THE GIRL IS MINE



Hari ini adalah pengumuman hasil kuis yang diadakan di kelasku minggu lalu. Aku benar-benar sangat antusias ingin segera mengetahui berapa nilai ku.

“Yak!! Jung Hae Mi.. darimana saja sih kau? Lelet sekali!” seru seorang namja yang kini tengah berdiri di depan kelasku. Ku lihat tatapannya benar-benar tidak mengenakkan.

“Bukan urusanmu!” Kujawab namja itu dengan ketus. Ku tinggalkan ia untuk masuk ke kelas dan segera mengambil posisi duduk di deretan paling belakang. Namja yang mengajakku berbicara tadi pun juga telah mengambil posisi tempat duduk disebelahku.

“Ya Haemi, menurutmu siapa kali ini yang akan menang? Aku atau si pria cina aneh itu?”

Huft.. dia mulai bertingkah lagi! seperti biasa, setiap hari aku harus selalu bersabar mendengar setiap ocehannya dan sikap sombongnya yang agak kelewatan itu.

“Mana aku tahu! Aku bukan dosen yang memutuskan berapa nilaimu!” Ku jawab pertanyaannya dengan seadanya. Bosan sekali aku mendengar kicauannya yang begitu cerewet.

“Haish! Jung Haemi, sudah cepat jawab saja!!” kini ia mulai merajuk. Suaranya yang benar2 besar membuatku terganggu.

“YAK!!!!! KIM HEECHUL!! Kau ini…” belum selesai aku melanjutkan omelanku, Dosen kami sudah keburu masuk kedalam kelas.

***

            Namaku Jung Haemi. Kini aku terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah Universitas terkenal di Seoul. Tepatnya di Inha University. Aku memiliki seorang sahabat baik. Kau tahu? Dia adalah namja yang sangat menyebalkan. Ya, dia bernama Kim Heechul.

Kami sama-sama terdaftar di jurusan Sastra Inggris. Aku sudah sangat lama bersahabat dengannya, tepatnya saat kami duduk di bangku kelas 4 SD. Heechul termasuk murid yang sangat cerdas. Selain cerdas, ia juga sangat popular. Entah apa yang membuatnya begitu terkenal dikalangan para Mahasiswa. Harus kuakui, Heechul memang lebih cerdas dibandingkan aku. Tidak hanya cerdas di bidang akademik saja, namun ia juga cerdas di bidang non akademik.

Walaupun ia termasuk murid yang cerdas, Heechul merupakan pria yang sombong. Hal ini terutama ditunjukkan oleh mahasiswa yang selevel dengannya. Terkadang, sifatnya inilah yang membuatku selalu kewalahan mendengarkan ocehannya setiap hari.

***

            “Oke.. baiklah, saya akan membagikan hasil kuis kalian semua minggu lalu.” Kata Lee sosaengnim begitu kulihat ia mengeluarkan beberapa kertas hasil ujian kami.

“Oke.. this is it!” terdengar Heechul berbisik. Dan kulihat seringaiannya yang sangat menyeramkan itu. Terlihat PD sekali dia.

“Baiklah, yang dapat nilai tertinggi di kelas ini ada dua orang. Mereka sama-sama dapat nilai A. Tetapi untuk nilai angka, jumlah mereka pun sangat tipis. Hanya 0,2.” Kata Dosenku.

Tanpa dosenku beritahu pun, aku juga sudah tahu siapa mereka. Kutolehkan kepalaku menatap Heechul yang kini duduk disampingku. Kulihat ia tengah menatap tajam seorang namja yang duduk di diagonal kanannya. Namja yang merupakan saingan terberat Heechul selama ia kuliah disini. Sama-sama cerdas, berprestasi, dan popular.

“Dan Mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi pertama adalah..” kata dosen ku yang membuyarkan lamunanku selama beberapa saat tadi.

“Hankyung dengan nilai 9,8 dan yang tertinggi kedua adalah Heechul dengan nilai 9,6” jelas dosenku mengakhiri kata2nya.

“Mwo?? 9,8?? Haish..!! Sial!! Kenapa aku bisa kalah?!” Kudengar ia memaki dirinya sendiri. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.

“Chukkae Heenim-ah” kuucapkan selamat padanya. Namun, bukannya mengucapkan terima kasih, Heechul justru memukul lengan kananku dan melotot padaku.

“Yak!! Haemi, aku ini kalah!! Kenapa kau malah mengucapkan selamat? Kau mau meledekku hah??”

“Haish.. Aku bukan mau meledek mu! Aku kan hanya mengucapkan selamat. Kalau aku jadi kau, aku sangat bersyukur sekali mendapatkan nilai sebagus itu! Kau tahu, sangat sulit mendapat nilai setinggi hasilmu. Jadi santai lah sedikit dan terima saja berapapun nilaimu.” Aku menasehatinya. Namun sepertinya percuma, karena saat ini kulihat wajahnya menatap Hankyung sangat tajam. Sedangkan Hankyung yang ditatap seperti itu hanya mengeluarkan jurus andalannya, yaitu tersenyum manis.

Kuakui Hankyung dan Heechul memang sama-sama pintar dan cerdas. Akan tetapi untuk urusan kepribadian, mereka sangat-sangat berbeda 180 derajat. Hankyung yang begitu tenang dan kalem serta ramah sangat bertolak belakang dengan Heechul yang begitu meledak-ledak dan sangat ceplas ceplos.

“Ya!! Hankyung, ingat kali ini memang kau yang menang!! Tapi lain kali, jangan harap itu akan terjadi lagi! Arraseo?!?!?” ancam Heechul.

Sebelum pulang, kulihat Heechul tadi menghampiri Hankyung. Kurasa ia sedang memberikan peringatan keras padanya. Terlihat sekali dari wajahnya yang sangat masam.

“Baiklah.. selamat berjuang yaa..” jawab Hankyung sambil tersenyum penuh wibawa.

“Haish.. kau ini!! Awas kau…” belum sempat Heechul menyerang Hankyung, aku terpaksa harus menarik dirinya menjauh agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hal seperti ini sudah biasa aku temui. Aku tidak akan kaget jika Heecul bertindak seperti tadi jika merasa kalah.

“Sudah ah!! Kau ini! Kenapa kau tidak bisa bersikap sportif sih?! Bikin malu saja bisanya” kumarahi ia yang kini berdiri di hadapanku.

“Sudahlah Haemi. Gwaenchana.. bagaimana kalau kita pulang bersama?” suara lembutnya menghentikanku. Dan apa aku tidak salah dengar tadi?? Hankyung mengajakku pulang bersama?? Baru saja hendak kujawab, tiba2 Heechul sudah berdiri didepanku. Menghalangi aku agar dapat melihat Hankyung.

“Apa-apaan kau? Jangan macam-macam yaa!!Haemi itu sahabatku! Jangan coba-coba merebutnya dariku!! Arraseo?!?! Kajja Haemi, kita pulang!!” aku pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Belum juga aku berbicara lagi, ia dengan kasar sudah menarikku segera keluar kelas. Heechul memang tidak pernah mengijinkan aku berbicara sedikitpun dengan Hankyung.

“Eh.. tunggu.. tunggu.. Ah, Hankyung Mianhe..aku duluan yaa”

Aku sering sekali merasa tidak enak dengan Hnakyung atas semua sikap Heechul. Aku terkadang merasa kasihan melihat Hankyung sering ditindas oleh Heechul.

Sepanjang perjalanan pulang, ternyata mulut Heechul tidak berhenti sama sekali. Aku sebagai sahabatnya sendiripun heran darimana ia mendapat energy sebanyak itu untuk ngomel-ngomel tidak jelas.

“Haish.. dasar bocah Cina sialan!! Satu saat nanti, aku pasti akan tahu apa kelemahannya.” Sahut Heechul membuyarkan lamunanku.

“Huh, kau ini! Harusnya kau bersyukur mendapat nilai segitu. Aku saja yang mendapat nilai 78 saja tetap bersyukur.” Heechul memang begitu. Jika ia kalah bersaing, ia akan terus menerus berceramah hingga benar-benar puas.

“Jelas saja kau bersyukur! Otakku kan tidak bodoh seperti mu. Otak mu itu kan terlalu lemah.” Jawab Heechul sambil memukul pelan kepalaku. Heechul memang terkenal memiliki mulut yang sangat tajam. Sikapnya yang sangat ceplas ceplos terkadang membuatku takut ia akan terlibat suatu masalah dengan orangn yang mungkin saja merasa sakit hati dengan semua perkataannya. Aku sendiri sih saat ini sudah sangat kebal. Apapun yang ia katakana hanya ku anggap angin lalu.

“Kau ini!! Berhentilah menghinaku. Aku tahu kau memang lebih pintar dariku, setidaknya gunakanlah kecerdasanmu untuk untuk membantuku.” Kataku pura2 marah sambil mengerucutkan bibirku kedepan.

“Eh.. tapi kurasa Hankyung tidak memiliki kelemahan deh.” Lanjutku. Yang tanpa kusadari, kini Heechul menatapku tajam.

“Ya!! Haemi, kau itu temanku bukan sih? Kenapa daritadi kau selalu membicarakannya??” wajahnya kini benar-benar sangat galak.

“Haish, bukan begitu. Aku kan hanya menerka-nerka saja. Kau ini kenapa si daritadi ngomel terus?? Kau mau keriput di wajahmu itu keluar sebelum waktunya??” kataku tak kalah pedas. Ku keluarkan senyum evil ku kearah Heechul. Aku tahu, Heechul adalah orang yang sangat mementingkan penampilan. ia sangat tidak ingin, atau bahkan tidak bisa menerima kenyataan ia bertambah tua.

“Mianhe.. Tapi aku benar2 tidak bisa terima kalau dia yang menang. Harusnya nilaiku yang lebih tinggi. Atau minimal aku bisa menyamakannya.”

“Heechulie, kau itu memang tidak bisa akrab ya dengan Hankyung? Sifat kalian memang benar-benar berbeda.” Aku berpikir sejenak. Apakah mungkin Heechul dan Hankyung bisa berteman dekat? Perbedaan sifat mereka benar-benar sangat jauh, atau terlampau jauh malah.

“Tapi Hankyung keren yaa.. dia tidak seperti namja kebanyakan.”

“Jung Haemi, kau ini masih temanku kan?? Kita masih bersahabatkan?” Aku terang saja kaget. Dengan gerak cepat, Heechul tiba2 menarik tanganku dan menghadapkan aku kearahnya.

“Katakan Padaku, kau akan tetap menjadi sahabatku kan??” kulihat kini raut wajahnya terlihat serius. Melihat tingkahnya membuatku semakin ingin mengusilinya. Aku pun tersenyum misterius.

“Hmm.. aku tidak janji yaaa.. tapi, aku rasa sudah saatnya aku memilih teman baru seperti Hankyung.”

“Mwo?! ANDWAE!!” aku berhasil. Aku berhasil membuat Heechul panik. Aku senang sekali meledeknya. Ekspresi seorang Kim Heechul menjadi sangat bodoh saat ini.

Aku pun berlari meninggalkan dia yang masih diam berdiri di tengah jalan.

“Kim Heechul…” panggil ku padanya. Jarak kami kini cukup jauh. Aku harus sedikit berteriak untuk memanggilnya. Dan kulihat Heechul melihat tajam kearahku.

“Tapi kurasa kau juga sangat keren koq.” Kuucapkan kata-kata itu sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mata untuknya. Tanpa membuang-buang waktu, aku segera berlari meninggalkannya yang kini berteriak memanggil namaku.

“YAK!!! Jung Hae Mi kembali kau..” dapat kulihat kini senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.

***

Hari ini, kampus ku mengadakan acara pekan olah raga, dimana seluruh mahasiswa diwajibkan untuk ikut terlibat dan berpartisipasi dalam acara tersebut. Banyak sekali bermacam-macam jenis olahraga yang diikutsertakan dalam acara ini. Aku dan Heechul sendiri sudah terdaftar untuk olahraga lari 100M dan renang.

“Heenim, Hwaiting!!!” kataku memberi semangat pada Heechul. Kukepalkan kedua tanganku dan kuangkat keatas agar Heechul dapat melihatnya.

“Ne.. Gomawo.” Balasnya yang kini sedang bersiap-siap mengambil posisi.

Untuk urusan lari, Heechul juga sangat ahli. Ia bisa berlari dengan sangat cepat. Oleh karena itu banyak yang memanggilnya dengan sebutan Simba. selain karena larinya yang cepat, dia juga terkenal galak.

“Haemi-ya, selanjutnya giliran Heechul dan Hankyung tuh. Kau mendukung siapa?” sapa teman-temanku membuyarkan lamunanku.

“Eh, Hankyung?” aku mendadak seperti tersadar sesuatu. Secara reflex aku segera memandang ke arah lapangan. Dan disaat bersamaan, kulihat Hankyung juga tengah bersiap-siap mengambil posisi tepat di samping Heechul. Aku benar-benar lupa, bahkan tidak sadar bahwa Hankyung juga ikut dalam pertandingan ini.

“YAK! Haemi, kau mendukung siapa?? Heechul atau Hankyung??” untuk kesekian kalinya temanku yang lain berhasil menyadarkanku dari lamunanku.

“Ah.. iya, itu.. aku mendukung H…” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, temanku yang lain memotong dengan seenaknya.

“Jelas saja dia pilih Heechul. Heechul kan Namjachingu Haemi.”

“Mwo!? Ani… kau salah. Dia bukan namjachingu ku.” ku sangkal cepat pernyataannya.

Priiiiitttt….!!! Disaat bersamaan, kudengar peluit tanda pertandingan dimulai berbunyi. Aku segera mengarahkan pandanganku ke lapangan. Atau lebih tepatnya kea rah dua orang namja yang tidak pernah akur tersebut. Mereka saling susul menyusul. Keduanya sama-sama cepatnya. Namun, entah mengapa kulihat Hankyung tidak seperti biasanya. Didetik-detik terakhir mencapai finish, kulihat Heechul benar-benar melangkahkan kakinya besar-besar, sangat cepat. Hingga akhirnya mereka sampai di garis finish.

“Heechul 10,5 detik dan Hankyung 10,8 detik.” Teriak juri yang memimpin pertandingan tersebut. Kulihat wajah Heechul bersinar mendengar kabar tersebut.

“Mwo?! Aku menang?!Yeaahhhh!!!!!” aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

“Chukkae Heechulie..” kuhampiri dirinya sambil memberikan sebotol minuman untuknya. Selesai minum, Heechul langsung melirik dan menatap kearah Hankyung yang berdiri tidak jauh darinya.

“Huh.. pertandingannya tidak seru yaa! Lawanku lembek sekali sih. Ck..” katanya setengah berteriak menyindir Hankyung. Haishh! Anak ini ternyata berulah lagi.

“YAK!! Kau itu makin ngelunjak aja sih!! Padahal selisih kalian kan juga sedikit.” Kudaratkan pukulan ku diatas kepalanya.

“Aaawww.. Haemi, kau mau aku menjadi idiot sepertimu?!?!” balasnya memarahiku sambil masih tetap mengusap-ngusap kepalanya yang terkena pukulanku tadi.

“Siapa suruh kau berbuat seperti itu?? Babo!! Kalau menang menghina, giliran kalah kau malah marah-marah tidak jelas ke semua orang! Dasar namja aneh.” Kataku membuatnya skakmat!

“Haish.. kau ini. Ya sudah, Kajja kita pergi dari sini.” Heechul menarik tanganku, membawaku meninggalkan tempat ini.

Sementara itu, saat melewati Hankyung, secara tidak sengaja aku melihat Hankyung yang sedang menatap tajam kearah kami berdua. Aku sempat terkejut dengan tatapan tajam Hankyung. Seperti tatapan orang yang penuh dengan kebencian. Cukup lama kami saling menatap satu sama lain, sampai akhirnya Hankyung membuang wajahnya mengacuhkanku.

Ada apa sebenarnya? Kenapa tatapan Hankyung seperti itu? Apa karena aku sering main dan sangat dekat dengan Heechul, dia juga menganggapku musuhnya? Jangan-jangan dia benci padaku. Aku berusaha menerka-nerka apa yang terjadi. Bagiku, inilah pertama kalinya aku melihat wajah Hankyung penuh emosi seperti tadi.

***

Badanku rasanya berat sekali. Aku merasa rumahku seperti berpuluh-puluh km jaraknya saat aku berjalan seperti ini.

“Haemi, kenapa kau? Seperti nenek-nenek saja! Bersemangatlah!! Jangan seperti orang jompo begini!” kudengar Heechul mengejekku. Entah kenapa, begitu turun dari bis tadi, badanku rasanya sakit semua. Rasanya ingin sekali cepat-cepat menjatuhkan tubuhku di kasurku yang empuk. Seperti biasa, kali ini aku pulang bersama dengan Heechul seperti biasanya. Karena rumah kami memang hanya berjarak beberapa rumah saja.

“Haish.. aku capek!! Ngerti gak sih!? Daripada kau terus cerewet seperti itu, lebih baik gendong aku!” kataku merajuk sambil mengangkat kedua tanganku seperti minta di gendong. Heechul menatapku aneh. Aku benar-benar tidak suka jika ia sudah mengeluarkan evil smirk nya dihadapanku.

“Ish.. kau itu sudah tua! Tidak pantas minta gendong seperti itu! Lagian lihat badanmu.. pria manapun tidak akan mau menggendong badanmu yang berat itu!” katanya cukup berlebihan.

“YA!! Kim Heechul.. chankaman!!! Kau itu pelit sekali sih?!?” aku berusaha mengejarnya. Namun ia tidak memperdulikanku

“Haish..!! Heechul, kau ini dasar sombong!! Kenapa sih kau tidak baik seperti Hankyung?! Cobalah bersikap manis seperti Hankyung!! Dasar Babo!!” mendengar kata-kataku barusan, Heechul menghentikan langkahnya. Kini ia berbalik dan menatapku sangat tajam.

“Apa maksudmu berkata seperti itu?” Uppss.. mendadak aku tersadar! Aku tersadar bahwa Heechul sangat membenci jika ia disbanding-bandingkan dengan orang lain. Dan bodohnya aku, baru saja aku membanding-bandingkannya dengan Hankyung. Pria yang notabene sangat dibencinya.

“Heechul, mianhe.. aku..” baru saja aku mau menjelaskan, Heechul sudah berteriak marah didepan wajahku.

“Waeyo?? Kalau kau merasa Hankyung lebih baik dariku, untuk apa kau bersahabat denganku?” aku benar-benar tidak menyangka reaksinya terhadap kata-kataku tadi sangat keras. Kini aku yang gelagapan sendiri. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Heechul cukup sulit untuk di “jinakkan” jika sedang marah seperti sekarang ini.

“Mianhe.. aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu.. Jebal.. Mianhe..”

Heechul tidak bergeming. Ia bahkan tidak mendengarkan atau menanggapi permintaan maafku. Matanya masih menatapku dengan sangat tajam.

“Untuk apa saat ini kau berteman denganku? Dengar Haemi, ini sudah yang kesekian kalinya kau membicarakan manusia itu didepanku, dan juga sudah kesekian kalinya kau membela dan membanggakan dia di depanku, sahabatmu sendiri! Kau suka padanya?? Iya?? Sana pergilah!!! Untuk apa kau berteman denganku?!??” raut wajahnya benar-benar menunjukkan kemarahan dan juga kekecewaan yang besar.

Kuakui, memang aku sering membicarakan Hankyung didepannya dan selalu membela nya dari serangan Heechul. Tapi itu kulakukan karena aku tidak ingin Heechul jadi besar kepala karena kemampuannya. Aku benar-benar tersudut dengan kata-kata Heechul barusan.

“Heechul, dengar!! Jujur, aku tidak tahu apa yang membuatmu marah-marah seperti ini. Tapi kalau kau seperti ini terus, aku juga capek!! Jadi sekarang terserah kau mau bilang apa tentang aku!!”

“Oke, Arraseo!! Silakan kau mau berteman atau berpacaran dengannya. Anggap saja sekarang aku musuhmu! PUAS?!?!?!?” selesai berteriak, Heechul meninggalkanku yang masih terdiam dengan kata-katanya. Kini ketakutan mendera diriku. Aku takut kalau persahabatanku dengan Heechul berakhir hanya karena masalah sepele seperti ini.

Wajahku memanas. Kurasakan air mataku hampir saja terjatuh dan dilihat banyak orang kalau saja aku tidak segera berlari dari tempat itu. Untung saja rumahku sudah tidak jauh dari tempat kami bertengkar tadi.

Di rumah, aku sama sekali tidak bisa tertidur. Aku masih memikirkan pertengkaranku dengan Heechul tadi. Aku tahu aku salah. Sebagai sahabat, terkadang aku jarang membelanya. Tapi apa iya aku harus membelanya jika ia bersalah? Aku jadi kesal sendiri jika terus mengingat hal tersebut.

“HEECHUL BABO…!!!!” aku berteriak di dalam kamar. Dan karena sudah terlalu lelah, aku tertidur pulas.

***

Ini sudah seminggu sejak pertengkaranku dengan Heechul malam itu. Kami berdua sama sekali tidak saling berbicara satu sama lain. teman-teman kampus ku pun banyak sekali yang bertanya ada apa antara aku dan Heechul. Tentu saja mereka heran, karena biasanya kami selalu bersama. Tak terpisahkan. Bahkan nama “HeeMi” couple pun sudah melekat pada kami berdua.

“Jadi kalian bertengkar hanya karena itu?” Tanya salah satu temanku saat aku menceritakan masalah yang sebenarnya.

“Tapi kurasa Heechul bukan marah Haemi-ya.. ku rasa Heechul itu cemburu. Dia kan cinta padamu.” Kata teman ku yang lain menegaskan.

“Mwo?! Ka.. kalian bercanda kan?” aku jelas terkejut mendengarnya. Kontan saja wajahku memerah.

“Haish.. dasar Babo! Untuk apa aku berbohong. Masa kau tidak tahu? Haemi-ya, coba deh kau lihat, selama kau dekat dengan Hankyung, Heechul terlihat lebih pendiam. Dia juga tidak banyak bertingkah seperti biasanya. Dia tidak pernah bertengkar dengan Hankyung lagi kan?” temanku menjelaskan panjang lebar, seolah-olah itu adalah bukti yang harus kuketahui.

Memang, selama aku bertengkar dengan Heechul, aku jadi dekat dengan Hankyung. Heechul pun juga mendadak menjadi pendiam. Tak jarang saat aku sedang berbicara dengan Hankyung, kudapati wajah Heechul terlihat murung dan sedih menatap kami. Dan yang lebih mengherankan, Heechul sama sekali tidak pernah mencari masalah dengan Hankyung. Bisa dikatakan, inilah rekor terbaik dari seorang Kim Heechul.

“Haemi, kenapa melamun?” suara temanku menyadarkan kudari lamunanku barusan.

“Ah.. ani.” Aku tersenyum tipis menanggapi.

“Haemi-ya, lusa kan kita akan study tour. Nah, saat itu berbaikanlah dengannya.” Suruh temanku padaku. Tentu saja aku mau. Aku bahkan tidak tahan bertengkar dengan lama-lama. Aku kangen dengan Kim Heechul ku. Aku rindu sifat riangnnya, sikap anehnya, sikap cerewetnya, omelan-omelannya, bahkan aku rindu semua tentangnya.

Saat aku sedang asik berpikir, secara tak sengaja pandanganku tertuju pada Hankyung. Kami saling menatap satu sama lain sampai akhirnya ia tersenyum penuh arti padaku.

***

Hari study tour tiba. Hari ini, aku berangkat sendiri seperti hari-hari sebelumnya. Selama aku bermusuhan dengan Heechul, aku jadi terbiasa untuk berangkat Ke kampus sendirian.

Hari ini, Universitas ku mengadakan Study tour ke Kedutaan Besar Inggris untuk Korea Selatan. Kami pergi kesana untuk mengenal dan mengetahui serta mempelajari jenis-jenis kebudayaan Negara Inggris serta melatih kami untuk bercakap-cakap dengan Bahasa Inggris sesuai dengan jurusan kami.

Aku sedang asik mendengarkan ucapan-ucapan pemandu yang memandu kami selama disana. Namun, aku merasa ada sebuah tangan yang merangkul pundakku.

“Ha.. Hankyung?” Kataku saat melihat siapa yang berbuat seperti itu. Hankyung hanya tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba jantungku menjadi tidak karuan saat menerima perlakuannya seperti ini.

“Hankyung!! Ya!! Kau ini apa-apaan sih?! Aku malu. Cepat lepaskan!!” Aku mencoba berontak dan berusaha melepaskan tangannya dari pundakku. Jantungku sama sekali tidak berhenti berdetak sedari tadi saat berada sedekat ini dengan dirinya.

“Tolong biarkan aku seperti ini sebentar saja” Ia berbisik di telingaku. Omo.. ada apa ini? Kenapa jantungku makin tidak karuan seperti ini? Pasti saat ini wajahku sudah sangat memerah.

Dengan terpaksa, akhirnya aku membiarkan Hankyung tetap merangkul diriku. Aku sadar mungkin sebentar lagi aku akan jadi pusat perhatian teman-teman sekelasku.

“Haemi-ya.. Kau dan Hankyung berpacaran ya??” sahut salah satu temanku tiba-tiba sambil menunjuk kearah kami berdua. Kontan saja, aku reflex melepaskan diri dari Hankyung.

“Aniyo.. itu tidak benar! Kami tidak berpacaran kok. Sungguh..” kataku mati-matian menyangkal.

Gara-gara ulah temanku barusan, aku pun mau tidak mau mendapat teguran dari pemandu kami. Untung saja aku segera meminta maaf dan membiarkannya melanjutkan penjelasannya yang sempat terganggu tadi.

Begitu kami hendak melanjutkan perjalanan keruangan selanjutnya, secara tidak sengaja pandangan mataku mengarah pada Heechul. Pandangannya padaku begitu dingin, seolah-olah sedang melihat orang yang begitu dibencinya. Lumayan lama kami saling menatap satu sama lain, sampai akhirnya ia membuang wajahnya terlebih dahulu.

Ada rasa sakit dan perih yang aku rasakan saat melihat sikap dan tingkah Heechul seperti tadi. Apakah Heechul sudah benar-benar membenciku? Apakah ia sudah tidak mau memaafkan aku?

“Babo!! Kau benar-benar Babo Haemi!!” kataku pelan pada diri sendiri. Aku benar-benar rindu padamu Heenim.. aku berkata dalam hati, berharap Heechul mendengar dan merasakan suaraku.

Saat ini, kami semua sedang menikmati acara bebas kami. Jika yang lainnya banyak yang bersenang-senang, bahkan ada yang mengabadikan momen mereka dengan kamera, berbeda dengan aku yang hanya duduk kursi taman yang berada di dalam halaman kedutaan tersebut. Huffh.. kalau saja aku tidak sedang bertengkar dengan Heechul, saat ini pasti kami sedang melakukan hal-hal gila kami bersama-sama.

“Gadis cantik tidak boleh melamun!” seru seorang namja yang duduk disebelahku. Kutolehkan kepala dan melihat pria di sampingku itu. Namun, pria itu malah tersenyum tetap memandang kearah depan.

“Hankyung.. sedang apa disini?” Tanyaku padanya.

“Aku sedang menemani seorang gadis yang sedari tadi melamun seperti orang stress yang tidak punya tujuan hidup.” Jawabnya yang sukses membuatku tertawa.

“Ya!!! Kau pikir aku seperti itu?! Hahaha..” kupukul pelan lengannya. Tak lama, kesunyianpun menyergapi diri kami berdua.

“Kau masih memikirkan Heechul ya?” Tanya Hankyung tiba-tiba. Mendengar nama Heechul, sontak aku langsung menoleh kearah Hankyung. Seperti sudah mengetahui jawabannya, Hankyung langsung menarik tanganku dan mengajakku kesuatu tempat.

Aku baru saja mau protes dan bertanya akan kemana, namun aku keburu menyadari ketika Hankyung sudah membawaku ke tempat dimana Heecuhl berada.

“Eh.. eh Hankyung apa-apaan ini? Ani.. aku tidak mau!!” belum sempat aku selesai berbicara dan menarik diri darinya, tiba-tiba.. BRUUKKK!!! Ku dengar suara orang bertabrakan.

Dan benar saja, tanpa bisa dicegah, Hankyung ternyata sengaja menabrakkan dirinya ke Kim Heechul yang sedang asik mengabadikan beberapa karya seni disana.

“Aigooo… habislah sudah..” kataku pasrah. Sepertinya perang dunia akan terjadi lagi.

“YAK!! Kau ini apa-apaan sih?” kudengar Heechul berteriak pada Hankyung. Pria usil itu pun hanya tersenyum simpul.

“Mianhe, aku tidak sengaja. Tidak lihat kalau ada orang sih.” Dapat kulihat dengan jelas senyum evil Hankyung mengembang diwajahnya. Sial, ternyata ia sedang membuat Heechul panas!

“Eh.. Mmm.. Hankyung, sud..” belum selesai berbicara, kudengar Heechul telah berkata

“Oh begitu..”

Aku tertegun dengan reaksi Heechul. Tidak biasanya Heechul mengalah seperti ini. Dan tidak biasanya pula ia menerima begitu saja permintaan maaf dari orang lain, apalagi dari seorang Hankyung. Ada apa dengan Heechul? Kemana Heenim ku yang meledak-ledak? T_T

“Waeyo, kok tidak membalasku?” Hankyung mulai lagi.

“Ya!! Hankyung, sudahlah!!” aku berusaha menarik dirinya untuk menjauh dari Heechul agar tidak terjadi pertengkaran diantara mereka. Namun, ternyata Hankyung masih belum menyerah.

“Aku tahu. Kau loyo karena malaikatmu tidak ada disampingmu kan??” aku dan Heechul sama-sama terkejut dengan perkataan Hankyung barusan. Selama beberapa detik, aku dan Heechul saling menatap satu sama lain.

“Apa Maksudmu??” Tanya Heechul tajam. Kini aku terlibat diantara mereka.

“Jung Haemi.. dia baik dan manis sekali. Ku rasa aku suka padanya.” Kata Hankyung langsung menoleh kearahku. Aku yang memang tidak tahu menau masalah mereka, terang saja sangat terkejut. Kini, dua orang namja yang masih bersitegang itu sama-sama menatap diriku. Satu dengan tatapannya yang tajam, dan satu lagi dengan tatapan lembutnya.

“Kau pikir kau siapa Hah??!!” giliran Heechul kini berbicara. Kulihat tatapannya sangat menakutkan. Entah ada angina pa, aku merasakan tangan Heechul menarik diriku kesampingnya. Mengambilku dari Hankyung. Aku tertegun dengan sikapnya. Bukannya dia sedang marah padaku?

“Ingat, walaupun kau selalu unggul dariku di setiap pelajaran, namun masih ada satu hal yang perlu aku menangkan darimu” katanya lagi.

“Mmmm.. Heenim” kuberanikan diriku memanggilnya pelan sambil menarik ujung lengan pakaiannya dan menginterupsi sebentar pertengkarannya dengan Hankyung. Heechul menoleh kearahku. Dan sambil takut-takut, aku mencoba untuk bertanya padanya.

“Jadi… sekarang kita baikan?”

Mendengar pertanyaannku, Heechul langsung memukul pelan kepalaku. Dari sikapnya, sepertinya aku sudah tahu jawabannya.

“Yak!! Bisakah kau diam?! Merusak suasana saja! Lagian aku tidak pernah sanggup marah-marah denganmu terlalu lama.” Kudengar suaranya mulai melunak.

Omoo.. senang sekali aku hari ini! Akhirnya aku bisa bersama Heechul lagi. Entah setan mana yang merasukki diriku, reflek aku langsung memeluk tubuh Heechul dan membuatnya oleng dan nyaris terjatuh.

“Haemi-ya!!! Berhati-hatilah!! Kau ini seperti bocah saja sih!”

Wajah Heechul memerah. Aku sangat senang hari ini. Aku bisa mendengar lagi suaranya, omelan-omelannya, mendengarnya memanggil namaku, bahkan melihat tingkah anehnya. Saking sibuknya Heechul dengan aku, kami berdua sampai tidak menyadari bahwa seseorang masih menunggu didepan kami.

“Jadi, apa yang ingin kau menangkan dariku Kim Heechul?” Tanya Hankyung tetap tenang, namun juga menyimpan rasa tidak suka terhadap kedekatan kami.

“Oh, hampir saja aku lupa kalau masih ada bocah sok pintar ini.” Balas Heechul tak kalah pedasnya. Kurasakan tangan Heechul semakin erat menggenggam tanganku.

“Aku.. sudah lama aku menyukai Haemi. Jadi jangan coba-coba lagi kau dekati dia!! Arraseo?!” aku kaget dengan penyataan Heechul barusan. Sudah sintingkah dia berkata seperti itu?

“Lantas?? Bukankah dalam urusan cinta itu tidak kenal istilah siapa yang duluan?” balas Hankyung tak mau kalah. Aigoo.. bagaimana ini? Mengapa mereka jadi seperti ini?

“Eh.. tunggu.. tunggu!! Kalian berdua ini kenapa si?! Jangan Bercanda ah!” aku maju dan kini berada di antara Hankyung dan Heechul. Heechul kembali menarik tanganku.

“Haemi-ya, kita berdua akan bersama selamanya kan?” belum juga aku sempat menjawab, kurasakan tangan Hankyung membalikkan tubuhku menghadap kearahnya.

“Haemi-ya, aku suka padamu. Kau tentu menerima diriku kan?”

Sial.. aku benar-benar dibuang bingung oleh kedua namja sialan ini.

“Ya!! Haemi, cepat pilih!! Kau suka aku atau si bocah sialan ini?”

“Iya, Haemi cepatlah..  tipe mu itu ada dalam diriku atau si manusia tidak jelas ini?”

Aigoo.. Na Ottokhae? Aku bahkan tidak tahu siapa yang sebenarnya kusukai. Kuakui, jika aku berada didekat Hankyung, jantungku selalu berdetak cepat. Selain itu juga Hankyung selalu mampu membuatku nyaman berada didekatnya. Sedangkan Heechul, kuakui aku menyayanginya. Dialah sahabatku satu-satunya. Dia selalu mampu membuatku bahagia dan aman jika didekatnya. Berbagai macam pikiran kini berputar-putar diotakku. Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan sesuatu.

“Baiklah…” kataku pada akhirnya.

“Ottokhae??” kata Hankyung dan Heechul berbarengan.

Ku pasang sejenak senyum evil diwajahku sebelum akhirnya berkata

“Aku.. akan memacari kalian berdua!!” sudah kuduga, kini wajah kedua namja itu kelihatan sangat terkejut dengan pernyataannku barusan.

“YA!!! Haemi, mana bisa begitu? Kau pikir itu aturan darimana hah?” protes Heechul.

“Ne.. kau tidak sedang bercanda kan?” Tanya Hankyung. Dengan mantap, aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum lebar berusaha meyakinkan mereka bahwa aku memang tidak gila.

“Wae?? Zaman sekarang punya pacar dua tidak aneh kan? Ya sudah, Kajja Jagi 1 dan Jagi 2, ayo kita pulang!” aku menggandeng mereka berdua. Heechul di sebelah kananku, dan Hankyung disebelah kiriku. Akupun hanya mampu mengeluarkan senyum evilku.

“YAK!! Jung Haemi.. Haishh.. kau ini!!” seru Heechul pasrah.

“Kau benar-benar gila, Haemi-ya” kata Hankyung kemudian.

Aku tidak peduli lagi siapa sebenarnya yang ada didalam hatiku saat ini. Ternyata ada hal lain yang harus aku lakukan. Yakni, mengakrabkan mereka berdua ; Heechul dan Hankyung. Semoga saja dengan cara unikku ini mereka menjadi akur. Toh, bukankah menyenangkan juga jika kita sebagai yeoja memiliki dua orang namja sekaligus? ^_^

22 thoughts on “THE GIRL IS MINE

  1. Yah admin bandel ya
    masa punya pacar 2,,haha bagi satu dong,,,bagi2 yg msh jomblo haha
    *narik2 ujung baju admin.
    FFnya bagus admin,,tp kok yg baca blom ada ya,,mungkin krna adminnya pd sibuk krja kali ya jd pemasarannya kurang jd pd gak tau deh
    HaHaHa…
    Aku suuuuuuuuuuuuuuuuukaaaaaaaaaaaa
    sungguh deh
    gumawo… bow

  2. dasar haemi cari kesempatan aja tapi kalau jadi haemi aku lebih mlh ma heechul aja walau oppa kadang kasar tapi aku suka imej bad boy heechul oppa terkesan unik gmn gt he

  3. GOKILLLLLLLLLLLLLL ABIS,,,,,,,, MAU POLIANDRI YA???????/ HEHEHE

    HECHUL MANG GA DA MATINYA………. MOODY FOREVER FFFFFFFFFFFFF

  4. Haemiiiiii,
    aku juga mau punya pacar 2, satu donghae dan satunya lagi kyuhyunn,,
    hehehe
    ceritanya lucu,, heechul cemburu ya ampun,, tapi hangeng keep still yah, kerenn

  5. Lucu thor ceritanyaa wkwkw aku juga mau dong direbutin 2 cowo begitu satu hyuk satu hae T___T *miris* demen deh plotnya ga pasaran gini, belom pernah nih nemu di ff cast cewenya milih 2 cowo sekaligus hahaha. Keep writing thor^^

  6. weehh..
    ide critax gokiil..
    enakx jadi Haemi ><
    Tp pas d awal ada bbrapa kata yg bukan kata baku, jd mbacax agak nggak enak..
    jadi, saranku buat author klo nulis d perhatikan ya penggunaan katanya..
    keep writing !😀

  7. Aigoo!!
    2namjachingu?? Authornya nakal…
    Mending buat aku satu.. Hankyung.. *dilirik Kyu* #cengir
    Ketika selesai baca, langsung kepikiran…
    Nanti ketika nikah, jadi kyk maanaa??:/
    Mending buat aku satu yakaann…
    Penyusunannya bener” keren… Kukira lupa dijelaskan klau “setelah bertengkar dgn heenim, tdk dijelaskan berdekatan dgn Hankyung.” Trnyata dijelaskan… Goodjob.. Aku smpe terbawa … Ngerasaa jdi pemerannya…. ;;)

  8. maaf sebelumnya ya thor tapi jujur kata-katanya kurang sreg d’baca…
    soalnya kata baku dan gak bakunya jadi satu…
    ide ceritanya bagus kok…
    so keep writing yaaa thor jangan patah semangat… ^_^

  9. Benar-benar, ibarat kata. Sekali dayung 2 3 pulau terlampaui. Hahaha. Hankyung dan Heenim bisa akur, bonusnya Haemi punya pacar dua. Wkwkwk keren.

    Aku readers baru Chingu, ini ff pertama yg aku baca setelah teaser dirty girl. Salam kenal para author :*

  10. Annyeong q reader bru di sini…

    Gk nyangka hyemi pacarin heechul ama hankyung sekaligus.. Q jg pngn… jd ngiri dh… Hehhee

  11. wkwk heechul koplak banget tingkahnya dia gak mau kalah dari hankyung. dulu mereka bersaing dalam nilai nah sekarang mereka bersaing untuk mendapatkan haemi. tpi emang dasar haeminya aja yehh yg maruk😀 bukannya pilih salah satu eeh ini mah malah diembat semuanya 😀

  12. hahahaha mak heechul selalu suka ngomel2 sendiri
    haemi suka sama kedua cwok itu ck ck ck bisa kriting tu rambut si haemi
    ceritanya bgus dapat bgt feelnya
    apalagi heechul oppa, sifatnya sama bgt kek yg asli
    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s