juga fisik mu karena aku. Aku melepaskanmu, Taera..

Berbahagialah.. aku percaya, kau pasti akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Seeorang yang akan mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Seseorang yang akan bersikap lembut dan tidak akan pernah bersikap kasar padamu. Aku berjanji padamu, bahwa aku akan memperbaiki sikap kasar dan keras kepalaku.

Aku rasa, semua penjelasan ku diatas sudah cukup. Kau tidak perlu mencariku lagi, Tae.. aku sudah membereskan semua barang-barangku dan pindah ke apartemen lain. Apartemen ini, tetaplah kau tempati. Anggap saja, apartemen ini hadiah terakhirku untukmu. Simpanlah semua kenangan yang sudah pernah kita lewati selama ini. Dan, walaupun kita sudah tidak bersama lagi, boleh aku meminta sesuatu padamu?? Aku mohon, Simpanlah cincin tunangan kita yang melingkar di jari manismu saat ini. Biarlah itu menjadi kenangan terkahir kita. J

Kalau begitu, aku pamit Taera.. jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai kau sakit hanya karena memikirkan aku. Hehehe.. ^^ Na Jeongmal Saranghaeyo..

-Kim Heechul-

Aku terdiam membaca surat dari Heechul. Aku terjatuh duduk diatas kursi dengan Air mata yang sudah keluar sedari tadi dan sama sekali tidak ingin berhenti. Aku langsung berlari kekamar Heechul untuk memastikan bahwa ini hanyalah permainan darinya. Aku berharap bahwa saat aku membuka pintu kamarnya, aku dapat melihatnya. Namun, ternyata itu tidak sesuai dengan kehendakku. Saat aku masuk kedalm kamarnya, aku benar-benar menemukan ranjang yang kosong, meja kerjanya yang tidak ada satu barangpun, dan lemarinya yang sudah kosong. Heechul benar-benar meninggalkanku.

Aku sadar bahwa harusnya aku senang dengan semua keputusannya. Bukankah ini yang aku inginkan dari dulu?? Tapi kenapa?? Kenapa justru saat Heechul benar-benar mengatakannya, hatiku tidak bisa menerimanya?? Hatiku terlalu sakit membayangkan aku harus benar-benar hidup sendiri tanpa kehadirannya lagi. Aku pun terus menangis kencang, tak peduli lagi mataku yang sudah sangat bengkak, aku masih terus memanggil namanya berharap ia akan kembali padaku.

***

2 TAHUN KEMUDIAN

Inilah hidupku saat ini. Aku sudah lebih baik dari sebelumnya. Semua beban yang sempat melandaku kini sudah terangkat.

“Jagiya, kita berangkat sekarang??” seru seseorang disebelahku. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.

Kini kami berjalan berdampingan. Ia terus menggenggam tanganku dan yang kuyakin tidak akan pernah dilepaskannya. Aku bahkan tidak tahu kemana dirinya akan membawaku pergi. Sampai, aku tersadar bahwa ia sudah membawaku ke sebuah restoran, tempat pertama kali ia memintaku menjadi kekasihnya. Baru saja kami berdua membuka pintu masuk restoran ini, secara tidak sengaja kami hampir menabrak sepasang kekasih yang juga sedang membuka pintu restoran untuk keluar. Aku langsung terkejut dan sempat terpaku beberapa saat melihat orang yang nyaris bertabrakan dengan kami.

“Heechul Oppa..”

“Han Taera..”

Ternyata aku bertemu kembali dengan Heechul setelah sudah hampir 2 tahun aku tidak bertemu dengannya.

“Annyeong Taera.. bagaimana kabarmu??” tanya sambil tersenyum. Melihatnya tersenyum seperti itu, perasaan rindu yang sudah tidak pernah aku rasakan, kini kembali memuncak lagi.

“Baik Oppa.. Oh iya, kenalkan.. dia Kibum Oppa, namjachinguku.” Sahutku memperkenalkan pria yang sudah menjadi kekasihku setahun belakangan. Yah, dialah Kibum. Teman kerja ku yang sekarang sudah berganti status menjadi kekasihku.

“Oh.. Annyeong, Heechul imnida.. oia, kenalkan juga ini yeojachinguku, Kim Minrae.”

Aku dan Kibum Oppa pun sama-sama memperkenalkan diri kami masing-masing. Dan setelah perkenalan itu, Heechul dan Minrae pamit untuk pergi terlebih dahulu. Aku senang, melihatnya kembali tertawa bahagia. Aku berharap, Heechul mampu menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Semoga saja, Minrae adalah wanita terbaik yang telah Tuhan pilihkan untuk Heechul dan wanita terbaik yang mampu meredam semua sifat keras Heechul selama ini.

***

HEECHUL POV

Aku bertemu lagi dengannya. Setelah dua tahun lalu aku melepaskannya, aku sempat benar-benar khawatir memikirkan bagaimana keadaanya yang begitu rapuh tanpa kehadiran diriku. Sering sekali aku mencoba untuk melihat keadaannya secara diam-diam tanpa sepengetahuannya. Aku benar-benar ingin memastikan bahwa ia akan selalu bahagia setelah perpisahan kami. Dan kini, aku tidak perlu khawatir mengenai apapun. Setelah pertemuanku dengannya tadi, aku senang melihatnya kembali tersenyum dan tertawa bahagia. Kibum, pria yang berada disampingnya, kurasa ia sudah mampu memberikan semua yang terbaik untuk Taera. Terlihat sekali raut wajah Taera yang semakin bersinar setelah aku tidak lagi menjadi Tunangannya.

Perjalanan hubunganku dengan Taera beberapa waktu lalu benar-benar mampu mengajarkan aku bagaimana memahami perasaan wanita, dan bagaimana memperlakukan wanita dengan sangat baik. Kini, bersama dengan Minrae, kekasihku, aku akan menapaki jalan hubungan kami yang sudah kami jalani selama 6 bulan ini. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengulangi kesalahanku untuk kedua kalinya dan tidak akan bersikap keras ataupun kasar terhadap Minrae.

Dan untuk mu, Taera.. aku senang melihatmu kembali tersenyum. Senyum termanis yang dulu pernah sempat ia berikan hanya untukku. Berbahagialah dengan Kibum. Aku percaya Kibum adalah pria yang baik. Terima kasih untuk semua pengalaman berharga yang sudah kau berikan untukku. Dan terima kasih, Taera karena kau tetap menyimpan cincin tunangan kita hingga saat ini.

Kataku dalam hati, saat secara tidak sengaja aku melihat bandul kalung yang di pakai Taera saat kami berpasasan tadi dan kemudian juga ikut mencium cincin yang juga kujadikan bandul untuk kalung yang melingkar dileherku.

-THE END-

13 thoughts on “BATTLEFIELD

  1. Hiya…
    Tau gk eonni
    bc FF eonni yg ini aku sampe merinding
    brrrrrr
    aku gk mao sampe punya tunangan kayak gto…
    Hah mudah2an dpt yg baik hehe
    FFnya lagi…lagi…dan… lagi
    bagussss
    sukses bikin aku merinding atas kekejaman Heechul oppa ke Taera
    beuhh…
    T.O.P dah
    gumawo…

  2. Annyeooong authoor! (Boleh manggil eonni? ƗƗɐƗƗɐ )
    Baru aja nemuin site ini, lagi ngubek ngubek yang cast nya heenim oppa ㅋㅋㅋㅋ
    Aaah jadi ikut kebawa sama ff nya, feel nya kerasa bangeet ><

  3. yaampun.. padahal awalnya aku udah suka banget karna ada adegan kekerasannya gitu tapi tetep romantis(?) kkkk tapi sayang ya mereka gak bersatu sampai menikah😦 dooh thor ada sequelnya gak yang bikin mereka bisa bersatu lagi hiks.. tapi tetep ko ini ff keren🙂

  4. cerita awal nya bener2 getir tp manis di akhir

    Chul cocok bgt jd badboy

    Pantesan kibum selalu menyarankan taera untuk pisah dr chul
    Ternyata oh ternyata bum suka taera

  5. Aigooo,taera pcr kejam amat org pcr protectif aj ngeri apa lgiiii,ais ngebaynginya ngerii,tp akhr crt heechul oppa sadar jg emng penyesalan dtg nya belakangan,ada hikmah nya jg baca ff.

  6. Wuuhh.. Daebak..😥
    Kereeenn… Apalagi pas bagian Taera ngeluarin uneg”nya
    Itu berasa bangett… Nusuukkk…. Sampe hampir nangis.. >.<"
    Ku akui ff ini feel bngett.. Like likeee…. =))
    Entah knp krn bca ff ini, ku jdi suka genre kekerasan. Gini..😐
    Tnggung jwb eonni!!!

  7. klo heechul jdi kejam tpi sayang wajah’y tdak bssa medominan,,, krna heechul oppakan cantik…
    Tpi bgus qo crita’y sampe merinding…

  8. q pkr taera bkl balik ge ama heechul tnyt mrk udh pny pasangan msg2… keren neh ff…

  9. ya……. kiraen hechul oppa ntr x ma taera eh mlah ma kibum oppa…….
    pdahal low d ulang ge kisahx kn mngkn lbih baek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s