LOVE BIRTH (part 3)

DI KAFE

Saat ini kami berdua tengah duduk di ruangan sebuah Kafe. Kafe dimana banyak kenangan-kenangan indah antara aku dan Hyukjae terjadi disini. Disini lah tempat ia menyatakan perasaannya padaku dulu, dan disini juga lah kami bertemu kembali setelah perpisahan yang terjadi selama beberapa tahun ini.

Kami masih terdiam. Aku masih tetap menunduk memandangi Green Tea Ice yang ada di depanku dan begitu juga dengan Hyukjae yang sedang meminum jus Strawberry kesukannya.

“Kau apa kabar?” katanya membuka percakapan. Suasana yang begitu kaku tengah terjadi diantara kami berdua.

“Yah, seperti yang kau lihat.. aku baik-baik saja. Semenjak kehadiran Donghae, hidupku tidak pernah sebahagia ini.” Aku berkata secara skeptis. Ya, kalau kau tahu Hyuk, saat ini aku sedang menyindirmu. Aku benar-benar berharap kau menyadari itu.

“Ne.. bagus lah kalau begitu. Aku percaya Donghae mampu membuat mu bahagia Lebih daripada aku..” suaranya begitu pelan.

Aku hanya menyunggingkan senyum kecut kearahnya. Entah mengapa rasanya aku ingin segera menjauh darinya. Jujur aku tidak tahan dengan omongan-omongan anehnya seperti ini. Bukan omongan seperti yang aku harapkan darinya. Bukan omongan tentang Donghae yang ingin aku dengar darinya. Tapi aku ingin dengar semua penjelasannya! Semuaa!

“Waeyo Hyuk??” aku menggantung kata-kataku. Hyukjae menatap lurus kearahku. Aku menunduk dan berusaha menahan air mata yang sudah mulai berancang-ancang untuk keluar dari mataku.

“Kenapa kau datang lagi?? Kenapa kau datang lagi disaat aku telah bahagia bersamanya?? Kenapa kau buka lagi semua luka lamaku yang pernah kau berikan dulu?? Kenapa dulu kau tidak pernah mau menghubungiku lagi?? Kenapa kau menjauh dariku?? Waeyo Hyuk??” Kini jebol sudah pertahanan ku selama ini. Aku meneteskan air mataku lagi dihadapannya. Air mata yang berusaha aku tahan ini sukses mengalir deras di kedua pipiku. Semua kesesakkan dan pertanyaan ku selama ini telah berhasil kutumpahkan dihadapannya.

Kurasakan sepasang tangan menggenggam kedua tanganku. Aku masih bisa merasakan genggaman hangatnya seperti dahulu.

“Mianhe Kyuri.. Mianhe aku tidak pernah menghubungimu. Mianhe aku sudah mengacuhkanmu. Mianhe aku sudah melanggar janjiku terdahulu. Aku tahu aku salah. Aku tahu kalau aku bodoh. Mianhe…” Hanya itu kata-kata yang kudengar darinya.

Aku kesal dengannya. Jawaban yang aku inginkan, jawaban yang ingin aku dengar darinya sama sekali tidak ada. Kini kulepaskan tanganku dari genggamannya secara kasar.

“Aku tidak butuh ucapan maafmu Hyuk!!! Aku hanya butuh jawabannmu!! Hanya Jawabanmu!!” kata ku dengan suara yang kubuat setegas mungkin. Walaupun kusadari suaraku kini beradu dengan suara tangisanku.

“Mianhe.. aku tahu aku salah. Saat itu Aku sama sekali tidak bermaksud untuk meninggalkanmu Kyuri. Saat itu aku ingin sekali menghubungimu. Sangat ingin.. tapi kesibukanku membuatku tidak memiliki waktu untuk menghubungimu. Jangankan melepas rindu dengan mu, berbicara denganmu. Bahkan waktu untuk ku sendiri saja aku tidak punya.”katanya begitu emosional. Dan Kini kudengar suara Hyukjae tercekat. Kurasakan bahwa ia juga tengah menangis sama sepertiku.

“kau tahu? Disana aku hanya tinggal sendiri. Untuk bertahan hidup, itu memaksaku untuk bekerja keras. Belum lagi setelah aku pulang kerja, aku harus berkutat dengan semua tugas-tugas kuliah yang nyaris membuatku gila. Kukerjakan itu sampai subuh, dan dipagi hari aku harus kembali bekerja hingga siang hari, dan disiang hari aku harus pergi ke kampus. Apa kau bisa membayangkan betapa beratnya hidupku saat itu?? Bahkan tidak jarang aku hanya bisa menangis saat aku ingat padamu. Hatiku sangat perih saat aku rindu padamu. Aku bahkan sangat benci pada diriku sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.” Lanjut Hyukjae lagi.

Kini suaranya mulai terdengar lebih tenang, Walaupun air mata terus menetes dipipinya. Aku hanya hanya terdiam mendengar penjelasannya. Hanya suara isakan tangis dari kami berdua yang memenuhi suasana sepi di meja kami. Dengan suara yang sedikit tercekik, kuberanikan diri untuk membalas ucapannya.

“BABO!! Kenapa kau tidak mau berusaha?? Kau kan bisa mengirimkan email untukku!! Kenapa??” aku benar-benar kesal saat ini. Aku tahu aku bodoh bertanya seperti itu. padahal sudah jelas-jelas Hyukjae tadi berkata bahwa ia benar-benar tidak mempunyai waktu luang untuk menghubungiku. Tapi aku masih tidak bisa terima. Aku sama sekali tidak puas dengan ucapannya barusan. Kalau orang mengira aku egois, Ya!! Aku memang sangat egois!!

“Jujur..Saat itu aku menyerah Kyuri. Aku menyerah karena aku yakin kau pasti sudah sangat membenciku. Aku yakin saat itu kau pasti sudah muak dengan ku dan lebih memilih untuk melupakan aku. Saat itu, yang bisa kulakukan, hanyalah bergaul dengan teman-teman wanita ku untuk mengobati sedikit rasa sakit akibat kehilanganmu. Kupikir itu dapat membantu menyembuhkan perasaanku. Tapi ternyata tidak. Aku tidak bisa melupakan kau Kyuri. Bahkan sampai detik ini..” Hyukjae yang masih terus berbicara.

Aku kembali terdiam dan tertegun dengan ucapannya barusan. Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya walaupun tidak terlalu jelas karena air mata yang masih terus menggenang dikedua mataku. Aku masih terpaku dihadapannya. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Aku hanya mampu menghela nafas, dan dengan perlahan membuang pandanganku ke arah kaca samping tempat dudukku.

“Aku sadar mungkin aku sudah terlambat untuk menjelaskan semuanya. Aku juga sadar bahwa aku tidak akan mungkin bisa memperbaikinya. Saat aku mendengar dari Shindong hyung bahwa kau telah memiliki kekasih, hatiku sangat hancur. Aku merasa seperti orang bodoh yang telah melepaskan harta satu-satunya yang menjadi milikku. Rasanya saat itu ingin sekali aku pulang ke Korea dan menghajar habis-habisan lelaki yang telah merebut kau dariku.” Kudengar Hyukjae berbicara dengan nada yang begitu sinis. Ada rasa miris dan sedih dari semua ucapannya kali ini.

“Tapi saat aku tahu bahwa namja yang telah memiliki mu adalah Donghae, aku bahagia. Walaupun hatiku masih tidak bisa menerimanya, tapi aku percaya, Aku percaya Donghae mampu membuatmu bahagia. Karena aku sangat mengenal sahabat ku yang satu itu.” kini kulihat senyum mengembang di wajahnya. Aku bahkan tidak tahu apakah itu senyum kebahagiaan atau senyum sedih yang ia tunjukkan untukku. Sepertinya air matanya kini telah berhenti mengalir. Kurasakan aku dan Hyukjae sudah bisa menguasai emosi kami masing-masing.

Kembali kami terdiam untuk beberapa saat. Aku sudah tidak nafsu makan lagi. Kini jjangjangmyeon yang ada di hadapanku tidak aku sentuh sedikitpun. Aku ingin segera pergi dari sini. Entah kenapa aku merasa semakin lama aku duduk disini, semakin itu akan membuat hatiku tambah terluka lagi.

“Aku rasa sudah waktunya aku kembali Hyuk.. gomawo untuk semuanya. Dan gomawo kau sudah mau menjelaskan semuanya padaku, walaupun aku tahu itu sudah sangat terlambat.  Aku pergi dulu.. Annyeong..” kataku mengakhiri ucapanku.

Namun, saat aku beranjak dari kursi dan hendak pergi meninggalkannya, ku rasakan tangan kananku digenggam oleh seseorang. Ia kini telah menahan langkahku.

“Aku hanya ingin kamu tahu satu hal Kyuri..” katanya menggantungkan kalimatnya. Aku hanya terdiam dan tidak mampu menoleh ke arahnya. Tatapanku masih tertuju pada pintu masuk Kafe ini.

“Aku ingin kamu tahu bahwa aku masih sangat mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu sampai kapan pun, walau kau kini telah bersama Donghae. Perasaanku tidak akan pernah hilang untukmu sampai detik ini. Mianhe…” Kata-kata utama itu meluncur dari bibir tipisnya. Aku hanya mampu terdiam. Dan dengan hentakan yang sangat pelan, kulepaskan genggaman tangannya di tanganku dan segera berlalu pergi meninggalkannya yang masih berdiri menatap ku dari kejauhan.

……..

Aku tidak bisa berkonsentrasi lagi dalam melanjutkan pekerjaanku. Sejak tadi, semua perkataan Hyukjae terus terngiang dan terlintas didalam pikiranku. Akibatnya, semua yang aku kerjakan tidak ada yang selesai 1 pun.

Menjelang sore, kuputuskan untuk segera pulang dan bergegas untuk pergi ke apartemen Donghae menyiapkan segala keperluannya untuk makan malam serta membereskan apartemennya. Saat sedang berkutat di dapur, ku rasakan handphone ku bergetar. Segera kubaca sms yang masuk yang ternyata dari Donghae, mengabarkan bahwa ia akan pulang lembur malam ini dan menyuruhku untuk tidak usah menunggunya.

Setelah semua pekerjaanku selesai, ku lirik jam yang berada diapartemen Donghae menunjukkan pukul 9 malam. Hampir 3 jam aku berada disana. Dengan segera ku langkahkan kaki dengan keluar dari apartemen Donghae dan segera menuju ke rumah. Baru saja aku hendak melangkah masuk ke lift, tiba-tiba seorang namja keluar dari lift tersebut dengan jalan yang agak terhuyung-huyung. Terlihat sekali bahwa namja itu sedang mabuk berat. Namun, langkahku kontan saja terhenti begitu melihat siapa namja tersebut.

“Hyukjae..” kataku memanggilnya. Hyukjae yang sedang berusaha untuk menyadarkan dirinya, kini menatap aku yang berdiri dihadapannya.

“Kyuri.. sedang apa?”  tanya Hyukjae dengan suara beratnya. Ia mabuk berat. Bau alkohol dari nafasnya pun begitu menyengat saat ia berbicara padaku. Kini tangan kanannya memegang pundak kiriku seolah-olah mencari pegangan agar ia dapat berdiri dengan seimbang.

“Hyuk, wae kudae?? kenapa kamu bisa mabuk seperti ini?” ku pegang dengan kuat kedua lengannya untuk menghindari badannya yang agak sempoyongan.

“Akuu…” baru saja Hyukjae ingin berbicara, kurasakan badannya jatuh didalam pelukannku. Hyukjae tidak sadarkan diri. Aku yang tidak diberi aba-aba pun kontan nyaris terjatuh karena beban yang diberikan oleh tubuh Hyukjae yang notabene lebih besar dari tubuhku.

“Ya!! Hyuk, Ireona!!! Hyukkie..jebal, ireona!!!” aku berusaha mengguncangkan tubuhnya. Ia tidak bersuara sedikitpun.

Dengan kesal, segera ku bawa Hyukjae dengan susah payah ke ruangannya. Aku sudah tahu dimana Hyukjae tinggal. Donghae pernah mengajakku dua kali berkunjung ke apartemen Hyukjae. Jadi tidak sulit bagiku untuk menemukan dimana ruangan tempat dia tinggal.

Begitu sampai di apartemen Hyukjae, dengan susah payah sambil menahan berat tubuh Hyukjae, ku cari kunci apartemennya di kantong celananya.

Setelah berhasil, segera ku bawa Hyukjae ke kamarnya dan merebahkan ia di kasurnya.

“Kau ini menyusahkan sekali sih?!” Aku mengomel padanya yang masih tidak sadarkan diri. Kubantu melepaskan sepatu yang masih dipakainya dan setelah menyelimuti dirinya, kuarih ponsel ku dan mencoba menghubungi Donghae agar ia bisa mengurus Hyukjae nantinya. Namun, ku coba berkali-kali Donghae tidak menjawab telepon dariku.

“Kemana sih orang ini?” kataku yang mulai cemas. Ku coba sekali lagi, namun hasilnya pun tetap nihil. Donghae tidak menjawab telepon sama sekali.

Uhuuukk.. Uhuuukk..

Segera ku tolehkan kepalaku ke belakang dan ku dapati Hyukjae sudah tersadar. Karena khawatir terpaksa ku handle terlebih dahulu dirinya sampai Donghae pulang kerja nanti.

“Hyuk.. Gwaenchana??” ku hampiri Hyukjae dan ku berikan minum padanya.

Walaupun Hyukjae sudah bangun, akan tetapi ia masih belum sadar sepenuhnya. Segera kubantu dirinya untuk tertidur lagi. Baru saja aku hendak beranjak, tiba-tiba kurasakan tangannya telah merangkul pinggangku hingga aku kembali terduduk di kasurnya.

“Mianhe.. mianhe Kyuri.” Ia mengucapkan kata-kata itu.

Aku hanya terdiam mendengarnya. Namun, dengan segera pula aku tersadar dan berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku.

“Hyuk, tolong lepaskan. Aku harus pulang. Shindong oppa pasti mencariku.”

Usahaku pun ternyata belum berhasil. Hyukjae semakin mengeratkan tangannya hingga mau tidak mau aku berbalik ke belakang untuk melihat dirinya.

“jangan pergi..Jebal.. aku mohon jangan tinggalkan aku”

Kulihat keadaannya sangat berantakan. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya, matanya yang terpejam pun ternyata tidak bisa menyembunyikan air matanya yang ternyata turun ke pipinya, nafas nya yang tidak beraturan, serta suaranya yang kini menjadi serak karena menahan tangis. Rasa kasihan kini menghinggapi diriku. Tidak tega rasanya aku membiarkannya pergi dalam keadaan seperti ini.

“Ne Hyuk.. aku tidak akan pergi.” Ku sentuh telapak tangannya dengan lembut. Dan perlahan-lahan kurasakan pelukan tangannya mulai merenggang. Kini, tangannya yang berganti menggenggam tanganku seakan takut aku tinggalkan pergi. Kulihat Hyukjae membuka matanya perlahan. Ia menatapku tajam.  Aku yang ditatap seperti itu menjadi risih dan akhirnya hanya bisa membuang muka dan membelakangi dirinya.

Cukup lama kami terdiam saat itu. Hanya suara detak jam saja yang terdengar memenuhi ruangan itu.

“Maaf aku menyusahkanmu.” Suara Hyukjae pun memecah keheningan kami.

“Ne.. kalau kau sudah baikan, sebaiknya aku pulang. Aku tidak ingin shindong oppa mengkhawatirkan aku.” Aku berusaha untuk menjadi Kyuri seperti biasanya. Kyuri yang dingin saat harus berhadapan dengan Hyukjae.

Tapi lagi-lagi gerakan ku terhenti saat aku merasakan seseorang memeluk tubuhku dengan sangat erat dari belakang.

“Hyuk..”

Aku merasakan tangan kekar Hyukjae mengunci diriku. Aku mencoba untuk berontak dan melepaskan tangannya, namun hal itu pun sia-sia.

“Hyuk.. Jebal, tolong lepaskan aku!”

“Saranghaeyo Kyuri.. aku menyayangimu.” Hyukjae tidak berkutik. Ia hanya mengucapkan kata-kata itu tepat di belakang telingaku. Aku merasakan darahku berdesir hebat. Aku masih berusaha melepaskan diri darinya, dan hal tersebut pun juga malah semakin membuat Hyukjae mempererat pelukannya.

“Hyuk…aku mohon, lepas!!!”

“Andwe.. aku tidak ingin melepaskanmu lagi Kyuri. Aku masih mencintaimu.” Hyukjae menjadi semakin gila. Ia mulai menciumi bagian belakang leherku. Aku menjadi takut akan tindakan Hyukjae. Sepertinya ini adalah efek dari mabuk beratnya barusan.

“Hyuk, aku mohon sadarlah!! Aku ini bukan pacarmu Hyuk!! Tolong sadar!!” aku mulai meronta-meronta berusaha melepaskan diri dari Hyukjae. Namun, semakin aku berontak, Hyukjae semakin gila mencium diriku.

Entah aku dapat kekuatan darimana, kini kubalik diriku menghadapnya dan PLAAKKK!!

Refleks aku menampar wajahnya. Ia hanya terdiam. Kupikir, setelah ini Hyukjae akan sadar. Namun ternyata aku salah. Hyukjae menatap mataku dengan tajam dan kini ia menarik kedua lengan ku hingga aku terjatuh ditempat tidur. Tubuhnya pun dengan cepat mampu mengunci tubuhku yang berada dibawahnya.

“Waeyo Kyuri?? Kenapa kamu membenciku?? Aku mencintaimu. Tapi kenapa kamu malah menjauhiku??” teriak Hyukjae di depan wajahku. Wajah marah Hyukjae sangat menyeramkan saat ini. Aku hanya menatapnya takut. Tak terasa aku mulai menangis ketakutan.

“Hyuk, jebal.. tapi aku tidak mencintaimu lagi. Aku mencintai Donghae” tenggorokannku sangat perih. Kulihat wajah Hyukjae semakin memerah.

“WAE?? Kenapa DONGHAE?? Kenapa bukan AKU??”

“Aku tidak mm..mmpphh”

Belum selesai aku berbicara, Hyukjae mengunci paksa mulutku dengan mulutnya. Mendapat perlakuan seperti ini, kontan saja aku berusaha memberontak dan melepaskan diri darinya. Tapi aku tidak bisa. Tubuh Hyukjae terlalu kuat mengunci diriku. Aku juga berusaha teriak meminta pertolongan saat Hyukjae melepaskan ciumannya.

“TOLOOONNGG.. Hyuk, lepaskan aku!!” aku sadar ini mungkin sia-sia. Karena, siapa yang akan mendengar suaraku?? Tempatku dan Hyukjae saat ini jauh dari dunia luar.

Aku masih terus berusaha bicara pada Hyukjae, walaupun aku tahu itu akan sia-sia karena sekarang setan sudah merasuki dirinya.

“Donghae…” aku menangis memanggil Donghae. Entah mengapa disaat seperti ini aku malah merasa rindu padanya.

“EUNHYUK, LEPAS!! JEBAL.. AKU INI TUNANGAN DONGHAE..”

Hyukjae yang sedari tadi berusaha mencium wajah dan leherku pun seakan tidak peduli dengan teriakan ku. Ia terus melakukan semuanya terhadapku. Pertahanan ku pun telah hancur. Aku hanya mampu menangis meratapi nasib burukku malam ini.

“Oppa, mianhe……”

***

            Hari ini kuputuskan untuk tidak pergi kerja. Aku masih kalut dengan kejadian tadi malam. Aku bersyukur Shindong oppa tidak menginterogasi ku panjang lebar saat aku pulang pagi tadi. Ku katakan pada Shindong oppa bahwa aku menginap dirumah teman lamaku setelah dari apartemen Donghae. Dan Aku juga bersyukur Donghae tidak mengetahui apa yang Hykjae lakukan padaku tadi malam. Aku tidak ingin menyakiti perasaanya.

Namun, hatiku tetaplah saja terluka setiap kali kulihat dilayar ponselku nama Donghae tertera didalamnya. Siang ini, sudah hampir 10 kali Donghae menghubungiku dan sudah hampir 8 kali di mengirim pesan ke HP ku namun tidak aku balas sedikitpun. Aku tahu ia sangat mengkhawatirkan aku. Tapi Aku tidak sanggup. Aku benar-benar tidak sanggup jika harus berhadapan dengannya. Aku sudah merasa bahwa aku bukanlah wanita baik yang pantas bersamanya.

Sudah hampir 2 jam aku menangis di dalam kamarku. Meratapi nasib buruk yang sudah menimpa diriku. Apa yang akan aku katakan pada Donghae nanti?? Hatiku sangat perih jika membayangkan saat Donghae tahu apa yang terjadi denganku.

Tak terasa hari sudah mulai malam. Sudah hampir seharian ini aku mengunci dan mengurung diriku didalam kamar. Aku tidak ingin keluar dan bertemu dengan siapapun.

“Kyuri.. waktunya makan malam. Cepat lah keluar.” Kudengar suara Shindong Oppa dari balik pintu kamarku memanggilku.

“Ani oppa.. aku tidak lapar.” Kataku seadanya.

Aku kembali terdiam di depan balkon kamarku. Ku tatap gelapnya langit malam ini, seperti gelapnya hatiku sekarang.

“Ya! Kyuri, jebal.. ada apa dengan mu?? Kenapa kau seperti ini?? Kau sakit hah?” kudengar lagi suara Shindong oppa yang kali ini mengisyaratkan rasa kekhawatiran. Aku hanya terdiam.

Maaf oppa, aku tidak mungkin mengatakannya padamu. Aku berbicara dalam hati.

Cukup lama aku berdiri di atas sana. Sudah hampir 15 menit aku terdiam. Rasanya ingin sekali aku meleburkan diriku seperti angin, agar aku bebas dari semua masalah-masalahku saat ini.

Tiba-tiba, kurasakan sebuah tangan memeluk diriku dari belakang. Pelukan hangat yang hampir setiap saat dapat aku rasakan dari nya. Ku tengok kepalaku kebelakang, memastikan namja yang berada dibelakangku adalah dia.

“Donghae Oppa..” aku paksakan seutas senyum untuknya.

“Jagi, waeyo?? Kenapa kau tidak mengangkat telepon ku tadi?? Kau marah padaku?” ku dengar suara lembutnya berbisik ditelingaku. Aku diam. Masih kurasakan pelukan hangatnya dan kini ia meletakkan dagunya di pundak kananku.

“Ani oppa.. aku tidak marah koq.”

“Lantas kenapa?? Kudengar dari Shindong Hyung kau tidak bekerja hari ini. Wajahmu pucat dan kau terus mengurung diri di kamar. Waeyo Jagiya??”

Aku tidak mampu menjawab pertanyaan Donghae saat ini. Kubalikkan badanku kehadapannya dan ku tatap sepasang mata jernihnya saat ini.

“Oppa, Mianhe..” Kupeluk erat dirinya  sambil membenamkan wajahku ke dadanya yang bidang. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air mataku agar Donghae tidak curiga. Tapi terlambat, air mataku kali ini tidak bisa di ajak kompromi. Dengan lancarnya ia mengalir keluar hingga membasahi pipiku dan jaket biru yang dipakai Donghae.

“Mwo?!?! Jagi, wae kudae?? kenapa kamu menangis??” Donghae berusaha melepaskan pelukanku dan mencari tahu apa yang terjadi padaku. Ia meletakkan kedua tangannya di kedua pipiku, menatap ku penuh tanda tanya.

“Wae Jagi?? Ada apa??” tanya nya dengan lembut sambil menghapus air mata yang turun ke pipiku dengan kedua ibu jari nya. Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku, menunduk tanpa berani menatap kedalam matanya. Aku tak sanggup berhadapannya dengannya sekarang. Tuhan, bodohnya aku sudah menyakiti pria sangat baik ini. Aku berteriak dalam hati.

“Jagi, jebal.. katakan padaku, kau kenapa..”

Aku tetap tidak mampu berkata apa-apa padanya. Aku hanya terus menangis dipelukannya selama beberapa saat. Dan setelah menyerah karena tidak mendapat jawaban apapun dari mulutku, Donghae akhirnya ikut terdiam dan menuntunku ke kasur. Ia terus menemani aku sampai tangisku reda.

“Oppa, mianhe sudah membuatmu cemas.” Kataku akhirnya setelah berhenti menangis. Donghae hanya tersenyum dan merapatkan pelukannya padaku.

“Oppa, maukah kau berjanji padaku?”

Ku tegakkan duduk ku dan kini menghadap Donghae yang telah bersandar di tempat tidurku.

“Ne.. ada apa?” katanya perlahan

“Oppa, apapun yang terjadi, berjanjilah kau hanya akan mendengarkan kata-kata ku saja. Bukan yang lain.. Jebal..”. Donghae mengangguk. Ia menyetujui semua permintaanku barusan.

***

Hampir dua bulan setelah kejadian naas itu, aku semakin membenci Hyukjae. Aku sama sekali tidak ingin melihat wajahnya ataupun berbicara padanya. Berkali-kali ia berusaha menemuiku diam-diam atau menghubungiku, namun tidak pernah aku gubris semua usahanya.

Dan hari ini, adalah hari dimana kehancuran bagi hidupku dimulai. Dokter memberitahuku bahwa aku hamil. Ya, aku mengandung anak Hyuk Jae. Begitu mendengar berita tersebut, aku menangis keras. Seperti orang gila, aku mengamuk dikamar. Aku mengutuk nasib ku yang begitu sial akibat ulah laki-laki bernama Hyuk Jae tersebut. Aku terus memukul-mukul perutku tanpa ampun, Berharap bahwa janin yang ada didalamnya bisa segera menghilang dari tubuhku. Semua ini karena Hyuk Jae. Karena perbuatannya lah aku harus mengalami hal yang sama sekali tidak aku inginkan. Bagaimana jika Donghae sampai tahu?? Apa yang harus aku katakan padanya?? Aku masih menangis keras di kamar. Saat ini, yang ada dipikiranku adalah Donghae. Aku telah menyakiti hatinya.

Aku pun segera mengganti pakaianku, menghapus air mata diwajahku dan mengoleskan make up untuk menutupi mataku yang sangat sembab akibat terlalu banyak menangis tadi. Dengan segera, aku pergi dan memacu mobilku menuju ke suatu tempat. Tempat yang akan mempertemukan aku dengan lelaki brengsek itu.

Begitu tiba di kantor tempat Donghae dan Eunhyuk bekerja, aku langsung melangkahkan kakiku menuju ruangan tempatnya bekerja. Dan benar saja, saat ku buka pintu ruangannya, terlihat ia sedang berkutat didepan Laptopnya mengetik sesuatu.

“Kyuri-ah.. ada apa kau kemari??” tanya nya dengan wajah tanpa dosa. Aku langsung merogoh sesuatu dari tas ku, mengambil sebuah amplop dan kemudian melemparkannya ke meja. Hyuk Jae yang melihat itu terdiam sejenak. Ia mengambil surat itu, membacanya dan sejurus kemudian matanya membelalak kaget.

“Mwo?! Hamil?? Apa maksudnya ini Kyuri-ah?” tanya Hyuk Jae tidak percaya.

“APA?? Kau masih bertanya itu apa?? Lihat hasil perbuatan mu waktu itu Hyuk!!!! Aku sekarang hamil dan kau hanya bertanya APA MAKSUDNYA???” kataku sambil menekankan dua kata terakhir. Hyuk Jae terdiam. Ia kemudian menarik tanganku keluar dari ruangannya dan membawaku ke atap gedung.

“Untuk apa kau membawaku kesini??” tanyaku ketus padanya. Hyukjae terdiam. Ia masih berkacak pinggang dan terus menghela nafas.

“Kyuri, apa kau yakin kau hamil?? Kau tidak sedang menjebak atau membohongiku kan??” aku tercengang dengan ucapan Hyukjae. Aku tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan barusan.

PLAAAAAAKKKKK…!!!!!!!

Ku tampar pipi kirinya untuk kedua kalinya. Rasa marah sudah memuncak di hatiku. Berani-beraninya ia berkata seperti itu setelah apa yang sudah ia lakukan padaku beberapa bulan lalu.

“YA!!! Apa maksud mu berkata seperti itu Hyukjae?? Setelah semua yang kau lakukan padaku waktu itu, kau mengira ini semua rekayasa?? Kau pikir aku wanita murahan yang mau melakukan itu dengan pria manapun?? IYA???!!! INI ANAK MU HYUKJAE!!! Ini semua hasil perbuatanmu!!!! Aku tidak pernah melakukan hal itu kecuali dengan paksaan dari mu waktu itu!!!! Dengar, KAU YANG MEMAKSAKU!!” Aku berteriak tepat didepan wajahnya. Kukeluarkan seluruh emosiku pada namja yang ada didepanku ini.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?? Aku bingung Kyuri!! Saat itu aku benar-benar sedang mabuk dan tidak sadar melakukannya” Katanya tak kalah keras.

“Kau harus bertanggung Jawab!!! Biar bagaimana pun ini anak mu, Hyuk!! Kau yang membuatnya ada di rahimku.”

“Aku mau saja bertanggung jawab. Tapi bagaimana dengan Donghae?? Kau itu tunangannya dan Donghae sahabatku. Aku tidak mungkin menghianatinya!!”

Mendengar Hyukjae menyebut nama Donghae, aku terdiam. Aku sama sekali tidak menyadari hal ini. Bagaimana jika Donghae tahu hal ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sadar, aku tidak mungkin bisa menjelaskan pada Donghae apa yang sudah terjadi padaku. Aku terlalu takut dengan reaksinya nanti.

“Ada apa kalian menyebut namaku??” Tanya seseorang mengagetkan kami. Aku dan Hyukjae langsung menoleh bersamaan kearah pintu masuk atap gedung ini dan Oh tidak, ia tidak hanya seorang. Melainkan tiga orang kini datang menghampiri kami.

“Donghae..” sahutku dan Hyukjae bersamaan. Ternyata Donghae datang bersama dengan Shindong Oppa dan Sungmin Oppa.

“Hae, bagaimana bisa kalian…??” Hyukjae membuka percakapan. Ia terlihat gugup saat berbicara dengan Donghae. Sedangkan Donghae, kulihat wajahnya begitu keras seperti sedang menyiratkan sebuah emosi yang begitu besar.

“Enhyuk-ah, apa benar yang kau dan Kyuri bicarakan tadi??” Tanya Donghae dingin.

“Apa maksudmu Hae?? Aku tidak mengerti. Aku tidak membicarakan apapun dengan….”

BUGH!!! Aku terkejut dan menutup mulutku melihat kejadian barusan. Secara tiba-tiba, sebelum Hyukjae menyelesaikan ucapannya, Donghae memukul wajah Hyukjae dengan keras hingga Hyukjae terjatuh ke tanah. Darah segar kini mengalir dari bibirnya. Tidak puas dengan apa yang sudah dilakukannya, Donghae kemudian menghampiri Hyukjae dan membalikkan badannya sambil menarik kerah kemeja Hyukjae.

“HYA!!!!! KATAKAN, APA YANG KAU LAKUKAN PADA KYURI, HAH?? APA YANG SUDAH KAU PERBUAT PADANYA?? SAHABAT MACAM APA KAU INI?!?! BRENGSEK!!!” Donghae kembali memukul wajah Hyukjae berkali-kali  tanpa ampun. Sedangkan Hyukjae, ia hanya terdiam menerima semua perlakuan Donghae padanya. Terlihat wajah penyesalan tampak diwajah Hyukjae.

Aku yang tidak suka melihat adegan kekerasan seperti itu langsung berteriak berusaha memisahkan mereka. Baru saja aku hendak menghampiri Donghae dan Hyukjae, tiba-tiba sebuah tangan menggenggam dan menarik tubuhku kedalam pelukannya.

“Kyuri-ah, jangan!! Nanti kau kena!” sahut pria yang ternyata adalah Shindong Oppa.

“Ani Oppa.. Aku harus memmisahkan mereka. Aku harus berbicara dengan Donghae Oppa.” sahutku yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Shindong Oppa. Aku sudah sangat takut jika mereka berdua sampai terluka lebih jauh.

“Hae, mianhe.. Mianhe, aku…” belum selesai Hyukjae berbicara, ia sudah dihajar lagi oleh Donghae. Hyukjae yang sepertinya sudah hilang kesabaran mau tidak mau membalas perlakuan Donghae padanya. Kini Hyukjae memegang kendali. Ia langsung membalas memukul wajah Donghae dan menendang perutnya. Begitu juga dengan Donghae yang kembali membalas dengan memukul Hyukjae tepat di wajah dan perutnya sambil mencengkram kerah pakaian Hyukjae yang sudah kusut dan ternoda oleh bercak darah dari tubuhnya.

Aku hanya bisa menangis melihat dua pria itu terus bertengkar. Sungmin Oppa yang sedari tadi diam, akhirnya turun tangan. Ia langsung berusaha memisahkan mereka berdua. Ditarikanya tubuh Hyukjae menjauh dari Donghae. Donghae yang tidak terima, kemudian berusaha menarik Hyukjae yang berada dibelakang tubuh Sungmin Oppa. Namun, Sungmin Oppa tidak tinggal diam. Ia langsung menampar dan memukul wajah Donghae sambil berteriak diwajahnya

“BISAKAH KAU TAHAN SEDIKIT EMOSI MU HAE?!?!?!?” ternyata ucapan Sungmin oppa berhasil menyadarkan sikap kesetanan Donghae. Donghae hanya terdiam sambil mengatur nafasnya yang masih terengah-engah akibat baku hantam tadi. Ia masih menatap Hyukjae yang masih berada dibelakang Sungmin Oppa tajam.

“Kami tadi sengaja mengikuti kalian. Salah seorang pegawaiku melihat mu datang dan masuk kedalam ruangan Hyukjae. Ia juga melihat saat Eunhyuk membawamu ke atap ini. Akupun memberi tahu Donghae dan Shindong hyung dan memutuskan untuk mencari tau apa yang terjadi dengan kalian. Sampai akhirnya kami mendengar semua yang kau dan Eunhyuk bicarakan, Kyuri-ah.” Jelas Sungmin Oppa akhirnya. Aku hanya terdiam dan masih terus menangis. Sedangkan Hyukjae, ia terlihat kaget dengan semua penjelasan Sungmin Oppa barusan.

“Waeyo??” kudengar Donghae Oppa buka suara.

“Kenapa kau menghianatiku Hyuk?? Kenapa kau menusukku dari belakang?? Kenapa kau melakukan itu pada Tunanganku, hah?? WAE???” Donghae Oppa kembali berusaha menyerang Hyukjae. Namun untungnya sudah ditahan terlebih dahulu oleh Sungmin Oppa.

“Oppa.. Mianhe..” aku membuka suara dan mencoba berjalan mendekatinya. Donghae lalu menatapku tajam, namun masih tersirat rasa kecewa dan kesedihan yang luar biasa dalam dari sorot matanya.

“Kenapa kau tidak menceritakannya padaku Kyuri?? Kenapa kau tidak menceritakan padaku bahwa Hyukjae sudah berbuat seperti itu padamu??” aku hanya menggeleng lemah mendengar pertanyaan Donghae.

“Aku takut Oppa.. Aku benar takut kau marah padaku! Aku sudah mengecewakan mu. Aku juga sudah menyakiti hatimu. Aku takut kau membenciku. Jeongmal mianhe..”

“Hae.. Mianhe. Ini semua salahku.. Kyuri hanya korban disini. Saat itu aku memang sedang mabuk. Dia hanya membantuku untuk..”

“DIAM KAU!! AKU TIDAK BUTUH PENJELASAN MU LAGI!!!!” Donghae berteriak pada Hyukjae. Kini, semua orang yang berada dalam atap ini, termasuk aku. Kami masih sama sibuk dengan urusan dan pikiran kami masing-masing.

“Menikahlah dengan Kyuri!!” kata Donghae pada akhirnya. Kami semua yang berada disana pun terkejut. Sedangkan aku, aku hanya melihat Donghae penuh tanda tanya. Aku menggeleng kencang. Aku berkata padanya bahwa aku tidak ingin menikah dengan Hyukjae. Aku berusaha meyakinkan Donghae untuk tidak menyuruhku melakukan hal bodoh untuk kedua kalinya.

“Tapi kau harus menikah dengannya Kyuri. Biar bagaimana pun, anak yang didalam kandunganmu itu butuh seorang ayah.” Kata Donghae saat aku berusaha memohon padanya untuk tidak memberikan ku pada Hyukjae. Beberapa kali aku berusaha menyuruh Donghae untuk menarik semua ucapannya, namun itu tidak berarti. Donghae tetap menyuruh ku dan Hyukjae untuk menikah. Ia benar-benar melepaskan aku untuk Hyukjae. Tak hanya Donghae, bahkan Sungmin Oppa dan Shindong Oppa yang awalnya terlihat sangat marah pun juga ikut-ikutan menyuruh aku dan Hyukjae untuk segera menikah.

“Mianhe Kyuri.. Aku sudah tidak bisa lagi memilikimu. Aku harap kau bisa berbahagia bersama Eunhyuk nantinya. Dan kau, Hyuk jaga dan bahagiakan Kyuri untukku. Arraseo?!?!” kata Donghae padaku dan Hyukjae. Suaranya begitu lirih. Dapat kulihat air mata sudah menggenang dikedua pelupuk matanya. Dan untuk terakhir kalinya, Donghae memeluk diriku begitu erat. Ia mengecup keningku begitu lembut. Aku sadar, ini adalah kecupan terakhir yang ia berikan untukku. Aku sadar, aku tidak akan pernah lagi merasakan pelukan serta kecupannya nya lagi selamanya.

“Oppa.. Jebal, jangan tinggalkan aku Oppa. Aku hanya mencintai Oppa.” aku benar-benar menangis keras. Donghae tidak menghiraukan ucapanku. Ia kini malah berbalik dan berjalan keluar dari atap tersebut diikuti oleh Sungmin Oppa dan Shindong Oppa dibelakangnya.

“AAAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHHH!!!!!!!!!!” aku mendengar Donghae berteriak begitu keras sambil menendang sebuah benda yang berada didekatnya dengan kencang. Itulah kemarahan dan emosi terbesar Donghae yang paling hebat yang pernah ia tunjukkan selama aku mengenal dirinya. Setelah itu, ia benar-benar pergi meninggalkan Hyukjae dan aku yang masih terus menangisi kepergiannya.

-TO BE CONTINUE-

2 thoughts on “LOVE BIRTH (part 3)

  1. Hahhh
    bener2 kasian Kyuri
    knp Donghae gk nikah ja ma Kyuri dan
    menerima ank Hyukjae yg ada di rahim Kyuri…
    Ahh lanjot lah
    beribu pertanyaan pun hanya bs di jawab di part 4 hahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s