BEAUTIFUL GOODBYE : MY GUARDIAN ANGEL

Ost this story : F(x) – BEAUTIFUL GOODBYE

***


Kalau seseorang bertanya padaku, apakah seorang malaikat pelindung itu ada, tentunya dengan hati yang mantap aku akan menjawab YA. Walaupun banyak orang yang meragukan keberadaan seorang malaikat pelindung disisinya, namun itu tidak berlaku untukku. Walaupun banyak orang yang tidak bisa melihat secara langsung seperti apa malaikat pelindung mereka, itu juga tidak berlaku untukku.

Bagiku, aku termasuk orang yang sangat beruntung bisa merasakan dan mempunya seorang malaikat pelindung yang selalu siap sedia untuk mendampingi dan menemani bahkan melindungiku disituasi apapun. Aku bahkan sangat beruntung bisa bertemu dengannya, melihat parasnya, melihat senyumnya, merasakan kehadirannya, mengenal dirinya dan bahkan menyayangi dirinya. Walaupun kini ia tidak lagi menampakkan dirinya didepanku, namun aku percaya bahwa disatu tempat yang indah disana, ia tetap akan selalu melihat dan mengawasiku yang masih berada di bumi ini. Aku percaya, bahwa ia juga akan selalu menjagaku walalupun aku tak lagi dapat merasakan kehadirannya. Perpisahanku dengannya bagiku adalah perpisahan terindah yang pernah aku alami sepanjang hidupku.

***

1 TAHUN LALU

TIIINNNN….TIIINNNNN….!!!! Aku mendengar suara klakson mobil yang sangat keras sekali. Aku baru tersadar bahwa sebuah mobil sedang melaju dengan sangat kencang. Padahal saat ini lampu lalu lintas untuk penyebrang jalan sedang menyala berwarna hijau, yang itu artinya sudah waktunya bagi penyebrang untuk menyebrang. Namun kurasa mobil tersebut sedang melaju menerobos lampu merah, Aku tidak dapat berkutik. Sudah terlambat bagiku untuk menghindar.

“Aaaarrrgghhhh….” Aku hanya dapat berteriak menutup kupingku pasrah. Mungkin seperti inilah akhir hidup yang harus aku temui. Namun, hanya dalam waktu beberapa detik sebelum mobil tersebut benar-benar menabrakku, aku merasakan sebuah tangan hangat menarik tangan dan memeluk diriku menghindar dari tabrakan tersebut. Kejadiannya begitu cepat. Aku sama sekali tidak menyadari bahwa saat ini aku sudah berada di trotoar tepi jalan sampai sebuah suara menyapaku.

“Gwaenchanayo?” aku membuka mataku perlahan dan berusaha mengurangi sedikit degup jantungku yang masih berdetak cepat akibat rasa takut tadi. Kutatap wajah si penolongku tersebut. Baik wajah maupun pakaian yang dikenakannya, semua berwarna putih. Ia melihatku cemas. Tatapannya membuatku tenang dan merasa aman didekatnya.

“Ah.. ne, Gwaenchana.. Kamsahamnida.” Ucapku agak terbata.

“Syukurlah..” kulihat senyum mengembang di wajahnya. Senyum itu.. entah mengapa aku tidak pernah merasa senyaman dan setenang ini saat melihat senyum manisnya. Aku membalas senyumannya. Baru saja aku hendak menanyakan siapa namanya, seseorang sudah memanggilku dari jauh.

“Han Yongri..” aku menoleh kearah seseorang yang memanggilku. Terlihat seorang pria sedang berlari menghampiri diriku. Aku tersenyum melihatnya.

“Jagiya, Gwaenchana?? Tadi aku melihat semuanya. Untung saja kau benar2-benar tidak tertabrak. Mianhe aku tidak sempat menyelamatkanmu.” Ucapnya sambil memeriksa keadaanku. Kelihatan sekali raut cemas diwajahnya. Dia adalah kekasihku. Tadinya kami berencana bertemu untuk kencan.

“Siwon Oppa.. Ne, Nan Gwaenchana Oppa. Untung saja tadi aku ditolong oleh…” aku hendak berbalik dan menunjukkan orang yang telah menolong diriku tersebut. Namun betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa pria tersebut sudah tidak ada lagi di belakangku. Siwon menatapku heran. Ia terus memperhatikan sekeliling kami mencoba mencari orang yang ku maksud.

“Siapa?? Sedari tadi aku tidak melihat siapapun di dekatmu.” Aku bingung. Tidak mungkin ia pergi. Padahal saat Siwon memanggilku tadi, pria itu masih ada di sampingku. Aku mencoba mengedarkan pandanganku ke segala arah, namun tetap saja nihil. Pria itu kini benar2 hilang.

“Jagiya.. kita pergi sekarang?” Tanya Siwon yang membuyarkan lamunanku.

“Oh.. ne Oppa. Kajja..” Siwon langsung menggandeng tanganku pergi dari tempat tersebut. aku sedikit kecewa. Bahkan aku belum sempat menanyakan namanya, namun ia sudah keburu menghilang. Selama berjalan, Siwon terus menggandeng tanganku. Namun, sesekali aku selalu menoleh kebelakang. Berharap bahwa pria itu mau menampakkan dirinya kembali walau hanya sebentar.

Dan ternyata, ia disana!! Kulihat ia tengah berdiri di bawah pohon tempat ia menyelamatkanku tadi. Kuhentikan sejenak langkahku dan kini Kulihat ia tersenyum padaku. Aku senang ternyata ia tidak benar2 pergi. Kubalas senyum lembutnya padaku. Cukup lama aku menatapnya, sampai sebuah suara kembali membuyarkan lamunanku.

“Jagiya.. Kajja.” Aku menoleh kearah Siwon. Ia tersenyum dan kembali mengulurkan tangannya yang sempat terlepas dari tanganku tadi. Ku balas senyumnya dan segera menyambut kembali tangan hangat Siwon dan berjalan pergi dari situ. Aku senang bahwa aku masih bisa melihat si malaikat pelindungku untuk terakhir kalinya. Karena setelah ini, aku tidak tahu apakah aku bisa bertemu dengannya lagi atau tidak. Setidaknya, aku telah mengucapkan terima kasih padanya karena sudah menyelamatkan nyawaku tadi. Siapapun dia, aku percaya bahwa dia adalah orang yang sangat baik hati.

***

Kejadian itu sudah berlangsung hampir seminggu yang lalu. Namun, Ada sedikit rasa trauma tersendiri yang sering menghampiri diriku, terutama jika aku harus menyebrang jalanan. Aku lebih memilih untuk menyebrang bersama dengan para penjalan kaki lain. Semenjak kejadian itu pula, Siwon kini menjadi sedikit lebih protektif. Ia selalu berusaha untuk mengantarku kemanapun aku pergi. Itupun jika ia tidak terlalu sibuk.

Namun, entah mengapa walaupun selama ini aku selalu pergi kemanapun sendirian, aku selalu merasa aman. Tidak pernah sedikitpun terlintas rasa takut dalam diriku. Aku selalu merasa bahwa aku akan selamat dan seseorang selalu menjagaku dari jauh. Aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang membuatku berpikir seperti itu.

“Oppa, apa kau percaya kalau Guardian angel itu ada??” tanyaku pada Siwon disatu kesempatan saat kami bertemu untuk makan siang bersama. Siwon mengerutkan keningnya heran.

“Mwo?! Ada apa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Ani.. aku hanya bertanya koq.” Jawabku sambil melanjutkan makan.

“Aku percaya koq.. aku percaya bahwa setiap orang didunia ini selalu dijaga oleh satu malaikat pelindung. Aku percaya bahwa Tuhan tidak ingin umatnya selalu berjalan sendiri. Oleh karena itu ia mengirimkan satu per satu malaikatnya untuk melindungi kamu, melindungiku, dan melindungi semua orang di dunia ini.” Jelas Siwon panjang lebar. Aku tertegun mendengar penjelasannya.

“Haaahhh… rasanya, aku ingin sekali mengetahui siapa malaikat pelindungku Oppa. Andai saja aku bisa melihat dan bertemu dengannya.” Sahutku kemudian. Entah mengapa aku kembali teringat oleh pria yang pernah menolongku saat aku nyaris tertabrak saat itu.

“Jinjja? Wah.. beruntung sekali kalau kau bisa bertemu dan melihatnya. Aku pasti sangat iri!” Siwon tersenyum padaku. Aku bangga terhadapnya. Siwon selalu mau mendengarkan semua ucapanku. Walaupun terkadang ucapan atau cerita-cerita ku kurang masuk akal. Namun ia selalu berusaha menjawab dan menimpalinya dengan baik.

***

Sinar matahari pagi sudah mulai menyelinap kedalam kamar di apartement ku. Udara musim dingin dan sinar matahari yang hangat masuk menjadi satu kedalam kamarku. Aku berusaha untuk mengumpulkan seluruh tenaga ku dan bangun dari tempat tidurku. Baru saja aku hendak melihat jam yang ada di meja samping tempat tidurku, mataku menangkap sesuatu yang sangat cantik. Setangkai bunga Dandelion tergeletak manis diatasnya. Aku tertegun sebentar, mencoba mencerna dari mana asalnya bunga tersebut. Karena setahuku di apartement ku tidak ada tanaman bunga tersebut. bagaimana pula bunga tersebut bisa tumbuh di waktu musim dingin seperti sekarang ini? Dan setelah pulang kerja tadi malampun, aku tidak membawa apa2. Apakah dari Siwon? Aku mencoba menerka-nerka. Tapi itu juga tidak mungkin, karena Siwon sangat mengetahui bahwa bunga kesukaanku adalah Lili dan Tulip.

Setelah aku meletakkan bunga tersebut dalam sebuah vas bunga kaca, aku segera beranjak ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Selama perjalanan, aku selalu teringat dengan bunga Dandelion yang ada di kamar apartement ku tadi. Bagaimana bisa bunga tersebut ada di kamarku sedangkan tidak ada satu orang pun yang masuk kesana selain diriku. Saat ku Tanya Siwon lewat telepon tadi pun, Siwon berkata bahwa ia juga tidak mengirimkan apapun ke tempatku.

Setelah sampai di kantorku, aku segera menuju lift yang berada di lorong bagian kanan samping meja resepsionis. Namun saat melangkah, aku tidak menyadari bahwa sebuah pot bunga yang cukup besar yang berada di lantai dua sedang meluncur jatuh kebawah dan akan mengenai kepalaku. Aku hanya mendengar beberapa orang berteriak ‘awas’ padaku. Saat aku melihat keatas, pot tersebut hanya berjarak kurang lebih semester lagi dari kepalaku. Aku berusaha menghindar. Dan kembali tiba-tiba aku merasa sebuah tangan hangat menarikku untuk menyingkir dan menghindari benturan tersebut. Dan berhasil!! Pot tersebut jatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang keras. Aku masih terdiam ditempatku berdiri dan memandangi pot yang sudah hancur tersebut. Aku merasa de javu. Kejadian saat aku hampir tertabrak saat itu kembali terngiang lagi di benakku. Bahkan baru saja aku kembali merasakan genggaman tangannya yang kembali menarik diriku dari bahaya barusan. Genggaman tangan yang sama yang aku rasakan saat ia menarikku dari bahaya waktu itu. Sontak aku langsung mengedarkan pandanganku berusaha mencarinya ke setiap penjuru lantai 1 kantorku. Kulihat ia berjalan menjauh keluar dari kantorku. Ia menoleh padaku dan tersenyum padaku. Aku berusaha mengejarnya. Namun sayangnya aku kembali kehilangan dirinya. Ia dengan cepat menghilang dari pandanganku. Dengan langkah gontai, akupun segera pergi dan memasuki ruang kerjaku.

Diruangan kerjaku, aku menghempaskan diri di kursi dan menghela nafas berat. Masih terngiang-ngiang diingatanku semua kejadian barusan. Sudah dua kali aku bertemu dengannya. Namun tidak pernah sedikitpun aku berhasil berbicara dengannya, mengetahui namanya. Ia selalu bisa menghilang dengan sangat cepat.

Aku masih terdiam. Pandangan mataku masih tertuju kearah depan meja kerjaku. Namun, sesuatu yang ganjil membuat mataku mau tidak mau menoleh kearahnya. Kini kulihat setangkai bunga Dandelion tergeletak manis lagi di meja kerjaku. Aku mengambil dan memperhatikan bunga tersebut. Tiba-tiba sebuah angin hangat menerpa wajahku. Dan serbuk bunga Dandelion tersebut berterbangan didalam ruanganku saat ini. Entah mengapa, hatiku merasa sangat tenang. Aku tersenyum merasakan semua hal yang barusan terjadi padaku. Aku kembali teringat dengan pria tadi.

“Ahhh.. Tuhan, andai aku bisa bertemu dan berbicara lagi dengannya walalu hanya sebentar.” Aku bergumam pelan sambil terus menggenggam tangkai Dandelion dan mendekapnya di dadaku. Entah mengapa hati ku terus berkata bahwa bunga tersebut memiliki hubungan dengan si Malaikat pelindungku tadi.

***

Saat ini, aku sedang makan siang di sebuah restoran asia yang berada di dekat kantorku. Restoran yang sudah menjadi langgananku. Aku sangat menyukai tempatnya yang tidak ramai pada jam-jam seperti sekarang. Aku segera mengambil posisi duduk di tempat favoritku, yaitu di pojok ruangan dekat jendela. Disanalah aku bisa menyendiri dan berkonsentrasi dengan apa yang aku lakukan atau apa yang aku pikirkan. Sambil menunggu pesanan makanan dan minuman ku datang, aku membuang pandanganku kearah luar jendela. Melihat segala macam aktifitas yang dilakukan orang-orang pada siang ini. Saat aku sedang menikmati pemandangan diluar sana, tiba-tiba aku merasakan lagi angin hangat menerpa wajah dan rambutku padahal saat ini sedang masuk musim dingin. Aku terkejut. Perasaan ini…

Aku kembali segera membuang pandanganku ke segala arah. Mencoba mencari semua yang berhubungan dengannya. Dan kembali mataku tertuju pada meja makan didepanku. Kulihat setangkai Dandelion lagi tengah berada diatasnya. Seperti orang gila, aku segera melemparkan pandanganku ke segala arah. Aku tidak ingin kehilangan lagi dirinya kali ini. Dan tepat saat mataku tertuju di sebuah pohon dekat Restoran tersebut, kulihat ia sedang berdiri tersenyum ke arahku. Senyum manisnya, badannya yang tinggi tegap, serta pakaian putihnya, masih sama seperti saat itu dan saat tadi ia menolongku untuk kedua kalinya. Tidak ingin kehilangan kesempatan lagi, aku segera berlari keluar dari café tersebut dan segera mengejar pria itu. Tak lupa kukatakan pada waitress bahwa aku take away saja dan akan kembali dalam beberapa saat.

Aku terus menggenggam Dandelion tersebut sambil terus berlari kesetanan menghampirinya. Aku tidak melepaskan pandanganku sedetik pun darinya. Aku ingin memastikan bahwa ia akan terus berada disana. Aku tidak ingin kehilangan dia untuk ketiga kalinya.

Aku hampir saja tiba didepannya, namun lagi-lagi ia berbalik dan berjalan perlahan menjauhiku.

“Andwae!! Tuhan, aku mohon.. aku mohon ijinkan aku bertemu dengannya sekali ini saja.” Aku terus bergumam pelan sambil terus berlari. Tak peduli kakiku sudah sakit karena saat ini aku berlari dengan high heels 7cm, atau badanku yang sudah diliputi rasa dingin yang menusuk ke dalam tubuhku. Aku tetap harus bertemu dengannya. Dengan Malaikat pelindungku..

Ku ikuti terus langkahnya kemanapun dia pergi. Aku bahkan tidak sadar bahwa kini kakiku sudah membawa ku ke sebuah taman dimana banyak tumpukan salju menutupinya . Aku sudah tidak kuat berlari lagi. Namun tidak dengannya, ia masih terus berlari tanpa menoleh sedikitpun kearahku.

“Chanka..man!!!!!!!” aku berteriak memanggilnya. Ia berhenti. Kini kulihat ia berbalik dan terus menunjukkan senyum manisnya didepanku. Dengan segera kuhampiri dirinya dengan sisa-sisa kekuatanku.

“Kau.. kenapa kau selalu menghindar?” Tanya ku berusaha menormalkan degup jantungku akibat terlalu lelah berlari tadi. Dia kembali tersenyum. Arrrgghh.. tidak bisakah ia tidak terus-terusan tersenyum padaku?! Aku menggerutu dalam hati.

“Siapa kau sebenarnya?? Mengapa kau selalu muncul saat tahu aku dalam bahaya?? Darimana  kau mengetahui semua itu??” semua pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulultku tanpa terkontrol. Ia masih terdiam. Kuperhatikan raut wajah pria didepanku ini. Wajahnya begitu sempurna. Mata dan senyumnya yang begitu teduh, perawakannya yang tinggi tegap sempurna, deru nafasnya yang begitu teratur benar-benar membuatku nyaman. Ku tatap matanya yang kini sedang turun ke bunga Dandelion yang masih kupegang.

“Ini..” aku menunjukkan bunga tersebut di hadapannya.

“Apakah kau yang mengirimkan bunga ini untukku??” aku mencoba bertanya. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.

“Mwo?! Bagaimana bisa?? Kita bahkan baru bertemu sebanyak 3 kali.. bagaimana bisa kau tahu dimana rumahku, dimana tempat kerjaku. Siapa sebenarnya kau ini??” Aku kembali bertanya.

“Aku tahu kamu.. Aku bahkan sangat mengenal dirimu jauh lebih baik dari orang-orang disekitarmu. Aku tahu apa saja kegiatanmu, apa yang kau lakukan, dan bagaimana sifat dan kepribadianmu. Kalau kau Tanya siapa aku, aku akan menjawab kalau aku adalah malaikat pelindungmu.” Katanya akhirnya buka suara. Aku tertegun dengan semua ucapannya. Entah mengapa aku tidak merasa takut sama sekali dengan pria ini. Berbeda jika pria lain yang tidak aku kenal berbicara seperti itu padaku. Aku pasti akan menganggapnya sebagai seorang stalker. Aku masih terdiam. Antara percaya dan tidak, aku berusaha mencari tahu benar tidaknya ucapan pria tersebut.

“Aku tahu mungkin ini tidak masuk akal untukmu.. Lebih baik tidak usah dipikirkan lagi. Arraseo?!” Ia hampir saja berbalik untuk pergi, sebelum akhirnya aku dengan cepat menahan dan menarik tangannya.

“Aku..” aku menghentikan kata2ku berusaha mencari kalimat tepat seperti apa yang harus aku katakan kepadanya. Aku menunduk, tak ingin ia melihat kegugupanku.

“Gomawo.. Jeongmal Gomawo untuk semua kebaikanmu. Sampai sekarang, jujur aku masih tidak percaya dengan semuanya. Aku masih bingung bagaimana kau bisa memberikanku meletakkan bunga ini di tempatku. Tapi, aku berjanji aku akan menyimpan dan merawatnya dengan baik!” kataku pada akhirnya. Pria itu tersenyum. Aku yakin, pria itu pasti sangat hobi tersenyum. Sudah berkali-kali aku bertemu dengannya, ia tidak pernah melepaskan sedikitpun senyumnya dari hadapanku.

“Baiklah.. aku akan pegang janjimu.” Katanya sambil berbalik untuk pergi lagi.

“Chankaman!!!!!” kembali kuhentikan lagi langkahnya. Ia kembali berbalik dan menatap lembut ke dalam mataku.

“Hmm.. bolehkah aku tahu siapa namamu?? Dan…. Apakah kita akan bertemu lagi??” kulihat ia mengangguk.

“Sebenarnya aku tidak memiliki nama. Kalau kau tidak bisa bertemu denganku, lihatlah disekelilingmu. Bunga Dandelion itu sebagai tanda bahwa aku selalu didekatmu. Tapi, kalau kau memang ingin bertemu lagi denganku, datanglah kembali kesini saat Christmas eve. Aku akan menunggu mu disini. Dan panggil saja aku Hangeng, maka aku akan menemuimu. ” Aku mengangguk menyetujui ucapannya barusan. Dan setelah perbincangan tersebut, ia berbalik dan berjalan meninggalkanku. Seperti biasa, baru saja aku mengalihkan pendanganku kearah bunga Dandelion ditanganku sebentar, aku sudah tidak melihat tubuh Hangeng dimanapun. Ia cepat menghilang lagi seperti biasa.

***

Setelah pertemuan terakhir itu, aku benar-benar antusias menunggu sampai malam natal tiba. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Siwon mengenai pertemuanku dengan Hangeng juga apa saja yang kami bicarakan selama disana. Aku juga sudah menceritakan padanya soal bunga Dandelion yang ku terima dari Hangeng. Dan untung saja Siwon mengerti, walaupun awalnya ia tidak mempercayai dan tidak menyukai cara Hangeng, akhirnya Siwon bisa menerima semua penjelasanku. Aku sangat bersyukur memiliki Siwon yang selalu mau mengerti dengan semua penjelasanku. Baginya, penjelasanku jauh lebih penting dari apapun yang dilihatnya dan didengarnya dari orang lain. Karena itulah, aku selalu menjaga kepercayaannya terhadapku.

Dan selama penantianku, Hangeng ternyata tetap mengirimkan bunga Dandelion untukku. Ia menepati janjinya bahwa ia akan selalu berada disisiku walaupun aku tidak bisa melihat dimana ia berada. Ia terlalu lihai dalam bersembunyi. Aku sendiri bahkan tidak tahu, apakah ia memang seorang malaikat atau manusia yang mengaku dirinya sebagai malaikat. Tapi yang terpenting bagiku adalah, Hangeng orang yang sangat baik. Ia selalu mampu membuatku nyaman dan aman sama seperti yang kurasakan pada Siwon.

24 DECEMBER

Akhirnya, hari yang ku tunggu pun tiba. Malam ini aku akan pergi menemui Hangeng di taman tempat kami bertemu dan berbicara waktu itu. Sebenarnya, malam ini aku juga sudah berjanji dengan Siwon untuk pergi bersama merayakan malam natal berdua dengannya. Namun, rencana tersebutpun berubah. Aku hendak mengajaknya untuk ikut menemui Hangeng dan memperkenalkan Siwon padanya.

Sesampainya di taman, aku dan Siwon memandang kesegala arah mencoba mencari Hangeng. Namun karena sepertinya ia belum tiba, kami pun memutuskan untuk menunggunya.

Aku terus menerus melihat jam di tanganku. Sudah hampir 1 jam kami menunggu Hangeng, namun ia belum juga datang.

“Jagiya, mana Hangeng? Tega sekali dia membiarkan kita menunggu lama.” Siwon mulai terlihat tidak sabar. Ditambah lagi hari yang semakin malam dan membuat udara menjadi semakin dingin membuatnya terus menerus merapatkan jaket dan mantel yang dikenakannya.

“Sabar Oppa.. aku yakin Hangeng pasti datang.” Kataku menyakinkannya.

“Baiklah, kalau begitu aku kesana sebentar yaa.. Aku akan belikan kopi hangat untuk kita bertiga nanti. Kau tidak apa-apa kalau aku tinggal sendiri?” Kata Siwon. Aku mengangguk.

“Ne Oppa.. Gwaenchana. Pergilah.. biar aku yang menunggu Hangeng disini. Hati-hati yaa..” aku tersenyum padanya dan membiarkannya pergi untuk sesaat.

Aku masih terus menunggu. Berkali-kali aku melihat ke setiap sudut taman, berusaha memastikan bahwa orang yang sedang kutunggu itu tiba. Namun sayang, Hangeng belum muncul sampai sekarang. Sedangkan jam ditangan ku sudah menunjukkan pukul 11 malam. Untunglah malam ini malam natal, karena masih banyak orang-orang yang masih menghabiskan waktu di taman ini. Jadi aku tidak takut sendirian menunggu. Aku masih terus duduk terdiam menunggu, saat tiba-tiba kurasakan sebuah angin hangat kembali menerpa wajah dan rambutku. Aku langsung beranjak begitu tahu suasana ini. Kuedarkan pandanganku mencari dirinya.

“Hangeng ssi, kau sudah datang?” Tanya ku entah pada siapa. Aku memutar tubuhku mencari dimana Hangeng, namun ia tidak juga menampakkan dirinya. Aku terus menerus memanggil namanya, sampai secara tiba-tiba sebuah cahaya putih menyilaukan mataku. Cahaya putih tersebut terus menyorot kearah wajahku sampai aku harus menggunakan tanganku agar aku bisa melihat apa yang terjadi. Aku terdiam..

Aku berusaha memicingkan sedikit mataku untuk melihat kedepan. Dan dari dalam cahaya putih tersebut, munculah sesosok yang tidak asing bagiku. Sosok itu berjalan pelan kearah ku. aku terpaku sesaat di tempatku berdiri saat ini. Sosok itu.. badannya yang tegap, wajahnya yang sempurna. Kini, sosok itu terus berjalan menghampiriku. Aku tersentak sadar saat tahu siapa sosok tersebut.

“Hangeng ssi….” Ucapku tak percaya dengan pengelihatanku sendiri. Hangeng hanya tersenyum. Aku terus menerus menatap dirinya. Seluruh tubuhnya kini diliputi cahaya, Pakaiannya begitu putih, dan.. sayap!! Hangeng memiliki sayap putih indah yang berada dikiri kanannya. Aku menutup mulutku tidak percaya.

“Jadi.. jadi, kau benar-benar…??” aku tak mampu berkata apa-apa.  Hangeng menganggukkan kepalanya perlahan.

“Ya.. inilah wujud asliku. Maaf karena aku selalu menutupi rahasia ini darimu. Dan maaf karena aku tidak bisa selalu bertemu denganmu. Aku lah Malaikat Pelindung yang diutus Tuhan untuk melindungi mu di Dunia ini  Han Yongri.” Jawabnya pada akhirnya. Aku masih terdiam. Jadi yang didepanku ini benar-benar Hangeng. Ia bukan manusia. Ia Benar-benar seorang malaikat! Maksudku, benar-benar malaikat pelindung ku selama ini! Ternyata Tuhan mendengarkan ucapanku selama ini. Kini aku bisa bertemu dan berbicara dengan malaikat pelindungku secara langsung.

“Hangeng ssi.. bagaimana bisa kau..??”

“Kalau Tuhan sudah memerintahku, aku tidak mungkin bisa menolakNya Yongri-ah. Selama ini, aku selalu mengawasimu diam-diam dan dari kejauhan. Tugasku adalah memastikan bahwa kau baik-baik saja, menjauhkanmu dari segala macam bahaya, bahkan memastikan bahwa kau tidak akan pernah bersedih juga menangis. Aku selalu berada di dekatmu setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik.”

“Tapi mengapa kau tidak menunjukkannya didepanku?? Kenapa kau tidak menampakkan dirimu didepanku?? Aku bahkan hanya bisa bertemu dan melihatmu 3x. Kau tahu? Semenjak kejadian mengerikan waktu itu. Saat pertama kali kita bertemu, aku selalu merasa bahwa aku merasa aman didekatmu. Jujur, aku sudah merasa ketergantungan padamu..” aku berkata lirih. Hangeng masih menatap diriku dalam.

“Yongri-ah.. kau tahu? Aku sudah menjadi pelindungmu sejak kau masih bayi. Sudah kukatakan bahwa aku sangat mengenal dirimu jauh lebih baik dari siapapun. Namun, sesuatu hal terjadi dalam diriku semenjak kejadian waktu itu. Saat tahu bahwa kau hendak tertabrak, hati ku begitu sakit. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Sampai, saat kau berhasil kuselamatkan, jantungku berdetak cepat. Saat kau menatapku untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa seluruh pertahananku runtuh. Aku tidak mampu menatap wajahmu. Aku sadar.. aku sadar, inilah kelemahan ku selama ini.”

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Yongri-ah.. semenjak kejadian itu, aku menyadari.. aku menyadari bahwa aku sudah jatuh cinta padamu. Aku sangat menyayangi dan mencintaimu!! Aku tahu mungkin ini tidak masuk akal. Aku juga tahu bahwa kami, malaikat tidak berhak memiliki perasaan cinta seperti ini terhadap manusia. Tapi ini lah diriku.. aku tidak sanggup jika harus selalu bertemu denganmu. Oleh karena itu, aku selalu memberikan bunga Dandelion itu untukmu. Sama seperti artinya, ketulusan hati dalam menghadapi sesuatu. Ketulusan ku dalam mengerjakan tugas2ku untuk melindungimu. Juga Warnanya yang putih melambangkan kesucian dan keindahan. Keindahannya bisa membuat orang lain merindukannya dan ingin melihatnya terus menerus. Sama seperti diriku.. aku tidak sanggup kalau harus melihatmu terus menerus. Karena itu justru membuatku semakin ingin bertemu denganmu. Aku lebih memilih untuk melihatmu dari jauh Yongri-ah. Dari pada harus melihatmu secara dekat seperti sekarang.”

Aku tertegun dengan pernyataan Hangeng.  Aku tidak percaya bahwa seorang Malaikat bisa memiliki perasaan cinta terhadap manusia. Aku masih terdiam. Aku tidak mampu berkata apapun.

“Yongri-ah.. dengar, waktuku tidak akan lama lagi. Jika jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, aku akan kembali ketempatku berada. Aku sudah tidak bisa lagi menjagamu untuk seterusnya.” Lanjut Hangeng.

“Mwo?!?! Waeyo?? Kenapa secepat ini?” Tanya ku tidak percaya. Hangeng tersenyum tipis.

“Mianhe.. aku tidak bisa lagi menjagamu. Aku tidak bisa terus-terusan menahan perasaan ku terhadapmu. Oleh karena itu, aku memohon pada Tuhan untuk menyelesaikan tugasku dan menggantikannya dengan Malaikat lain. Dan ternyata Tuhan menyetujuinya. Ia memberiku kesempatan terakhir untuk bertemu denganmu saat ini.” Aku menggelengkan kepalaku keras. Entah mengapa aku tidak rela dia pergi meninggalkanku. Aku membutuhkan Hangeng. Aku menyayangi dirinya, walaupun tidak mencintainya. Tidak sadar, air mataku menetes.

“Jebal.. aku mohon jangan pergi! Jangan biarkan aku sendiri Hangeng.. aku tidak ingin Malaikat pelindungku digantikan yang lain! aku hanya ingin kamu!!” kataku terisak. Hangeng mendekat, ia mengangkat wajahku.

“Mianhe.. tapi ini harus kulakukan Yongri.” Hangeng mencoba tersenyum didepanku. Namun tetap kulihat raut wajah sedih di wajahnya. Aku menangis. Aku benar-benar menangis kali ini. Baru saja aku bertemu dengannya, mengapa aku juga harus cepat berpisah dengannya? Aku tidak terima.

“Lantas, bagaimana denganku?? Bagaimana kalau aku ingin bertemu denganmu?? Apa kau tidak bisa tinggal sebentar lagi??” aku memohon padanya. Hangeng menggeleng pelan. Ia masih menatap diriku tajam, namun sangat lembut.

“Ketahuilah Yongri-ah, aku tidak akan pernah benar-benar meninggalkanmu. Aku akan tetap selalu mengawasimu dari atas sana. Hanya bedanya, aku akan mengawasi dan melindungi mu secara tidak langsung.. kalau kau rindu padaku, petiklah bunga Dandelion dan tiuplah sampai serbuk bunga itu terbawa angin. Saat itulah pesan rindu mu akan sampai padaku.” Hangeng kembali tersenyum padaku.

“Apa kau tidak bisa membawaku?? Aku ingin ikut denganmu..”

” Aniyo.. belum saat ini Yongri-ah. Waktumu masih sangat panjang. Percaya lah, kalau sudah tiba waktunya nanti, kita pasti akan bertemu disana.” Ucap Hangeng meyakinkan aku.

Kini aku sudah mulai bisa tersenyum, walaupun air mata masih terus menetes dipipiku. Hatiku terlalu berat melepaskannya pergi.

“Sudah waktunya untukku pergi Yongri-ah.. Waktuku sudah habis. Jaga dirimu baik-baik! Tetaplah bahagia bersama Siwon. Aku percaya dia sanggup membuatmu bahagia dan tidak akan membuatmu menangis. Ingatlah semua pesanku tadi.. arraseo?!” kata Hangeng akhirnya. Sebelum pergi, Hangeng pun memelukku erat dan mengecup keningku untuk pertama dan terakhir kalinya.

“Han Yongri..” panggil seorang pria. Saat kutolehkan kepalaku kebelakang, kulihat kekasihku, Siwon tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku. Aku terdiam. Aku menoleh kearah Hangeng dan Siwon bergantian menatap mereka.

“Pergilah.. Siwon sudah menunggu mu disana.” kata Hangeng sambil menunjuk seseorang yang berada jauh dibelakangku. Aku masih terdiam menatap mereka satu persatu. Air mata tetap mengalir dipipiku. Ku tatap Hangeng untuk terakhir kalinya, dan kulihat ia kembali tersenyum dan mengangguk pelan seakan merelakan aku pergi kearah Siwon.

Perlahan-lahan, aku berbalik. Kini ku langkahkan kakiku pelan menuju kearah Siwon sambil sesekali tetap menoleh kebelakang tempat Hangeng berdiri. Semakin aku mendekat ke Siwon, semakin jelas pula kulihat cahaya putih yang meliputi Hangeng ikut menghilang. Saat aku benar-benar sampai di hadapan Siwon, ia masih mengulurkan tangannya padaku berharap aku membalas semua genggamannya.

“Jagiya..” panggil Siwon lembut. Aku tersenyum tipis. Dengan perlahan, ku balas uluran tangan Siwon sehingga kini tangan kami saling bertautan satu sama lain. Dan di saat yang sama, aku menoleh kebelakang dan melihat Hangeng tersenyum untuk terakhir kalinya padaku, barulah cahaya putih tersebut benar-benar menghilang membawa Hangeng pergi selama-lamanya dari hidupku.

Aku tersenyum kini menatap taman yang sudah kosong dan hanya beralaskan salju  dan berselimutkan malam tersebut. Entah mengapa, aku tidak lagi merasa sedih. Aku percaya pada janji Hangeng, bahwa ia tetap akan menjagaku.

“Jagiya, kita pergi sekarang?” Tanya Siwon memecah lamunanku. Aku menoleh padanya. Kini kulihat pria yang sangat kucintai didepanku ini. Ia tersenyum padaku. Senyum hangat yang kurasakan dari Hangeng kini dapat kurasakan dari pria yang sudah mengisi hari-hariku 3 tahun ini.

“Oppa.. Gomawo..” sahutku sambil memeluk dirinya.

“Ne, Jagi..” Siwon membalas pelukanku. Kemudian berkata lagi

“Kau tahu? Aku melihat semuanya tadi. Aku benar-benar tidak percaya aku bisa melihat seorang malaikat seperti Hangeng secara langsung.”

“Jinjja?? Lantas, Oppa marah dengan semua pembicaraan kami?? Apa oppa marah saat tahu kalau Hangeng mencintaiku?” aku langsung melepas pelukan Siwon dan menatapnya harap-harap cemas. Siwon menggeleng.

“Aniyo.. Aku tidak akan pernah marah atau cemburu jika kekasihku dicintai oleh Malaikat Pelindungnya. Aku justru sangat beruntung karena akan ada yang menggantikanku untuk menjaganya saat aku tidak berada disisinya.” Aku kembali memeluk Siwon. Ia mengecup puncak kepalaku lembut.

“Merry Christmas Jagi..” Ucapnya kemudian. Aku langsung tersadar, dan melihat jam ditanganku yang ternyata sudah pukul 12.05 malam. Artinya, hari ini adalah hari natal. Aku tersenyum pada Siwon dan membalas ucapan selamat natal padanya.

Sebagai hadiah malam natal itu, Siwon memberikanku sebuah kalung dengan bandul berbentuk malaikat. Ia sengaja memberikanku benda tersebut dikarenakan beberapa minggu ini aku selalu cerewet bercerita soal malaikat pelindungku. Dan setelah melihat pertemuanku dengan Hangeng, Siwon lantas juga berkata bahwa kalung tersebut juga sebagai obat rinduku jika aku ingin bertemu dengan Hangeng.

END OF FLASHBACK

***

Saat ini, aku sedang berada di taman tempat aku dan Hangeng bertemu serta berpisah. Aku menggengam setangkai bunga Dandelion ditanganku. Dalam hati, aku berbisik

“Hangeng ssi, Bogoshipoooo..” akupun segera meniup bunga Dandelion tersebut, dan serbuk bunga itu pun langsung terbang terbawa angin yang menghembuskannya. Aku segera menggenggam liontin malaikat pemberian Siwon saat natal waktu itu. Memejamkan mata dan berdoa, berharap bahwa perasaan rinduku dapat sampai ke Hangeng.

Walaupun air mata ku ini terkadang masih mengalir, tapi aku tetap berusaha untuk tersenyum. Aku percaya bahwa Hangeng selalu merasakan juga apa yang aku rasakan. Seperti kataku, Walaupun kini aku telah berpisah dengannya, aku akan tetap menganggap perpisahan kami ini sebagai perpisahan yang paling indah. Indah, karena aku telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal dan bertemu dengan Hangeng, Si Malaikat Pelindungku..

-THE END-

10 thoughts on “BEAUTIFUL GOODBYE : MY GUARDIAN ANGEL

  1. Ya eonni aku jg mao dong punya malaikat pelindung!!!
    Sebenernya ada sih malaikat pelindungku,,malah ada 2,dikiri dan dikanan
    hah…klo malaikat pelindung aku wajahnya kayak Kyu,,ah aku bs mati klo gak ketemu dia sedetik aja haha…
    He’s so handsome sih
    aishh FF eonni tuh seruuuu…
    10 jempol buat eonni…
    Hehe

  2. Disini diceritakan Sifat dan sikap Siwon yg pengertian dan dewasa, berbeda sm cowok didunia nyata..😐
    Jadi pengen hidup dalam Fanfic…x_x
    Aaahh… Aku pengen punya guardian angel..😥
    Beliin satuu ya eonnii…😥 beliin satu guardian angelnya… *looh?
    Tapi ff nya keren eoni.. (y) toptoptoppp…. Jarang nemuin ff Hankyung, sekli nemuin… Ahh sangat mempesona… ;;)

  3. bca neh ff jd pngn liat jg malaikat pelindungku tuh sapa ya kyk gmn ya? jd pnsrn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s