LOVE BIRTH (part 2)



“Donghae oppa…?!” aku berusaha meyakinkan diriku sendiri  dengan terus menatap bagian punggungnya. Yah, aku tahu. Aku yakin kalau pria itu adalah Donghae. Aku mengenalinya, mengenali tidak hanya kepribadiannya saja tapi juga gesture dan bentuk tubuhnya.

“Donghae oppa, itu kau kan??” aku memanggilnya lagi.

Kini, pria itupun menoleh kebelakang. Dan BINGO! Tebakanku sangat tepat. Pria yang ada dihadapanku kini adalah Donghae, namja yang sedari tadi selalu aku cemaskan. Ia menatapku dan tersenyum. Tuhan, bahkan disaat seperti ini pun dia terlihat sangat manis. Aku memuji dalam hati. Entah karena rasa senang atau apa, tanpa pikir panjang aku langsung berlari menghambur ke dalam pelukannya.

“Oppa, aku benar-benar mencemaskanmu. Ku pikir sesuatu terjadi  padamu.”

“Jadi kau mengawatirkan aku?” Donghae melepas pelukan ku sambil tersenyum. Aku mengangguk dan kembali menenggelamkan kepalaku kedalam pelukannya.

“Mianhe Jagi aku telah membuat mu khawatir. Tapi aku melakukan ini karena ada yang ingin aku sampaikan padamu.”

“Mwo?? Ada apa oppa?? Jadi ini semua oppa yang merancangnya??”

Donghae mengangguk. Saat ini Donghae begitu tampan. Ia terlihat sangat rapi, dengan balutan jas berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu melingkar dilehernya dan kemeja putih didalamnya juga rambut pendeknya yang sedikit dijambul. Omo, lelakiku ini benar tampan..

Aku terus memperhatikannya. Kami saling menatap satu sama lain cukup lama.

“Kau suka semua Bunga-bunganya?” tanya Donghae sembari melirik ke arah bunga-bunga yang berada di tanganku. Aku mengikuti pandangannya.

“Hmm..Ne, suka sekali. Apalagi surat-surat yang kau tulis. Kau pandai membuat hati seorang yeoja melayang Oppa. Tapi kenapa kau membuat nama samaran dengan nama Mr.Prince?? Pede sekali..” Kataku sedikit usil.

Donghae hanya tersenyum mendengar pengakuanku.

“Mwo?? memang kenapa? Tidak boleh kalau aku menyebut diriku ini seorang pangeran??” Jawabnya sambil memanyunkan mulutnya. Aku tertawa melihat tingkahnya.

Tanpa basa basi lagi, Ia kini menggandeng tanganku menuju ke sebuah meja makan yang terdiri dari dua kursi yang telah dihiasi oleh taplak berwarna merah darah dengan dua lilin kecil dalam sebuah gelas serta bunga mawar diatasnya.

Aku menatap itu semua takjub. Aku merasa sangat tersanjung dengan apa yang Donghae lakukan untukku. Ia menarik satu kursi untukku dan mempersilahkan aku untuk duduk diatasnya. Yang kemudian disusul Donghae yang duduk di kursi depanku.

“Oppa, Ada apa ini?? Dalam rangka apa kau melakukan ini semua?” kataku membuka pertanyaan.

“Sebelum aku berbicara, aku punya sesuatu untuk mu. Tunggu sebentar ya..” Donghae kemudian beranjak dari kursinya meninggalkan ku sementara.

Saat ia kembali, kulihat ia membawa sesuatu yang disembunyikan di tangan kanannya. Ia menghampiriku sambil tersenyum penuh arti. Diberikannya sebuah rangkaian Bunga Mawar terakhir yang ia berikan kepadaku.

“Untuk mu nona Cantik” kata Donghae sembari memberikan buket bunga tersebut dan mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku menerimanya dengan senyuman manis. Kutatap mawar merah pemberian Donghae ini,disana kulihat sebuah surat terselip diatasnya. Kubuka surat tersebut dan kubaca dengan seksama isi surat itu.

Red Roses means “A Deep Feeling Of Love”

            I need you to come here and find me. Because without you, i’m totally lost!

You are the gift from God. I want to live with you in this way, Love and comfort you. I promise I will always protect you, my love. Will you promise me one thing? promise me that whatever happens, we will still love each other..

Will you let me have you??
Will you be my fiance??

-Mr.Fishy-

Aku tertegun dan terkejut membaca surat yang diberikan Donghae kepadaku. Seluruh tubuhku mendadak merinding tidak karuan. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Aku terdiam dan hanya tersenyum sambil terus memperhatikan surat dan bunga yang berada ditanganku ini.

“Jagi, Gwaenchanayo??” Donghae kini sudah berlutut di sampingku.  Aku hanya mampu menatapnya dalam.

“Gwaenchana.. aku hanya tidak menyangka kau bisa berbuat seromatis ini.”

“Jadiiiii???” kata Donghae dengan tatapan penuh harapnya.

Ia mengambil kedua tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Tangannya begitu dingin. Nampak sekali Donghae juga merasakan kegugupan yang sama dengan ku.

Dengan penuh kemantapan aku tersenyum dan mengangguk. Dan disambut kemudian oleh Senyum riang Donghae yang langsung memeluk erat diriku.

“Gomawo, Jagi…Gomawo!” katanya.

Setelah memakaikan cincin di jari manisku, Donghae pun meminta ku untuk berdiri. Dan entah darimana ia mendapat ide gila itu, ia kini tengah merangkul pinggangku dan mengajakku berdansa dengan lagu seadanya yang ia nyanyikan dari suara khasnya yang begitu manis. Hampir 15 menit kami berdansa seperti ini. Rasanya aku tidak ingin melepaskan pelukannya dan ingin terus meletakkan kepalaku didalam dadanya.

Kini Donghae mengajakku sedikit ke arah ujung gedung.  Terasa sekali udara malam membuat tubuhku merinding. Yah, terang saja. Bagaimana tidak? Kini aku hanya menggunakan terusan yang tipis tanpa lengan berwarna putih dengan panjang selutut. Tentu saja yang akan membuat angin masuk dengan senang hati menerpa dan mungkin saja bersemayam didalam tubuhku. Menyadari aku yang sedari tadi menggosok-gosokkan kedua tanganku, Donghae memberikan jas nya dan memakaikannya di tubuhku.

“Babo!! Sudah tahu udara dingin, kenapa kau tidak bawa baju hangat tadi?” katanya sedikit mengomel.

Aku merasa tidak terima. Enak saja dia memarahiku seperti ini setelah apa yang dia lakukan kepadaku tadi.

“Yak, kenapa kau malah memarahiku?!! Apa kau pikir saat aku mendengar kau kecelakaan, aku punya waktu untuk bersiap-siap atau berdandan terlebih dahulu?? Aku kacau seperti ini juga karena kamu, Lee Donghae!!!” Aku memanyunkan bibirku.

Ya, memang aku terlihat kacau sekali hari ini. Hanya memakai sandal rumah, tanpa make up sedikitpu, pakaian seadanya, dan rambut yang dicepol keatas dan sedikit menyisakan beberapa anak rambut saja. Tentu saja ini bukanlah penampilan seorang wanita yang hendak dilamar oleh kekasihnya. Begitu mendengar dari Shindong Oppa bahwa Donghae mengalami kecelakaan, aku benar-benar panik. Aku tidak peduli lagi akan penampilanku, karena saat itu yang hanya ingin kutemui adalah kekasihku ini. Donghae tersenyum dan tertawa melihat tingkahku. Kemudian ia memelukku dari belakang seraya meletakkan dagunya diatas pundak kanan ku.

“Tapi aku suka koq. Kau terlihat begitu sempurna.”

Pipiku kontan memerah mendengar ucapannya. Haish, pria ini memang romantis. Bisa saja ia membuat aku melayang.

“Aku tidak butuh kau tampil sempurna dengan gaun, make up, sepatu hak tinggi atau rambut yang digerai indah. Yang aku butuhkan hanya Dirimu yang apa adanya.”

Donghae kemudian membalik tubuhku. Kini wajah kami berhadapan. Aku bisa melihat dengan jelas kedua bola matanya yang berwarna cokelat. Mata itu sangat hangat, benar-benar memancarkan kasih sayang yang teramat sangat besar. Kami berdua tersenyum, untukku lebih tepatnya tersenyum malu-malu. Donghae pun kemudian memegang kedua pipiku dengan kedua telapak tangannya. Kusadari kini wajahnya mulai mendekat kerahku, dan dalam waktu beberapa detik saja, bibirnya sudah menyentuh hangat bibirku. Cukup lama kami berciuman disana.

“Saranghaeyo, Jagiya.. Yeongwonhi Saranghae” katanya setelah melepaskan ciumannya dan kemudian memelukku. Aku pun membalas pernyataannya dengan sangat lantang

“Na do Saranghae, Oppa.”

Kami berdua pun melanjutkan menikmati malam romantis kami berdua. Aku merasa sangat bahagia hari ini. Mungkin bisa dibilang, ini adalah hari terindahku. Hari terindah yang aku lewatkan bersama dengan kekasihku tercinta.

“Kyurie..” panggil Donghae lembut.  “Aku ingin kamu mempercayai ini..”

Donghae kemudian mendekatkan bibirnya ketelingaku. Dan berbisik

“I love you”

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Sudah berapa kali dia menyebutkan kata itu. Mulai dari ucapan di surat, lagu yang ia bawakan, bahkan dari ungkapan dihatinya.

“Oppaaa..” aku pun kembali memanggilnya.

“ Ne, aku tahu, pasti kau akan membalas dengan bilang I love you too kan?” katanya sungguh dengan rasa percaya diri. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Pede sekali dia, batinku dalam hati.

“Aniyo.. tapii..” aku tidak melanjutkan kata-kataku. Donghae menatapku lekat.

“Waeyo Jagi??” Akupun menatap Donghae takut-takut. Namun akhirnya kuberanikan diri untuk berbicara.

“Aku lapaaarrr…” mendengar ucapanku barusan, Donghae pun tertegun sejenak. Ia sedikit menjauhkan dirinya dariku.

“Yah!! Kyurie, Kau ini.. aku udah bersusah payah membangun suasana seromantis ini tapi kau malah menghancurkannya.” Donghae cemberut. Tak lama kemudian, kami pun tertawa bersama-sama.

“Ne, baiklah. Kajja!! Aku juga sudah lapar.” Donghae akhirnya menggandeng tanganku dan mengajaknya ke meja makan yang telah dipersiapkannya untuk kami.

***

Kini sudah hampir 2 bulan aku menyandang status “Tunangan Donghae”. Aku benar sangat bangga menyandang status itu. Bahkan kalau boleh berharap lebih, aku juga ingin cepat-cepat melepaskan nama SHIN di depan namaku dan menggantinya dengan nama LEE, yah tentu saja yang berarti aku harus menikah terlebih dahulu dengannya untuk mendapatkan nama itu.

Kini, hari-hari ku pun selain disibukkan dengan pekerjaan kantor dan pekerjaan rumahku untuk mengurus rumah dan Shindong oppa, setiap pagi sebelum berangkat kerja dan malam hari setelah pulang kerja selalu aku sempatkan untuk mampir ke apartemen Donghae yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Tentu saja yang kukerjakan adalah menyiapkan sarapan dan makan malam untuknya dan menyiapkan segala macam kebutuhannya. Yah, semenjak aku menyandang status ‘Tunangan Donghae’ ini, Donghae menjadi semakin manja dan serba ketergantungan padaku.

“Kau harus latihan melayaniku dulu sebelum menjadi istriku sungguhan”

Alasan itu lah yang berikan kepadaku. Latihan menjadi istri sebelum menjadi istri sungguhan. Masuk akal kubilang, setidaknya aku belajar memahami apa yang diinginkan dan tidak diinginkan Donghae, apa kebiasaannya sebelum dan setelah bangun tidur, dan sebagainya.

Pagi ini, seperti biasa aku berjalan menuju pintu apartemen Donghae untuk membantunya mempersiapkan kebutuhannya sebelum ia berangkat ke kantor. Ku buka pintu apartemen Donghae dan disaat yang bersamaan, kudengar suara pintu kamarnya yang terbuka pertanda bahwa ia baru bangun. Selesai menunggu Donghae mandi dan bersiap-siap, Kini kami berdua telah berada di meja makan dan menikmati sarapan bersama. Pagi ini kusiapkan nasi goreng kimchi kesukaannya. Memang kebiasaan kami berdua makan tidak berbicara. Kalaupun harus berbicara, itu juga hanya menyangkut hal yang penting.

“Jagi..” panggil Donghae tiba-tiba.

“Mmm.. mwo oppa?”

Donghae terlihat meminum sedikit teh hangatnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan bicaranya padaku.

“Nanti sore, setelah pulang kerja temani aku sebentar ya? Aku harus menjemput sahabatku dibandara.”

Aku tertegun. Sahabatnya?? Siapa? Karena yang aku tahu, Donghae tidak pernah berceerita bahwa ia memiliki seorang sahabat selain Shindong oppa dan Sungmin oppa, sahabat dikantornya.

“Sahabat?? Nugu oppa?? Setahuku oppa tidak pernah bercerita bahwa oppa punya sahabat..”

“Ah, mian.. aku memang tidak pernah menceritakannya padamu sebab dia berada diluar negeri. Dia Eunhyuk, sahabatku sejak aku kecil sampai saat ini. Saat ini dia berada di Amerika untuk melanjutkan sekolah S2 nya selama 3 tahun. Nah, karena sekarang dia sudah berhasil menamatkan pendidikannya, ia kembali ke Korea hari ini memintaku untuk menjemputnya.”

Aku tertegun mendengar cerita Donghae barusan. Amerika?? Melanjutkan S2?? Entah kenapa tiba-tiba pikiran ku melintas ke beberapa tahun lalu saat seorang namja pergi meninggalkan aku ke Amerika juga untu melanjutkan pendidikan S2 nya. Ya, aku kembali teringat pada Hyukjae mantan kekasihku dahulu. Tapi tunggu, aku mengingatkan diriku sendiri bahwa itu bukanlah Hyukjae. Hanya ceritanya saja yang kebetulan sama. Lagian, untuk apa aku memikirkan dia lagi. Toh kini aku telah bahagia bersama Donghae.

“Jadi gimana Kyurie, mau kan kau menemaniku?” pertanyaan Donghae membuyarkan lamunanku saat ini. Akupun mengangguk mengiyakan jawabannya.

“Ne, Oppa.. kau hubungi aku saja kalau kau sudah menjemputku.”

….

Sore ini, aku sudah berada di Mobil Donghae untuk menjemput sahabatnya di Bandara. Ternyata Donghae tidak sendiri, ia juga membawa teman kantornya yang bernama Sungmin Oppa.

“Aku tidak menyangka kau juga ikut Oppa.” Kataku pada Sungmin membuka pembicaraan.

“Ne, soalnya perusahaan kami sedang membutuhkan Manager perencanaan. Dan ku dengar dari Donghae, sahabatnya itu lulusan Manajemen Bisnis dan Donghae merekomendasikan dia untuk bekerja di perusahaan kami. Jadi ku pikir aku harus mengenalnya terlebih dahulu kan? Oleh karena itu aku ikut kalian menjemputnya ke bandara.” Kata Sungmin menjelaskan.

Kulihat Donghae juga tersenyum sambil mengangguk-anggukan sesekali kepalanya. Sepanjang perjalanan kami habiskan dengan saling berbicara, bercanda, bahkan bercerita bersama. Perjalanan ke bandara tidaklah terlalu jauh. Hanya butuh kurang lebih 45 menit dari kantorku untuk sampai disana.

“Jagi, gweancanha kau menunggu sendiri di dalam mobil??” tanya Donghae begitu sampai di bandara Incheon. Ku anggukan kepala untuk menjawab pertanyaannya. Aku memutuskan untuk tinggal di mobil saja. Karena tugas yang cukup banyak tadi, Badanku cukup lelah untuk ikut mereka berdua.

“Ne, Oppa.. gwaenchana. Kalian pergilah.” Kataku pada mereka.

Setelah mereka berdua pergi, aku pun memundurkan dan menurunkan sedikit kursi mobil tempat ku saat ini. Aku lelah dan sangat ingin tidur sambil menunggu mereka kembali.

“Jagi.. Jagi, Ireona..” kurasakan seseorang  memanggilku dengan lembut. Entah kenapa aku sama sekali tidak bergeming. Malas sekali rasanya mata ini terbuka.

“Jagi.. jebal, ireona..” kata suara itu lagi. Kurasakan kini sebuah tangan menyentuh kedua pipiku lembut. Siapa sih yang membangunkan aku? Aku tidak ingin bangun. Badanku rasanya terlalu lelah dan mataku juga sebenarnya tidak ingin terbuka sama sekali. Namun, akhirnya setelah kupaksakan, kubuka mataku perlahan. Ku renggangkan sedikit badanku dan melihat siapa yang telah membangunkan aku tadi.

“Oppa..” aku memanggilnya pelan. Kulihat Donghae kini tengah berada didepanku. Sepertinya dia yang telah membangunkan aku tadi. Ia tersenyum dan membelai kepalaku.

“kau ngantuk sekali ya?” katanya dengan lembut. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah kesadaranku penuh seluruhnya, Donghae menyuruhku untuk keluar dari mobil.

“Kajja.. keluar sebentar ya.. aku akan perkenalkan kau dengan Eunhyuk. Dia sudah datang” kata Donghae sambil menggandeng tanganku keluar dari mobil.

Dengan perasaan yang sedikit malas, ku langkahkan kakiku keluar mobil. Kulihat seorang namja berdiri dibelakang Sungmin. Tak terlalu jelas wajahnya, karena badan Sungmin yang cukup kekar berhasil menyembunyikan dirinya.

“Hyukkie, kenalkan, dia yeojachinguku.” Kata Donghae pada namja itu. Kulihat namja itu memunculkan dirinya ke hadapan kami. Dan betapa terkejutnya aku begitu tau siapa namja yang dimaksud Donghae sebagai sahabatnya itu. Tidak hanya aku. Namja itupun juga tak kalah terkejutnya begitu melihatku. Untuk beberapa saat, kami saling menatap dalam diam satu sama lain. Aku sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Kurasakan wajahku kini memanas. Bukan karena ingin menangis atau marah. Tapi aku tidak sanggup melihatnya disaat ini.

“Ya!! Eunhyukkie!! kenapa kau diam saja?? Jangan bilang kalau kau suka dengannya?? Aigooo.. jangan sampai ya!! Dia ini tunanganku.” kudengar Donghae buka suara. Untung saja dirinya segera sadar dan segera memperkenalkan dirinya kepadaku. Yah, walaupun sebenarnya kami sudah saling mengenal.

“Kajja.. lebih baik kita pulang. Kasian Kyuri Hae, sepertinya dia sangat lelah.” Seru Sungmin oppa yang sepertinya melihatku begitu gelisah dari tadi. Tidak, lebih tepatnya setelah melihat namja yang sempat membuat diriku gila bebrapa tahun lalu. Aku terselamatkan karena nya kali ini.

Aku tidak menyangka. Ternyata benar yang kupikirkan tadi pagi saat sarapan bersama Donghae, bahwa sahabat yang dimaksudnya adalah Hyukjae. Namja yang sempat mengisi hari-hari ku 5 tahun lalu. Namja yang membuat aku nyaris gila karena tidak pernah menghubungi dan menemuiku di tahun ketiga setelah kepergiannya. Omoo, kenapa dunia ini sempit sekali sih?! Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya disaat aku sudah bahagia bersama Donghae. Kenapa saat ia datang sekarang, luka di hatiku yang sudah sembuh ini harus terbuka lagi?

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya terdiam. Aku bahkan sama sekali tidak mood untuk melanjutkan tidurku lagi.

“Jagi, tidurlah kalau kau memang mengantuk. Aku tidak ingin kau terlalu lelah” Kudengar Donghae berbicara padaku. Bagaimana aku bisa tidur disaat seperti ini. Otakku benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Entah kenapa hatiku merasa sangat sakit kali ini.

“Ani, Oppa.. aku sudah tidak ngantuk lagi koq.” Kujawab Donghae seadanya dan kembali memfokuskan diri untuk melihat ke arah jendela di sampingku. Suasana hening kembali terkuak. Hanya beberapa kali saja kudengar Donghae, Sungmin dan Hyukjae berbicara. Aku berusaha untuk tidak memperhatikan mereka.

Hari ini kuputuskan untuk tidak ke apartemen Donghae terlebih dahulu. Aku tidak ingin bertemu Hyukjae lebih lama lagi. Aku tidak ingin memori-memori lama kami terngiang-ngiang lagi di benakku dan rasa sakit hati serta kecewaku kembali menyerangku. Karena aku tahu, pasti untuk saat ini ia akan menginap di apartemen Donghae terlebih dahulu sampai ia mendapatkan tempat tinggalnya sendiri.

Begitu tiba di rumahku, dengan segera aku segera turun dari mobil Donghae. Aku ingin berlari ke dalam kamarku saat ini juga. Namun, saat hendak melangkah keluar dari mobil, aku merasa tanganku ditahan.

“Waeyo oppa??” ku tatap Donghae

“Gwaenchana jagi??” terlihat dari wajah Donghae bahwa ia sedang mencemaskan aku. Aku hanya mampu tersenyum dan menggeleng pelan. Aku tidak ingin Donghae merasa curiga karena sikapku.

“Ani, Oppa.. Gwaenchana. Sudah ya, aku masuk.. Annyeong..” Cuupss… entah apa yang ada di pikiranku saat ini. Baru saja ku peluk Donghae dan kucium bibir tipisnya. Mungkin aku gila karena melakukan hal tersebut bukan di tempat yang sepantasnya. Setelah menciumnya, aku tersenyum pada Donghae dan secara tak sengaja mataku menatap dirinya. Aku dan Hyukjae saling bertatapan dalam beberapa detik. Kulihat semburat sedih dan kecewa serta marah di tatapannya. Tapi aku tidak peduli lagi. Aku merasa puas. Puas karena sudah membuatnya cemburu kurasa.

“Ya!! Kalian ini.. bisakah tidak melalukan itu disini?? Kalian pikir dimobil ini tidak ada orang?” kudengar protes dari Sungmin. Aku dan Donghae hanya tertawa. Kurasakan wajahku memanas karena malu.

“Mian Oppa.. aku tidak sadar.hehehe..” aku menjawab malu-malu.

“Haishh.. haruskah aku dan Eunhyuk juga melakukan hal itu??” kata Sungmin yang kontan membuat aku dan Donghae terkejut.

“Hahahah.. jika itu maumu dan Hyukkie mengijinkan, lakukan saja hyung.” Kata Donghae mulai meledek Sungmin yang segera dibalas dengan tatapan tajam oleh Sungmin dan Hyukjae.

“Ya!! Memang kau pikir aku dan Sungmin ini gay?” Kudengar Hyukjae melawan.

Ah, sudah lama sekali aku tidak mendengar suara dan omelannya lagi seperti ini. Kini satu mobil semua tertawa.

“aku tidak bisa membayangkan, apa jadinya kalian berdua jika dimobil ini tidak ada kami. Aku rasa mungkin Shindong hyung dan aku akan memiliki keponakan lebih cepat.” Kini Sungmin yang berhasil mengejek kami.

Kontan saja aku membelalakkan mataku dan melemparkan tatapan yang tak kalah tajam padanya.

“Mau mu..” aku menjawab ketus. Menyadari bahwa omongan mereka mungkin saja sudah melenceng ke jalur yang salah, aku kembali melanjutkan

“Ya sudah, aku sangat lelah Oppa. Aku masuk kedalam dulu yaa..”

“Ne, selamat malam Jagi..” kata Donghae mengakhiri. Akupun menunduk ke arah Sungmin dan Hyukjae dan mengucapkan salam ke mereka.

“Annyeong… saranghaeyo Oppa..” kataku menambahkan Ucapan pada Donghae. Kulihat Donghae hanya tersenyum malu-malu sambil melirik Sungmin yang sepertinya sudah gerah melihat tingkah kami yang seperti orang baru berpacaran saja.

“Haiisshh.. kalian ini, seperti anak SMA saja. Dewasalah! Kalian sudah            tunangan dan sebentar lagi akan menikah. Dasar tidak tahu malu.”

Dan kini dapat kulihat wajah Hyukjae yang berubah. Kurasa ia cukup terkejut dengan pernyataan Sungmin barusan. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Perasaan ku kini hanya ada untuk Donghae. Aku tidak ingin lagi mengungkit-ungkit masa laluku bersamanya.

Setelah aku masuk ke rumah, segera ku masuki kamar dan kurebahkan diri diatas kasur. Aku tidak menyadari bahwa kini air mataku telah turun membasahi pipiku. Aku merasa luka dihatiku kini terbuka lagi. Sangat perih rasanya. Kedatangannya benar-benar telah membuat aku terus mengingat masa-masa indah yang kami lalu dulu, dan itu membuat hatiku terasa miris.

Mengapa kau kembali disaat hatiku sudah sembuh, Hyuk? Mengapa kau buka lagi luka yang kau buat dulu? Aku bergumam didalam hatiku. Aku terus menangis. Dikepalaku kini dipenuhi oleh orang yang begitu aku cintai dan orang sangat tidak ingin lagi kutemui. Dan perlahan kututup mataku yang sudah terasa sangat lelah.

***

            Sudah hampir sebulan ini Hyukjae berada di Korea. Dan sudah hampir sebulan ini dia juga bekerja di perusahaan tempat Donghae, Sungmin dan kakakku Shindong bekerja. Dan secara tidak langsung pun, aku memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengannya. Tapi untunglah aku kembali berhasil menyembuhkan hatiku yang sempat terluka karena kedatangannya sebulan yang lalu. Aku mulai bisa bersikap biasa saat harus bertemu dan berhadapan dengannya, walaupun masih ada sisa-sisa sedikit kecanggungan kami. Hyukjae kini juga tidak lagi tinggal bersama Donghae. Ia tinggal di Apartemen yang sama dengan Donghae, mereka berada di lantai yang sama, akan tetapi hanya berbeda 5 kamar dari kamar Donghae.

Pagi ini, seperti biasa, aku datang ke apartemen Donghae untuk mengurus semua keperluannya. Namun, betapa terkejutnya aku saat kubuka pintu apartemennya, kulihat Hyukjae sedang berada didapur Donghae.

“Oh.. Annyeonghaseo..” katanya yang juga kelihatan terkejut dengan kedatanganku.

“A..Annyeong..” kubalas salam nya dengan agak canggung.

Kini hanya kami berdua yang berada di dapur ini. Suasanapun hening karena kami melanjutkan pekerjaan kami masing-masing, Hyukjae dengan susu ditangannya sambil membaca koran pagi di meja makan, sedangkan aku dengan peralatan-peralatan dapurku untuk membuat sarapan bagi kami berdua, eh bertiga kurasa dan Donghae yang belum bangun dari tidurnya.

Baru saja aku hendak mengoleskan selai ke roti, kudengar sebuah suara mengajakku berbicara.

“Aku senang kau baik-baik saja.” Aku menghentikan sejenak kegiatanku. Kutatap sebentar dirinya yang tidak mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari koran didepannya. Ia tetap tenang, seperti yang kukenal sebelumnya. Aku tidak mampu membalas omongannya dan kembali melanjutkan kegiatan ku membuat sarapan.

“Mianhe..” kini hanya itu yang kudengar darinya. Kusadari kini ia menatap kearah ku. Dapat kulihat dari ekor mataku bahwa kini ia tertunduk dan sedikit meneteskan air mata.

“Mianhe.. jeongmal mianhe, karena aku telah menjadi orang paling bodoh didunia ini.” Aku tidak mengerti apa yang Hyukjae ucapkan. Kudengar suaranya sesengukkan karena menahan tangis. Ya, Hyukjae merupakan pria yang tidak mudah menyembunyikan perasaannya. Ia tidak berbeda jauh dengan Donghae. Mereka berdua merupakan namja yang sangat sensitif dan sangat mudah menangis.

“Hyuk, aku..” belum sempat aku berbicara, kudengar pintu kamar Donghae terbuka. Dengan refleks, aku segera melanjutkan pekerjaanku membuatkan sarapan dan susu untuk Donghae. Hyukjae pun terlihat dengan secepat kilat menghapus sisa air matanya yang masih menetes di pipinya.

“Pagii oppa..” ucapku berpura-pura ceria. Aku tidak ingin Donghae menyadari dan tahu apa yang terjadi barusan. Kulihat ia tersenyum dan menghampiriku, mengecup keningku sekilas seperti yang selalu ia lakukan biasanya.

…..

Aku sedang berkutat dengan semua pekerjaan di depan laptopku saat dering handphone ku membuyarkan konsentrasi ku untuk sementara. Kubaca nama yang tertera di layar ponsel ku. ‘HYUKJAE’ aku tertegun sebentar membaca nama itu. Dari mana ia mendapat nomorku? Dan untuk apa ia menghubungiku? Aku terdiam sejenak. Memikirkan apakah aku harus mengangkat teleponnya atau tidak.

“Yeoboseo..” Akhirnya ku putuskan untuk mengangkat telepon darinya.

“Kyuri, apa aku mengganggu?”  sapa Hyukjae di seberang.

Aku menggeleng pelan. namun selanjutnya aku tahu bahwa Hyukjae tidak akan melihat gelengan kepalaku.

“Aniyo.. ada apa Hyuk??”  kudengar desahan nafasnya diujung telepon ini.

“Mm.. bisakah kita bertemu sebentar saat jam makan siang?? Ada yang ingin aku bicarakan padamu.”

Aku terdiam sesaat. Aku tidak tahu apakah aku harus menyetujui permintaannya atau menolaknya. Disatu sisi, aku ingin sekali pergi menjauh dari dirinya dan menghapus semua tentang dirinya. Tapi disisi lain, aku juga harus tahu alasannya saat ia mengacuhkan dan memutuskan aku dahulu.

“Mian Hyuk.. aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Lagian siang ini aku sudah ada janji dengan Donghae akan makan siang bersama.” Aku berusaha menolaknya secara halus. Kini kudengar lagi suara hembusan nafasnya diseberang sana.

“Tapi Kyuri.. Jebal, aku sudah meminta ijin pada Donghae bahwa aku akan menemuimu siang ini. Dan Donghae mengerti. Ia memperbolehkan aku untuk bertemu denganmu.” Gini giliran aku yang menghela nafas berat. Dengan sangat terpaksa, ku iyakan permintaannya kali ini. Kupikir tak ada salahnya juga kalau aku meminta penjelasan darinya.

“Kita bertemu di Kafe biasa, tempat kita sering bertemu dulu jam 1 siang.” Kataku dengan singkat dan jelas. Ponsel pun segera kututup. Kini beribu-ribu pertanyaan merasuk didalam pikiranku tanpa bisa bisa kukontrol. Aku hanya bisa menhela nafas berat dan menyenderkan badanku ke kursi kerja yang aku duduki saat ini.

-TO BE CONTINUE-

4 thoughts on “LOVE BIRTH (part 2)

  1. Ya bersambung lg
    aku sampe gk nyadar pas bc FF ini dr awal eh tau2 dah abis lagi,,abis lagi…
    Hya….
    Lanjoot admin

  2. Aku koq merasa kalau alurnya terlalu cepat ya. Tapi gpp deCh yg penting ceritanya menarik, gaya bahasanya juga ok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s