JUST THE WAY YOU ARE



Aku berlari keras menuju kelasku. Aku tidak ingin sampai telat. Jika Jung Songsaenim tau, aku bisa-bisa dijadikan mangsa empuk untuk membersihkan gudang kampus nanti.

Hosh..hosh.. aku masih terus berlari menaiki anak tangga. Sial!! Kenapa lift harus mati sih pagi ini?? Aku menggerutu sendiri dalam hatiku. Begini lah jika mempunyai tubuh berisi. Saking berisinya, bahkan kau sampai tidak menyadari bahwa isinya kini sudah terlampau penuh mengendap ditubuhmu.

Yap, tinggal sedikit lagi aku sampai kedalam kelas. Namun, Chankaman!!! Andwae!! Ternyata Jung Songsaenim sudah berjalan menuju pintu masuk kelasku. Omooo.. bagaimana ini?? Jaraknya dengan pintu kelasku tidak sampai 5 meter, sedangkan jarakku dengan kelasku bisa dikatakan lebih dari 10 meter. Tuhan, tidak… jangan biarkan dosen killer itu masuk terlebih dahulu! Aku mencoba untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaga ku untuk berlari. Namun… terlambat lah sudah. Kini kulihat Jung Songsaenim sudah memasuki kelasku. Dan aku?? Aku hanya bisa menunduk dan berjalan lemas menuju kelasku.

Tok..Tok..Tok..!  Ku ketuk pintu kelasku. Dan kulihat Jung Songsaenim menoleh kearahku tajam.

“Apa kau tidak tahu sekarang jam berapa, Shindong ssi??” tanya Jung Songsaenim ketus. Aku hanya menunduk dan menganggukkan kepala. Haahhh.. aku pasrah Sosaengnim. Terserah kau mau menghukum apa saja.

“Apa kau tahu hukuman apa yang biasanya aku berikan pada mahasiswa yang telat??” tanya nya lagi. Aku juga kembali mengangguk. Aku bersumpah, jika dosen yang satu ini sudah marah, siapapun tidak ada yang berani menatap matanya yang sangat menyeramkan.

Akhirnya, Disini lah aku saat ini. Bekerja keras dan terus berkutat dengan sapu, kemoceng, dan perlengkapan lainnya di dalam Gudang universitas ini. Aku merasa hidupku benar-benar menyedihkan. Sudah hampir satu setengah jam aku membersihkan semua yang ada didalamnya.

***

Akhirnya, waktu untuk istirahat pun tiba. Dengan langkah cepat, aku berjalan menuju kantin yang berada di kampusku. Dan begitu sampai sana, aku langsung memesan satu porsi Ddubouki, satu porsi nasi goreng kimchi dan Choco Cake kesukaanku juga cola dingin  sebagai teman makan siangku kali ini. Sambil membawa rantang makanan yang ada ditanganku, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kantin mencari tempat duduk yang pas untukku.

“Shindong-ah, disini..” kudengar suara memanggil namaku. Dan betul saja, kulihat Yesung sedang melambaikan tangan kearahku. Segera saja kuhampiri dirinya yang sudah duduk manis disana dengan salah seorang temanku yang lainnya.

“Mwo?!?! Apa aku tidak salah melihat?? Kau memesan makan siang sebanyak ini??” Tanya temanku Leeteuk yang duduk disamping Yesung.

“YA!! Kau tidak tahu sih bagaimana beratnya pekerjaan yang aku lakukan tadi. Itu semua sudah menguras seluruh tenaga ku. Dan sekarang aku butuh asupan tenaga lagi untuk tugas selanjutnya” jawabku sambil memasukkan sendok demi sendok nasi goreng ke dalam mulutku. Aku tidak peduli dengan tatapan aneh Yesung dan Leeteuk yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Yang terpenting sekarang adalah perutku merasa kenyang.

“Shindong-ah, kalau kau begini terus, mana ada wanita yang mau denganmu. Jagalah tubuhmu. Tidak baik kau makan terlalu berlebihan seperti ini.” kata Yesung menasehatiku.

“Haish.. berhentilah menasehatiku. Lagian aku juga tidak ingin mencari pacar dulu. Nanti kalau aku punya pacar, jatah makanku diawasi dengan sangat ketat lagi! Aku tidak mau!”

Kata-kata Yesung tadi ternyata lumayan berpengaruh padaku. Saat itu, aku sama sekali tidak menyadari bahwa setelah ucapannya waktu itu, ternyata aku mengalami suatu kejadian yang membuat hidupku berubah 180 derajat berkat kehadirannya.

***

Hari ini, aku sengaja pulang terlambat. Setelah mata kuliah terakhir, aku memutuskan untuk pergi ke perpustaan terlebih dahulu untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Jung Songsaenim tadi. Walaupun tugas itu dikumpul minggu depan, namun lebih baik jika aku menyicilnya terlebih dahulu.

Saat aku berjalan melewati ruang seni di Kampusku, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang sedang menyanyi. Suaranya.. suaranya benar-benar membuat aku jadi enggan untuk pulang. akhirnya, kuputuskan untuk mendekati ruangan tersebut dan mencoba mengintip dari celah jendela ruangan yang terbuka sedikit. Dan betapa terkejutnya aku saat kulihat disana seorang gadis tengah menyanyi sambil menari balet diruangan tersebut. Gerakannya begitu luwes. Terlihat dari wajah manisnya ia begitu menikmati perpaduan setiap nada yang ia nyanyikan dengan gerakan-gerakan tariannya. Badannya yang sangat lentur sungguh membuatku terpana sesaat untuk melihatnya. Cukup lama aku bertahan disana terus menatapnya. Sampai secara tidak sadar, gadis itu menoleh dan tersenyum padaku. Sepertinya ia sadar bahwa sedaritadi ia terus kuperhatikan.

“Kenapa kau melihatku seperti itu??” tanya nya tiba-tiba yang keluar dari ruangan itu dan menemuiku. Aku langsung tersadar mendengar kata-katanya. Aku yang panik karena ketahuan mengintip, langsung menundukkan badanku berkali-kali.

“Ah.. Mianhe.. Jeongmal mianhe.. aku tidak bermaksud untuk mengintip. Tadi aku hanya.. aku hanya..” aku gelagapan. Aku benar-benar gugup berhadapannya dengannya. Bukannya marah, gadis itu langsung tertawa.

“Hahaha.. Gwaenchana Sunbae. Sunbae tidak perlu bersikap seperti itu.” katanya lagi. Tunggu..!! tadi dia memanggilku apa?? Sunbae?? Omoo..berarti dia adalah Hoobaeku.

“Hmm.. tadi kau memanggilku apa?? Sunbae?? Jadi, kau ini…” aku tidak melanjutkan kata-kataku.

“Ne.. aku Hoobae mu Sunbae. Perkenalkan, Jung Nari imnida..”

“Ah.. Ne, Shindong Imnida..” aku sangat terpana melihat senyum Nari. Tuhan, senyumnya membuat seluruh tubuhku lemas. Aku sungguh menyukai senyum itu. Hanya melihatnya saja, jantungku sudah nyaris loncat keluar dari tubuhku. Selama ini, belum pernah ada wanita yang mampu membuat hatiku bergetar. Jangankan melihat para wanita tersenyum padaku, melihat dan menyapa ku saja sangat-sangat jarang. Selama ini, aku sudah sering sekali ditolak oleh para Yeoja. Setiap kali aku menyukai seseorang dan mencoba mendekati mereka, pasti mereka selalu menjauhiku duluan. Yah, seperti yang kalian tahu, mana ada Yeoja yang ingin memiliki kekasih gemuk seperti ku.

“Hmm.. Nari ssi, kalau boleh aku tau, apa yang kau lakukan disana sendirian??” tanya ku hati-hati. Ada perasaan takut ditolak lagi dalam diriku.

“Oh, aku sedah berlatih untuk acara teater yang diadakan di pulau Jeju beberapa minggu lagi Sunbae. Kebetulan, aku terpilih menjadi wakil dari Universitas Inha ini.” Jelas Nari. Untuk sementara kami terdiam. Aku sangat gugup. Aku tidak tahu harus bertanya apa lagi. Lidah dan suaraku seakan enggan mengeluarkan suaranya.

“Hmm.. kalau begitu, Ne.. selamat berjuang, Nari ssi. Sekali lagi maaf. Jeongmal Mianhe kalau tadi aku mengintip dan mengganggu latihanmu. Hwaiting!” ucapku sambil mengepalkan kedua tanganku. Nari hanya tersenyum, membungkukkan badan mengucapkan terima kasih padaku.

“Panggil saja aku Nari Sunbae. Tidak perlu memakai ssi.” Katanya sebelum aku membalikkan badanku.

“Oh.. Ne. Kalau gitu, kau juga jangan memanggilku Sunbae. Panggil saja aku Shindong Oppa. baiklah, Annyeong Nari-ah..” aku segera membalikkan badan dan berjalan menuju rumahku. Sepanjang perjalanan, tak henti-henti nya aku terus tersenyum membayangkan pertemuanku dengan Nari tadi. Baru kali ini aku merasa gila dibuatnya. Wajahnya, senyumnya, suaranya, sikap anggunnya… semua itu sudah membuat aku tidak bisa melupakannya. Aku pun bertekad, mulai besok aku harus mencari tahu semua informasi tentang Nari.

***

Keesokan paginya, dengan semangat empat lima aku langsung berlari menuju kelasku dan menemui dua sahabatku yang sudah menungguku dikelas.

“Mwo?! Tumben sekali kau datang sepagi ini? Ada apa??” tanya Yesung tidak percaya saat melihatku berlari masuk kedalam kelas dan langsung mengambil tempat dibelakangnya. Hahaha.. Yesung tidak tahu bahwa semenjak bertemu Nari kemarin, aku jadi semangat sekali untuk pergi kuliah pagi ini. Bahkan aku rela jam tidurku berkurang dan bangun sepagi mungkin hanya untuk bertemu dengan Nari.

“YA!! Memangnya aneh kalau aku datang cepat?? Aku kapok terlambat. Aku tidak ingin Jung Songsaenim memberikan hukuman berat itu lagi padaku jika aku sampai terlambat.” Kataku memberikan alasan yang cukup masuk akal pada Yesung.

Saat jam makan siang, aku kembali pergi menyerbu kantin bersama dengan Yesung dan Leeteuk. Disana, kupesan makanan kesukaanku seperti biasanya Kimchi Bokkeumbap, ddokbokki, serta cake tiramisu sebagai makanan penutupnya dan jus strawberry sebagai minumannya. Karena sudah sangat lapar, aku pun langsung melahap semua makanan tersebut dengan lahap tanpa memperdulikan sekitarku.

“Aish… Shindong-ah, bisakah kau makan pelan-pelan?? Kau seperti tidak makan selama setahun saja.” Sahut Leeteuk yang menatap ku dengan pandangan ngeri. Aku melirik Leeteuk sekilas tanpa menghentikan kegiatan mengunyahku.

“Ako la.pfar…” jawabku dengan mulut yang penuh dengan makanan.

Leeteuk dan Yesung hanya geleng-geleng kepala. Aku tidak peduli mereka mau berpikir apa tentang aku. Yang jelas, aku hanya ingin menikmati apa yang sedang aku lakukan saat ini. Saat sedang asiknya mengunyah, aku mendengar suara tawa yang begitu berisik dibelakangku. Suara beberapa orang gadis yang sedang tertawa dan bercanda didalam kantin ini. Aku yang merasa terganggu dengan beberapa suara cempreng dari mereka pun langsung menghadap kebelakang dan berniat menegur mereka. Namun aksiku berhenti saat melihat salah seorang gadis yang duduk disana. Aku kembali tertegun menatapnya. Aku mendengar suara tawanya yang begitu sedap didengar telinga. Suara tawa yang sama saat aku pertama kali bertemu dengannya kemarin.

“Shindong Oppa..” sahut gadis itu terlebih dahulu. Aku yang saat itu sedang melamun pun langsung tersadar begitu mendengar suaranya memanggil namaku.

“Oh.. Eh.. Nari.” Aku gugup. Dapat kurasakan secara tiba-tiba tenggorokannku mengering. Aku kembali mengalami rasa gugup yang luar biasa saat berhadapan dengannya. Baru saja aku hendak membalas sapaannya, Nari sudah berdiri dari tempat duduknya dan  menghampiri aku dan kedua temanku.

“Annyeong, Oppa.. Annyeong Sunbae..” sapanya padaku dan Leeteuk juga Yesung. Mereka berdua membalas sapaan Nari. Namun tidak denganku. Aku terlalu gugup untuk kembali menyapanya.

“Oppa.. Gwaenchana??” tanya Nari yang terus menatapku yang masih diam. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku untuk menyadarkan diriku. Kupandangi Nari sambil tersenyum.

“Oh.. Ne, Gwaenchana. Sedang apa kau disini??” tanyaku padanya yang kini sudah duduk didepanku.

“Aku baru saja mau makan siang bersama dengan teman-temanku. Oppa sudah makan??” tanyanya. Matanya pun secara tidak langsung tertuju ke meja tempatku makan.

“Mwo?!?! Kau makan sebanyak ini Oppa??” Aku mengikuti kemana arah mata dan tangan Nari tertuju. Aku terdiam untuk sesaat. Tuhan, aku benar-benar berharap Nari tidak melihat bagaimana cara makanku  tadi. Aku juga berharap semoga ia tidak ilfil denganku Tuhan.. aku berdoa dalam hati. Aku hanya mengangguk saat Nari bertanya tadi.

“Oppa, kurasa sebaiknya kau kau harus memperhatikan sedikit nutrisi makananmu Oppa. Apa kau tidak takut sakit kalau banyak makan seperti itu??” Oh Tuhan.. inilah hal yang paling menyebalkan untukku. Aku sangat tidak suka jika orang-orang selalu mengurusi hidupku. Terutama jika itu menyangkut mengenai segala sesuatu yang aku makan. Tapi, Hey.. mengapa aku tidak merasa sebal dengan semua nasehatnya??

“Tuh.. kau dengar kan Shindong?? Jaga makan mu. Jangan makan terlalu banyak!! Apa kau mau berat badan mu terus bertambah??” sahut Yesung menimpali. Aku langsung memberikan death glare pada Yesung dan melemparnya dengan tissue yang ada di dekatku.

“Ne.. Aku akan mencoba menguranginya Nari-ah..” sahutku.

Sekembalinya kami dari Kantin, aku dan kedua temanku, Leeteuk dan Yesung, langsung menuju ke dalam kelas untuk mata kuliah selanjutnya. Sepanjang perjalanan menuju kelas, aku tidak berhenti memikirkan semua perkataan Nari tadi. Semua kata-kata serta nasehatnya terus terngiang dikepalaku. Baru kali ini aku tidak merasa marah atau tersinggung dengan semua perkataannya. Biasanya, kalau orang lain yang berkata seperti itu, aku sudah memaki-makinya.

“YA Yesungie.. apa kau tahu sesuatu tentang Nari??” tanya ku hati-hati pada Yesung yang berjalan disebelahku.

“Mwo?! Ada apa memangnya dengan gadis itu?? Setahuku dia itu hoobae kita. Dia itu jurusan Seni dan dia salah satu mahasiswi yang berbakat. Kudengar bahkan ia sudah beberapa kali terpilih menjadi pemeran di beberapa teater kampus kita.” Jelas Yesung.

“Oh.. dan jangan lupa, dia itu juga salah satu anggota klub balet di kampus ini.” Kata Leeteuk menambahkan. Hoo.. pantas saja kemarin aku bertemu dengannya saat ia sedang menari dan menanyi.

“Eh, darimana kau mengenalnya??” Tanya Leeteuk lagi. Aku kemudian menceritakan semua yang terjadi kemarin sore saat pertama kali aku bertemu dengan Nari. Dari caraku yang sangat antusias menceritakan mengenai Nari, aku tahu sepertinya Leeteuk dan Yesung mengerti bahwa aku menyukainya. Mendengar semua penjelasan dari kedua temanku tadi pun, aku gembira sekali. Aku memutuskan untuk mulai mendekati Nari.

Eh, Chankaman..!! Apakah Nari akan menyukaiku?? Aku terdiam dalam hati. Aku melirik kebawah mengamati bentuk tubuh ku saat ini. Apa mungkin Nari mau menerima pria yang sangat gempal seperti ku ini?? Nari itu cantik, berbakat, cerdas, dan supel. Apa dia mau memandang pria bertubuh gemuk ini untuk menjadi kekasihnya?? Arrgghh.. belum mencoba saja, mengapa aku sudah patah semangat seperti ini?? Nyali ku benar-benar ciut jika harus membayangkan penolakan yang akan aku terima dari Nari nanti.

“Shindongie, kalau kau memang serius menyukainya dan ingin memilikinya, tunjukkanlah keseriusan mu. Berusahalah!! Hwaiting!!!” sahut kedua temanku itu.

***

Semenjak saat itu, aku pun mulai gencar mendekati Nari. Tentu saja, awalnya aku hanya beralasan bahwa aku ingin sekali menjadi temannya. Dan untung saja saat itu Nari mau menerima diriku dan mau menjadikanku teman baiknya. Ternyata Nari memang tidak pilih-pilih dalam urusan pertemanan. Ia mau berteman dengan siapa saja, termasuk aku. Dengan semua kebaikan hati nya itu, aku pun jadi semakin menyukainya. Rasanya, ingin sekali aku cepat-cepat menyatakan perasaanku pada Nari.

Semua rencana sepertinya sudah tersimpan manis didalam benakku. Sampai, pada satu ketika aku secara tidak sengaja mendengar pembicaran antara Nari dan beberapa temannya yang akhirnya membuatku kembali patah hati dan patah semangat untuk mendekatinya.

“Ne.. benar sekali. Aku sangat mendambakan seorang pria dengan tubuh yang atletis dan sehat. Kalau pria itu bisa merawat dan menjaga tubuhnya, pasti sangat menyenangkan. Pria seperti Siwon Super Junior itu lah pria idaman ku.” aku mendengar suara Nari berbicara didalam ruangan itu. Jujur saja, setelah mendengar perkataan itu, hatiku langsung menciut. Ternyata benar dugaanku selama ini. Nari memang hanya menganggapku sebagai seorang temannya saja. Bahkan semua perhatian dan kepedulianku terhadap dirinya pun tidak terlalu berarti apa-apa untuknya. Ia memang tidak menyukai Namja gemuk sepertiku.

“wah.. Aku yakin, kalau kau mempunyai pacar seperti itu, kalian pasti akan menjadi pasangan yang sangat serasi. Kau cantik, dan pria tersebut tampan.” Balas salah satu teman Nari. Aku yang mendengar itu semua merasa panas. Hatiku cukup sakit mengetahui bahwa gadis yang begitu kucintai ternyata tidak memilihku sebagai tipe pria idamannya. Yah, aku tahu. Aku harus sadar bahwa aku mungkin memang tidak pantas untuk berada didekat Nari.

Aku segera pergi dan berlari meninggalkan tempat dimana aku mendengar semua percakapan tersebut. Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan bagaimana caranya agar Nari dapat menyukaiku. Sampai aku mendapatkan sebuah ide. Yah, satu-satu nya cara adalah dengan menjadi seorang pria yang begitu diidam-idamkan Nari. Aku pun bertekad, mulai saat ini dan mulai detik ini, aku akan DIET!!!! Kalau perlu, aku akan minta tolong Yesung dan Leeteuk mencarikan tempat fitness terbaik di kota Seoul ini untuk membantuku membentuk tubuhku agar menjadi lebih atletis.

***

                “Mwo??!! Fitness?? Diet??” tanya Yesung tidak percaya saat aku mengatakan keinginan ku. Kulihat wajahnya tampak sedang menahan tawa.

“Buahahhahahahaha… apa yang terjadi denganmu, Shindongie?? Kenapa tiba-tiba kau ingin sekali diet dan membentuk tubuhmu?? Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau tidak akan pernah diet? Kau bahkan bilang kalau diet itu hanya untuk orang bodoh yang tidak pernah puas dan mensyukuri apa yang ada didalam tubuhnya. Huahahahha…” Aku terdiam mendengar tawa Yesung. Ya..ya.. aku tahu mungkin saat ini aku memang sudah menjilat ludahku sendiri. Tapi aku harus melakukan ini. Inilah satu-satu nya cara yang harus kulakukan agar Nari bisa menyukaiku.

“YA!! Aku serius!! kalau kau memang tidak ingin membantuku, ya sudah!! Aku bisa minta bantuan pada Leeteuk” kataku sambil melemparkan pulpen yang ada di meja ku dan segera beranjak pergi meninggalkannya yang masih tertawa mengejekku. Menyadari aku yang sedah marah, Yesung pun buru-buru menahan tanganku dan mengajakku duduk kembali di tempatku.

“Haha.. Mianhe Shindong-ah. Mianhe, aku tidak bermaksud mengejekmu. Ehem.. Hmm.. apa ini semua karena Nari??” tanya Yesung hati-hati. Untungnya wajahnya kini sudah mulai berubah sedikit serius. Aku hanya mengangguk.

“YA!! Kenapa kau mau melakukan itu semua?? Apa Nari yang memintamu untuk diet??” Aku kembali menggeleng dan kemudian menghela nafas. Kami berdua sama-sama masih terdiam. Sepertinya Yesung masih menungguku untuk menjelaskan semuanya.

“Aku melakukan ini karena aku ingin menjadi pria yang diinginkannya.” Jawabku akhirnya. Yesung mengerutkan alisnya.

“Mwo?! Memang pria yang diinginkan Nari seperti apa??” Tanya Yesung lagi.

“Dia.. Dia menginginkan pria dengan bentuk tubuh yang atletis. Yah, kau tau? Seperti Siwon Super Junior itu. Dia ingin sekali memiliki kekasih seperti itu.”

“Mwo?!? Hanya gara-gara itu?? YA!! Apa kau gila?? Hanya karena seorang yeoja yang kau sukai ingin memiliki kekasih yang seperti Choi Siwon itu, lantas kau mau mati-matian untuk diet dan Fitness, begitu?? Aigoo.. Shindongie.. apa yang ada di otakmu?? Jadilah dirimu sendiri. Jangan berubah hanya karena hal seperti itu!!” Yesung menasehatiku. Namun, karena rasa cintaku terhadap Nari sudah begitu menggebu, aku tidak lagi mendengarkan nasehat Yesung. Aku tidak peduli lagi Yesung mau bilang apa tentangku. Yang jelas, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan melakukan apapun asalkan Nari dapat menjadi milikku. Yesung yang melihat kesungguhanku pun mau tidak mau mengalah. Ia akhirnya mau membantuku untuk mencarikan tempat fitness yang terbaik untuk tempatku membentuk tubuh kelak.

***

Dan kehancuran kehidupanku pun dimulai setelahnya. Saat itu, aku hanya berpikir bahwa aku harus segera menurunkan berat badanku dan membentuk badanku menjadi seatletis mungkin. Aku tidak pernah menyadari bahwa semua itu ternyata proses yang sangat memberatkan. Awalnya aku berpikir bahwa untuk menurunkan berat badan itu cukup mudah. Kau hanya perlu berolah raga, mengurangi makan, tidak ngemil, dan mengurangi makanan berlemak dan manis. Tapi ternyata itu semua salah. Aku melakukan semua diet ketat tersebut dengan cara yang amat sangat salah.

Hampir setiap hari aku tidak pernah sarapan pagi lagi. Makan siang pun, aku hanya menyentuh nasi dan sayur saja. Semua daging dan telur tidak pernah kusentuh lagi. Aku bahkan terlalu takut jika aku memakannya walau hanya sedikit, itu akan membuat berat bedanku naik beberapa gram. Semua makanan favoritku pun juga sudah tidak aku sentuh lagi hingga detik ini. Dan jika malam tiba, aku pun lebih memilih untuk menahan lapar di dalam kamar daripada harus berhadapan dengan masakan-masakan Umma ku yang selalu terlihat menggiurkan.

Tak hanya mulai menjaga makan, aku juga rutin sekali pergi ke gym untuk fitness dan membentuk badanku agar menyerupai Choi Siwon dambaan Nari. Saking bersemangatnya, terkadang aku menghabiskan waktu selama 4 jam di Gym. Dan benar saja, kini hasilnya sudah dapat kurasakan. Hanya dalam waktu 1 bulan, berat badanku telah turun 10kg. Aku tentu saja sangat senang. Namun, saat itu aku tidak menyadari bahwa efek yang ditimbulkan akibat diet ketatku itu mampu membuat diriku dan orang-orang disekitarku pun menjadi susah.

Karena cara diet yang salah, aku menjadi seorang pria yang mudah marah. Emosi ku seringkali tidak terkontrol. Bahkan kuliahku pun menjadi sedikit berantakan karena aku tidak pernah bisa berkonsentrasi terhadap semua pelajaran yang diberikan. Nilai-nilai ku sedikit menurun dan aku jadi mudah lelah jika terlalu lama melakukan banyak aktivitas dalam satu hari. Leeteuk dan Yesung sahabatku pun sudah sering kali mengingatkan aku agar aku berhenti untuk melakukan diet ketat dan terlalu memforsir tenaga ku untuk berolah raga membentuk tubuh.

“Shindong-ah, akhir-akhir ini kulihat kau sama sekali tidak seperti biasanya. Semenjak kau diet, kau menjadi semakin tidak sehat. Apa kau tidak makan sama sekali??” tanya Leeteuk saat kami bertemu di kantin pada jam istirahat makan siang.

“Enak saja!! Aku makan!! Ini buktinya apa??” kataku ketus pada Leeteuk sambil menunjukkan makanan yang ada didepanku.

“Kau memang makan. Tapi kau tidak memperhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuhmu! Kau hanya makan nasi dan sayur tanpa lauk pauk seperti ini. Apa kau tau?? Lauk itu juga penting untuk nutrisi tubuhmu. Kau memang berhasil menurunkan berat badanmu, tapi dari wajahmu yang pucat dan keadaan tubuhmu yang mudah lelah, jelas sekali kau tidak sehat, Dong-ah!!” jelas Yesung lagi. Aku terdiam mendengar penjelasan mereka. Memang, selama aku diet aku jadi mudah terkena flu dan batuk. Daya tahan tubuhku pun berkurang.

Tapi tidak!! Aku tidak boleh menyerah.. aku harus menunjukkan pada Nari bahwa aku mampu menjadi pria idamannya. Aku akan membuktikan padanya bahwa aku juga pantas bersanding dengan yeoja cantik seperti dia.

“Sudah lah!! Kalian ini berisik sekali sih!! Itu urusanku. Kalau aku sudah berhasil mendapatkan Nari, aku akan berhenti diet!! Jadi kalian tidak usah menceramahi aku lagi. Arraseo?!?” baru saja aku hendak meninggalkan mereka berdua, tiba-tiba Leeteuk mengucapkan sesuatu yang satu saat nanti baru dapat kusesali.

“Shindong, jadi lah dirimu sendiri. Aku yakin, kalau Nari memang menyukaimu, dia menyukaimu yang apa adanya. Menyukai seorang Shindong yang ceria dan bersemangat seperti biasanya.” Setelah itu, aku langsung meninggalkan mereka berdua. Aku sudah lelah terus-terusan dinasehati seperti ini. Itu urusan dan hidupku. Harusnya mereka mendukungku, bukan malah menyuruhku untuk berhenti. Aku terus menggerutu dalam hati.

Saat pulang, aku sedang berjalan menuju kearah pagar kampusku saat aku mendengar seseorang memanggil namaku.

“Shindong Oppa…” kutolehkan kepalaku ke belakang dan melihat gadis yang sedang aku incar itu menghampiriku.

“Nari.. ada apa??” Nari hanya tersenyum. Ia kemudian mengajakku kesebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari kampus ku. Disana, ia mengajakku berbicara banyak. Ia bahkan menyadari perubahan dalam diriku.

“Kau terlihat kurusan Oppa. Apa kau diet?? Sudah berapa lama??” tanyanya saat kami sedang menikmati makan kami.

“Hmm..ne, sudah sebulan lebih kurasa.”

“Tapi untuk apa kau diet segala Oppa?? walaupun gemuk, kulihat kau begitu sehat. Berbeda sekali dengan kau sekarang. Lihat, wajah mu pucat Oppa. lingkaran hitam dimatamu juga jelas sekali. Apa kau diet dengan benar??” tanyanya kembali. Kulihat ada rasa cemas dari raut wajah dan kata-katanya.

“Ne.. tentu saja. Aku tetap makan dan tetap berolah raga koq.” Jika kau tau Nari, aku melakukan ini semua hanya karena kau. Aku melakukan ini semua karena aku mencintai kau. Aku ingin sekali menjadi seseorang yang sesuai dengan criteria mu. Aku berkata dalam hatiku.

“Bagus lah.. aku benar-benar berharap kau melakukan diet mu dengan benar Oppa. Jaga kesehatan mu, dan jangan sampai kau sakit. Arraseo?!”

“Ne, Arraseo!” jawabku. Ada perasaan sedikit senang saat tahu bahwa Nari begitu perhatian terhadapku.

***

Hari-hari pun berlalu. Aku senang karena semakin hari berat badanku semakin turun. Dan kini, abs di tubuhku pun sudah mulai kelihatan. Tinggal sedikit lagi aku akan menyatakan perasaanku pada Nari. Tentu saja setelah seluruh abs ditubuhku ini terbentuk dengan indah. Namun, entah kenapa semakin hari aku justru merasakan bahwa tubuhku semakin melemas.

Puncaknya adalah hari ini, dimana saat aku berada di kelas tadi, aku merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku. Kepalaku rasanya seperti ditusuk berkali-kali dengan jarum yang sangat tajam. Keringat dingin pun keluar dengan deras dari pelipis dan dahi ku. Namun, sebisa mungkin aku tahan semuanya hingga jam kuliahku selesai.

“Shindong-ah, gwaenchana?? Neo waeyo??” tanya Leeteuk Khawatir. Ia ternyata melihat semua kegelisahan dan kesakitanku dari tadi.

“Ne.. Nan Gwaenchana..” jawabku berusaha bersikap biasa saja padanya. Tapi tetap saja, aku tidak bisa membohongi Leeteuk. Ia masih menatapku dengan cemas. Yesung yang berada didepanku dan Leeteuk pun ikut-ikutan mencemaskan aku dan bahkan menyuruhku untuk istirahat di klinik kampus.

Setelah dalam perjuangan keras menahan rasa pusing dan lemas yang menghinggapi tubuhku, akhirnya pelajaran pun selesai. Dengan gontai, ku ambil tasku dan segera berjalan keluar kelas. Tapi, begitu aku berjalan menuju pintu keluar, aku merasakan kepalaku semakin sakit dan saat itu kurasakan mataku berkunang-kunang. Dan dalam waktu beberapa detik saja aku merasa Tubuhku oleng. Sempat aku mendengar teriakan Yesung dan Leeteuk yang memanggil namaku sebelum akhirnya Aku jatuh pingsan.

DI RUMAH SAKIT

Aku membuka mataku perlahan. Tubuhku masih kurasakan sangat lemas dan sulit untuk digerakkan. Kepalaku pun masih terasa berkedut, walaupun tidak separah tadi. Aku mencoba menggerakkan tanganku, dan baru menyadari bahwa tangan kiriku sudah diinfus. Aku mencoba membuang pandanganku kesegala arah dan mencoba menyadari dimana aku berada.

“Shindong ssi, kau sudah sadar rupanya” sahut pria berbaju putih yang baru masuk itu. Di sinilah aku berada. Di Rumah Sakit, tempat dimana tidak sedikitpun terlintas dibenakku aku akan berada didalamnya. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa berada disini. Yang jelas, aku percaya bahwa kedua sahabatku itulah yang sudah membawaku kemari.

“Ada apa denganku Dok??” tanya ku dengan suara yang sangat pelan.

“Kau terkena tipus. Usus dan Lambungmu terluka. Untung saja kedua teman mu itu cepat membawamu kesini. Kalau tidak, kemungkinan besar kau bisa saja tidak terselamatkan.” Dokter itu tersenyum padaku. Setelah memeriksa keadaanku, dokter itu keluar dan disusul kemudian kedua temanku dan… NARI! Yah, ternyata Nari juga ikut mengantarku ke rumah sakit bersama dengan Leeteuk dan Yesung.

“Oppa, apa yang terjadi padamu?? Mengapa kau bisa sampai terkena Tipus seperti itu??” tanya Nari khawatir. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.

“YA!! Shindong, kau tau? Kau benar-benar membuat kami panik luar biasa. Bagaimana bisa manusia sebesar kau ini pingsan?? Menyusahkan sekali..” kata Yesung berpura-pura marah padaku. Aku senang masih mendapatkan perhatian dari mereka bertiga.

“Shindong, dokter bilang selain tipus, kau juga mengalami dehidrasi dan kekurangan nutrisi. Apa seperti itu yang kau bilang Diet?? Bahkan kudengar dari orang tuamu, kau selalu melewatkan sarapan dan makan malam. Kau bahkan tidak menyentuh makanan yang berlemak dan berprotein tinggi. Apa sebegitu inginnya kah kau kurus dan berbadan atletis seperti keinginannya??” sahut Leeteuk sambil melirik kearah Nari.

“YA!!! Kau..” saking lemas nya, aku bahkan tidak dapat melanjutkan kata-kataku. Nari yang berada disamping ku pun seperti seperti menyadari apa yang ucapkan Leeteuk.

“Keinginannya?? Memang siapa Oppa?? Apakah ada seseorang yang menyuruhmu untuk diet ketat seperti itu??” tanya Nari penasaran. Aku hanya terdiam. Leeteuk dan Yesung pun mengerti kemana arah pembicaraan Nari. Karena sadar bahwa aku membutuhkan waktu berdua dengan Nari, mereka berdua pun undur diri keluar dari ruangan ku.

“berterus teranglah padanya..” kata Leeteuk membisikkan kata-kata itu sebelum benar-benar pergi keluar.

Setelah kepergian mereka berdua, aku dan Nari sama-sama masih terdiam satu sama lain. Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencairkan suasana. Pandangan Nari pun masih tertuju padaku. Ia masih memandangiku dan memintaku untuk menjelaskan apa maksud dari perkataan Leeteuk tadi.

“Jadi, bisakah kau menjelaskan padaku Oppa siapa yang menyuruhmu untuk diet mati-matian seperti itu?? Tega sekali..” sahut Nari. Aku ingin sekali tertawa rasanya mendengarnya marah seperti itu. Kalau saja ia tahu yang sebenarnya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya nanti.

“Kau benar ingin tahu??” tanya ku memastikan. Nari mengangguk mantap. Akupun menghela nafas sebentar sebelum akhirnya bercerita.

“Aku.. Aku melakukan semua ini untuk mu, Nari. Aku ingin sekali menjadi pria yang sesuai dengan criteria yang kau mau.” Jawabku pada akhirnya.

“Mwo?!? Jinjja?? Tapi kenapa Oppa sampai sebegitu nya?? Dan.. memangnya Oppa tahu namja impianku seperti apa??” aku mengangguk.

“Ne.. saat itu secara tidak sengaja aku mendengar percakapan mu dengan teman-temanmu. Disana aku mendengar bahwa kau sangat menyukai pria yang berbadan atletis dan sehat. Jujur, saat mendengar hal itu hatiku sakit. Rasanya harapanku hancur. Aku seakan tidak memiliki peluang lagi untuk mendapatkan mu. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk diet ketat dan berusaha membentuk tubuhku seperti keinginanmu.” Jelas ku. Nari terlihat tidak mampu menjawab. Ia bahkan terus menatap kedalam mataku seakan mencari tahu kebenaran didalamnya.

“Untuk apa Oppa melakukan itu semua??” Tanya Nari lagi.

“Aku melakukan ini, karena… Karena aku menyukaimu, Nari-ah. Aku mencintaimu.. Mianhe kalau aku mempunyai perasaan ini.” Aku tidak berani menatap matanya.

“Babo!! Neo Jeongmal Babo!! Kenapa Oppa sampai segitunya melakukan ini semua demi aku?? Oppa, aku memang mendambakan pria yang bertubuh atletis dan sehat seperti itu. Tapi aku tidak ingin kau sampai merubah dirimu. Jadilah apa adanya Oppa. Aku akan lebih menghargai namja yang mampu menjadi dirinya sendiri dibandingkan namja yang harus berubah hanya demi aku. Aku menyukai Oppa apa adanya Oppa. Sedikitpun aku tidak pernah mempermasalahkan seperti apa fisikmu. Jadi, aku mohon.. Oppa jangan bertindak bodoh seperti ini lagi. Kalau tampil sempurna didepanku adalah hal yang kau inginkan, kau cukup bersikap seperti biasanya saja Oppa. Arraseo?!?!” Jelas Nari yang sepertinya tampak sedang marah. Aku hanya mengangguk pelan mengiyakan ucapannya. Benar kata Leeteuk saat itu. Nari sama sekali tidak mempermasalahkan bagaimana bentuk tubuhku. Aku benar-benar menyesal saat itu tidak langsung mempercayainya.

“Jadi, Apakah kau mau menjadi Yeojachinguku, Jung Nari?? Mianhe kalau aku sudah bertindak bodoh seperti ini. Aku menyayangimu.”

“Ne, Kalau kau mau berjanji padaku kau tidak akan melakukan diet ketat dan selalu makan makanan yang bergizi lagi!!”

“Ne.. aku berjanji. Aku janji aku akan menjadi diriku sendiri mulai dari sekarang! aku juga berjanji aku tidak akan melanjutkan program dietku lagi. Yaksokhae…” Jawabku mantap. Nari pun tersenyum dan membelai puncak kepalaku dengan lembut.

Senang sekali rasanya akhirnya keinginanku selama ini dapat terwujud. Aku berhasil mendapatkan hati Nari, Yeoja yang begitu aku cintai ini. Aku merasa bersyukur masuk ke Rumah sakit. Kalau saja aku tidak sakit seperti ini, aku pasti akan tetap melanjutkan program diet ketatku dan terus memforsir tenaga ku untuk membentuk tubuh ideal ku. Dan kalau saja aku tidak sakit seperti ini, aku yakin mungkin saat ini Nari pasti belum jadi milikku. Aku benar-benar bahagia saat tahu bahwa Nari menerima diriku sebagai kekasihnya. Aku tidak pernah menyangka bahwa ia sama sekali tidak melihat diriku dari bentuk fisikku. Ia benar-benar berbeda dari wanita kebanyakan yang kukenal selama ini. Berkat Nari lah aku mulai menyadari bahwa setiap orang itu diciptakan unik. Aku menyadari, bahwa menjadi diri sendiri adalah hal yang jauh lebih penting dari apapun. Karena dengan bersikap apa adanya itu lah, dirimu justru terlihat sangat sempurna.

-THE END-

6 thoughts on “JUST THE WAY YOU ARE

  1. Kereeennnn!!!
    Oh iya eonni maaf aku lg gk bs koment d Fb,,,Fbnya errrooorrr
    Fbnya yg error ato providernya yg oneng haha
    bsnya cm ng-like aja d Fb
    FF ini keren
    tp susah mencari seseorang yg mau menerima qta apa adanya eonni ToT
    aku salut sama Nari
    oh iya klo soal ngpromoin FF, mian jg admin
    aku ini Gaptek haha
    gk ngerti
    bgmn caranya???
    Tp klo aku bs pasti aku bantu…
    Dgn suenang hati….hehe

  2. Emang harus bersyukur dan nrima apapun yg Tuhan kasih,emmm susah nemuin org yg mau nrima apa adanya qtaaa.baca ff nir berharap ada yg mau nrima apa adanya qt

  3. Yeah… walo pun shindong ampe mst susah payah diet dlu demi nari untung nari trm dy.. mkny oppa jgn diet ya.. oppa ttp lucu n keren kok walo pun dgn fisik spt itu

  4. shindong oppa ternyata anggapan mu slah y…….
    bnar kata yesung dan leeteuk oppa jdilh dri mu sndri larna kau yg bulat itu lbih lucu dan tampan oppa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s