NO OTHER (Part 1 of 2)

LEETEUK PART (LEETEUK POV)


Aku berjalan menuju kampus dengan tergesa-gesa. Ya, aku tahu bahwa aku sudah sangat terlambat masuk kelas. Tapi aku tidak peduli. aku datang ke kampus ini bukan untuk kuliah, namun ada misi lain yang ingin kulakukan. Hari ini aku akan menyatakan perasaan cintaku ke seorang Yeoja cantik yang kini ada dihatiku. Tentu aku tak ingin membuang waktu dan kesempatan ini dengan percuma. Dan tentu saja, aku tidak ingin melakukannya dengan cara yang biasa. Aku ingin memberikannya kejutan. kejutan yang mungkin sangat sederhana namun cukup manis.

Aku seorang mahasiswa fotografi. Memotret telah menjadi kecintaan ku sejak kecil. Apapun objeknya, jika itu menarik untukku, pasti akan aku foto. Aku mengenalnya secara tidak sengaja. Saat itu, aku sedang memotret sebuah pemandangan taman di Seoul yang penuh dengan warna warni bunga serta rerumputan dengan hingar bingar jalan raya dan mobil yang lalu lalang sebagai latarnya. Saat itu aku tersenyum sangat puas melihat hasil jepretannku. Namun, setelah ku perhatikan dengan seksama, ternyata aku mendapatkan bonus di gambar yang ku potret. Saat itu kulihat seorang yeoja sedang duduk manis dibangku taman tersebut. Dengan senyum yang sedikit mengembang, kulihat ia sedang menggoreskan tinta di buku yang dipegangnya. Sungguh, saat itu hatikupun berdegup amat sangat kencang. Kurasakan mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Ia sangat sederhana. Dengan rambut pendeknya dan kaos putih serta jeans dan sneaker merahnya, ia terlihat berbeda dengan wanita lain. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, saat itu langsung kuhampiri dirinya dan mengajaknya berkenalan. Dan kau tahu apa yang terjadi?? Dia menerimaku dan kuketahui saat itu juga bahwa dia bernama Park Sungchan.

Semenjak kejadian itu, kami sangat dekat. Bahkan tidak jarang aku sering mengajaknya untuk hunting tempat-tempat menarik untuk mencari objek fotoku. Tak jarang pula, ia yang kujadikan objek fotonya. Aku benar-benar sangat menyukainya. Ia benar2 terlihat begitu natural saat difoto.

Dan kini, setelah 4 bulan kami saling mengenal satu sama lain, aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku padanya. Aku ingin memberikannya sedikit kejutan.

Aku terus berjalan menyusuri daerah kampusku, mencari-cari objek yang berhubungan dengan cinta. Kau tau? Aku ingin memberikannya semua foto yang aku ambil yang tentu saja bertemakan cinta sesuai dengan perasaanku kali ini. Aku sudah memotret banyak objek. Entah itu awan yg berbentuk hati, stiker bentuk hati yang kutemukan menempel di kaca kafe kampus ku, dll. Aku masih terus menyusuri seluruh kampus ku ini. Sampai kakiku membawaku ke perpustakaan dan kulihat seorang namja yang ternyata temanku sedang menulis sesuatu di kartu ucapan yang dipegangnya.

“Ya! Heechul, boleh ku foto ukiran hati yang ada di kartu ucapan itu” aku memohon padanya. Dan ternyata ia pun memperbolehkan aku untuk mengambil fotonya

“Ne.. silakan.”

“Gomawoyo, Heechul.. Annyeong” kataku mengucapkan terimakasih dan pergi meninggalkannya. Kemudian kulanjutkan perjalananku menyusuri kelas2 mencari objek berbau “cinta”. Dan tak lama, ku dapati salah satu juniorku sedang disatu kelas sedang membuat puzzle yang berbentuk hati. PAS!! Kataku dalam hati dan segera menghampirinya.

“Shindong ssi, boleh ku foto puzzle hati yang telah kau buat ini??” dan secara mengejutkan pula, ia pun memperbolehkan aku untuk memotretnya. Aku pun tersenyum puas meninggalkan shindong dikelasnya. Setelah melihat semua hasilnya, aku rasa sudah cukup dan akan kubawa dan kutunjukkan ke Soojoon. Namun, ketika aku melewati sebuah jalan yang menuju ke aula kampus, aku melihat seorang namja sedang menempelkan kertas2 entah apa itu. Kudekati dia, dan melihat apa yang dilakukannya. Kulihat banyak kertas-kertas bergambar hati, sepasang beruang, tulisan ‘I love you’ serta hiasan2 dan kertas2 bertema cinta sedang ia tempelkan di dinding hingga membentuk sebuah hati raksasa. Tanpa ragu2, ku minta ijin darinya untuk memotret hasil karyanya tersebut.

“Kyuhyun ssi, boleh ku foto hasil karya mu ini?”

“Ne, hyung…potret saja.” Setelah ku potret, kuucapkan terima kasih dan ku tinggalkan ia. Kini hasil karya ku telah selesai, Sangat sempurna. Aku pun segera berlari menuju sebuah taman untuk menemui Sungchan yang telah menungguku. Kini aku telah siap untuk menyatakan perasaan padanya.

“Leeteuk Oppa.. kau datang.” Katanya saat melihatku berlari sambil tersenyum. Aku segera mengatur napas saat berada di hadapannya. Napas ku sangat sesak. Sesak karena aku berlari dan juga sesak karena aku sangat gugup untuk menembaknya.

“Sungchan-ah aku ingin menunjukkan sesuatu padamu” dengan keberanian yang kuat aku menunjukkan semua foto2 yang telah ku ambil ke hadapannya. Aku terus menghembuskan napas dengan kuat. Kegugupan ku ini benar membuat napasku menjadi sangat berat. Aku benar2 malu dihadapannya.

“Mwo?? Maksudnya ini apa Oppa?” Soojoon bertanya padaku.

Dengan penuh keberanian, kuucapkan kalimat yang sejak dulu ingin kukatakan kepadanya.

“Saranghaeyo, Park Sungchan” aku tersenyum penuh arti. Sungchan terkejut dengan pernyataanku. Ia terlihat sedang berpikir. Dan entah ada  angin apa, Sungchan pun tiba2 mencium pipi kananku dengan cepat sehingga aku terkejut. Kulihat wajahnya memerah.

“Na do Saranghaeyo oppa..” katanya tersenyum seraya lari meninggalkan aku yang diam di tempat.

“YA!! Kembali kau Jagiya!!!” aku tersenyum puas dan mengejarnya.

***

HEECHUL PART (HEECHUL POV)

Aku berjalan memasuki perpustakaan. Entah kenapa, tempat ini menjadi tempat favoritku saat aku berada dikampus. Bukan hanya karena aku menyukai buku-buku ini. Tapi juga karena dia. Dia, yeoja yang aku temui saat kunjunganku ke perpustakaan ini beberapa minggu yang lalu. Saat pertama kali melihatnya, entah kenapa hatiku selalu berkata bahwa ia sangat cocok denganku. Ia adalah wanita pilihanku, bukan yang lain. Dia tidak cantik, juga tidak jelek. Ia terlihat cerdas, berkacamata tapi bukan juga seorang mahasiswi kuper dan culun yang sering digambarkan di film-film itu. Aku mengetahui namanya adalah Song Soo Jin. Itupun secara tidak sengaja saat aku mendengar temannya memanggilnya.

Kini aku pun sengaja kembali ke perpustakaan ini untuk mencari dan melihat dirinya. Aku memang Babo, sangat bodoh karena aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan saja tanpa ada tindakan apapun untuk menemuinya dan mengajaknya berbicara. Aku bukannya tidak berani, tapi aku hanya tidak mau terlihat gugup dan terlihat bodoh didepannya saat aku mengajaknya berbicara. Aku benar-benar terus memikirkan bagaimana caranya agar aku dapat berbicara dengannya. Keesokan harinya, sebelum kelas dimulai, aku kembali ke perpustakaan. Dan ku lihat dirinya sedang duduk manis menikmati bacaan yang ada didepannya. Segera, aku mencari posisi dan tempat yang nyaman dan sdikit tersembunyi. Kukeluarkan sepucuk kartu ucapan dari tasku dan menulis seluruh ungkapan perasaanku terhadap Soojin. Orang yang sedang jatuh cinta memang sangat hebat kurasa. Otak mereka pasti akan sangat lancar. Seperti diriku saat ini. Kau pasti  tidak akan percaya bahwa aku mampu menulis seluruh ungkapan perasaanku ini dengan lancar tanpa sedikitpun merasa buntu atau terganggu. Yah, kecuali saat baru saja teman kuliahku, Leeteuk menghampiriku dan memintaku untuk menunjukkan ukiran hati di kartu ucapanku untuk difotonya. Aku terus berkutat dengan kartu ucapan di tanganku. Aku sedikit was-was ketika ada seseorang yang mendekat ke arah rak tempat aku duduk. Refleks akupun menoleh, aku takut bahwa yang datang adalah Soojin. Tapi untung sekali itu bukan dia, melainkan petugas perpustakaan. Kebetulan juga petugas itu sudah sangat mengenalku.

“Ya!! Heechul, sedang apa kamu?? Bukankah di perpustakaan ini sudah disediakan kursi?” tanya saat melihatku duduk melantai di belakang rak buku ini.

“Aniyo, aku hanya sedang menulis saja.” Jawabku sambil terkekeh. Tiba-tiba, secara reflek, akupun menarik tangan petugas perpustakaan itu, dan membisikkan sesuatu di telinganya.

“Noona, aku ingin minta tolong” kataku dengan  sangat pelan. Petugas itupun hanya mengerutkan kening

“Mwo??”

“Tolong kau beritahu gadis yang duduk disana untuk datang kemari. Bilang padanya kalau ada yang ingin bertemu. Arraseo?” akupun menjelaskan dan menunjuk ke arah Soojin yang masih sibuk membaca. Melihat ku tersenyum manis, petugas perpustakaan itupun malah tersenyum jahil. Ia tahu apa yang sedang aku pikirkan.

“Aaaahhh.. Ne, Ne, Arraseo! Dasar anak muda jaman sekarang” katanya sambil meninggalkan ku dan menuju ke arah Soojin. Dengan secepat kilat, ku selesaikan tulisanku di kartu ucapan tersebut. Yap, it’s Done!!! aku tersenyum puas saat membacanya kembali karangan-karanganku ini.

“Annyeong..” sapa seseorang membuatku terkejut. Jelas saja aku terkejut. Bagaimana tidak? Kini seseorang yang aku tunggu2 dan seseorang yang sangat ingin aku temui, telah berada dihadapanku. Refleks akupun berdiri dan menyambut salamnya.

“Apa kamu yang memanggilku tadi?” katanya masih dengan keterkejutannya.

“Ah, Ne.. oh iya, Kim Heechul Imnida.” Aku memperkenalkan diriku.

“Song Soojin imnida.. Ada apa kau memanggilku Heechul ssi?”

Omo, aku bahkan nyaris tidak bisa berkutik. Suaranya sangat lembut dan sangat ramah. Akupun mengumpulkan keberanianku dan memberikan kartu ucapan itu kehadapannya.

“Untuk mu” aku takut-takut saat memberikan kartu itu. Dan kau tahu?? DIA MENERIMANYA!!! Yah, aku senang sekali. Kulihat, ia kini membaca isi tulisan didalamnya. Aku benar-benar takut menunggu reaksinya.

“Gomawo, Heechul ssi. Aku tidak menyangka bahwa kau telah menyimpan perasaan       padaku.” Ia kini tersenyum padaku. Ya Tuhan, apakah itu pertanda bahwa aku mendapat lampu hijau?? Hatiku bersorak girang.

“Mmmmm… Soojin, Maukah hari sabtu ini kau temani aku jalan?? Kita bisa pergi ke toko buku, mungkin?” kataku dengan hati-hati. Karena lebih tepatnya, aku ingin mengajaknya berkencan. Kulihat senyumnya mengembang lagi.

“Aku rasa aku mau. Sepertinya kau namja yang sangat menyenangkan, Heechul ssi”

Kini, aku tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanku. Saking gembiranya aku sempat berteriak hingga dimarahi oleh pertugas perpustakaan.

“Gomawo Soojin..kau cukup memanggilku Oppa. Arra??”

“Ne Oppa..” kami berdua tersenyum. Akupun menggandeng tangannya untuk mengantarnya menuju tempat duduknya kembali.

***

YESUNG PART (YESUNG POV)

Aku bersia-siap. Kukerahkan seluruh kemampuan ku untuk melakukan hal yang sangat besar pagi ini. Hari ini adalah tanggal istimewa untukku dan kekasihku. Tanggal penting dimana pada tanggal ini, tepatnya 4 tahun lalu, aku berhasil mendapatkan hatinya, yeoja yang sangat kucintai. Dan ditanggal yang sama inilah, aku akan melakukan sesuatu hal untuk memintanya kembali menjadi milikku lagi. Tentunya untuk kali ini secara utuh. Kau tahu kan apa maksudku?? J

Ku kendarai mobilku ini dengan kecepatan rata-rata. Aku ingin menuju ke tempatnya bekerja. Tempatnya bercengkrama dengan malaikat-malaikat kecil yang begitu disayanginya. Jujur saja, selama aku berpacaran dengannya, aku harus merelakan cintaku dibagi dengan anak-anak lucu nan menggemaskan itu. Ya, Yeojachingu ku itu adalah guru taman kanak-kanak di sebuah sekolah di Seoul.

Begitu tiba di pelataran parkir sekolah tersebut, aku tidak langsung masuk mencari dirinya. Kubuka bagasi belakang mobilku dan mengambil semua bahan yang telah kupersiapkan untuk memberikannya kejutan. Walaupun sangat repot, tapi demi kekasihku yang satu itu, tentu aku akan melakukan apapun agar membuatnya sangat terkesan. Ku langkahkan kakiku menuju kesebuah kelas tempatnya mengajar. Namun, nihil. Aku tidak melihatnya dan anak-anak yang diajarnya ada di kelas tersebut.

“Kau mencari Aerin, Yesung ssi??” sebuah suara mengagetkanku. Kutolehkan diriku kebelakang dan kini kulihat teman Aerin, nama kekasihku, berdiri dibelakangku.

“Ah, Ne.. kau tahu dimana dia dan anak-anak berada?” ku tanya dia.

“Dia ada di aula belakang gedung, sedang mengajak anak-anak bermain. Kau kesana saja. Sepertinya akan ada kejutan untuknya pagi ini..” kata yeoja itu tersenyum penuh arti sambil terus memperhatikan apa yang aku bawa. Aku hanya dapat tersenyum malu mendengar pernyataannya. Segera, akupun berlari menuju tempat yang dituju tersebut. Kini, kulihat seorang wanita sedang tersenyum bahagia, bercengkrama dan menyanyi bersama-sama dengan malaikat-malaikat kecil itu. ‘beruntungnya aku memiliki wanita keibuan sepertinya’ kataku dalam hati. Akupun segera menuju kearah mereka.

“Annyeong.. hayo, siapa yang mau main dengan Ahjussi??” kataku sambil menghampiri mereka dan memperlihatkan barang-barang yang ku bawa untuk anak-anak itu. Ia pun terkejut melihat kehadiranku.

“Yesung Oppa.. untuk apa kau datang kemari?” katanya tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya atas kedatangannku. Belum sempat aku menjawabnya, kini anak-anak itu sudah mengerubungiku dan meminta sesuatu yang kubawa.

“Ahjussi…ahjussi, aku mau pesawatnya dan balonnya.”

“Ahjussi, aku mau balon yang berwarna merah.”

“Ahjussi, ayo kita terbangkan pesawatnya bersama-sama..” seru mereka tidak sabaran. Aerin hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anak didiknya. Dengan pasrah, akupun meladeni permintaan anak-anak itu satu persatu

“Ayo, baris yang rapi yaa.. kalau tidak, Ahjussi tidak akan memberi kalian balon dan pesawatnya” kataku sembari tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku. Kumulai membagi-bagi balon tersebut satu persatu untuk mereka. Ucapan terima kasih pun meluncur dari bibir mungil mereka. Setelah mengajak mereka bermainpun, kini aku dan Aerin mengajak mereka bernyanyi dan belajar sampai waktunya mereka pulang. Senang sekali rasanya melihat gadisku ini tersenyum bahagia.

Setelah mengantar anak-anak sampai ke depan gerbang, Aerin pun kembali menemuiku di aula belakang tempat kami bermain-main tadi.

“Ada Apa kamu datang kesini Oppa?” tanya Aerin membuka percakapan. Kini aku berdiri dihadapannya.

“ini, Untukmu..” kataku memberikan sisa balon-balon yang kubawa tadi. Aerin terkejut melihat sikap ku ini. Ia hanya tertawa melihat tingkahku barusan.

“Hahahaha.. ini untukku?? Gomawo Oppa”

Belum sempat ia genggam semua balon-balon yang berikan ini, ku lepas semua balon tersebut hingga mereka terbang ke udara.

“Eh, Oppa balon-balonnyaa…” Kata Aerin terkejut. Ini memang kusengaja. Karena setelah ini, aku ingin memberikan kejutan utama kepadanya. Kini, balon yang ada ditanganku tinggal satu. Dan itulah yang akan ku berikan padanya. Aerin pun kemudian terkejut saat melihat tali pada balon yang kupegang.

“Hah?? Oppa..ituu??”

“Will you marry me, Park Ae Rin??” Aku tersenyum padanya. Kulihat wajahnya tersenyum memerah. Ku tunggu jawabannya, sambil melepaskan cincin itu dan memakaikannya di jari manisnya.

“ I will, Oppa..” katanya tersenyum haru.

“Gomawo, Jagiya..” dan kini ku kecup bibirnya perlahan dengan lembut dan kubawa ia pergi dari tempat tersebut. Aku yakin, setelah hari ini akan menjadi hari-hari indah dalam hidupku kelak. Tak sabar rasanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersama dengan yeoja pujaanku ini.

***

SHINDONG PART (SHINDONG POV)

Aku berjalan menyusuri semua pertokoan-pertokoan di jalanan ini dan masuk ke dalamnya. Banyak sekali toko yang menjajakan berbagai macam aksesoris-aksesoris wanita yang lucu-lucu. Ini sudah toko kelima yang kumasuki hari ini, tapi entah kenapa barang yang sesuai dengan seleraku sama sekali belum kutemui.

“Ada yang bisa kami bantu tuan?? Mungkin bisa kami carikan.” Sapa seorang pelayan ketika ia melihatku kebingungan dalam memilih dan menentukan pilihanku.

“Ah, aniyo. Gwaenchana.. aku bisa mencarinya sendiri.” Tolakku dengan halus. Akupun terus menyusuri bagian-bagian di toko tersebut dan sejurus kemudian, mataku tertuju pada suatu benda unik yang begitu simple. Kudekati benda yang ternyata adalah sebuah puzzle. Sejenak kulihat bentuk dan modelnya, sangat sederhana namun begitu indah, berwarna, dan sangat bagus. Akhirnya aku putuskan bahwa aku akan membeli itu. setelah kubayar dikasir, kubawa pulang puzzle tersebut dan kumasukkan kedalam tas ku agar besok aku tidak lupa membawanya.

Kau pasti bertanya-tanya kan, untuk apa aku membeli puzzle yang mungkin aneh dan terlalu biasa itu?? Aku ingin memberikan puzzle itu untuk junior dikampusku. Junior yang telah mampu merebut dan mencuri hatiku. Tentu saja aku tidak akan mengatakannya pada dia bahwa aku ingin menyatakan cinta kepadanya. Aku masih sadar diri. Tubuhku tidak atletis, aku tidak tampan, tidak terlalu cerdas,dan tidak kaya. Tapi jangan salah, aku mampu menari dengan baik. Dan keahlian itu lah yang membuatku menjadi dekat dengannya.

Keesokan paginya, aku bergegas menuju kelas yang kulihat sedang kosong yang berada di lantai 5 gedung kampusku. Aku sengaja memilih tempat ini karena aku ingin berkonsentrasi menyelesaikan puzzle yang kubeli kemarin. Rencananya, hari ini aku akan membawanya dan memberikannya pada Nari, nama gadis yang kutaksir itu.

Kini, kepingan-kepingan puzzle itu telah berserakan dimeja. Aku berkonentrasi pernuh dalam menyelesaikannya. Aku ingin agar saat Nari melihat nanti, ia akan terkesan akan kaesungguhan hatiku. Bermenit-menit, bahkan hingga berjam-jam aku habiskan dalam kelas ini untuk berusaha menyelesaikan puzzle tersebut, namun puzzle ini belum selesai sama sekali. Ternyata ini tidak semudah kelihatannya, batinku dalam hati.

Setelah berjuang selama hampir 3 jam lebih, aku pun dapat menyelesaikan puzzle cinta tersebut. Sebuah senyuman kepuasan pun kusunggingkan melihat hasil dari jerih payahku berjam-jam tadi. Akhirnya aku sudah bersiap-siap untuk membawa puzzle cinta tersebut ke tempat Nari. Namun, sebelum aku beranjak, aku dikejutkan oleh seniorku yang memintaku agar diperbolehkan untuk memotret hasil karyaku

“Shindong ssi, boleh ku foto puzzle hati yang telah kau buat ini??” katanya padaku.

“Oh, ne Leetuk, ssi” setelah mengucapkan terima kasih, ia pun pergi. Dan kini aku benar2 telah bersiap berdiri dari kursi sebelum seseorang berteriak memanggil namaku

“Ya! Shindong Oppa.. sedang apa kamu di dalam kelas ini??” aku tertegun. Dan sangat terkejut saat ku tegakkan kepalaku, kulihat gadis manis itu telah berdiri dihadapanku sambil terus memandangi hasil karya puzzle cinta ku.

“Na..Na Rii? Sejak kapan kamu..” belum selesai aku berbicara, Nari sudah memotong pembicaraannku.

“Puzzle ini cantik, Oppa. Kau membuatnya sendiri??” aku hanya terdiam mendengar ucapan Nari. Entah kenapa mendengar ucapannya, hatiku seperti mendapatkan kekuatan untuk berbicara dengannya

“Mmmm… Nari, sebenarnya.. Mmmm.. Puzzle ini ingin kutunjukkan dan kuberikan,         untuk..muuu..” perlahan-lahan ku angkat Puzzle cinta tersebut dihadapannya. Nari hanya tertegun mendengar kata-kataku. Kini malah balik ia yang terkejut.

“Oppa serius??”

“Ne, aku serius.. aku ingin memberikan Puzzle ini karena aku ingin kau tahu bahwa aku sangat berterima kasih padamu, karena kau telah membuat utuh seluruh hatiku yang sempat hancur berkeping-keping seperti puzzle ini.” Aku tersenyum padanya. Kulihat kini wajahnya tersipu malu karena pernyataannku. Ia hanya memandangku, memandang jauh ke dalam bola mataku.

“Aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya Nari. Aku hanya ingin kau tahu bagaimana perasaanku, itu saja.” Kataku sedikit menghibur.

Kuberikan Puzzle cinta itu kepadanya dan terlihat ia begitu senang dengan pemberianku tersebut.

“Ne Oppa, akan ku simpan baik-baik Puzzle pemberian oppa ini. Gomawoyo.. Aku pergi dulu ya.. Annyeong.” Katanya memberi salam dan meninggalkan aku yang masih terduduk di kelas. Akupun menghela napas berat. Aku tahu,bahwa akhirnya akan begini.

“Oppa, Kau tahu?? Buatku, Oppa adalah orang yang sangat baik.. Aku menyukai Oppa apa adanya seperti ini.”

Sontak, dengan reflek akupun menoleh setelah mendengar kata2nya. Aku benar2 terkejut. Kulihat kini ia keluar kelas sambil menoleh dan tersenyum manis padaku lalu kemudian meninggalkan aku yang tersenyum seperti orang gila di kelas ini.

***

SUNGMIN PART (SUNGMIN POV)

Aku sedang berada di ruang musik melakukan latihan untuk mengikuti konser yang akan di adakan 2 minggu mendatang saat tiba2 gadis itu datang memecah konsentrasiku.

“Miinnniiieee.. ayo kita makan bersama.” Katanya yang tiba-tiba datang sambil mengangkat kotak makan yang dibawanya tinggi2.

“Ya!! Han Eun Soo, bisakah kau tidak usah teriak-teriak seperti itu?? aku masih harus latihan. Kau makan saja duluan.” Aku memarahinya saat ia berdiri didepanku saat ini. Eunsoo adalah sahabatku. Kami bersahabat sudah sangat lama, tepatnya sejak kami duduk di bangku kelas 1 SD. Dialah seseorang yang selalu mampu memberikan ku semangat dan yang mampu menghiburku saat aku sedang terpuruk dan selalu ada untukku disaat aku sedang bahagia.

“Minnie, dengar.. aku tidak ingin kau sakit!! Aku mengerti bahwa kau harus latihan untuk konser 2 minggu lagi. Tapi tolonglah, makanlah sedikit. Kulihat daritadi kau sama sekali belum makan!! Jebaall….”

Aku sama sekali tidak berkutik. Entah kenapa, hatiku tidak pernah bisa menolak semua keinginan gadis yang kini sedang tersenyum menunjukkan wajah aegyo nya dihadapannku. Perhatiannya benar-benar mampu membuat hatiku luluh, ia sukses membuat seluruh jantungku berdetak sangat hebat. Bahkan senyumnya mampu membuat hatiku sangat hangat.

“Ne..Ne, Arraseo. Kajja, kita makan! Aku ingin mencicipi masakanmu hari ini.”

Hari demi hari kulewati tetap dan selalu bersama dengan Eunsoo. Dia sangat setia menemaniku saat aku latihan, menunggui ku hingga aku selesai, dan banyak memberi masukan untuk performance ku mendatang. Bahkan tak jarang ku dapati dirinya sedang tertidur pulas karena menungguku selesai latihan. Aku merasa sangat beruntung memilikinya. Entah kenapa, setiap kali berada disisinya, aku selalu merasa nyaman. Eunsoo benar-benar mampu memperlakukan aku sebagai layaknya seorang kakak, sahabat, ayahnya, hingga seorang.. pacar. Yah, entah kenapa kalau berbicara seorang pacar, aku tidak pernah berniat untuk mencarinya. Aku sadar, aku bahkan sangat sangat sadar bahwa yang kuinginkan sekarang hanyalah bersama dengan Eunsoo, menghabiskan waktu bersama Eunsoo. Aku menyayanginya, sangat-sangat.. Oke, mungkin aku memang harus jujur, aku bahkan juga mencintainya. Hal yang selama ini aku takutkan, dan hal yang selama ini tidak pernah kupercaya terjadi padaku. Aku mencintai sahabatku sendiri!! Haiishh, Sungmin apa yang kau lakukan?? Kenapa kau tak bisa mengontrol perasaanmu sendiri?? Aku benar-benar mengutuk diriku sendiri.

Sehari sebelum konser berlangsung, aku berbohong pada Eunsoo bahwa aku akan datang terlambat pada saat latihan. Eunsoo sama sekali tidak mengetahui bahwa aku sebenarnya sudah datang jauh sebelum dia datang. Aku ingin memberikan kejutan untuk nya. Perlahan-lahan, aku mengendap-ngendap di lantai dasar tempatku latihan musik. Ku siapkan bermacam-macam keperluanku mulai dari keyboard kesayanganku, speaker, dan berbagai catatan-catatan not balok yang aku bawa hari ini. Setelah semua beres, aku segera menghubungi Eunsoo untuk menemuiku. Aku tidak mengatakan padanya dimana diriku berada, karena aku ingin dia mencari diriku. Kumulai mainkan lirik lagu dan mulai kunyanyikan beberapa bait didalamnya

Neo gateun saram tto eopseo juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi. Neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul . Neomu dahaeng iya aesseo neorel jikyeojul geu sarami baro nara seo eodiseo channi Na gatchi haengbokhan nom na gatchi haengbokhan nom na gatchi unneun geureon choegoro haengbokhan nom

Tak beberapa lama aku menyanyikan lagu ini, kudengar langkah kaki di anak tangga sebelahku sedang turun ke tempatku bermain musik sekarang. Kucoba tegakkan kepala menoleh ke samping, dan sudah kuduga, bahwa dia adalah Eunsoo.

“Sungmin-ah, apa yang kau lakukan disini?? Katanya kau akan datang terlambat? Dan untuk        apa kau menyuruhku datang menemuimu??” Eunsoo malah kini menatapku dengan heran.        “Kau tahu lagu apa yang barusan kunyanyikan?? Kau tahu apa maksud dari penggalan liriknya??” Kini malah aku yang balik bertanya padanya. Eunsoo terdiam. Kulihat iya menganggukkan kepala namun dengan kepala yang tertunduk

Tak ada yang sepertimu, Bahkan jika aku melihat sekeliling, itu sama saja. Dimana lagi bisa kutemukan orang yang baik hati sepertimu, orang yang berhati besar sepertimu, Hadiah yang besar sepertimu?? Betapa beruntungnya aku, Orang yang akan berusaha keras untuk melindungimu. Dimana lagi bisa kutemukan Seorang pria bahagia sepertiku, Orang dengan tawa bahagia sepertiku??”

Kudengar Eunsoo mengucapkan makna dari lirik yang kunyanyikan tadi. Sepertinya ia sudah memahami maksud dari semuanya ini.

“Itulah diriku, Eunsoo. Lagu itu adalah gambaran perasaan dan hatiku terhadapmu.”       “Minnie..” Hanya itu kata2 yang kudengar darinya. Eunsoo menatap ku, entah apa yang ada didalam pikiran kami, kami sama-sama bisu untuk beberapa saat.

“Eunsoo, aku tidak butuh jawaban darimu. Aku juga tidak ingin status apapun darimu. Yang aku inginkan hanya, kau mau selalu ada disisiku apapun yang terjadi. Jangan pernah tinggalkan aku, dan sayangilah aku seperti aku menyanyangimu. Yeongwonhi..”

Eunsoo tersenyum. Ia menghampiri ku dan memeluk erat diriku.

“Arraseo.. Gomawo Sungmin-ah”

***

4 thoughts on “NO OTHER (Part 1 of 2)

  1. Ini kayak MVnya No Other y min
    haha
    padahal aku menunggu Kyu menyatakan cintanya ‘padaku’
    *plak di serbu Sparkyu
    kayaknya ada di part 2
    yoooo lanjooottttt!!!

  2. Ahkkk koment aku gk mo masuk2
    klo koment ini masuk,, ini dah yg kesekian kalinya aku nyoba min
    Ini kayak yg MVnya No Other ya min
    ahh padahal aku menunggu Kyu menyatakan cintanya ‘padaku’
    haha
    *plak diserbu sparkyu
    kayaknya ada d part2 nya deh
    ahhh lanjoooootttttt!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s